No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama kali tidur tanpa mimpi
Demian mengangguk.
“Benar.”
Valerie menghela napas panjang, lalu perlahan mengambil pena yang telah disiapkan. Tangannya bergetar saat menandatangani surat perjanjian itu. Dengan satu tanda tangan, Valerie tidak hanya menerima sebuah pernikahan kontrak.
•●✿●•
Hari pernikahan berlangsung dengan begitu megah dan meriah.
Ruang resepsi dipenuhi dekorasi putih dan unggu muda, lampu kristal yang berkilauan, serta para tamu undangan dari kalangan terpandang. Senyum, ucapan selamat, dan doa-doa kebahagiaan mengiringi langkah kedua mempelai.
Namun, di balik gaun pengantin yang indah dan senyum tipis yang terlukis di wajahnya. Valerie tidak merasakan kebahagiaan sedikit pun, ia berdiri di pelaminan dengan hati yang kosong.
Tidak ada sosok ayah yang menggandeng tangannya menuju altar, tidak ada ibu yang memperbaiki kerudung atau merapikan rambutnya sambil menahan air mata haru. Kedua orang yang paling ingin ia lihat di hari istimewanya telah pergi.
Valerie menatap kursi tamu yang seharusnya ditempati kedua orang tuanya.
Kosong.
Sama kosongnya dengan hatinya saat ini. Dulu, ia pernah membayangkan pernikahannya akan dipenuhi haru, tangis bahagia, dan kehangatan keluarga. Ia selalu bermimpi memiliki hubungan seperti ayah dan ibunya. Cinta yang sederhana, tulus, dan tetap hangat meski telah melewati bertahun-tahun bersama.
Namun kenyataan yang berdiri di hadapannya jauh berbeda. Ia tidak mencintai pria yang kini menjadi suaminya dan pria itu pun tidak mencintainya, pernikahan mereka hanyalah sebuah kesepakatan. Sebuah ikatan yang dibangun atas rasa tanggung jawab, bukan perasaan.
Valerie menunduk, menggenggam erat liontin emas pemberian ayahnya yang tersembunyi di balik gaun pengantinnya.
“Ayah... Ibu...”
“Lihatlah, putrimu kini sudah menikah.”
Air matanya hampir jatuh, tetapi ia segera menahannya. Di sampingnya, Damian berdiri dengan ekspresi tenang seperti biasa. Tidak ada senyum bahagia, tidak ada tatapan penuh cinta, hanya ketenangan seorang pria yang sedang memenuhi kewajiban.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Damian mengantar Valerie menuju mansionnya. Mobil hitam mewah itu melaju dalam keheningan, tidak ada percakapan di antara mereka didalamnya. Hanya suara hujan tipis yang menemani perjalanan menuju rumah baru Valerie.
Sesampainya di sana, Valerie menatap kagum bangunan megah yang berdiri di hadapannya. Mansion itu begitu besar, elegan, dan terlihat seperti rumah yang hanya ada dalam film. Namun entah mengapa, kemewahan itu justru membuat Valerie merasa asing.
Damian membawanya masuk ke dalam rumah, beberapa pelayan membungkukkan badan memberi salam.
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Robert.”
Valerie hanya tersenyum kecil, masih belum terbiasa dengan panggilan tersebut. Damian kemudian mengantarnya ke lantai dua, lalu ia membuka sebuah pintu.
“Sekarang, ini adalah kamarmu.”
Valerie menatap ruangan itu. Kamarnya sangat luas, dengan balkon pribadi, lemari pakaian besar, dan jendela tinggi yang menghadap taman belakang.
“Kamu bisa mengatur kamar ini sesuka hatimu,” ujar Damian.
Valerie mengangguk pelan.
“Kita pisah kamar?” tanyanya ragu.
“Iya.”
Damian menunjuk pintu di samping kamar itu.
“Di sebelahmu adalah kamarku.”
Valerie tampak sedikit lega.
“Baiklah.”
Namun Damian kembali berbicara.
“Tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui.”
Valerie menoleh.
“Apa?”
Damian menatapnya serius.
“Jika Nenek datang berkunjung atau menginap, kita harus berpura-pura menjadi pasangan yang normal.”
Valerie mengerutkan kening.
“Normal seperti apa?”
Damian menghela napas pendek.
“Kita harus tidur di kamar yang sama.”
Valerie langsung menatapnya terkejut.
“Apa?”
Damian segera mengangkat tangan, berusaha menenangkan.
“Tenang saja,”
“Aku tidak akan menyentuhmu, dan kita hanya perlu berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang romantis.”
Valerie terdiam beberapa saat, entah mengapa ucapan itu membuat dadanya semakin sesak.
“Baiklah, aku setuju.”
Damian mengangguk.
“Terima kasih.”
Damian lalu berjalan menuju pintu sebelum berhenti sejenak.
“Dan, satu lagi.”
Valerie menatapnya.
“Kamu tidak perlu malu dengan statusmu sebagai menantu keluarga Robert, Valerie.”
Setelah mengatakan itu, Damian pergi meninggalkannya sendiri. Valerie berdiri mematung di tengah kamar yang kini menjadi tempat tinggal barunya, ia memandang cincin pernikahan di jari manisnya.
Masih sulit dipercaya.
Beberapa bulan yang lalu, ia masih hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Kini, ia telah menjadi istri seorang pria yang nyaris tidak dikenalnya.
•●✿●•
Pagi pertama setelah pernikahannya tiba dengan suasana yang terasa begitu asing bagi Valerie.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan lembut di pintu membangunkannya dari tidur. Valerie perlahan membuka matanya, masih berusaha menyesuaikan diri dengan langit-langit kamar yang belum familiar baginya.
Beberapa saat ia hanya terdiam di atas ranjang, lalu keningnya berkerut. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang terasa menghilang. Biasanya, setiap kali ia memejamkan mata ia akan berada ditaman bunga. Bertemu Hazel, dan berbagi cerita kepadanya.
Namun pagi ini sangat berbeda. Tidak ada taman bunga, tidak ada Hazel, dan tidak ada suara lembut yang memanggilnya sebagai Violet. Ini pertama kalinya sejak berusia lima tahun, Valerie tidur tanpa bermimpi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak memimpikan Hazel.
Dadanya mendadak terasa sesak.
“Aneh.”
“Apa yang terjadi?”
“Kenapa tiba-tiba aku tidak bermimpi?”
“Bagaimana dengan Hazel?”
Selama ini ia selalu menganggap mimpi itu sebagai misteri yang membingungkan. Namun ketika mimpi itu benar-benar menghilang, justru ada perasaan kehilangan yang perlahan memenuhi hatinya.
Tok... tok...
Ketukan kembali terdengar.
“Nyonya Valerie, apa kami sudah boleh masuk?" terdengar suara wanita dari balik pintu.
Valerie tersadar dari lamunannya.
“Silakan.”
Pintu terbuka perlahan, tiga orang wanita berseragam pelayan memasuki kamar dengan sikap sopan. Mereka membungkukkan badan secara bersamaan.
“Selamat pagi, Nyonya Valerie.”
Valerie tampak sedikit canggung.
“Selamat pagi... kalian jangan terlalu formal denganku, panggil saja aku Valerie.”
Seorang pelayan yang terlihat paling senior maju selangkah.
“Maaf Nyonya, kami tidak berani. Kalau Nyonya keberatan, mulai hari ini kami akan memanggil Nyonya Valerie menjadi Nona Muda.”
Valerie tersenyum tipis.
“Baiklah, Nona saja.”
Pelayanan itu menundukkan wajahnya.
“Perkenalkan, saya Clara.”
“Saya Bella.”
“Saya Luna.”
“Kami bertiga ditugaskan khusus untuk melayani kebutuhan Nona Muda mulai hari ini.”
Valerie sedikit terkejut.
“Kenapa?”
Ketiganya menunduk sambil tersenyum.
“Karena mulai sekarang, kami akan membantu Nyonya dalam segala hal.”
“Membantu memilih pakaian, menyiapkan kebutuhan harian, serta mendampingi aktivitas Nyonya.”
Valerie tersenyum kikuk, ia masih belum terbiasa dengan kehidupan barunya. Dulu, ia adalah gadis sederhana yang terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Kini, ada tiga orang yang bertugas mengurusnya.
“Nona Muda, apakah kami boleh membantu Anda bersiap-siap?” tanya Clara lembut.
Valerie akhirnya mengangguk.
Ketiga pelayan itu pun mulai bekerja dengan cekatan. Mereka menyiapkan pakaian, merapikan rambut Valerie, dan membantu memilih aksesori yang sesuai. Tak lama kemudian, Clara tersenyum puas melihat penampilan Valerie.
“Nona Muda terlihat sangat anggun dan cantik.”
Valerie hanya tersenyum kecil.
Kemudian Bella berkata,
“Tuan Damian sudah menunggu Anda di ruang makan, Tuan ingin sarapan bersama."
Valerie sedikit terdiam, masih terasa aneh mendengar nama Damian sebagai suaminya. Namun ia segera mengangguk.
“Baik. Kalian sudah boleh keluar, aku akan segera turun.”
Setelah menarik napas pelan untuk menenangkan dirinya. Valerie melangkah keluar dari kamar, hari pertamanya sebagai Nyonya Robert baru saja dimulai. Namun di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berputar.
Ke mana mimpi tentang Hazel pergi?
Mengapa, tepat setelah aku menikah, sosok yang selalu hadir dalam mimpiku selama enam belas tahun tiba-tiba menghilang begitu saja?
Apa jangan-jangan dia kecewa, karena tidak memberi tahu kalau akan menikah?”
Jika benar, bagaimana caraku bisa menjelaskannya?