bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela tempat Dinda berdiri tadi. Di lantai taman bawah, ia
bisa melihat bayangan Dinda yang masih berdiri di kegelapan dengan gelisah.
"Kamu pikir kamu bisa mengusirku dengan cara itu, Dinda?" bisik Nadira pada kaca jendela yang dingin. Ia menarik tirai ruang makan hingga tertutup rapat, memutus pandangan antara dia dan Dinda di luar sana.
Kini, hanya bayangan refleksi dirinya sendiri yang tersisa di kaca. Wajahnya yang sekarang terlihat lebih tajam, lebih berani, dan sama sekali tidak menyerupai gadis penakut yang dulu sering diintimidasi.
Langkah kaki Dinda di luar sana terdengar semakin keras dan kasar, menginjak kerikil
taman dengan penuh kebencian. Wanita itu pasti sedang merencanakan serangan balik.
Tapi Nadira tidak takut. Ia justru merasa bersemangat untuk melihat seberapa jauh Dinda bisa jatuh.
Nadira kembali ke meja makan dan membersihkan piring dengan gerakan yang teratur. Setiap bunyi piring porselen yang disusun terdengar begitu jelas di ruangan yang sepi. Ia mulai menyusun strategi baru di kepalanya, memikirkan cara untuk memastikan Dinda tidak memiliki ruang lagi untuk bernapas, apalagi melawan.
Arga menutup pintu ruang kerja dengan bunyi klik yang halus, namun terasa sangat berat
di telinganya. Ia bersandar sejenak pada daun pintu itu, menarik napas panjang untuk
menenangkan denyut jantung yang masih berpacu kencang sejak insiden di ruang makan bersama Dinda dan Nadira. Udara di dalam ruangan ini terasa lebih dingin, berbau kertas tua dan kayu jati yang dipoles, sangat kontras dengan ketegangan di luar sana.
Ia berjalan gontai menuju meja kerja besar di tengah ruangan, di mana tumpukan dokumen warisan ayah mereka masih berserakan rapi.
Ia duduk di kursi kulit empuk, tidak langsung meraih pulpen, melainkan menatap kosong ke arah jendela yang gelap. Bayangan Dinda yang berapi-api saat mengancam akan
menggugat mereka secara hukum masih terpatri jelas di benak Arga. Wanita itu tidak akan berhenti hanya dengan ancaman kosong. Dinda memiliki koneksi dan uang untuk menghancurkan segalanya dalam sekejap.
Arga merasakan urat nadinya berdenyut di
pelipis, sebuah tanda bahwa ia tidak boleh lengah sedetik pun.
Tiba-tiba, Nadira yang berdiri di dekat rak buku menjatuhkan sebuah map tebal ke lantai. Suara keras itu membuat Arga tersentak, kakinya terantuk kaki meja hingga cangkir kopi di mejanya terguncang dan sedikit cairan cokelat tumpah ke atas beberapa lembar kuitansi.
"Hati-hati, Clar!" bentak Arga, suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan. Nadira
mematung, menunduk menatap noda cairan itu dengan wajah pucat, jari-jarinya gemetar
saat meraih tisu untuk menepis cairan tersebut.
"Maaf, Arga. Aku... aku gugup," ucap Nadira pelan, suaranya serak. Ia berusaha
menyelamatkan dokumen itu, namun tangannya terlalu cepat, membuat kertas-kertas tersebut semakin rusak dan basah. Arga menepis tangan Nadira dengan kasar, mengambil kertas-kertas itu dan mengibas-ibaskannya di udara.
"Ini bukan waktunya gugup! Dokumen
ini adalah nyawa kita sekarang. Jika Dinda mengetahui celah sedikit saja, kita akan
dihabisin!"
Namun, saat Arga merontokkan kertas-kertas yang basah itu, matanya menangkap
sesuatu yang aneh pada bagian bawah salah satu akta tanah. Ia mengerutkan kening,
mendekatkan kertas itu ke lampu meja. Air kopi yang tumpah tadi ternyata membuat tinta di bagian bawah dokumen itu sedikit luntur, memperlihatkan cap basah yang tersembunyi.
di balik stempel notaris resmi. Arga membeku. Itu bukan stempel kantor notaris H. Prasetyo yang biasa mereka gunakan.
"Clar, lihat ini," kata Arga, suaranya turun drastis menjadi bisikan yang mendesak. Ia
menunjuk logo kecil yang tersembunyi itu.
"Ini milik kantor jasa pembuatan dokumen ilegal di pinggiran kota. Ayah... ayah kita menyelundupkan aset pribadi dengan dokumen palsu."
Nadira mendekat, matanya melebar saat menyadari apa yang ia lihat. Selama ini mereka mengira ayah mereka adalah korban, ternyata beliau adalah arsitek dari kekacauan ini. Konfrontasi yang sebenarnya bukan lagi tentang Dinda, tapi tentang warisan rahasia yang beracun ini. Arga menatap Nadira dengan tatapan hancur.
"Kita tidak bisa memakai ini sebagai bukti di pengadilan. Jika Dinda mencari, dan dia pasti akan mencari, dia akan menemukan bahwa warisan dua ratus triliun ini adalah sebuah rekayasa yang bisa runtuh kapan saja."
Nadira mundur selangkah, punggungnya menyentuh rak buku.
"Apa maksudmu? Apa kita
harus memusnahkan semua ini? Tapi itu berarti kita kehilangan hak kita!" suaranya
meninggi, penuh ketakutan. Arga bangkit dari kursinya, menghempaskan
dokumen-dokumen itu ke meja dengan keras hingga benda-benda lainnya bergetar.
"Hak? Tidak ada hak di atas kejahatan, Clar! Kita harus memutuskan sekarang, sebelum Dinda mengambil kesempatan ini."
Keputusan akhir itu terasa seperti pisau di tenggorokan. Arga harus memilih antara
mempertahankan kekayaan dengan risiko penjara, atau memulai dari nol dengan tangan kosong namun hati bersih.
"Ambilkan kotak api," perintah Arga tiba-tiba, suaranya dingin dan tanpa ragu. Nadira menatapnya dengan ngeri, namun ia tahu tidak ada jalan lain. Jika mereka tidak menghancurkannya, Dinda akan menghancurkan mereka.
Saat Nadira merogoh laci untuk mengambil korek api, tangannya berhenti pada sebuah
amplop cokelat yang tidak ia kenal. Amplop itu tertempel di dalam laci dengan selotip. Ia
membukanya perlahan, menemukan satu set kunci brankas modern dan selembar surat
wasiat baru yang ditandatangani ayah mereka sehari sebelum meninggal, yang isinya
justru melimpahkan seluruh saham sah kepada Dinda.
"Arga... lihat ini," bisik Nadira, suaranya gemetar hebat. Twist ini mengubah segalanya. mereka bukan lagi pewaris yang dizalimi, mereka adalah penyusup yang memegang dokumen palsu. Arga membaca surat itu, wajahnya pucat pasi. Keberanian yang ia bangun selama ini hancur seketika, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa mereka tidak memiliki hak apa-apa selain memulai pelarian.
Dengan tangan gemetar, Arga mengambil catatan harian yang tadi ia baca dan
membakarnya di asbak perunggu. Api kecil itu menjilat kertas-kertas yang berisi rencana
licik mereka.
"Esok hari, kita tidak akan bicara soal warisan," ucap Arga, menatap abu yang beterbangan. Pertaruhan besar akan segera dimulai, namun kali ini mereka yang akan menjadi tumbal.
Cahaya rembulan yang pucat menyelinap dari celah tirai sutra, menciptakan garis tipis di
lantai marmer kamar utama. Nadira duduk bersandar pada kepala tempat tidang,
napasnya melambat mengikuti ritme detak jam dinding yang terdengar berat. Udara malam membawa aroma lembap dari taman bawah, menyeimbangkan panas yang tersisa dari lampu meja yang baru saja ia matikan.
Buku harian berbalut kulit buaya itu terletak di atas pangkuannya, terbuka pada halaman
yang penuh dengan tulisan tangan wanita yang tidak ia kenal. Ia mengusap permukaan
kertas itu dengan bantalan jempolnya, merasakan tekstur kasar dari tinta yang sudah mengering. Tulisan itu milik Marga Dirgantara, pemilik tubuh asli yang ia tempati sekarang, seorang wanita yang dikenal kejam dan licik oleh seluruh kerabatnya.
Nadira memejamkan mata sejenak, mencoba menata ulang kekacauan pikirannya. Ia tidak
lagi merasa seperti penumpang gelap yang panik di dalam kapal yang terbalik.