"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FASE BARU DI BAWAH CAHAYA MATAHARI
Gudang tua di pinggiran Jakarta itu kini telah dipenuhi oleh sirine mobil kepolisian dan kendaraan medis yang berkedip-kedip memecah keheningan malam.
Aroma debu dan lembap bercampur dengan bau obat antiseptik.
Keysha, yang baru saja siuman akibat pengaruh obat bius, langsung diborgol oleh pihak berwenang dan digiring keluar dengan pengawalan ketat.
Tidak ada lagi sisa-sisa keanggunan atau drama manipulatif; yang tertinggal hanyalah tatapan kosong penuh keputusasaan dari seorang wanita yang telah menghancurkan hidupnya sendiri demi ambisi yang salah.
Di sudut ruangan, di atas kursi medis darurat, Arga duduk bersimpuh di hadapan Queen.
Tangannya yang kokoh tampak sedikit bergetar saat memeriksa lengan Queen yang tergores pisau Keysha.
Meskipun luka itu hanya goresan kecil yang tidak dalam, detak jantung Arga masih belum kembali ke ritme normalnya.
Rasa takut kehilangan wanita yang paling ia cintai dan calon buah hati mereka sempat membuatnya nyaris kehilangan kewarasan.
"Sedikit perih, Mas..."
cicit Queen pelan, meringis kecil saat perawat menyapukan cairan antiseptik pada lukanya.
Arga menatap Queen dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah dan cinta yang teramat besar.
Ia mengecup punggung tangan Queen yang bebas dari luka dengan lembut dan lama.
"Maafkan aku...
Seharusnya aku bisa melindungimu lebih baik lagi.
Aku bersumpah, tidak akan pernah membiarkan siapapun mendekatimu dengan niat jahat setelah ini."
Queen tersenyum tipis, meski wajah baby face-nya masih tampak pucat.
Ia mengangkat tangan kanannya yang tidak terluka, lalu mengusap lembut rahang Arga yang masih menyisakan sedikit lebam masa lalu.
"Kamu sudah datang, Mas.
Tepat saat aku paling butuh kamu.
Itu sudah lebih dari cukup."
Alya, yang berdiri tidak jauh dari mereka bersama tim medis, mengembuskan napas panjang dengan rasa lega yang luar biasa.
Ia menyilangkan tangan di dada, menatap sang kakak dan sahabatnya dengan senyuman tipis.
"Udah dramaannya?
Ini calon ibu negara mau dibawa ke rumah sakit buat observasi kandungan kan?
Jangan sampai gara-gara insiden culik-menculik ini ponakan gue kenapa-napa."
Arga langsung berdiri, menatap Alya dengan sorot mata tegas.
"Ya.
Kita ke rumah sakit sekarang."
---
Dua minggu berlalu sejak malam penculikan itu.
Kasus Keysha langsung diproses secara kilat oleh tim hukum keluarga Dirgantara dan Adhitama.
Dengan segudang bukti mulai dari percobaan pembunuhan berencana, peretasan sistem keamanan, hingga penculikan, Keysha dijatuhi hukuman berat yang memastikan wanita itu tidak akan bisa mengganggu kehidupan mereka dalam waktu yang sangat lama.
Di sisi lain, kehidupan Queen dan Arga memasuki babak baru yang jauh lebih tenang, meskipun aturan ketat dari keluarga Adhitama tetap berlaku.
Handoko Adhitama sang Daddy akhirnya memberikan kelonggaran setelah insiden tersebut.
Ia menyadari bahwa memenjarakan Queen di apartemen justru mendatangkan bahaya lain.
Sebagai gantinya, pengamanan di sekitar Queen ditingkatkan sepuluh kali lipat, dan Arga diizinkan untuk lebih sering mendampingi Queen, bahkan mulai sering menginap di kediaman utama Adhitama demi mengawasi kesehatan putrinya.
---
Pagi itu, suasana di taman belakang rumah megah keluarga Adhitama terasa begitu menyejukkan.
Sinar matahari pagi memantul indah di atas permukaan kolam renang infinity pool yang luas.
Queen, yang kini tengah memasuki usia kehamilan bulan keempat, duduk bersantai di atas kursi jemur empuk.
Perut ratanya kini sudah mulai menunjukkan sedikit bentuk kehamilannya.
Ia mengenakan dress hamil longgar berwarna putih gading, membuat wajah baby face-nya tampak semakin bersinar dan keibuan.
Arga melangkah mendekat dengan membawa nampan berisi segelas susu hangat dan mangkuk buah segar.
Pria berusia 30 tahun itu kini tampak jauh lebih santai; kemeja kerjanya sedikit digulung hingga siku, dan tidak ada lagi garis-garis ketegangan di wajah tegasnya.
"Waktunya minum susu, Cegil," sapa Arga lembut, meletakkan nampan di meja kecil sebelah kursi Queen, lalu mendudukkan diri di tepi kursi sambil mengelus puncak kepala kekasihnya.
Queen mengerucutkan bibirnya manja.
"Ih, panggilannya ganti dong, Mas.
Masa ibu dari calon penerus dinasti Adhitama dan Dirgantara dipanggil Cegil?"
protesnya bercanda.
Arga terkekeh rendah, sebuah tawa renyah yang kini sering ia tunjukkan.
Ia menarik kursi mendekat, lalu berlutut di depan Queen.
Tangannya yang hangat mendarat dengan sangat hati-hati di atas perut Queen yang membuncit kecil.
"Baiklah...
Calon Nyonya Dirgantara, apakah bayi kita hari ini merebutkan mamanya lagi?"
tanya Arga dengan suara baritonnya yang membuai, mendekatkan wajahnya untuk mencium perut Queen melalui lapisan kain.
Queen tersenyum tulus, jemari lentiknya memainkan rambut hitam lebat Arga.
"Dia anak yang baik, Mas.
Tidak rewel sama sekali.
Mungkin karena dia tahu papanya sudah menjaga kami dengan sangat baik."
Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka sejenak.
Angin pagi berhembus lembut, menerbangkan helai rambut Queen.
Di titik ini, mereka menyadari bahwa segala badai, air mata, caci maki, dan pertumpahan darah yang mereka lalui di masa lalu bukanlah kutukan, melainkan harga yang harus dibayar untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Mas," panggil Queen pelan.
"Daddy tadi pagi ngobrol sama aku."
Arga mendongakkan kepalanya, menatap netra bulat Queen.
"Soal apa?"
"Soal pernikahan kita," jawab Queen dengan binar mata yang berbinar-binar.
"Daddy bilang...
karena sidang putusan Keysha sudah inkrah dan kondisi kehamilanku sudah stabil di trimester kedua, dia tidak melihat alasan lagi untuk menunda pernikahan kita sampai bayi ini lahir."
Arga membeku sejenak.
Jantungnya mendadak berdegup kencang.
Ia memang sudah menyiapkan segalanya, namun mendengar langsung dari restu Handoko Adhitama membuat dadanya dipenuhi oleh ledakan emosi yang luar biasa.
"Daddy bilang...
kita bisa mengadakan pernikahan privat yang sakral bulan depan, lalu pesta resepsi megahnya bisa dilahirkan setelah bayi kita lahir dan usianya cukup," lanjut Queen dengan senyuman paling indah yang pernah Arga lihat.
Arga tidak berkata apa-apa.
Ia bangkit dari berlututnya, meraih tangan Queen, dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh.
Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Queen, menghirup aroma vanila yang selalu menjadi candu baginya.
"Terima kasih..."
bisik Arga serak, suaranya bergetar menahan haru.
"Terima kasih karena sudah memilihku, bertahan denganku, dan memberiku kesempatan untuk menjadi rumah bagimu."
Queen membalas pelukan itu dengan erat, menenggelamkan dirinya ke dalam dekapan pria yang telah mengubah seluruh hidupnya dari seorang mahasiswi urakan menjadi wanita paling berharga di dunia.
"Aku tidak pernah salah pilih, Mas," jawab Queen lembut.
"Kita sudah melewati garis akhir dari semua mimpi buruk itu.
Sekarang, saatnya kita memulai hidup kita yang sebenarnya."
Di bawah langit pagi Jakarta yang cerah, jauh dari bayang-bayang masa lalu yang kelam, dua jiwa yang sempat terluka itu kini berdiri berdampingan sebagai satu kesatuan yang utuh.
Di dalam rahim Queen, kehidupan baru terus berdetak, siap menyambut dunia bersama cinta tanpa syarat dari kedua orang tuanya.
Dan lembaran baru itu resmi dibuka, abadi dan selamanya.
recom lah pokoknyaa