NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Altar Warisan Purba

Lin Mo berjalan perlahan mendekati altar batu itu. Semakin dekat, semakin kuat rasa akrab yang menyelimuti hatinya. Permukaan altar yang tertutup lumut tebal memancarkan aura kuno yang tenang, seolah telah berdiri di sini sejak bumi pertama kali terbentuk. Di sekelilingnya tumbuh batang pohon batu yang melengkung, membentuk pagar alami yang melindunginya dari gangguan luar.

Di tengah altar terukir pola lingkaran ganda dengan garis-garis menyebar ke segala arah—persis seperti jaring akar raksasa yang dilihat Lin Mo di dalam bayangan batu hitamnya. Saat ia meletakkan telapak tangan di atas ukiran itu, tanah di bawah kakinya bergetar lembut, dan cahaya keabu-abuan samar mulai menyala dari celah-celah batu.

"Anak pewaris... akhirnya kau datang," suara itu kali ini terdengar lebih jelas, bukan lagi bisikan samar, melainkan gema yang bergema di seluruh ruang kesadarannya. "Selama ribuan tahun, kami menunggu seseorang yang tidak datang untuk merampas kekuatan, melainkan untuk kembali pulang ke asalnya."

Batu hitam yang disimpan di dadanya terlepas sendiri, melayang ke udara dan menyatu tepat di tengah pola altar. Cahaya gelap dan cahaya abu-abu menyatu, membentuk pemandangan ribuan tahun silam di benak Lin Mo.

Ia melihat zaman dulu—ketika Jalan Akar dan Jalan Inti berdiri berdampingan. Pengikut Jalan Akar tidak mengejar kilauan atau terbang tinggi di awan; mereka menanamkan kehidupan ke dalam tanah, menjaga kestabilan gunung dan sungai, menjadi fondasi yang membuat dunia ini bisa berdiri tegak. Namun kemudian muncul kekuatan yang menginginkan kendali mutlak: mereka mengajarkan bahwa hanya "cahaya" yang berharga, dan "tanah" itu rendah, kotor, dan lemah. Perang pun meletus, Jalan Akar dikalahkan, jejaknya dihapus, dan altar ini disegel agar tidak jatuh ke tangan yang salah.

"Kami tidak kalah karena lemah," suara itu penuh ketabahan. "Kami kalah karena kami tidak mau menghancurkan dunia demi kemenangan. Tapi dunia kini semakin goyah. Fondasi yang dijaga selama ribuan tahun mulai retak. Hanya kamu yang bisa memperbaikinya."

Gambaran itu perlahan menghilang. Batu hitam kembali ke tangan Lin Mo, namun kini berubah wujud—tidak lagi kusam dan tidak berbentuk, melainkan menjadi lencana kecil berbentuk akar yang berdenyut hangat. Bersamaan dengan itu, aliran kekuatan yang murni dan dahsyat menyebar dari altar, menyelimuti seluruh tubuh Lin Mo.

Rasanya seperti ribuan akar tumbuh seketika di dalam dirinya. Tulang-tulangnya mengeras dan memadat, pembuluh darahnya melebar dan menjadi lebih kuat, dan kesadarannya kini bisa menembus tanah hingga kedalaman yang tak terbayangkan. Ia naik dari tingkat Menanam Akar langsung menuju Menguatkan Tulang Bumi tingkat awal—sebuah lompatan besar yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun latihan keras.

Namun ada satu hal lagi yang ia terima: sebuah gulungan kulit batu berisi catatan tentang lokasi sisa-sisa pengikut Jalan Akar yang masih bersembunyi, serta peringatan tentang Keluarga Meng—keluarga penguasa kota ini adalah keturunan dari pemimpin yang membasmi Jalan Akar zaman dulu. Mereka kini mencari altar ini bukan untuk memulihkan keseimbangan, melainkan ingin menyerap kekuatannya sendiri agar menjadi penguasa mutlak.

"Sekarang aku mengerti," bisik Lin Mo sambil menyimpan gulungan itu dengan hati-hati. "Mereka takut bukan karena kami lemah, tapi karena kami tidak bisa dikendalikan."

Saat ia berniat pulang, suara langkah kaki kasar terdengar dari arah hutan. Tiga orang berpakaian hitam dengan lambang palu di dada—pengawal pribadi Keluarga Meng—muncul di depan altar. Mereka tersesat ke sini setelah mendengar getaran tadi, dan kini matanya berbinar serakah melihat altar yang menyala.

"Ini dia! Warisan kuno yang dicari Tuan selama ini!" seru pemimpin mereka. "Tangkap anak itu, bawa altar dan semua barang di sini!"

Mereka menyerang serentak, energi batu berwarna gelap menyelimuti senjata mereka—teknik yang menyimpang dari Jalan Inti, menyerap kekuatan bumi dengan paksa hingga merusak tanah di sekitarnya.

Lin Mo tidak mundur. Ia kini memahami perbedaan sejati: mereka memeras bumi seperti mengambil rampasan; ia menyatu dengan bumi seperti bagian dari diri sendiri.

Salah satu pengawal menghunus pedang lebar, menebas ke arah lehernya. Lin Mo hanya mengangkat tangan kanannya, menangkis dengan telapak tangan kosong.

Krak!

Pedang itu patah dua seperti ranting kering. Tangan Lin Mo kini sekeras tulang gunung, tidak goyah sedikit pun.

"Kau... apa teknik ini?!" teriak pengawal itu panik.

"Ini cara yang benar memperlakukan tanah," jawab Lin Mo tenang. Ia melangkah maju, kakinya menekan tanah hingga retak halus menyebar ke sekeliling. Tanah di bawah ketiga pengawal tiba-tiba menjadi lengket seperti lumpur pekat, menahan pergerakan mereka seolah kaki tertanam di semen.

Sebelum mereka sempat melepaskan energi, Lin Mo sudah bergerak cepat. Setiap sentuhan ringannya membuat aliran energi di tubuh mereka kacau, membuat mereka jatuh berlutut tak berdaya. Ia tidak melukai mereka parah—ia hanya memutus akses mereka ke kekuatan bumi untuk sementara waktu.

"Kembalilah dan beri pesan pada tuamu," ucap Lin Mo dingin. "Altar ini bukan milik perampas. Jika dia datang sendiri, aku akan menunggunya."

Ia berbalik, berjalan perlahan menuju arah tembok pagar yang tersembunyi. Cahaya di altar perlahan meredup kembali, menyatu dengan kegelapan hutan.

Saat Lin Mo menghilang, ketiga pengawal saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Mereka baru saja menyadari satu hal yang mengerikan: kekuatan anak itu jauh lebih purba, jauh lebih berat, dan jauh lebih tak tergoyahkan daripada apa pun yang diajarkan keluarga mereka.

Di luar hutan, malam telah tiba. Lin Mo berdiri di balik semak-semak dekat pagar, menyadari bahwa perlindungan rahasia saja tidak cukup. Musuhnya sudah melacak jejak warisan ini, dan perselisihan dengan Keluarga Meng kini tak terelakkan.

Namun hatinya tenang. Karena ia tidak lagi berjalan sendirian. Ia kini memikul warisan ribuan tahun, dan akarnya sudah cukup kuat untuk menahan badai sebesar apa pun.

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!