NovelToon NovelToon
The Lecturer'S Secret Wife

The Lecturer'S Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."




​Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.

​"Yuna Anindya."

​Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.

​"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.

​Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekapan Yang Menyembuhkan

​"Sampai mati pun Ibu tidak akan pernah merestui kamu dengan putra saya! Dengar itu!" teriak Ibu Labib, suaranya melengking tinggi menembus keheningan kamar. Beliau menunjuk tepat ke arah Yuna dengan pandangan penuh penghinaan. "Saya hanya ingin Citra yang menjadi menantu di keluarga ini! Dia yang berpendidikan, dia yang mapan, bukan gadis ingusan pemalas seperti kamu!"

​Kata-kata kasar itu menghantam dada Yuna telak. Caci maki yang dilontarkan sang mertua tepat di depan wajahnya menjadi batas akhir dari seluruh pertahanan yang ia bangun sejak sore tadi. Rasa sakit, sesak, dan terhina bercampur menjadi satu. Air mata yang sejak awal ia tahan sekuat tenaga kini luruh tak terbendung, membasahi pipinya yang pucat.

​Yuna tidak tahan lagi. Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung kini terasa seperti neraka yang mencekik.

​Tanpa memedulikan Labib yang masih menahan tubuh ibunya, Yuna bergerak cepat menyambar kunci mobil City Car putihnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan langkah seribu dan tangis yang pecah, ia berlari melewati Ibu Labib dan suaminya, mengabaikan rasa perih di lengan kirinya.

​"Yuna! Jangan pergi! Yuna!" seru Labib panik. Pria itu hendak mengejar, namun lengannya dicengkeram kuat-kuat oleh ibunya.

​"Biarkan dia pergi, Labib! Biarkan perempuan tidak tahu sopan santun itu keluar dari rumah ini!" bentak ibunya menahan langkah Labib.

​Yuna terus berlari menuruni anak tangga dengan air mata yang mengaburkan pandangannya. Ia membuka pintu depan rumah dengan kasar, lalu berlari membelah kegelapan malam menuju mobil putihnya yang terparkir di halaman. Plafon tinggi rumah mewah itu seolah runtuh di belakangnya.

​Brak!

​Yuna menutup pintu mobilnya dengan kencang, langsung memasukkan kunci dan menyalakan mesin. Dengan tangan yang gemetar hebat karena tangis yang sesenggukan, ia menginjak pedal gas, memundurkan mobilnya dengan tergesa-gesa, lalu melesat keluar menembus gerbang rumah yang terbuka otomatis.

​Malam ini, dalam keadaan hancur dan terluka, Yuna hanya memikirkan satu tempat tujuan akhir untuk mengadukan seluruh rasa sakitnya: rumah ibunya sendiri. Tempat di mana ia tidak perlu berpura-pura kuat, dan tempat di mana ia selalu diterima apa adanya tanpa perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain.

​Deru mesin mobil putih Yuna berhenti dengan tidak beraturan di depan pagar rumah minimalis yang sangat ia kenali. Rumah ibunya. Tempat yang selalu beraroma teh hangat dan ketenangan. Yuna mematikan mesin, mencabut kunci dengan tangan yang masih bergetar hebat, lalu setengah berlari menuju pintu depan dengan air mata yang terus mengalir deras.

​Gedor! Gedor!

​"Ibu... Ibu..." panggil Yuna dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.

​Hanya butuh beberapa detik sampai pintu kayu itu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya berwajah teduh yang mengenakan daster rumahan. Ibu Yuna terbelalak kaget melihat anak perempuannya berdiri di ambang pintu dalam keadaan sekacau ini—rambutnya berantakan, matanya bengkak keunguan, dan napasnya tersengal-sengal.

​"Yuna? Astaga, Nak... kamu kenapa?" tanya Ibunya panik, langsung membuka kedua lengannya.

​Tanpa menjawab, Yuna langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya. Ia mendekap tubuh ringkih itu dengan sangat erat, seolah takut akan tenggelam jika melepaskannya. Di pundak ibunya, pertahanan Yuna runtuh total. Tangisnya pecah sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa sesak, hina, dan sakit hati yang ia bendung sejak di rumah Labib tadi. Suara tangisnya yang histeris memenuhi ruang tamu yang sepi.

​"Ibu... sakit, Bu... Yuna nggak kuat..." adu Yuna di sela sesenggukannya, tubuhnya sampai terguncang hebat.

​Sang ibu tidak mendesak Yuna dengan pertanyaan apa pun. Beliau hanya mengusap punggung Yuna dengan penuh kasih sayang, mengecup puncak kepala putrinya, dan membiarkan kaosnya basah oleh air mata anak gadisnya. Beliau menuntun Yuna perlahan untuk duduk di sofa, tetap memeluknya erat, memberikan kehangatan sejati yang tidak Yuna dapatkan di rumah megah penuh intimidasi milik Labib malam ini.

​Setelah tangisnya berangsur-angsur mereda menjadi sesenggukan kecil, Yuna mulai membuka suara. Di bawah temaram lampu ruang tamu rumah ibunya, ia menumpahkan seluruh beban yang menghimpit dadanya. Yuna menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat—mulai dari kesalahpahaman pesan puding mangga dari Bu Citra, hingga caci maki menyakitkan dari ibu Labib yang menerobos masuk ke kamar mereka malam ini.

​Ibunya mendengarkan dengan sabar, jemari tuanya terus bergerak lembut menyisir rambut Yuna yang berantakan, memberikan ketenangan yang perlahan mendinginkan kepala Yuna yang panas.

​Setelah Yuna menyelesaikan ceritanya dengan napas yang masih terasa berat, sang ibu mengembuskan napas pelan. Beliau menangkup kedua pipi anak gadisnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat Yuna yang kini bengkak dan memerah.

​"Nak," ucap ibunya dengan suara yang begitu teduh dan tenang. "Selama hubunganmu dan suamimu baik-baik saja, ucapan mertuamu itu tidak perlu kamu dengarkan."

​Yuna tertegun, menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya. "Tapi Bu... Ibu Labib bilang sampai mati pun nggak bakal merestui Yuna. Dia maunya Bu Citra yang jadi menantunya. Yuna dihina pemalas di depan Mas Labib, Bu..."

​Ibunya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kedewasaan yang sarat akan pengalaman hidup. "Yuna, coba kamu ingat-ingat lagi kejadian di kamar tadi. Siapa yang berdiri di depanmu? Siapa yang membela kamu dan berani menegur ibunya sendiri demi menjaga kehormatanmu?"

​Yuna terdiam. Bayangan punggung tegap Labib yang mengadang amarah ibunya kembali terlintas di benaknya.

​"Mas Labib..." cicit Yuna pelan.

​"Itu artinya, suamimu menghargai kamu sebagai istrinya," lanjut sang ibu lembut, mengusap sisa air mata di pipi Yuna. "Dalam pernikahan, yang menjalani itu kamu dan Labib, bukan mertuamu. Selama Labib masih berdiri tegak melindungimu dan memegang komitmennya, ketidaksetujuan orang luar—bahkan ibunya sekalipun—tidak akan bisa meruntuhkan rumah tanggamu, kecuali kamu sendiri yang memilih untuk menyerah."

​Nasihat sederhana namun mendalam dari ibunya itu seketika menghantam kesadaran Yuna. Amarah dan rasa terhina yang menguasai dirinya perlahan mulai terkikis, digantikan oleh rasa hangat sekaligus penyesalan karena lagi-lagi ia mengepalkan ego dan berlari pergi meninggalkan Labib yang sedang berjuang membelanya.

1
Rian Moontero
mampiiirrrrR🤣
Sri Afrilinda
so sweet😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!