Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Pertama Untuk Suami
Mentari pagi mulai menyelinap malas melalui celah gorden kamar, membawa seberkas sinar hangat yang tepat mengenai wajah Satria. Pria itu mengernyit, perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Ia mengubah posisinya menjadi duduk di sofa, lalu menoleh ke arah tempat tidur berukuran besar di tengah ruangan.
Naira ternyata masih terlelap. Selimut tebal membungkus tubuhnya hingga sebatas dada, memperlihatkan wajah polosnya yang terlihat begitu damai saat tertidur.
Satria tersenyum tipis, merasa lega. "Untung semalam dia bisa tidur nyenyak," bisiknya sangat pelan pada diri sendiri.
Ia bangkit dari sofa dengan gerakan hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Setelah melipat selimut dan merapikan kembali bantal yang dipakainya semalam, Satria melangkah menuju pintu. Namun, baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu, sebuah suara lirih menghentikan langkahnya.
"Mas..." panggil Naira, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur.
Satria memutar tubuhnya dan mendapati Naira sudah duduk di tepi kasur sambil mengucek matanya pelan. "Eh, sudah bangun?" tanya Satria ramah.
"Maaf ya, Mas... gara-gara aku, Mas jadi harus tidur di sofa sempit itu," cicit Naira, langsung menundukkan kepala dengan raut wajah tidak enak hati.
Satria menggeleng pelan sambil berjalan mendekat. "Tidak apa-apa, Naira. Aku tidur nyenyak sekali semalam," bohongnya sedikit agar sang istri tidak merasa bersalah.
"Benarkah? Badan Mas tidak pegal-pegal?" tanya Naira sangsi, mendongak menatap suaminya.
"Iya, benar. Badanku segar, kok," sahut Satria dibarengi senyum meyakinkan. "Kalau begitu, ayo kita keluar. Nanti Ayah sama Ibu terlalu lama menunggu."
"Baik, Mas," jawab Naira dengan anggukan kecil. Ia segera merapikan jilbab instan yang dipakainya sebelum berdiri.
Begitu Satria membuka pintu kamar, aroma gurih bawang goreng dan nasi goreng hangat langsung menyergap indera penciuman mereka, memicu rasa lapar yang seketika bangkit.
"Masyaallah..." gumam Naira spontan, matanya berbinar.
"Harum sekali ya, aromanya sampai ke dalam kamar," timpal Satria sambil mengendus udara pagi itu dengan senyum kecil.
Mereka berdua berjalan menuju dapur. Di sana, Ibu Siska tampak sedang sibuk membolak-balikkan masakan di atas wajan.
"Eh, Naira, Satria, sudah bangun?" sapa Ibu Siska menyadari kehadiran anak dan menantunya.
"Iya, Bu. Selamat pagi," jawab Satria sopan.
"Pagi, Bu. Ada yang bisa Naira bantu?" tanya Naira, langsung melangkah mendekati meja konter dapur.
"Nah, pas sekali. Sini bantu Ibu angkat piring ini ke meja makan," titah Ibu Siska hangat.
"Baik, Bu," sahut Naira cekatan. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengambil piring-piring lauk dan membawanya ke ruang makan.
Sementara itu, Pak Ridwan yang sedang duduk santai membaca koran di kursi meja makan langsung melipat kertas beritanya begitu melihat sang menantu datang.
"Pagi, Satria," sapa Pak Ridwan dengan senyum kebapakan yang khas.
"Pagi, Pak," balas Satria, mengambil tempat duduk di seberang mertuanya.
"Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya Pak Ridwan menyelidik, matanya melirik sekilas ke arah dapur tempat putrinya berada, lalu kembali menatap Satria.
"Alhamdulillah, Pak. Nyenyak sekali," jawab Satria dengan anggukan sopan.
Pak Ridwan mengangguk-angguk puas, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Naira tidak merepotkan kamu, kan?" godanya setengah berbisik.
Satria terkekeh pelan, melirik Naira yang baru saja meletakkan semangkuk kerupuk di meja. "Sama sekali tidak, Pak," sahut Satria tulus.
Jawaban itu membuat senyum Pak Ridwan makin lebar. Tidak lama kemudian, mereka berempat sudah duduk melingkari meja makan yang penuh dengan hidangan sarapan.
"Nah, ayo semuanya diambil nasinya. Dicicipi masakan Ibu," seru Ibu Siska ramah, mempersilakan.
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Satria. Ia meraih sendok besar dan menyendok nasi goreng secukupnya ke atas piring.
Baru saja Satria hendak menyuap sendokan pertamanya, Ibu Siska tiba-tiba bersuara, membuat gerakan tangan Satria tertahan di udara.
"Satria," panggil Ibu Siska.
"Iya, Bu?" Satria menoleh, menatap ibu mertuanya.
"Bagaimana? Masakan Ibu masih cocok di lidahmu?" tanya Ibu Siska, tampak sedikit cemas menantikan penilaian menantunya.
Satria langsung menyuap nasi goreng itu, mengunyahnya sebentar, lalu tersenyum lebar. "Enak sekali, Bu. Bumbunya pas sekali di lidah saya."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Ibu Siska lega, lalu melirik ke arah putrinya yang duduk di sebelah Satria. "Nanti kalau kalian sudah tinggal berdua di rumah sendiri, biar Naira yang bertugas masak untukmu."
Pipi Naira seketika merona merah mendengar godaan ibunya. "Ibu... apa sih," protes Naira pelan, menyenggol lengan ibunya dengan wajah malu-malu.
"Kenapa? Memang benar, kan?" goda Ibu Siska lagi sambil tertawa.
Pak Ridwan tidak mau kalah, beliau ikut menimpali obrolan pagi itu. "Dulu waktu masih kuliah di Tata Boga, dia sering sekali mengirim foto hasil praktik masaknya ke grup keluarga. Kelihatannya saja bagus."
"Lalu kalau rasanya gagal bagaimana, Yah?" tanya Satria, mulai tertarik dengan masa lalu istrinya.
"Ya ibunya ini yang dipaksa jadi kelinci percobaan buat mencicipi," sahut Pak Ridwan disambut tawa renyah dari dirinya dan Ibu Siska.
"Hahaha..." Satria ikut tertawa pelan, membayangkan wajah pasrah sang ibu mertua.
Naira langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, benar-benar merasa tersudut pagi ini. "Ih, Ayah! Itu kan dulu waktu masih belajar," rengeknya manja.
Satria menghentikan tawanya, lalu menurunkan tangannya dari piring. "Kalau begitu, berarti aku termasuk laki-laki yang sangat beruntung," sela Satria tiba-tiba.
Suasana meja makan mendadak hening seketika. Pak Ridwan dan Ibu Siska menghentikan tawa mereka, sementara Naira perlahan menurunkan tangannya dari wajah, menatap suaminya dengan dahi berkerut.
"Beruntung? Maksud Mas?" tanya Naira bingung.
"Iya, beruntung," jawab Satria mantap. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap lekat mata istrinya dengan pandangan yang begitu teduh. "Aku beruntung bisa menikah dengan perempuan yang mau berjuang mengejar impiannya dari nol sampai berhasil seperti sekarang. Menurutku, kerja kerasmu itu sangat membanggakan."
Kalimat sederhana yang meluncur dari bibir Satria seketika membuat suasana ruang makan terasa begitu hangat dan magis. Naira terpaku, jantungnya berdesir hebat mendengar pujian tulus yang sama sekali tidak ia sangka akan keluar dari mulut suaminya yang kaku itu.
Pak Ridwan dan Ibu Siska saling berpandangan, lalu tersenyum tipis. Sebagai orang tua, mereka bisa menangkap ketulusan yang mendalam dari setiap untaian kata yang diucapkan oleh menantunya.
Setelah ritual sarapan selesai, suasana rumah kembali membagi tugas. Naira membantu ibunya mencuci piring dan merapikan dapur, sedangkan Satria dan Pak Ridwan memilih duduk santai di kursi rotan teras rumah, menikmati udara pagi ditemani secangkir teh hangat.
"Besok kamu sudah langsung masuk kantor lagi, Sat?" tanya Pak Ridwan setelah menyeruput tehnya.
"Iya, Pak. Cuti pernikahan saya memang hanya sampai hari ini," jawab Satria sopan. "Naira juga bilang besok tokonya sudah mulai buka kembali."
"Iya, Ayah tahu. Anak itu memang tidak bisa diam kalau soal tokonya," sahut Pak Ridwan dengan anggukan pelan. Beliau meletakkan cangkirnya, lalu menatap lurus ke halaman depan.
"Satria... kalau nanti kalian sudah pindah ke rumah baru kalian..." Pak Ridwan menjeda kalimatnya sejenak, menoleh menatap menantunya dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "...jangan pernah sungkan untuk sering-sering datang ke sini, ya. Rumah ini akan selalu terbuka dan menjadi rumah kalian berdua."
Satria tersenyum takzim, merasakan kehangatan seorang ayah dari pria di hadapannya. "Insyaallah, Pak. Pasti kami akan sering berkunjung. Dan saya juga berharap Bapak serta Ibu tidak bosan untuk main ke rumah kami nanti."
Pak Ridwan mengulas senyum bangga, lalu mengulurkan tangannya untuk menepuk pelan bahu kekar menantunya. "Terima kasih, Satria. Terima kasih karena sejak kemarin acara dimulai... Ayah bisa melihat dengan mata kepala Ayah sendiri kalau kamu benar-benar menjaga dan menghormati Naira."
Satria menundukkan kepalanya dalam-dalam, meresapi setiap wejangan itu dengan penuh rasa takzim. "Itu sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya sekarang, Pak."
Pak Ridwan tersenyum lega. Dalam hati, segala kekhawatirannya sebagai seorang ayah seketika sirna. Lelaki yang kini resmi menjadi suami putrinya mungkin memang bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis atau romantis.
Namun, dari setiap gerak-gerik dan sikapnya, terlihat jelas bahwa Satria adalah pria bertanggung jawab yang tahu persis bagaimana cara memuliakan seorang wanita.
Sementara itu, di balik jendela kaca dapur yang sedikit terbuka, Naira berdiri terpaku dengan kain lap di tangannya. Tanpa sengaja, ia melihat dan mendengar seluruh percakapan mendalam antara ayah dan suaminya di teras.
Sebuah senyuman kecil, namun sarat akan rasa bahagia, perlahan terukir di wajah manis Naira. Dadanya bergemuruh oleh rasa syukur yang membuncah. Entah mengapa, keraguan yang sempat membayangi hatinya sebelum pernikahan ini kini benar-benar lenyap tak bersisa.
Keputusan untuk menerima perjodohan ini... ternyata adalah langkah paling tepat yang pernah ia pilih dalam hidupnya.
Bersambung...