Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Sandiwara
Usai makan siang Vira kembali ke tokonya. Sedangkan Yanti membereskan meja makan.
Sambil mengangkat piring kotor menuju wastafel Yanti memutar otak mencari celah agar bisa terbebas dari beres-beres rumah. Lalu...
"Ahaaa..."
Tak!
Ia menjentikkan jarinya saat sebuah ide muncul. Ia tersenyum lebar lalu mengangkat piring di tangannya tinggi-tinggi. Beberapa detik kemudian....
Prang!
Suara benda pecah terdengar jelas dari dalam rumah. Disusul pekikan melengking.
"Aduh...!"
Vira yang sedang menghitung uang di toko langsung menoleh.
"Yanti?"
Ia bergegas masuk ke dalam rumah. Pemandangan di dapur langsung menyambutnya.
Di depan wastafel, pecahan piring berserakan di lantai. Yanti terduduk sambil memegangi pergelangan kakinya.
"Aduh... aduh, Ra..." rintihnya. "Kakiku sakit banget."
Vira menghampirinya tanpa tergesa-gesa. Tatapannya lebih dulu menyapu pecahan piring di lantai, lalu berhenti pada kaki Yanti.
"Jatuh?"
Yanti mengangguk cepat. "Iya. Tadi aku habis cuci piring. Tapi malah terpeleset." Lalu ia melanjutkan dengan suara lirih. "Kayaknya kakiku keseleo deh."
Vira menyapu pandangannya ke arah wastafel. Tak banyak bekas air di sana. Sabun cuci piring pun masih berada di tempat yang sama seperti saat ia mencuci tangan sebelum makan siang tadi.
Keningnya sedikit berkerut. Tatapannya bergeser ke pecahan piring di lantai yang masih menyisakan sedikit makanan.
Perlahan, ia berjongkok untuk mengamatinya lebih saksama.
"Kayaknya dia belum nyuci piring deh."
Lalu ia mengalihkan perhatian pada Yanti. "Boleh kulihat?"
Yanti sempat ragu, tetapi tetap mengulurkan kakinya.
Dengan hati-hati Vira memegang pergelangan kaki Yanti. Jemarinya menekan perlahan beberapa bagian.
"Aduh... sakit!" pekik Yanti saat Vira menyentuh sisi luar pergelangan kakinya.
Vira mengamati dengan saksama. Kulit di pergelangan kaki itu masih tampak biasa. Belum tampak bengkak yang berarti. Warna kulitnya juga masih normal. Tatapannya kemudian beralih ke wajah Yanti.
Rintihannya terdengar meyakinkan. Namun, entah kenapa sorot mata sepupunya itu membuat Vira teringat pada saat ia belum terlahir kembali.
"Apa benar keseleo... atau hanya mencari alasan?"
"Ra..." Yanti menggigit bibir. "Kayaknya aku gak bisa beres-beres rumah dulu deh," kata Yanti pelan. "Kalau dipaksa jalan nanti malah tambah parah."
Pandangannya beralih sekilas ke arah toko. "Kalau boleh... mulai besok aku jaga toko aja. Biar tetap bisa bantu kamu."
Sudut bibir Vira bergerak samar. "Oh, jadi ini tujuanmu."
Namun wajahnya tetap tenang. "Jangan dipaksakan."
Mendengar jawaban itu, wajah Yanti sedikit berbinar. Namun senyumnya membeku saat Vira melanjutkan,
"Kalau memang keseleo, berarti kamu harus istirahat. Ayo, berdiri pelan-pelan."
Vira meraih lengan Yanti dan membantunya berdiri. Yanti sengaja lebih banyak bertumpu pada tubuh Vira sambil terus meringis.
Setelah berhasil berjalan beberapa langkah, Vira mendudukkannya di kursi ruang makan.
"Tunggu sebentar." Vira mengeluarkan ponselnya. "Aku panggil tukang urut."
Mata Yanti membelalak sesaat. "T-tukang urut?"
"Iya." Vira tersenyum ramah.
Yanti langsung panik. "Ra, gak usah repot-repot. Paling nanti juga sembuh sendiri."
Vira menggeleng. "Jangan dianggap sepele. Kalau memang keseleo, lebih cepat ditangani lebih baik."
Tanpa menunggu jawaban dari Yanti, ia segera menelepon tukang urut langganan warga desa.
"Mak, bisa ke rumah saya sekarang? Sepupu saya keseleo."
"Sial!" umpat Yanti dalam hati.
Setelah sambungan terputus, Vira mengambil sapu dan pengki. Ia mulai membersihkan pecahan piring yang berserakan.
Beberapa saat kemudian ia memungut pecahan piring yang paling besar.
"Sayang sekali," gumamnya pelan.
Yanti menelan ludah.
"Piring ini satu lusinnya hampir tiga ratus ribu."
Yanti mulai gelisah.
"Nanti harga piring yang pecah ini aku potong dari gajimu, ya," kata Vira sambil meletakkan beling itu di pengki.
"Apa?!" seru Yanti. Matanya membelalak
Vira menoleh. "Kenapa?"
Yanti buru-buru menggeleng. "G-gak... gak apa-apa."
Vira kembali menyapu lantai. "Kalau memang kecelakaan, ya mau bagaimana lagi. Tapi barang yang rusak tetap harus diganti. Kan pecah karena kelalaianmu."
Yanti mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. "Dasar pelit!"
"Kalau memang sedang sakit," lanjut Vira tanpa menatap Yanti. "nanti setelah tukang urut datang kamu istirahat saja. Soal toko, biar tetap aku yang jaga."
Yanti hanya bisa menggigit bibir sambil menahan kesal. "Rencanaku gagal..."
Sementara itu, Vira menyembunyikan senyum tipisnya. "Kalau memang pura-pura, sebentar lagi bakal ketahuan saat tukang urut datang."
Setelah selesai membersihkan lantai, Vira membantu Yanti berjalan perlahan menuju ruang tengah, lalu mendudukkannya di sofa.
"Kamu tunggu di sini. Jangan dipaksakan jalan dulu."
Yanti mengangguk sambil terus memegangi pergelangan kakinya.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi..."
Vira segera bergegas ke depan. Di ambang pintu berdiri seorang wanita tua mengenakan gamis sederhana. Rambutnya sudah memutih, wajahnya dipenuhi keriput, tetapi senyumnya tetap hangat.
"Mak," sapa Vira.
Wanita tua itu mengangguk. "Katanya ada yang keseleo?"
Vira melirik sekilas ke arah ruang tengah, memastikan Yanti tidak mendengar. Setelah itu, ia mendekat dan berbisik pelan.
"Mak... saya sebenarnya kurang yakin kalau sepupu saya benar-benar keseleo."
Wanita tua itu mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Entahlah." Vira mengembuskan napas pelan. "Perasaan saya dia cuma mencari alasan supaya gak perlu mengerjakan pekerjaan rumah. Saya ini hidup sendiri, yatim piatu, tapi masih saja ada yang ingin memanfaatkan kebaikan saya."
Wanita tua itu tersenyum tipis. "Jadi, Vira maunya bagaimana?"
Vira ikut tersenyum. "Kalau memang benar keseleo, tolong diurut yang pelan saja, Mak, biar cepat sembuh."
Ia berhenti sejenak, lalu senyumnya berubah jail. "Tapi kalau ternyata cuma pura-pura..."
Wanita tua itu langsung memahami maksud Vira. Sudut bibirnya ikut terangkat. "Tenang saja. Mak tahu harus bagaimana."
Mata Vira langsung berbinar. "Emak memang paling pengertian."
Ia merangkul lengan wanita tua itu dengan manja. "Nanti pulangnya jangan lupa bawa sembako dari toko saya ya, Mak. Anggap saja bonus."
Wanita tua itu terkekeh pelan. "Dasar kamu. Ada-ada saja."
Vira mengantar emak masuk ke ruang tengah.
Yanti yang semula bersandar di sofa langsung merapikan posisi duduknya. Senyum tipis dipaksakan muncul di wajahnya.
"Ini sepupu saya, Mak," ujar Vira. "Katanya tadi terpeleset."
Emak mengangguk pelan, lalu duduk di kursi tepat di depan Yanti.
"Mana yang sakit, Nduk?"
Yanti segera menunjuk pergelangan kaki kanannya. Wajahnya dibuat meringis. "Di sini, Mak. Sakit banget kalau dipakai jalan."
"Sebelah sini?" tanya emak sambil memegang pelan pergelangan kaki itu.
"Iya..." jawab Yanti lirih.
Emak mulai meraba perlahan, menekan beberapa titik, lalu menggerakkan pergelangan kaki itu ke kanan dan kiri.
Yanti sesekali meringis, berusaha terlihat meyakinkan.
Namun, setelah beberapa saat, emak tidak menemukan tanda-tanda bengkak ataupun pergeseran pada sendi. Ia mengangkat wajah dan melirik Vira.
Tanpa suara, Vira menggerakkan bibirnya. "Gimana?"
Emak menggeleng tipis. Lalu, dengan gerakan nyaris tak terlihat, ia memberi isyarat kecil seolah berkata, "Serahkan sama Mak."
Vira menggigit bibir agar tidak tersenyum. Ia hanya mengacungkan jempol kecil di balik tubuh Yanti.
✨"Orang yang terlalu sering berpura-pura, suatu hari akan merasakan sakit dari sandiwaranya sendiri."
"Kebaikan bukan berarti membiarkan diri terus dimanfaatkan."
"Dulu ia terlalu mudah percaya. Kini, ia memilih mengamati sebelum memberi." ✨
.
To be continued
Juga sudah terbiasa memasak dan meladeni Ibunya.
Vira melihat Arvin meladeni Ibunya, menuangkan air minum ke dalam gelas, mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Ibunya. Berkata lembut pada Ibunya.
Lalu mengambilkan nasi goreng untuk Vira juga.
Apa yang dilakukan Arvin yang baru sehari menjadi suaminya, Vira jadi ingat Daril lagi dengan segala perlakuan buruknya.
Jadi tak ada kata jijik terucap ketika tahu Vira haid, Arvin yang mau membereskan tempat tidur dengan mengganti sprei yang ada noda haid.
Vira keluar dari kamar mandi tersenyum melihat sprei sudah berganti baru.
Vira jadi ingat masa lalu ketika Daril yang menjadi suaminya. Mana mau mengganti sprei. Melihat noda jijik langsung pergi.
Arvin dan Vira menikah kenapa Daril merasa mereka bahagia di atas penderitaannya
Daril sendiri yang berulah, malah menyalahkan Vira dan Arvin.
Hartato datang bersama kedua orang tuanya.
Ijab kabul dimulai, penghulu sebagai wali nikah mengucapkan ikrar kabul sampai selesai.
Arvin mengucap kabul dengan mantap.
Kata "Sah" dari para saksi terdengar hampir bersamaan.
Ibunya Arvin kambuh trauma diusir dari rumahnya.
cerita nya aku suka dan tidak berbelit belit,
sukses selalu ya ka,
aku mau baca cerita mu yg lain lagi
Dia merasa tampan dan mempunyai pekerjaan tetap. Dari keluarga terpandang pula.
Vira punya alasan lain kenapa memilih Arvin.
Hartato mendengar kalimat-kalimat yang ducapkan Vira, jadi mengerti dan tidak akan memaksa lagi.
Bahkan mendoakan Vira benar-benar bahagia, sambil mengulurkan tangannya.
Vira menyambut uluran tangan Hartato, dengan tersenyum hangat mengucapkan - terima kasih, Har.
Indah sekali.