Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan Malam Dari Hendra
Malam kembali menyelimuti Bukit Permai dengan keheningan yang pekat. Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Hendra melangkah masuk ke dalam ruang kerja Adrian dengan pakaian formalnya yang rapi, membawa sebuah koper kecil berisi laporan intelijen terbaru dari distrik selatan.
Kirana yang sedang menyiapkan segelas susu hangat di sudut ruangan tetap mempertahankan posisinya, menajamkan pendengarannya tanpa membuat gerakan yang mencurigakan. Adrian memberikan isyarat mata pada Hendra bahwa Kirana boleh tetap berada di dalam ruangan—sebuah tanda kepercayaan baru yang sangat besar yang bahkan membuat Hendra sedikit terkejut.
"Tuan Muda, urusan perantara bernama Tony di distrik selatan sudah diselesaikan," lapor Hendra dengan nada militer yang datar. "Kelompok Siberia Hitam sempat mencoba melindunginya, namun anak buah kita berhasil membersihkan area sebelum polisi setempat datang. Tapi ada satu hal yang mencurigakan."
Hendra membuka koper kecilnya, mengeluarkan sebuah salinan mutasi rekening bank tersembunyi. "Tony menerima aliran dana sebesar dua ratus ribu dolar sesaat sebelum ia menghubungi Mawar. Dan dana itu... ditransfer dari sebuah rekening cangkang yang berbasis di luar negeri, namun jejak digitalnya mengarah pada salah satu komputer internal di Capital Union Bank."
Mendengar nama Capital Union Bank, yang merupakan bank milik keluarga Nona Tasya, rahang Adrian seketika mengeras. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi setajam silet, memancarkan aura kekejaman yang pekat di bawah temaram lampu ruangan.
"Jadi... dugaanku benar," desis Adrian, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Keluarga direksi bank itu mulai mencoba bermain di belakangku. Mereka berpikir dengan memanfaatkan Siberia Hitam, mereka bisa melemahkan kendali posisi Arseto di pelabuhan dan mengambil alih aset finansial kita."
Hendra mengangguk setuju. "Bagaimana perintah Anda, Tuan Muda? Apakah kita harus memutuskan hubungan kerja sama legal dengan mereka dan mulai melakukan penekanan di dunia bawah?"
Adrian terdiam sejenak, memikirkan dampak sistemik yang akan terjadi jika ia langsung menyerang salah satu pilar keuangan legalnya. Konflik terbuka di saat ayahnya masih sakit sakitan bisa memicu ketidakstabilan di bursa saham perusahaan legal mereka.
Tepat saat keheningan tegang itu menguasai ruangan, Kirana melangkah mendekati meja kerja dengan membawa segelas susu hangat. Ia meletakkan gelas itu di hadapan Adrian, lalu dengan kecerdasan taktisnya yang tajam, ia mengajukan sebuah pandangan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh orang-orang dunia bawah.
"Jika boleh saya memberikan satu pandangan kecil yang cerdas, Tuan Muda," ujar Kirana dengan suara yang tenang namun berbobot, matanya berkilat cerdas.
Adrian dan Hendra menoleh, menatap gadis pelayan itu dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Bicaralah, Kirana," perintah Adrian pendek.
"Menyerang mereka secara langsung di saat posisi Anda sedang dalam masa pemulihan adalah apa yang diinginkan oleh Siberia Hitam," jelas Kirana, tangannya bergerak secara ilustratif di atas meja kerja. "Mengapa tidak membiarkan tikus-tikus di bank itu berpikir bahwa rencana mereka berhasil? Tuan Muda bisa berpura-pura memperketat keamanan di pelabuhan, namun diam-diam memindahkan jalur logistik utama ke dermaga cadangan di sektor timur."
"Biarkan mereka menyerang ruang kosong, dan di saat mereka mengekspos diri mereka sepenuhnya karena mengira Anda lengah... di situlah Anda menjatuhkan kapak keadilan Arseto untuk menghancurkan mereka sekaligus tanpa sisa."
Hendra terbelalak mendengar analisis taktis yang begitu rapi dan matang keluar dari mulut seorang gadis berusia dua puluh tahun yang tidak pernah mengecap pendidikan militer atau bisnis tingkat tinggi. Pandangannya terhadap Kirana seketika berubah dari rasa curiga menjadi rasa hormat yang mendalam.
Adrian menatap Kirana dalam-dalam, sebuah kilatan ketertarikan yang luar biasa dalam terpancar dari sepasang mata hitamnya. Gadis pelayan di hadapannya ini bukan sekadar pemberani dan suka menggoda; dia memiliki otak seorang ahli strategi yang sanggup membaca papan catur dengan presisi yang menakutkan.
"Kau... benar-benar penuh kejutan, Kirana," gumam Adrian, sebuah kedutan tipis yang menyerupai senyuman tulus—hampir tidak terlihat—muncul di sudut bibirnya yang kaku.
"Saya hanya tidak mau melihat ketampanan Anda terganggu oleh pikiran-pikiran dari tikus-tikus kecil itu, Tuan Muda," balas Kirana dengan kedipan mata yang nakal dan tawa kecil yang renyah, mengembalikan atmosfer riang di antara mereka.