NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.

Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.

Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?

Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Bu Ratih

Polisi masih memburu Roni yang berhasil melarikan diri. Meski begitu, mereka meminta Linda untuk tidak kembali menjalani rutinitas seperti biasa sampai situasi benar-benar aman.

Atas saran pihak kepolisian, Linda memutuskan tinggal sementara di rumah kakaknya di desa tetangga. Rumah itu berada cukup jauh dari desa mereka, sehingga kecil kemungkinan Roni mengetahui keberadaannya.

Keputusan itu memang tidak mudah.

Linda harus meninggalkan rumah yang telah ditempatinya bertahun-tahun. Namun, setiap kali melihat Sasa bisa kembali tertawa dan tidur tanpa mimpi buruk, ia tahu pengorbanan itu sepadan.

Sebelum berangkat, Linda menggenggam kedua tangan Kinan. "Terima kasih, Bu Kinan. Kalau bukan karena Ibu, mungkin saya sudah kehilangan Sasa."

Kinan menggeleng pelan. "Jaga Sasa baik-baik. Untuk sementara, jangan kembali dulu sebelum polisi menyatakan keadaan benar-benar aman."

Linda mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

"Saya akan mengingat kebaikan Ibu seumur hidup."

Sasa yang berdiri di samping ibunya tiba-tiba memeluk pinggang Kinan. "Terima kasih, Bu Guru."

Kinan mengusap lembut kepala anak itu. "Jadilah anak yang kuat. Dengarkan Ibu, dan jangan membuatnya khawatir lagi."

Sasa mengangguk mantap.

Mobil yang menjemput mereka perlahan melaju meninggalkan desa.

Kinan berdiri hingga kendaraan itu menghilang di tikungan jalan. Setidaknya, untuk saat ini, Linda dan Sasa berada di tempat yang lebih aman.

Namun jauh di dalam hatinya, Kinan tahu satu hal. Selama Roni masih bebas, ancaman itu belum benar-benar berakhir.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu berbalik meninggalkan jalan desa. Matahari mulai meninggi ketika Kinan tiba di rumah. Ia membuka pintu, meletakkan tas di atas meja, lalu menggulung lengan bajunya.

...****************...

Sementara itu di Puskesmas.

Darwin mengayunkan sapu lidi menyusuri halaman depan puskesmas. Daun-daun kering berkumpul menjadi satu di sudut halaman. Tak jauh darinya, Pak Darto sibuk memangkas rumput yang mulai meninggi di tepi taman.

Sejak pagi, halaman puskesmas sudah dipenuhi warga. Ada yang duduk mengantre, ada pula yang baru keluar dari ruang pemeriksaan sambil menggenggam kantong obat berwarna putih. Beberapa lansia berjalan pelan menuju gerbang, sementara seorang ibu muda menggendong anaknya yang tertidur usai mendapat pengobatan.

Darwin menyapu tanpa banyak bicara. Namun matanya sesekali mengamati kesibukan di sekelilingnya.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan puskesmas. Kepala desa turun lebih dulu. Ia langsung disambut oleh Kepala Puskesmas. Keduanya berjabat tangan, lalu berdiri di bawah pohon ketapang yang cukup jauh dari keramaian.

Darwin tetap menyapu seperti biasa. Sedikit demi sedikit ia mendekat, berpura-pura membersihkan daun-daun kering yang tertiup angin.

"...Tuan Sanjaya mulai tidak sabar," ucap Kepala Desa dengan suara pelan.

Kepala Puskesmas mengangguk. "Saya juga sudah mendapat kabar. Kalau lahan itu belum juga beres bulan ini, beliau sendiri yang akan turun tangan."

"Lalu bagaimana dengan pemiliknya? Mereka masih menolak."

"Kita buat mereka tidak punya pilihan."

Darwin menghentikan sapunya sesaat, tetapi segera melanjutkannya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Kepala Puskesmas menatap sekeliling sebelum kembali berbisik. "Nilai tanah di sekitar sini akan melonjak setelah proyek dimulai."

"Justru itu alasan Tuan Sanjaya ingin menguasainya secepat mungkin."

"Kalau begitu, saya akan bicara lagi dengan orang-orang yang belum mau menjual."

Kepala Desa menggeleng pelan. "Jangan terlalu keras. Yang penting targetnya tercapai."

Percakapan itu terputus ketika salah seorang perawat memanggil Kepala Puskesmas.

Darwin tetap menyapu dengan wajah datar. Namun di dalam kepalanya, nama Tuan Sanjaya terus terngiang.

Siapa sebenarnya orang itu? Sampai kepala desa dan kepala puskesmas pun tampak begitu berhati-hati saat menyebut namanya.

.

.

Kinan baru saja selesai memasak nasi ketika terdengar suara salam dari halaman. "Selamat siang..."

Kinan segera menyeka tangannya dengan lap dapur, lalu keluar. "Iya, selamat siang."

Di depan pagar berdiri Bu Ratih dengan senyum hangat. Di tangannya ada sebuah mangkuk kecil yang ditutup piring.

"Maaf mengganggu. Tadi saya masak kolak pisang. Kebanyakan, jadi saya ingat kalian."

Kinan tersenyum tulus. "Astaga, Bu. Tidak perlu repot-repot."

"Ah, anggap saja balas budi. Dulu waktu kalian pertama datang ke desa ini, rumah saya yang pertama kalian singgahi. Sekarang sesekali saya ingin mampir, melihat kabar kalian."

"Silakan masuk, Bu."

Bu Ratih melangkah ke teras, lalu duduk di kursi bambu, meletakkan rantang di atas meja. Pandangannya menyapu halaman yang bersih dan beberapa pot tanaman di depan rumah. Kinan kembali ke dapur dan berbalik membawa teh hangat.

"Rumah ini sekarang terasa lebih hidup," ujar bu Ratih. "Dulu waktu masih kosong, rasanya sepi sekali."

Kinan menuangkan teh hangat ke dalam gelas, lalu meletakkannya di hadapan Bu Ratih. "Silakan, Bu."

"Terima kasih." Bu Ratih meniup pelan permukaan teh sebelum menyesapnya. "Jadi, bagaimana? Sudah betah tinggal di sini?"

Kinan tersenyum. "Ya, Bu. Sedikit demi sedikit mulai betah."

"Pekerjaan juga sudah dapat?"

"Sudah. Saya mengajar di TK."

"Wah, cocok sekali." Bu Ratih mengangguk puas. "Anak-anak pasti senang punya guru yang sabar."

Kinan hanya tersenyum malu.

"Kalau Mas Darwin?"

"Dia bekerja di puskesmas."

"Bagian apa?"

"Petugas kebersihan, Bu. Sebentar lagi juga pulang. "

"Pekerjaan yang mulia juga." Bu Ratih kembali menyeruput tehnya. "Yang penting rezekinya halal."

Kinan mengangguk. "Betul, Bu."

Setelah itu, obrolan mereka mengalir ringan, membahas tetangga, kebun, hingga harga sayuran di pasar.

Tak lama kemudian, Bu Ratih tersenyum usil.

"Ngomong-ngomong, Kinan..."

"Iya, Bu?"

"Memangnya Mas Darwin paling suka masakan apa?"

Darwin yang baru saja melangkah ke halaman menghentikan langkahnya sejenak. "Wah, ada tamu rupanya!"

Bu Ratih menoleh. "Nah, ini orangnya sudah pulang."

Darwin tersenyum ramah. "Iya, Bu. Tadi ada sedikit pekerjaan tambahan di puskesmas."

Bu Ratih tertawa kecil. "Tadi saya sedang bertanya sama Kinan. Mas Darwin itu paling suka masakan apa."

"Kalau saya tidak pilih-pilih Bu,"

"Wah, senangnya aku mendengar jawaban mas Darwin."

Tak berhenti sampai di situ, Bu Ratih tersenyum jahil. "Kalau boleh tahu, kalian sudah sempat bulan madu belum?"

Kinan yang sedang mengangkat gelas teh seketika menghentikan gerakannya. Darwin juga terdiam.

Melihat keduanya tak langsung menjawab, Bu Ratih terkekeh pelan. "Jangan malu-malu. Pengantin baru biasanya malah ingin jalan-jalan berdua."

Kinan memaksakan senyum. "Belum sempat, Bu. Kami sama-sama baru mulai bekerja."

"Sayang sekali." Bu Ratih menggeleng. "Mumpung masih pengantin baru, sebaiknya sempatkan. Nanti kalau sudah sibuk, makin susah mencari waktu."

Darwin mengangguk tipis.

"Iya, Bu. Nanti kami pikirkan."

Bu Ratih tampak puas dengan jawaban itu. Ia kembali menikmati tehnya tanpa menyadari bahwa kedua orang di hadapannya justru saling menghindari tatapan.

Begitu Bu Ratih sibuk menyeruput teh, Kinan melirik Darwin sekilas. Darwin membalas tatapan itu. Tak satu pun dari mereka mengucapkan sepatah kata. Namun keduanya memahami satu hal... Cepat atau lambat, mereka harus mulai hidup layaknya suami istri sungguhan jika ingin penyamaran ini tetap aman.

Bersambung...

1
Zed Analytical Number Nine
ngeri kalo ada yang tiba-tiba ada yang mencurigai
Kayla Rane
suka sama aksi kinan
Kayla Rane
lanjut thor penasarrrn😤
Kam1la
iya e...
Kayla Rane
😍🤭 Darwin romantis kali kali atuh🤭
Kayla Rane
Kinan salam bahaya
Kam1la: tenang saja, Kinan kan juga jago
total 1 replies
Kayla Rane
bener tuh Bu Ratih, kayaknya Darwin dan Kinan perlu refresing (honeymoon) terlalu serius di kerjaan lupa nyenengin hati. pasangan ini kebangetan sifatnya sama² dingin 😤🤭
Kayla Rane
tambah seruuu lihat aksi Kinan. kak indah mau masuk grup author gak. kalau mau chat japri yuk. tukeran no wa
Kayla Rane
lanjutt Thor tmbah seru
Kayla Rane
tuh kan bener. keukehh waeee... 🤨
Kayla Rane
huuuh dsr Roni rese. mau nyulik Sasa, ntar jd jaminan lagi nyuruh Linda kudu nandatangani surat lahan 😤
Kam1la: terimakasih kak...sudah berkomentar 👍👍
total 1 replies
Kayla Rane
Yee Kinan pahlawan wanita. gak nyangka ih Thor Kinan trnyata ahli bela diri /Joyful//Bye-Bye/
Kam1la: kan bos dia...😄
total 1 replies
Kayla Rane
Kinan ayo bantu Sasa! kasian ibunya
Kayla Rane
kesel si Roni, maksa pisan heuuh
Kayla Rane
bagus Linda lawan aja suamimu yg TDK tanggungjawab tapi sok tanggung jawab 😤
Kayla Rane
kasar ih s Roni, GK tau diri ga tau malu🤨
Kayla Rane
🥺 ya kasian linda
Kayla Rane
Andika siapa tiba2 Dateng, jahat apa baik ga ya orangnya /Scream/
Kayla Rane
yee keren banget kinan🤭💪
Kayla Rane
lanjut seru 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!