Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : Nikmat Semu Kemenangan
Satu bulan penuh telah berlalu semenjak insiden dramatis yang menggemparkan area parkir terbuka gedung perkantoran elite Sudirman. Sejak hari itu, roda kehidupan seorang Bagus berubah total secara drastis. Sri kini telah resmi menjadi kekasihnya, melekat erat dalam kehidupannya sehari-hari. Gadis cantik berkarier mapan yang dulunya selalu menolak panggilan teleponnya dengan ketus, sekarang hampir setiap hari menghabiskan waktunya di dalam kamar kos Bagus yang sempit, pengap, dan berlantai semen dingin. Sri bahkan rela mengabaikan semua peringatan keras dari pihak keluarganya, memutus kontak dengan teman-temannya, dan mengundurkan diri dari pekerjaannya yang mapan di perusahaan swasta hanya demi bisa selalu berada di dekat Bagus. Bagi seorang pemuda yang biasanya kenyang dihina dan dipandang sebelah mata seperti Bagus, ini adalah puncak kemenangan duniawi yang sangat luar biasa. Rasa bangganya melambung tinggi ke langit setiap kali ia membawa Sri berjalan keluar, bergelayut manja di lengannya di depan mata orang-orang.
Namun, perlahan tapi pasti, seiring berjalannya waktu, rasa puas yang membuncah itu mulai menguap tipis-tipis. Perasaan menang itu mendadak digantikan oleh sebersit kengerian asing yang perlahan-lahan merayap dingin di benak Bagus.
Malam itu, hujan turun rintik-rintik membasahi atap seng kontrakan di luar. Bagus duduk termenung di tepi kasur lantai sambil menghisap sebatang rokok dalam-dalam, sementara Sri duduk diam di atas kursi kayu ringkih di sudut kamar yang remang-remang. Sri sedang melipat pakaian-pakaian kaos ojol milik Bagus dengan sangat rapi ke dalam lemari plastik. Gerakan tangannya sangat teratur, tiada henti, dan berjalan tanpa jeda sedikit pun sejak satu jam lalu. Bagus terus memperhatikan gerak-gerik kekasihnya itu di bawah pendar cahaya lampu neon kamar yang agak redup dan berkedip seadanya.
"Sri," panggil Bagus dengan nada suara pelan, mencoba memecah keheningan.
Sri menghentikan gerakan tangannya seketika itu juga, persis seperti mesin yang tombol off-nya baru saja ditekan. Ia menolehkan kepalanya ke arah Bagus. Gerakan lehernya saat menoleh terasa sangat kaku, canggung, dan hampir mekanis seperti robot kekurangan pelumas. "Iya, Mas Bagus? Ada yang bisa Sri bantu lagi?" jawabnya lengkap dengan seulas senyum manis yang mengembang di bibirnya.
Justru senyuman manis itulah yang membuat bulu kuduk di leher Bagus tiba-tiba berdiri tegak merinding hebat. Itu adalah senyuman yang selalu sama persis bentuknya, yang selalu terpatri di wajah Sri selama dua minggu terakhir ini. Sebuah senyum yang simetris, rapi, namun terasa sangat kosong, hambar, dan mati tanpa jiwa. Bagus mencoba memberanikan diri menatap lurus ke dalam sepasang bola mata Sri. Di dalam manik mata hitam yang indah itu, ia tidak menemukan lagi binar kehidupan atau emosi layaknya manusia normal. Mata Sri tampak sangat sayu, redup, dan berkabut kelam persis seperti mata boneka manekin plastik yang dipajang mati di etalase toko pakaian. Tidak ada lagi percikan emosi kemarahan, tidak ada kejutan, dan tidak ada lagi karakter Sri yang dinamis, tegas, serta cerdas seperti yang dulu Bagus kenal di awal pertemuan mereka.
"Kamu... kamu tidak rindu dengan rumahmu di kampung? Sudah dua minggu ini kamu tidak pulang atau sekadar menelepon ibumu," tanya Bagus, mencoba memancing reaksi emosional, rasa rindu, atau amarah dari dalam diri gadis itu.
Senyum di bibir Sri sama sekali tidak berubah atau memudar, sepasang matanya yang berkabut tetap kosong menatap lurus ke arah Bagus. "Rumah Sri di sini, sama Mas Bagus. Sri cuma mau mengabdi dan melayani semua kebutuhan Mas di sini. Apa Mas Bagus sudah mulai bosan sama Sri?" tanyanya dengan nada suara yang sangat datar, monoton, tanpa ada percikan nada cemburu, nada takut, atau rasa sedih yang nyata dalam intonasinya.
Bagus menelan ludahnya sendiri yang mendadak terasa sangat getir dan pahit di tenggorokan. Ia mematikan sisa puntung rokoknya di dalam asbak kaleng dengan tangan agak gemetar. Detik itu juga, ia menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan: Aji Jaran Goyang memang telah berhasil membawakan tubuh fisik Sri kepadanya, tetapi ilmu pelet hitam itu tidak membawa serta jiwa dan roh Sri seutuhnya. Mantra sakti yang ia rapalkan setiap malam Selasa Kliwon dengan bantuan minyak mistis Ki Demang ternyata bekerja seperti zat asam yang merusak saraf, yang perlahan-lahan mengikis habis seluruh kepribadian asli, ego, tingkat kecerdasan, dan kehendak bebas milik Sri. Gadis yang duduk di depannya ini bukan lagi Sri yang seutuhnya; dia hanyalah sebuah cangkang kosong yang bernyawa, seonggok daging hidup yang bergerak mutlak hanya berdasarkan perintah batin dan sugesti dari Bagus.
Rasa menang dan sombong yang dulu membuncah di dada Bagus kini telah menguap total, berubah menjadi rasa bersalah yang teramat dingin dan menghimpit dadanya. Menatap Sri yang duduk patuh seperti robot tanpa pikiran membuat Bagus justru merasa sangat kesepian dan terasing di tengah kemenangannya yang semu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia menginginkan cinta Sri yang tulus dan murni dari kesadaran manusianya, bukan kepatuhan mutlak tanpa batas dari jiwa yang telah rusak, cacat, dan hancur akibat pengaruh energi mistis digital yang ia lepaskan.
Saat Bagus sedang sibuk bergelut dengan pikiran dan penyesalannya yang berkecamuk, Sri tiba-tiba bangkit berdiri dari kursi kayunya. Ia berjalan pelan mendekati posisi Bagus, lalu dengan gerakan patuh ia berlutut di atas lantai semen, menyandarkan kepalanya di atas lutut Bagus. Sentuhan fisik dari kulit kepala Sri terasa sangat dingin menusuk, tidak sehangat kulit manusia pada umumnya. Bersamaan dengan gerakan itu, dari sela-sela rambut hitam Sri yang panjang, tercium samar-samar bau wangi aromaterapi minyak mistis yang aneh, namun kali ini bercampur dengan bau anyir darah yang sangat tipis dan mengganggu penciuman. Hawa gaib di dalam kamar kos sempit itu mendadak berubah menjadi sangat berat dan menyesakkan dada, seolah-olah ada suara gaib tak kasat mata yang berbisik lirih di telinga Bagus, memperingatkan bahwa permainan gelap yang telah ia mulai ini tidak akan pernah bisa dihentikan begitu saja tanpa ada tumbal nyawa yang harus diserahkan sebagai tebusannya.
“Ketika obsesi buta menuntut kepatuhan yang mutlak, kau akan sadar bahwa kemenangan sejatimu hanyalah sebuah ilusi yang semu. Kau berhasil memiliki raganya, namun kau telah membunuh jiwanya, menyisakan sesal yang dingin di dalam kamar yang terkutuk.”
— Sang Alifas Yang Merumput