NovelToon NovelToon
HERE I AM "GHOST"

HERE I AM "GHOST"

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.

Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.

Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok Penjaga Hutan

Min-woo menggeleng pelan, matanya tetap waspada. “Mungkin ilusi. Tapi suara Soo-jin tadi nyata. Dia pasti ada di sekitar sini, terjebak sesuatu yang tidak bisa kita lihat.”

Mereka pun berbalik kembali, berjalan menyisir area itu dengan lebih teliti, menyebut nama Soo-jin pelan namun berulang-ulang.

Di sisi lain, Soo-jin melihatnya dengan hati hancur. Baginya lubang itu masih ada jelas di belakang, tapi bagi mereka yang lain, tempat itu kosong melompong. Ia mencoba berlari mengikuti langkah mereka, tapi kakinya terasa berat seolah terikat tanah—ia hanya bisa berjalan di tempat, melihat teman-temannya perlahan menjauh dan menghilang di balik kabut.

Tubuhnya ambruk kembali ke tanah, sendirian di dunia yang sama namun terasa terpisah jauh.

Saat Soo-jin masih terkulai lemas di tanah, tiba-tiba bayangan seseorang jatuh di hadapannya. Ia perlahan mengangkat wajah, dan napasnya tercekat—sosok yang tadi memanggilnya kembali berdiri di sana, persis seperti yang terlihat di gambar: pemuda berwajah tenang mengenakan rajutan krem yang hangat, dengan satu tangan di saku celana, sementara tangan lainnya memegang apel hijau yang sama persis dengan yang menghantamnya tadi, dengan bekas gigitan yang sama pula. Di belakangnya, bulan purnama bersinar terang menembus celah pepohonan, membuat sosoknya tampak samar namun nyata.

“Kau… kau yang melempar apel tadi?” bisik Soo-jin, kali ini suaranya kembali terdengar pelan namun jelas.

Pemuda itu tersenyum tipis, tidak terlihat jahat sama sekali. Ia mengangguk pelan. “Aku harus memastikan kau berhenti mengikuti ilusi yang salah. Dan aku harus menunggu saat kau benar-benar terpisah dari dunia mereka, supaya aku bisa berbicara denganmu tanpa diganggu.”

Ia melangkah satu langkah mendekat, menunjuk ke arah tempat di mana Min-woo dan Seung-hyun menghilang. “Mereka tidak bisa melihat lubang itu, tidak bisa melihatmu, karena kau sekarang sedang berada di batas antara dunia nyata dan dunia yang dilindungi hutan ini. Tubuhmu masih aman di sana, tapi jiwamu terjebak di sini.”

Soo-jin menatap apel di tangannya. “Lalu kenapa kau membawaku ke sini? Kenapa kau membuatku kesepian seperti ini?”

“Aku tidak bermaksud menyakitimu,” jawabnya lembut, matanya menatap tulus ke arah Soo-jin. “Aku sudah lama menunggu seseorang yang bisa melihatku. Hutan ini menyimpan rahasia yang tidak boleh terus disembunyikan, dan kau adalah satu-satunya orang yang mampu mendengar serta memahaminya.”

Pemuda itu memutar apel hijau di tangannya perlahan, matanya menatap remang ke arah bulan purnama di balik rimbunnya pohon.

“Namaku Su-ho,” ucapnya pelan, “Dulu aku adalah penjaga hutan ini, lima puluh tahun yang lalu. Sampai akhirnya aku memilih tetap di sini, menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan rahasia yang terkubur di dalam tanah ini.”

Ia menunjuk ke arah tempat lubang yang tak terlihat oleh teman-temannya tadi.

“Tempat itu bukan sekadar jebakan,” lanjutnya. “Di bawah sana ada sisa-sisa desa kuno yang terkubur saat tanah longsor bertahun-tahun lalu. Banyak jiwa yang tersesat di sana, terperangkap dalam ilusi kesendirian—dan kau hampir saja terjebak selamanya bersama mereka jika kau terus berjalan mengikuti jejak palsu.”

Su-ho menunduk menatap Soo-jin, senyumnya kembali lembut.

“Aku melempar apel itu untuk menghentikanmu. Aku memisahkanmu dari dunia nyata sebentar, hanya agar kau bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan agar kau bisa mendengar ceritaku. Hutan ini mulai gelisah akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang berusaha membuka gerbang bawah tanah itu, mengganggu ketenangan jiwa-jiwa yang sudah lama beristirahat.”

Ia mengulurkan tangannya yang bebas ke arah Soo-jin.

“Kau punya kemampuan untuk melihat dan berjalan di antara dua dunia, sama seperti aku dulu. Aku butuh bantuanmu untuk menutup kembali celah itu, sebelum gangguan ini menyebar sampai ke tempat perkemahan teman-temanmu.”

Soo-jin menatap tangan Su-ho yang terulur, lalu kembali menatap wajahnya yang tenang dan tulus. Rasa takut yang tadi menyergapnya perlahan mereda, digantikan oleh keberanian yang muncul dari dalam hatinya. Ia tahu—pemuda ini tidak akan menyakitinya.

“Baiklah,” ucapnya pelan namun mantap, lalu menyentuh tangan Su-ho. “Aku akan menemanimu. Tapi berjanjilah… kau akan membawaku kembali ke teman-temanku setelah ini selesai.”

Su-ho tersenyum lega, genggamannya terasa hangat namun tidak terlalu erat. “Aku berjanji. Sekarang ikutlah denganku.”

Seketika kabut hitam pekat yang mengurungnya tadi lenyap seketika. Di hadapan mereka, tanah yang tadi tampak rata kini perlahan terbuka kembali—menampakkan jalan turun yang terbuat dari batu tua, menuju ke dalam kegelapan yang lembut.

“Jalan ini menuju ke sisa desa yang terkubur,” bisik Su-ho sambil melangkah lebih dulu. “Jangan lepaskan tanganku. Di sini banyak bayangan masa lalu yang bisa menyesatkanmu jika kau sendirian.”

Mereka berdua melangkah turun perlahan. Semakin dalam mereka masuk, semakin jelas terlihat sisa-sisa bangunan batu, pecahan tembikar, dan jejak kehidupan orang-orang yang dulu tinggal di sini. Udara terasa sejuk, tidak menakutkan—namun samar terdengar suara isak tangis dan panggilan yang bingung dari kejauhan.

“Mereka tidak jahat,” kata Su-ho pelan seolah membaca pikiran Soo-jin. “Mereka hanya lupa jalan pulang, sama seperti kau tadi. Celah yang terbuka ini membuat mereka gelisah dan ingin keluar, padahal dunia di atas sana bukan lagi tempat bagi mereka.”

Di ujung lorong batu itu, tampak cahaya redup yang berdenyut pelan—seperti luka yang terbuka di tengah tanah.

“Itu dia sumber gangguannya,” tunjuk Su-ho. “Kita harus menutupnya kembali, sebelum kekacauan ini menyebar ke seluruh hutan.”

Belum sampai ke cahaya berdenyut itu, jalan batu di depan mereka tiba-tiba tertutup kabut perak tipis. Dari baliknya, puluhan sosok samar perlahan muncul—bukan menyerang, melainkan berkerumun dengan tatapan bingung dan cemas. Ada kakek tua, ibu dengan bayi di gendongannya, hingga anak-anak yang memegang mainan kayu.

“Pintu terbuka… akhirnya kita bisa keluar,” bisik salah satu dari mereka. “Di atas sana sudah aman?”

“Aku ingin pulang ke rumahku,” tambah yang lain. “Kenapa semuanya berubah saat kita bangun?”

Soo-jin merasa hatinya teriris melihat ketulusan kebingungan mereka. Ia berhenti melangkah, tidak tega menerobos kerumunan itu. “Mereka tidak berniat jahat sama sekali… mereka hanya ingin kembali ke tempat asal mereka.”

Su-ho mengangguk pelan, lalu melepaskan genggaman tangan Soo-jin sejenak. “Selama bertahun-tahun celah ini tertutup rapat, mereka bisa berdamai dengan kenyataan. Tapi sekarang batasnya menipis, dan mereka kembali terjebak dalam ingatan saat longsor menelan desa ini secara tiba-tiba.”

Ia melangkah satu langkah ke depan, suaranya terdengar lembut namun mampu didengar oleh semua jiwa di sana. “Teman-temanku… lihatlah aku. Aku Su-ho, penjaga tempat ini selama puluhan tahun.”

Sosok-sosok itu terdiam perlahan, menatapnya dengan harapan.

“Jalan di atas sana bukan lagi rumah kalian,” lanjutnya pelan namun tegas. “Rumah kalian sekarang ada di sini, tempat yang tenang dan aman. Cahaya yang berdenyut itu bukan jalan keluar—itu adalah luka yang harus kita obati bersama, supaya kalian bisa beristirahat damai selamanya.”

Soo-jin pun ikut maju, tersenyum tulus pada mereka. “Kalian tidak perlu takut lagi. Tidak ada yang akan menelan desa kalian lagi. Kami hanya ingin menjaga kedamaian kalian.”

Perlahan bayangan-bayangan yang tadinya berdesak-desakan mulai tenang. Rasa cemas mereka berkurang, digantikan kepercayaan. Satu per satu sosok itu menunduk hormat, lalu perlahan menyisih membukakan jalan menuju sumber cahaya.

1
chie_bapeer
❤️❤️❤️
chie_bapeer
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!