Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanpa Kabar
Hari‑hari berlalu dengan keteraturan baru yang telah mereka sepakati. Di dalam rumah yang luas itu, mereka hidup berdampingan namun tetap menjaga batas yang tegas. Chensi memberikan satu sayap rumah yang terpisah untuk Annisa, lengkap dengan tempat ibadah sendiri, dapur terpisah, dan segala kebutuhan yang sesuai dengan keyakinannya. Ia tidak pernah masuk ke kamar pribadi Annisa tanpa izin, tidak pernah menyentuhnya secara berlebihan, dan selalu berbicara dengan nada penuh rasa hormat.
Namun semakin ia bersikap tulus, semakin ia menjaga dan memperhatikan setiap kebutuhan kecil Annisa, semakin pula perasaan gadis itu tumbuh melampaui sekadar rasa terima kasih.
Setiap pagi, Chensi selalu memastikan makanan yang disajikan benar‑benar halal dan bersih. Saat hujan turun, ia akan mengantar selimut tambahan atau minuman hangat dengan senyum lembut. Saat Annisa merasa cemas memikirkan masa depan, ia akan duduk di teras yang berjarak aman, mendengarkan tanpa memotong, dan memberikan ketenangan dengan kata‑kata yang menenangkan.
“Mengapa dia harus sebaik ini jika tidak bisa memilikiku sepenuhnya?” batin Annisa sering bertanya saat sendirian. “Setiap perhatiannya menusuk hatiku sekaligus menghangatkan. Aku tahu kita tidak akan pernah menjadi suami istri yang sah menurut agamaku, tapi rasanya sulit untuk menahan perasaan ini agar tidak semakin dalam.”
Ia sering menangis dalam doanya, memohon agar hatinya tidak terjerat terlalu dalam, namun kenyataannya justru sebaliknya. Kehadiran Chensi sudah menjadi bagian dari kenyamanan hidupnya. Ia merasa aman, dihargai, dan diakui sebagai manusia yang memiliki harga diri—sesuatu yang jarang ia rasakan sebelumnya.
Di sisi lain, Chensi juga mengalami pertarungan batin yang sama beratnya. Ia menyadari bahwa perjanjian yang dibuat hanya mengatur hak dan kewajiban, tapi tidak bisa mengatur apa yang dirasakan hatinya.
Melihat Annisa berjalan dengan perut yang semakin membesar, melihatnya tersenyum saat mendengarkan nasihatnya, melihat keteguhan hatinya dalam menjalani ibadah dan prinsip hidupnya—semua itu membuat rasa kagum dan sayang yang awalnya samar kini berubah menjadi keinginan untuk memiliki, untuk melindungi tanpa batas, dan untuk menjadikannya bagian dari hidupnya seutuhnya.
Suatu malam, setelah memastikan semua kebutuhan Annisa terpenuhi, Chensi berdiri sendirian di balkon rumahnya, menatap langit yang gelap berbintang. Ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terlihat lelah.
“Apakah aku mampu bertahan di posisi ini?” gumamnya lirih, hanya terdengar oleh angin malam. “Hidup di bawah satu atap, melihatnya setiap hari, menjaganya seperti milikku, tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa memilikinya sepenuhnya. Apakah hatiku cukup kuat untuk menerima kenyataan ini?”
Ia teringat masa lalunya—ia selalu memiliki segalanya, apa pun yang ia inginkan bisa ia dapatkan dengan kekuasaan dan hartanya. Namun kali ini, di hadapan Annisa, ia harus belajar untuk menahan diri, menghormati batas, dan mencintai dengan cara yang tidak biasa.Mencintai tanpa memiliki, melindungi tanpa menguasai, dan mendekat tanpa melanggar.
Ia menoleh ke arah sayap rumah tempat Annisa tinggal, melihat cahaya lampu kamar yang masih menyala. Di sana ada wanita yang mengajarkannya makna rasa hormat yang sesungguhnya, dan anak yang akan menjadi ikatan abadi di antara mereka.
“Jika ini satu‑satunya cara agar dia tetap aman, agar dia tidak kehilangan keyakinannya, dan agar anak kita tumbuh dengan baik… maka aku akan berusaha sekuat tenaga,” bisiknya dengan tekad yang mulai menguat. “Aku akan belajar mencintainya dengan cara yang dia butuhkan, bukan dengan cara yang aku inginkan.”
Namun pertanyaan itu tetap tergantung di hatinya. Berapa lama ia bisa bertahan? Apakah suatu saat nanti rasa sayang itu akan meluap dan melupakan semua batas yang telah disepakati?
Sementara itu, di dalam kamarnya, Annisa juga duduk bersandar di jendela, menatap ke arah balkon tempat Chensi berdiri. Ia bisa melihat bayangan tubuh lelaki itu yang tampak berat memikul pikiran. Hatinya berdebar kencang, perasaan yang ia coba tepis terus muncul kembali.
“Semoga Tuhan memberikan kami kekuatan,” doanya dalam hati. “Semoga perasaan ini tidak menjadi beban, melainkan menjadi kekuatan untuk menjalani apa yang telah ditakdirkan untuk kami.”
Hari itu terasa berbeda sejak pagi. Biasanya, tidak lebih dari pukul delapan pagi, Chensi sudah melintas di depan sayap rumah Annisa, sekadar memberi salam singkat, menanyakan apakah ada yang dibutuhkan, atau sekadar memastikan gadis itu baik‑baik saja. Kadang ia hanya berdiri di ambang pintu dengan secangkir teh hangat, kadang hanya melambaikan tangan dari kejauhan sebelum berangkat ke kantor.
Namun hari itu, matahari sudah naik tinggi, melewati pukul sepuluh, bahkan menjelang siang, namun sosok itu tak terlihat sama sekali.
Annisa berulang kali melirik ke arah jalan setapak yang menghubungkan dua bagian rumah, berharap melihat langkah tegap dan pakaian rapi lelaki itu datang. Namun setiap kali ia menoleh, hanya keheningan dan dedaunan yang bergerak ditiup angin yang menyambutnya.
“Mungkin ada rapat penting yang memakan waktu lama,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan hati yang mulai terasa kosong.
Ia menyibukkan diri dengan merapikan kamar, membaca buku, dan memeriksa persiapan kebutuhan bayi yang perlahan ia kumpulkan. Namun setiap kali ia duduk diam, perasaan hampa itu kembali menyelinap masuk. Tanpa sadar, ia mulai terbiasa dengan kehadiran Chensi—suara bicaranya, tatapan perhatiannya, bahkan kehadirannya yang hanya diam pun sudah menjadi bagian dari kenyamanan hariannya.
Siang berganti sore, matahari mulai condong ke barat, namun Chensi tetap tidak muncul. Hingga langit berubah menjadi jingga keemasan, dan akhirnya gelap malam menyelimuti seluruh kediaman. Lampu‑lampu taman sudah dinyalakan, tapi pintu utama rumah Chensi masih tertutup rapat.
Annisa tidak bisa lagi menahan rasa gelisah yang semakin membesar. Ia memberanikan diri melangkah keluar, mendekati salah satu pelayan yang sedang membersihkan teras.
“Permisi… apakah Tuan Chensi hari ini pergi ke kantor? Atau ada urusan di luar?” tanyanya dengan nada berusaha tenang, meski jantungnya berdebar kencang.
Pelayan itu menghentikan pekerjaannya, lalu menjawab dengan sopan.“Maaf, Nyonya. Tuan Chensi pagi‑pagi sekali sudah berangkat ke luar kota. Ada urusan mendadak yang sangat penting, katanya harus diselesaikan segera. Beliau berangkat begitu saja tanpa sempat memberitahu kami secara rinci.”
Mendengar jawaban itu, seketika rasanya seperti ada yang mengganjal di tenggorokan Annisa. “Luar kota… begitu saja?” gumamnya lirih. “Tidak ada pesan yang ditinggalkan untuk saya? Tidak ada kabar sedikit pun?”
Pelayan itu menggeleng pelan. “Maaf, Nyonya. Sepertinya keberangkatannya sangat tergesa‑gesa. Beliau hanya berpesan agar kebutuhan Nyonya tetap terpenuhi seperti biasa, tapi tidak ada pesan khusus yang disampaikan.”
Annisa mengangguk samar, lalu berbalik kembali ke kamarnya dengan langkah yang terasa lebih berat. Ia duduk di tepi tempat tidur, memegang perutnya yang sudah mulai terasa berat, dan rasa sedih serta kecewa perlahan menyelimuti hatinya.
“Kenapa dia pergi begitu saja? Bahkan tidak sempat memberi tahu aku? Apakah aku ini hanya dianggap sebagai orang yang harus dijaga kebutuhannya saja, tanpa perlu diberi kabar?” batinnya bertanya, rasa ragu dan perasaan tidak berharga kembali muncul.
Ia teringat kembali batas‑batas yang mereka sepakati. “Memang benar, kita bukan suami istri. Dia tidak berkewajiban melaporkan ke mana dia pergi. Aku juga tidak berhak menuntut kabar darinya.”
Namun logika itu tidak mampu menenangkan hatinya. Semakin ia mencoba meyakinkan diri, semakin air matanya mengalir perlahan, jatuh membasahi pipi. Ia memeluk lututnya, menundukkan wajah di atasnya, dan menangis dalam diam. Rasa rindu yang tiba‑tiba muncul, rasa gelisah yang tidak jelas alasannya, dan rasa bingung mengapa kepergian lelaki itu bisa membuatnya merasa sepi dan hampa begini rupa.
"Kenapa aku jadi seperti ini? Ayolah Annisa, kamu jangan lagi terbawa perasaan." Annisa berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Di luar sana, malam semakin larut, dan ponselnya di meja samping tempat tidur tetap sunyi. Tidak ada panggilan, tidak ada pesan, tidak ada tanda keberadaan Chensi. Annisa terus terjaga hingga larut malam, matanya menatap kosong ke arah jendela, bertanya‑tanya dalam hati. Apakah dia sadar bahwa kepergiannya bisa membuat hati ini terasa kosong sebesar ini?