Bayangan orang-orang untuk status putri tunggal keluarga pengusaha ternama, adalah gadis anggun yang penuh pesona dan wibaya seorang penerus tahta.
Tapi nyatanya, itu tidaklah berlaku untuk Larissa Moretti. Meskipun ayahnya seorang pengusaha kaya raya yang tersohor di Kolombia, serta memiliki ibu yang anggun dan lemah lembut.
Gadis itu sama sekali tidak mewarisi sikap ibunya, gadis itu adalah gambaran gadis jalanan yang urakan, suka membuat masalah hingga membuat sang ayah menggeleng-gelengkan kepalanya yang hampir pecah.
Puluhan bodyguard yang di sewa ayahnya selalu mengundurkan diri bahkan sebelum mereka bekerja satu Minggu mengawal gadis urakan itu.
Hingga untuk terakhir kalinya, sang ayah menyewa bodyguard melewati agensi terbaik di Kolombia, dan menyewa seorang bodyguard yang memiliki reputasi terbaik disana.
Gavin Kingsley, pria berumur 30 tahun dengan perawakan super atletis dan yang paling membuat Larissa tertegun adalah wajahnya yang tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: "Wah, Kamu Keren Banget Kalau Lagi Ngamuk!"
...Hujan di perbukitan Medellin kini berubah menjadi badai yang menderu. ...
...Bau mesiu, darah, dan tanah basah menciptakan aroma anyir yang menusuk hidung. ...
...Di tengah kabut yang perlahan tersapu angin, sosok Gavin Kingsley berjalan tertatih kembali menuju SUV lapis baja yang sudah menjadi satu-satunya benteng pertahanan mereka....
...Langkah kaki Gavin berat....
... Kemejanya yang tadinya rapi kini tidak lebih dari potongan kain yang koyak dan berlumuran noda merah pekat....
... Napasnya memburu, keluar sebagai uap panas di udara dingin pegunungan. ...
...Setiap otot di tubuhnya menjerit, memohon istirahat setelah dipaksa bekerja melampaui batas manusia normal dalam beberapa menit terakhir....
...Tanpa memedulikan rasa perih yang menjalar di sekujur tubuhnya, Gavin mencengkeram gagang pintu mobil dengan jemarinya yang juga berdarah. ...
...Dia membanting pintu itu hingga terbuka dengan suara dentuman keras....
..."Larissa!" suaranya serak, nyaris seperti raungan....
...Tanpa basa-basi, dia menyambar tubuh Larissa....
... Tangannya yang kasar namun gemetar memeriksa setiap inci tubuh gadis itu dengan panik....
... Dia meraba lengan, bahu, hingga wajah Larissa, memastikan tidak ada satu pun goresan peluru yang menembus kulit gadis itu. ...
...Gavin mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di bahu kanannya sendiri, bahkan mengabaikan luka sabetan di pelipisnya yang mengalirkan darah ke mata....
..."Kamu bodoh, ya?!" bentak Gavin, suaranya pecah oleh frustrasi yang luar biasa....
... "Kenapa malah diam saja di dekat jendela tadi?! Apa kau tidak tahu satu peluru nyasar saja bisa menembus kaca yang sudah retak itu?! Apa kau punya keinginan mati?!"...
...Gavin menatap Larissa dengan mata biru yang menyala oleh campuran antara amarah, rasa takut yang luar biasa, dan kepedulian yang terlalu dalam....
... Dia tidak sedang berakting menjadi pengawal lagi, dia sedang menunjukkan sisi dirinya yang paling manusiawi, sisi yang selama ini dia kubur dalam-dalam di bawah identitas Viper....
...Larissa, yang seharusnya gemetar ketakutan atau setidaknya menangis setelah menyaksikan pembantaian di depan matanya sendiri, justru melakukan hal yang sama sekali di luar nalar....
...Gadis itu tidak mundur. ...
...Dia tidak menutupi wajahnya....
... Sebaliknya, mata hazelnya justru melebar, berbinar-binar dengan kilat kagum yang jujur dan tulus. ...
...Dia menatap noda darah di kemeja Gavin, lalu beralih menatap wajah pria itu dengan senyuman lebar yang membuat Gavin merasa seolah-olah dunianya tiba-tiba terbalik....
..."Wah..." gumam Larissa, suaranya tenang, bahkan sedikit ceria. ...
...Dia mengangkat tangannya, jemarinya yang lentik dengan gemas menyentuh bekas noda darah di pipi Gavin....
... "Tadi itu... kamu keren banget kalau lagi ngamuk, tahu tidak? Kayak di film aksi kelas A! Gerakanmu saat menebas tangan si botak itu tadi... wow, itu sangat memuaskan."...
...Gavin mematung. ...
...Tangannya yang masih memegang bahu Larissa terkulai lemas di udara. ...
...Dia menatap Larissa dengan mulut sedikit terbuka, benar-benar kehilangan kata-kata....
...Apa-apaan ini? pikir Gavin panik. ...
...Apakah dia gila? Dia baru saja melihat seseorang terbunuh, melihat ledakan, melihat kematian di depan matanya, dan dia malah memujiku seperti sedang mengomentari adegan laga di bioskop?...
..."Larissa, kau dengar tidak apa yang kubicarakan?!" ...
...Gavin berusaha memulihkan wibawanya, meskipun suaranya kini terdengar seperti rengekan pria yang sudah kehilangan akal sehat....
... "Ini bukan film! Ini nyata! Aku baru saja membunuh orang-orang di luar sana dan hampir mati karena kecerobohanmu!"...
...Larissa justru terkekeh. ...
...Dia tidak tampak sedikit pun terintimidasi oleh aura kegelapan yang masih menguar dari tubuh Gavin. ...
..."Iya, iya, aku tahu ini nyata. Tapi lihat dirimu, Gavin! Kamu sanggup mengalahkan belasan pria bersenjata sendirian hanya dengan satu pistol. Kamu seperti Viper. Oh tunggu, maksudku, kamu seperti pahlawan film yang tak terkalahkan!"...
...Gavin benar-benar melongo....
... Kewarasan Larissa benar-benar dipertanyakan....
... Gadis ini seharusnya trauma, bukan malah merasa takjub....
... Namun, di balik rasa frustrasinya, ada satu sudut kecil di hatinya yang merasa... entahlah, bangga? Atau mungkin dia hanya merasa lega karena Larissa tidak memandangnya sebagai monster?...
..."Kamu... kamu benar-benar tidak punya rasa takut sama sekali, ya?" Gavin menggelengkan kepalanya dengan pasrah....
...Namun, tepat saat Gavin hendak menarik napas untuk memarahi gadis itu lebih lanjut, dunianya tiba-tiba berputar....
...Rasa nyeri yang selama ini dia abaikan di bahu kanannya mendadak meledak. ...
...Ternyata, saat dia berguling di tanah tadi, sebuah peluru dari penembak jitu telah bersarang di bahu kanannya, namun efek semangat yang begitu kuat membuat Gavin tidak merasakannya hingga saat ini....
...Gavin merasakan dunianya menjadi gelap....
... Kakinya yang kokoh mendadak kehilangan kekuatan. ...
...Dia mengerang panjang, bukan raungan pria tangguh, melainkan erangan kesakitan yang tulus. ...
...Tubuh besarnya ambruk ke depan, jatuh tepat ke pelukan Larissa....
..."Gavin?!" jerit Larissa, suara cerianya langsung berubah menjadi panik....
...Larissa menahan beban tubuh Gavin yang berat. ...
...Dia merasakan sesuatu yang hangat dan kental merembes dari bahu kemeja pria itu ke telapak tangannya. ...
...Darah....
..."Oh, tuhan... Gavin, kamu tertembak!"...
...Gavin memejamkan mata, membiarkan kepalanya bersandar di bahu Larissa. ...
...Rasa sakit itu begitu nyata, namun berada di pelukan gadis ini, bahkan di tengah badai, di tengah darah, dan di tengah situasi yang nyaris membunuhnya terasa seperti tempat paling tenang yang pernah dia temukan....
..."Jangan berisik," gumam Gavin lemah, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan....
... "Masih ada sisa musuh di perbukitan... pastikan pintunya terkunci..."...
..."Diamlah, jangan bicara lagi!" Larissa mulai panik, tangannya yang gemetar berusaha menekan luka di bahu Gavin untuk menghentikan pendarahannya. ...
...Dia menatap wajah Gavin yang kini pucat pasi, namun masih menyisakan raut wajah yang posesif dan protektif....
...Gavin Kingsley, si bos kartel, si pembunuh bayaran yang ditakuti, kini terkulai tidak berdaya di pelukan gadis yang selama ini harus dia lindungi....
... Di luar, hujan semakin lebat, menghapus jejak-jejak pembantaian yang dia lakukan....
...Larissa menatap wajah pria itu dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari sekedar rasa kagum....
... Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa di balik semua keahlian menembak dan kekuatan monsternya, Gavin hanyalah seorang pria yang rela menyerahkan nyawanya agar Larissa bisa tetap bernapas....
..."Kau tidak akan mati di sini, Gavin," bisik Larissa dengan suara yang penuh tekad, sementara dia mulai menarik tuas mobil dengan satu tangan, siap untuk menerjang apa pun yang menghalangi mereka untuk mencapai vila di puncak bukit....
...Mobil itu meraung, ban-bannya berputar di atas tanah berlumpur, mulai bergerak menembus kabut, meninggalkan medan pertempuran di belakang mereka....
... Di dalam kabin yang penuh dengan aroma darah, Larissa Moretti kini memegang kendali, melindungi pria yang diam-diam telah mencuri hatinya di antara desingan peluru....