NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:629
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melewati Malam Panjang

Mobil mewah berwarna hitam metalik itu melaju membelah jalanan ibu kota sebelum akhirnya berbelok memasuki area sebuah hotel internasional yang bangunannya menjulang tinggi, seolah hendak menyentuh langit malam.

Begitu tiba di depan lobi, Arslan memarkirkan mobilnya dengan rapi. Seorang bellboy segera mendekat untuk mengambil alih kendaraan tersebut, sementara Arslan dan Zulfa turun dari mobil.Malam itu, keduanya tampil begitu serasi.

Langkah mereka kemudian diarahkan menuju lift khusus yang akan membawa mereka ke rooftop. Seorang Guest Relation Officer telah menunggu untuk mendampingi, memastikan semua berjalan sesuai dengan reservasi VIP yang sudah dibuat Arslan sejak jauh hari.

Namun ada yang berbeda dari Zulfa malam itu. Dua matanya tertutup kain hitam lembut. Arslan sendiri yang memasangkannya sebelum mereka masuk ke dalam hotel.

"Tenang aja, percaya sama aku." suara Arslan terdengar pelan di dekat telinganya.

Zulfa hanya mengangguk kecil di balik penutup matanya, mengikuti langkah suaminya dengan penuh keyakinan. Lift naik perlahan, membawa mereka menuju lantai tertinggi hotel. Sesampainya di rooftop, mereka disambut oleh suasana yang benar-benar berbeda dari hiruk pikuk kota di bawah sana.

Arslan menggandeng tangan Zulfa, menuntunnya melewati area outdoor yang telah disiapkan secara eksklusif. Ketika kain penutup mata itu akhirnya dilepaskan, perlahan cahaya hangat di hadapan mereka langsung memenuhi pandangan Zulfa.

Seketika ia terdiam. Di depannya terbentang sebuah dekorasi makan malam yang begitu indah. Sebuah kolam kecil yang tenang menjadi pusat suasana, dikelilingi kelopak bunga mawar yang ditata rapi serta deretan lilin kecil yang berpendar lembut di sekelilingnya.

Arslan berdiri di sampingnya, tepat di depan meja yang telah dihias dengan sangat detail oleh party planner profesional yang ia percayakan. Angin malam bertiup pelan, membuat kain gamis Zulfa bergerak lembut, seolah ikut menari dalam suasana yang tenang dan romantis itu.

Di kejauhan, alunan musik lembut mulai terdengar, mengisi ruang malam dengan nuansa yang hangat dan intim. Zulfa menoleh perlahan ke arah Arslan. Dan untuk beberapa detik, tidak ada kata yang keluar dari keduanya.

Hanya tatapan. Hanya rasa yang sudah terjalin selama sepuluh tahun, yang kembali terasa hidup di bawah langit malam kota itu.

"Apa kamu yang menghias ini semua, Arslan?" tanya Zulfa sumringah saat tak sengaja langkah kakinya menginjak kelopak bunga yang tersebar di lantai. Jantungnya sampai berdebar hebat melihat keindahan area ini.

"Kalau aku jawab iya, kamu percaya?" tanya Arslan balik.

"Tentu aja enggak." Jawab Zulfa sambil tertawa hingga deretan giginya yang rapi terlihat.

"Ayo kita duduk!" Arslan menarik tangan Zulfa dan menuntunnya untuk duduk di meja yang sudah disiapkan untuk mereka. Zulfa mengangkat kakinya yang tertutup sepatu heels dengan perlahan. Ia takut merusak hiasan kelopak bunga yang berbentuk hati.

Arslan menepuk tangan sebanyak dua kali sebagai tanda ia sedang memanggil pelayan agar segera menghidangkan makanan yang sudah di pesan.

"Makasih ya udah bikin aku bahagia malam ini." Ucap Zulfa.

"Ini masih belum apa-apa sayang, nanti aku akan bikin kamu lebih bahagia lagi setelah makan malam selesai." Kata Arslan. Bahkan sebelah matanya berkedip nakal. Zulfa sudah paham akan kode itu.

Di bawah sinar bulan yang bertabur bintang, mereka menikmati alunan musik yang tercipta dari tangan Sang Pianis dan Saksofonis. Dengan lihainya mereka memainkan alat musik, penuh penghayatan sehingga mampu membuat mereka terbuai dalam iramanya.

"Aku mau mempersembahkan sebuah lagu untuk kamu. Tapi kamu harus bisa tebak dulu, lagu apa yang mau aku nyanyiin?" Ucap Arslan di sela-sela makannya.

"Hmm, apa ya?" Zulfa menghentikan aktifitas makannya, ia berpikir sejenak.

"Pokoknya lagu ini lagu yang liriknya pas banget dengan perasaan aku ke kamu selama ini." Zulfa semakin dibuat penasaran oleh suaminya.

"Hampir semua lagu yang kamu nyanyiin selalu kamu bilang begitu." Zulfa menanggapinya ucapan suaminya dengan datar. Arslan tertawa menyadari itu semua.

"Tapi yang ini beda. Lirik lagu ini sama seperti gambaran perjalanan cinta kita, tentang bagaimana aku pernah berjuang untuk mendapatkan kamu, tentang perasaan aku yang sampai detik ini nggak pernah pudar." Arslan kembali meyakinkan istrinya.

"Udah deh nggak usah main tebak-tebakan, sebut aja langsung siapa penyanyinya, biar aku bisa langsung nebak judul lagunya." Zulfa tak ingin bertele-tele.

"OK! Penyanyinya Judika." Jawa Arslan langsung.

"Oh ... ganti lagi penyanyinya. Tahun lalu kamu nyanyi lagu anugerah terindah punya Andmesh. Dan sekarang Judika, oke aku pikir dulu ..." Zulfa tau kalau suaminya sangat mengagumi semua lagu ciptaan Andmesh dan juga Judika.

"Ayo lagu apa?"  desak Arslan yang tak sabar menunggu Zulfa menjawabnya.

 Zulfa langsung mengetuk-ngetuk jari telunjuknya tanda ia sedang berpikir keras. Ia bahkan langsung mengambil ponselnya dari dalam tas lalu mengetik nama Judika untuk mengetahui semua judul lagu yang dinyanyikan Judika lewat mesin pencarian. Di halaman paling atas tertulis judul lagu 'tenang' sebagai lagu terbaru milik Judika yang sudah di unggah beberapa bulan lalu dan sudah mendapatkan satu juta tayangan. Tapi sayangnya Zulfa belum pernah mendengar lagu itu.

"Aku tau jawabannya. Tenang?" Zulfa menebak sambil tersenyum puas karna pasti jawabannya benar.

"Udah pernah denger lagunya?" tanya Arslan.

"Belum." Zulfa terkikik malu karna dia bukan bagian dari satu juta tayangan itu.

"Oke, jangan di denger dulu lagunya, ya! kamu cukup baca liriknya aja." Arslan menarik ponsel Zulfa lalu mengetik lirik lagu 'tenang' dan memberikannya kembali pada Zulfa. Zulfa langsung tersenyum saat membaca bait demi bait lirik tersebut.

"Dalam banget ya artinya." Kata Zulfa.

"Sekarang sudah siap buat dengerin aku nyanyi?" Arslan berdiri dari tempat duduknya.

"Siap dong!"

Zulfa tersenyum lebar melihat suaminya yang sudah berjalan menuju panggung kecil berbentuk bulat di seberang kolam renang. Arslan terlihat sedang berbisik-bisik dengan salah satu pemain musik disana. Arslan sudah menginfokan bahwa Ia akan menyanyikan lagu berjudul tenang yang di nyanyikan oleh Judika. Para pemain musik mengangguk mengerti, mereka pun mulai memainkan alat musiknya, pun Arslan sudah duduk di kursi bulat kecil yang bisa bergerak memutar sambil memegang mic. Siap untuk bernyanyi.

Tak pernah habis rasanya ...

Memujamu sepanjang hari ...

Ingin kurayu masa depan ...

Berlabuh di atas cinta kita, wo-oh ...Betapa sempurna ...

Jika kita bersama ...Tenang, tenang, cintaku ...

Setulus janji ku menjagamu ...

Yakin, yakinlah padaku ...

Mendekap sepenuhnya jiwamu ... 

Sambut lah sekarang, ku 'kan menjemputmu ...

Arungi bahagia ...

Arslan menyanyikan lagu itu dengan sempurna, sementara di seberang sana, Zulfa menatap kagum melihat suaminya yang begitu menghayati lagu itu setelah Zulfa tau kalau lirik lagu itu adalah ungkapan isi hati suaminya.

Zulfa menitikkan air mata bahagia mendengar suara suaminya yang begitu merdu dan menyentuh hati. Siapa pun yang mendengarnya juga akan terbuai sama seperti dirinya. Zulfa bertepuk tangan saat Arslan sudah selesai menyanyikan lagu itu.

Arslan masih duduk di tempat yang sama sambil memegang mic-nya, "Mau request lagu apa lagi nona cantik?" tanya Arslan dengan suara beratnya, "Mumpung aku lagi semangat nyanyi, nih." Lanjutnya lagi.

"Apa aja yang penting kamu penyayinya." Jawab Zulfa sambil berteriak karna jaraknya yang sedikit jauh. Arslan tersenyum lalu ia kembali memberi interupsi kepada para pemain musik di belakangnya. Dan Arslan kembali bernyanyi, kali ini ia menyanyi lagu barat. Dan yang ia nyanyikan tetap lagu-lagu romantis agar istrinya itu senang. Jarang-jarang Arslan mau bernyanyi seperti ini. Setelah tiga lagu selesai Arslan kembali ke mejanya.

"Maaf ya udah nggak kuat nyanyi lagu banyak-banyak." Keluh Arslan. Ia duduk dan melanjutkan makan malamnya.

"Makasih ya sudah bikin aku seneng banget malam ini." Zulfa menyunggingkan senyum termanisnya.

"Ini semua nggak gratis, ada imbalannya loh!!"kata Arslan sambil mengelap bibirnya dengan napkin yang tersedia.

"Iya bakal aku bayar lunas malam ini." Sahut Zulfa.

"Kamu memang istri paling ngerti bahasa tubuh suami."

"Dasar mesum!!" Arslan selalu tertawa setiap kali mendengar istrinya mengatainya mesum.

"Mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa, yang haram itu mesum sama istri orang."

"Heehhh ... mulai lagi, ya!" Zulfa sontak menyahuti ucapan suaminya dengan nada setinggi tiga oktaf.

"Bercanda sayang!! Aku nafsunya cuma sama kamu aja, kok!!" Arslan terbahak lalu mengusap lembut wajah istrinya yang sedang merengut kesal.

"Yaudah yuk, aku mau ngasih kamu kejutan selanjutnya." Arslan membantu Zulfa berdiri dari kursinya.

"Kejutan apalagi?" wajah Zulfa berbalik mendekati wajah suaminya.

"Ada deh." Jawab Arslan sambil mengecup singkat bibir ranum istrinya.

Mereka bergegas meninggalkan restoran dan menuju lift. Namun tombol yang di tekan Arslan bukan ke lantai dasar melainkan ke lantai yang lebih tinggi lagi.

"Loh ... bukannya kita mau pulang?" Zulfa mulai kebingungan.

"Udah deh ikut aja."

Tak lama kemudian denting lift berbunyi. Mereka keluar dan melewati koridor yang redup. Mereka berada di lantai paling atas yang hanya memiliki beberapa kamar saja sebab kamar di lantai ini adalah kamar-kamar VIP yang hanya mampu disewa orang-orang yang berkantong tebal.

Arslan mengeluarkan key card yang tadi sudah diberikan oleh petugas resepsionis. Pintu terbuka dan otomatis semua lampu menyala dan lagi-lagi Zulfa dikejutkan dengan kamar yang di hias layaknya kamar pengantin, penuh dengan bunga-bunga dan semuanya bunga asli, sehingga harumnya semerbak.

"Kita bermalam disini ya lagi pengen punya suasana baru." Ucap Arslan sambil berjalan mengikuti langkah Zulfa yang sedang mengitari kamar yang ukurannya tiga kali lebih luas dari kamar biasa. Hiasan kamar ini mengingatkan Zulfa akan malam pertama yang dilakukan dirinya dan sang suami saat sedang berbulan madu. Moment dimana Zulfa kehilangan mahkota yang selalu ia jaga dengan baik untuk suaminya.

"Kenapa kamu nggak bilang kalau kita mau bermalam disini? aku kan nggak bawa baju ganti." Keluh Zulfa.

"Tenang aja, aku udah nyiapin itu semua, termasuk baju dinas-nya juga, uda aku siapin untuk kamu." Arslan terkekeh geli. Arslan menyodorkan pakaian-pakaian itu di depan Zulfa. Ternyata bukan hanya satu baju dinas yang dibeli Arslan tetapi ada sepuluh macam dan semua terlihat seronok sekali.

"Sebanyak ini!!" Mata Zulfa terbelalak lebar melihat bentuk dari pakaian lingerie yang dibawa Arslan. Bukan karna Zulfa tidak pernah memakai pakaian lingerie seperti itu hanya saja baju-baju lingerie yang dibeli Arslan berbeda dengan miliknya yang berada di rumah.

"Pilih aja yang kamu suka, atau kalau kamu mau pakai semuanya juga boleh. Kita bisa main 10 ronde malam ini." Arslan berbisik lembut di telinga sang istri hingga menimbulkan sensasi geli karna hembusan nafas Arslan begitu mengenai telinganya. Arslan senang sekali menggoda istrinya itu, apalagi kalau pipi Zulfa sudah bersemu merah, rasanya ingin sekali melahapnya.

"Kayak kuat aja ngajak 10 ronde." Zulfa meledek Arslan.

"Kamu meragukan kemampuanku, ya?" Arslan melingkarkan tangannya di bahu Zulfa.

"Aku bisa bikin kamu nggak bisa jalan besok." Bisik Arslan lagi yang langsung membuat Zulfa bergidik ngeri.

"Udah ah, aku mau ke kamar mandi dulu." Zulfa berjalan menuju ke kamar mandi sambil menarik salah satu pakaian lingerie yang berjejer rapi di atas sofa.

Arslan mulai melepas jas hitamnya dan juga jam tangan mewahnya yang seharga satu hektar tanah. Arslan duduk di sofa sambil mengangkat satu kaki dan bertumpu dikaki satunya. Arslan membuka tiga kancing kemeja slim fit yang ia kenakan, tubuh kekar Arslan terasa begitu sesak memakai pakaian itu. Arslan sudah tak sabar ingin melihat istrinya keluar dari dalam toilet dan mengenakan lingerie yang ia beli. Apalagi Zulfa memilih memakai Lingerie yang paling menggoda dari yang lain, membuat otak liar Arslan berkelana sampai ke kutub utara.

Tak selang berapa menit kemudian Zulfa istri tercinta Arslan keluar dari dalam toilet. Netra berwarna cokelat itu langsung dibuat tak berkedip dengan pemandangan di depan mata. Sesuai dugaan Arslan istrinya pasti terlihat lebih menggoda memakai pakaian seperti itu. Zulfa membiarkan rambut panjangnya terurai, tubuh semampainya hanya tertutup kain yang panjangnya hanya beberapa centi saja, ditambah bagian dada yang terbelah, terlihat membusung, seperti hendak keluar dari cangkangnya. Membuat Arslan tak sabar ingin segera melahap istrinya itu.

Tanpa diminta, Zulfa berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk menatapnya takjub. Zulfa bersimpuh di antara kedua kaki Arslan yang sudah terbuka lebar.

"Kamu ingin mulai duluan?" taya Arslan memberi tawaran. Zulfa mengangguk dan menginterupsi kedua jemari lentiknya untuk meraba milik Arslan yang sudah membengkak dan hendak membebaskannya dari dalam sangkar. Zulfa mulai melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan terhadap suaminya. Seperkian detik kemudian kamar yang semula begitu hening berubah menjadi berisik dengan suara lenguhan dan desahan yang saling bersahutan di udara.

Bagi Arslan, Zulfa bukan hanya istri yang lembut, tetapi juga perempuan yang memahami bagaimana membuat suaminya merasa dicintai, dihargai, dan menemukan ketenangan dalam setiap kebersamaan mereka. Seperti malam yang tengah mereka lalui saat ini. Kebersamaan yang panjang itu membuat Arslan semakin sulit berpaling dari istrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!