NovelToon NovelToon
DI BALIK LUKA

DI BALIK LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nathasya90

Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DBL29

MAAF YANG TERLAMBAT

Langit mulai berubah jingga ketika mobil Romi memasuki kompleks perumahan. Biasanya ia baru tiba menjelang magrib. Namun hari itu, setelah rapat terakhir selesai lebih cepat, ia memilih langsung pulang. Entah karena memang pekerjaannya sudah selesai atau karena sejak siang pikirannya sudah tidak benar-benar berada di kantor.

Begitu memarkir mobil di garasi, pandangannya refleks beralih ke rumah dua lantai yang berdiri tepat di seberang.

Rumah itu tampak jauh lebih besar daripada rumahnya sendiri. Fasadnya didominasi warna putih gading dengan sentuhan batu alam di beberapa bagian. Halaman depannya dipenuhi tanaman yang tertata rapi, sementara balkon lantai dua menghadap langsung ke jalan kompleks.

Tirai ruang tamunya masih tertutup.

Sepi.

Romi mematikan mesin mobil, tetapi belum juga turun.

Tangannya berpindah ke kursi penumpang, mengambil rantang stainless yang sejak pagi sengaja ia bawa pulang. Seharian penuh benda itu tetap berada di sisinya tanpa pernah disentuh. Setiap kali melihatnya, yang muncul justru wajah Jelita pagi tadi.

Maaf ya... aku terlalu senang semalam.

Romi memejamkan mata sejenak.

"Harusnya aku nggak ngomong sekasar itu."

Kalimat itu akhirnya keluar juga. Bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk dirinya sendiri.

Beberapa detik kemudian ia membuka pintu mobil, lalu turun.

Langkahnya sempat berhenti di teras rumah. Ia menatap rumah di seberang cukup lama.

"Cuma minta maaf."

Sesederhana itu. Namun entah mengapa, dua kata tersebut terasa jauh lebih sulit diucapkan daripada presentasi di depan puluhan klien atau mengambil keputusan bisnis bernilai miliaran rupiah.

Ia menarik napas panjang. Lalu menyeberang.

Tok. Tok. Tok.

Tidak ada jawaban.

Romi menunggu beberapa saat sebelum kembali mengetuk.

Masih sunyi.

"Belum pulang kali ya?" gumamnya pelan.

Saat hendak berbalik, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman. Sebuah sedan berwarna putih perlahan berhenti di garasi rumah itu.

Pintu pengemudi terbuka. Jelita turun sambil membawa tas kerja, laptop, serta sebuah map hitam bertuliskan nama perusahaan konsultan properti tempatnya bekerja.

Begitu mengangkat wajah, langkahnya langsung terhenti. Matanya membulat.

"Mas...?" Nada suaranya terdengar lebih kaget daripada senang.

Romi ikut salah tingkah.

"Baru pulang?"

"Iya."

Jelita masih sulit memercayai apa yang dilihatnya. Tatapannya berpindah dari wajah Romi ke rantang yang ada di tangan pria itu, lalu kembali lagi ke wajah Romi. Seolah sedang memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata.

"Kamu... dari tadi nunggu di sini?"

"Nggak..."

Romi menggaruk tengkuknya pelan, lalu mengembuskan napas kecil.

"Ya... baru beberapa menit."

"Oh...."

Baru beberapa detik kemudian, Jelita akhirnya bergerak. Selama ini, selalu ia yang datang mengetuk pintu rumah Romi. Hari ini justru pria itu yang berdiri di depan rumahnya.

Jelita buru-buru membuka pagar.

"Ayo masuk dulu."

"Nggak usah. Aku cuma sebentar."

"Cuma sebentar juga nggak apa-apa."

"..."

"Udah terlanjur sampai sini."

Romi sempat ragu. Namun akhirnya ia mengangguk kecil.

"Ya udah."

Jelita tersenyum tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia membuka pintu utama, lalu mempersilakan Romi masuk lebih dulu. Begitu melangkah ke dalam, pandangan Romi langsung berkeliling. Rumah itu jauh lebih luas daripada yang selama ini ia bayangkan dari luar. Ruang tamunya menggunakan konsep terbuka dengan langit-langit tinggi hingga lantai dua. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela-jendela besar, membuat ruangan terasa terang sekaligus hangat. Dominasi warna krem, putih, dan cokelat kayu membuat suasananya nyaman.

Beberapa tanaman hias dan sebuah piano hitam di sudut ruangan menambah kesan elegan tanpa membuat rumah itu terasa kaku. Rumah itu terlihat mewah, tetapi tetap hidup. Berbeda dengan rumahnya sendiri yang belakangan lebih sering dipenuhi keheningan.

"Silakan duduk."

Romi mengangguk.

"Maaf ya kalau rumahnya berantakan."

Romi kembali melihat sekeliling.

"Nggak kelihatan berantakan."

Jelita terkekeh kecil.

"Itu karena kamu datangnya mendadak. Kalau ngabarin dulu, pasti lebih rapi lagi."

Romi hanya menggeleng tipis.

"Kamu mau minum apa?"

"Nggak usah repot."

"Teh?"

"Nggak usah."

"Kopi?"

"Nggak."

"Air putih?"

"Nggak usah juga."

Jelita menghela napas panjang.

"Ya udah."

Romi mengira wanita itu benar-benar menyerah. Namun beberapa detik kemudian Jelita malah berjalan ke arah dapur.

Romi mengernyit.

"Katanya ya udah."

"Iya."

"Terus?"

"Ya udah... aku bikinin teh."

Romi spontan terkekeh.

"Kamu ini...."

Suara tawa kecil itu membuat langkah Jelita berhenti sesaat. Sudut bibirnya ikut terangkat. Dan entah mengapa, hal sesederhana itu sudah cukup membuat lelahnya seharian terasa hilang.

Tak lama kemudian, Jelita kembali dari dapur sambil membawa sebuah nampan.

Di atasnya tersaji dua cangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan uap.

Romi langsung menggeleng pelan.

"Kamu tadi bilang nggak usah repot."

"Iya."

"Terus ini apa?"

Jelita meletakkan nampan itu di atas meja.

"Ini nggak repot."

Romi mengembuskan napas kecil, menyerah.

"Kamu memang selalu punya jawaban."

"Soalnya kalau aku kalah debat sama kamu, nanti aku sedih."

Kalimat itu diucapkan sambil tersenyum, membuat Romi ikut tersenyum tipis tanpa sadar.

Jelita duduk di sofa yang berhadapan dengannya. Sesaat, tak ada satu pun yang berbicara. Yang terdengar hanya suara pendingin ruangan dan denting sendok kecil saat Jelita mengaduk tehnya. Keheningan itu terasa aneh. Biasanya Jelita adalah orang yang paling sulit diam. Hari itu justru wanita itu tampak lebih banyak menunduk sambil menggenggam cangkirnya. Sementara Romi beberapa kali membuka mulut, tetapi selalu mengurungkan niatnya. Pada akhirnya, justru Romi yang lebih dulu memecah keheningan.

"Jelita."

Wanita itu mengangkat wajah.

"Hm?"

"Aku datang ke sini..."

Romi berhenti sejenak.

"...buat minta maaf."

Jelita membeku.

Tatapannya tak lepas dari wajah pria di depannya.

"Apa?"

"Aku minta maaf soal tadi pagi."

Romi menundukkan pandangan sesaat sebelum kembali menatap Jelita.

"Aku terlalu keras."

Ruangan kembali hening.

"Kamu..."

Suara Jelita nyaris berbisik.

"...barusan minta maaf?"

Romi mengangguk pelan.

"Aku terlalu takut orang lain salah paham sampai lupa kalau yang ada di depanku cuma orang yang lagi peduli."

"Harusnya aku bisa ngomong baik-baik. Bukan malah melukai perasaanmu."

"Aku kepikiran terus seharian."

Sudut mata Jelita mulai menghangat. Namun ia tetap tersenyum.

"Aku nggak marah kok."

"Tapi aku tetap salah."

"Nggak."

Jelita menggeleng pelan.

"Aku juga salah."

Romi mengernyit.

"Aku terlalu senang."

Jelita tertawa kecil.

"Sampai lupa kalau kita tinggal di lingkungan yang banyak tetangga."

Romi mengembuskan napas pelan.

"Meski begitu..."

Ia kembali menatap wanita itu.

"...aku tetap minta maaf."

Beberapa detik kemudian, Jelita tersenyum.

Senyum yang kali ini benar-benar tulus.

"Aku maafin."

Romi mengangguk pelan. Kalimat sederhana itu seolah mengangkat beban yang sejak pagi menyesakkan dada Romi. Tanpa sadar, bahunya ikut mengendur.

Melihat perubahan ekspresi pria itu, Jelita justru terkekeh pelan.

"Aku baru sadar sesuatu."

"Apa?"

"Ini pertama kalinya kamu datang ke rumah aku."

Romi ikut tersenyum tipis.

"Iya."

"Dan tujuan pertama kamu ke sini ternyata buat minta maaf."

"Harusnya bangga."

Jelita tertawa.

"Bukannya bangga."

"Lalu?"

"Sayang aja."

"Sayang apa?"

"Harusnya datangnya buat ngedate."

Sudut bibir Romi terangkat tipis.

"Berarti lain kali aku harus cari alasan lain buat datang."

Jelita berkedip beberapa kali. "Hah?"

"Masa tiap mau ke rumah kamu harus bikin salah dulu."

Untuk beberapa detik, Jelita hanya menatapnya. Lalu tawa kecilnya pecah.

"Mas... ternyata kamu bisa becanda juga."

"Nggak usah kaget."

"Kenapa?"

"Nanti kamu makin besar kepala."

"Wah... berarti masih ada kesempatan dong buat kamu datang lagi."

Romi hanya menggeleng kecil sambil menyesap tehnya. Biasanya godaan seperti itu membuatnya ingin segera mengakhiri percakapan. Anehnya, sore ini ia justru tidak keberatan jika obrolan mereka berlangsung lebih lama.

Setelah suasana benar-benar mencair, pandangan Romi mulai mengembara lebih santai ke sekeliling ruangan.

Pandangannya akhirnya berhenti pada sebuah rak buku tinggi di sudut ruang tamu. Rak itu dipenuhi novel, majalah properti, serta berbagai buku tentang bisnis, investasi, pemasaran, dan pengembangan kawasan. Di sisi lain rak tersusun beberapa plakat penghargaan dan sertifikat yang dibingkai rapi.

"Top Property Consultant?" gumamnya tanpa sadar.

Jelita menoleh mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum kecil.

"Oh... itu cuma penghargaan kantor."

"Kamu nggak pernah cerita."

"Nggak ada yang menarik buat diceritain."

"Menurutku justru menarik."

"Kenapa?"

"Soalnya selama ini kamu lebih sering cerita soal makanan daripada pekerjaan."

Jelita langsung tertawa.

"Nah, ini baru Romi."

"Memangnya kenapa?"

"Baru kali ini kamu kelihatan penasaran sama hidup aku."

Romi hanya mengangkat bahu kecil.

"Selama ini kamu nggak pernah cerita."

"Lho, bukannya kamu juga nggak pernah nanya?"

"Aku memang nggak pernah nanya."

"Masih ada waktu kok buat mulai."

Romi tidak langsung menjawab. Kalimat sederhana itu menyadarkannya akan sesuatu. Selama ini bukan Jelita yang terlalu sedikit bercerita. Ia sendiri yang tak pernah benar-benar bertanya.

Romi kembali duduk sambil meraih cangkir tehnya. Entah kenapa, suasana sore itu terasa jauh lebih ringan daripada beberapa menit sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia benar-benar bisa menikmati keheningan tanpa merasa canggung. Ia mengambil sepotong pisang goreng. Masih hangat. Renyah di luar, lembut di dalam.

"Enak."

Mata Jelita langsung berbinar.

"Bener?"

"Iya."

"Nggak bohong?"

"Buat apa?"

"Soalnya orang yang lagi merasa bersalah biasanya gampang muji."

"Aku ngomong apa adanya."

"Syukurlah."

"Kenapa?"

"Soalnya tadi pagi aku sempat mikir..."

Jelita berhenti sejenak.

"...mungkin itu terakhir kalinya aku bisa masakin kamu."

Romi menghentikan gerakan tangannya.

"Maksudnya?"

"Aku pikir setelah dimarahin, kamu bakal menghindar."

"Aku memang marah."

Jelita mengangguk pelan.

"Aku tahu."

"Tapi bukan sama kamu."

Wanita itu perlahan mengangkat wajah.

"Lalu sama siapa?"

Romi terdiam cukup lama. Ia sendiri tak langsung menemukan jawabannya. Beberapa saat kemudian, ia mengembuskan napas panjang.

"Sama diri sendiri."

Jelita menatapnya tanpa berkedip.

Romi memandang cangkir teh di tangannya.

"Aku nggak tahu kenapa..."

Kalimatnya menggantung.

"Belakangan ini aku jadi gampang kepikiran."

Jelita tidak menyela.

Ia membiarkan Romi melanjutkan dengan ritmenya sendiri.

"Aku cuma takut..."

"Tinggi banget tembok yang kamu bangun."

Romi mengangkat kepala.

Jelita tersenyum kecil.

"Dan capek juga ya... kalau harus terus menjaganya."

Kalimat itu membuat Romi terdiam. Untuk sesaat, ia merasa wanita di depannya benar-benar mampu melihat sesuatu yang bahkan selama ini berusaha ia sembunyikan dari dirinya sendiri.

Romi hanya menunduk. Jemarinya memutar pelan cangkir teh yang mulai kehilangan hangatnya.

Melihat pria itu tetap diam, Jelita akhirnya kembali angkat bicara.

"Mas..."

"Hm?"

"Aku boleh nanya sesuatu?"

Romi mengangguk.

"Tanya aja."

Jelita menarik napas pelan. Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama mengendap di kepalanya, tetapi baru sore itu ia memiliki keberanian untuk mengucapkannya.

"Kamu..."

Ia berhenti sesaat.

"...selama ini bahagia nggak?"

Romi tidak segera menjawab. Tatapannya turun pada cangkir teh di tangannya. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

"Aku... nggak tahu." Jawaban itu terdengar pelan. Bahkan lebih seperti pengakuan daripada jawaban.

Jelita tidak mendesak. Ia hanya mengangguk kecil.

"Nggak apa-apa. Nggak semua pertanyaan harus dijawab hari ini."

Keheningan kembali hadir. Namun kali ini, bukan lagi keheningan yang canggung. Pandangan Jelita tanpa sengaja beralih ke jam dinding.

"Ya ampun... udah hampir jam tujuh."

Romi ikut melirik jam tangannya.

"Nggak kerasa."

"Iya."

Jelita bangkit dari sofa.

"Aku hangatin makan malam dulu."

"Nggak usah."

"Aku belum makan."

"Ya makan aja."

"Nggak enak kalau sendirian."

"..."

"Temenin lima belas menit aja."

Romi mengembuskan napas kecil.

"Aku udah mau pulang."

Jelita menoleh sebentar.

"Mas."

"Hm?"

"Kamu tadi datang buat minta maaf."

"Iya."

"Aku udah maafin."

"Terus?"

"Berarti sekarang gantian."

"Gantian apa?"

"Gantian nurutin aku."

Romi memandangnya beberapa detik. Entah kenapa, logika sederhana itu terdengar masuk akal.

Ia akhirnya menggeleng pelan.

"Kamu memang susah didebat."

Jelita langsung tersenyum lebar.

"Nah, berarti kamu setuju."

"Aku nggak bilang setuju."

"Tapi juga nggak nolak."

"..."

"Berarti setuju."

Romi hanya menghela napas pasrah.

"Lima belas menit."

"Dua puluh."

"Kok…"

"Oke-oke, lima belas menit."

Jelita mengacungkan jempol kecil sebelum berlalu ke arah dapur. Langkahnya kini terasa jauh lebih ringan daripada saat baru pulang tadi. Sementara itu, Romi tetap duduk di ruang tamu. Dari tempatnya, ia bisa melihat sebagian area dapur yang menyatu dengan ruang makan tanpa sekat penuh. Sesekali terdengar bunyi piring beradu pelan, suara microwave berbunyi, lalu aroma masakan hangat mulai memenuhi ruangan.

Entah mengapa, aroma itu terasa begitu akrab. Sudah lama ia tidak pulang ke rumah dan mendapati seseorang sedang menyiapkan makan malam. Tanpa sadar, pandangannya mengikuti setiap gerakan Jelita yang sibuk membuka tudung saji, memindahkan lauk ke piring, lalu sesekali meniup ujung jarinya ketika tanpa sengaja menyentuh panci yang masih panas.

"Aw."

Romi spontan berdiri.

"Kenapa?"

Jelita langsung menarik tangannya sambil tertawa kecil.

"Nggak apa-apa."

"Kena panas?"

"Dikit."

Romi menghela napas pelan.

"Kamu itu...."

"Aman kok."

Jelita kembali melanjutkan pekerjaannya seolah tidak terjadi apa-apa. Beberapa menit kemudian, ia keluar sambil membawa dua piring.

"Udah."

Romi melihat meja makan yang kini telah terisi beberapa hidangan sederhana. Semangkuk sayur bening, ayam kecap, telur dadar, sambal, dan sepiring tumis kangkung.

Tidak ada makanan mahal. Tidak ada penyajian mewah. Namun semuanya tampak hangat. Seolah rumah itu memang sudah menunggu seseorang untuk pulang.

"Masakanmu?"

Jelita mengangguk.

"Iya."

"Kapan masaknya?"

"Tadi subuh, tapi kalau sayur barusan tadi."

Romi menatapnya heran.

"Subuh?"

"Soalnya kalau malam aku suka capek, jadi pas pulang ngantor tinggal diangetin di microwave."

Jawaban itu terdengar begitu biasa. Namun entah kenapa, Romi justru terdiam beberapa saat. Ia membayangkan Jelita bangun sebelum berangkat bekerja, menyempatkan memasak lebih dulu, lalu menjalani hari yang panjang hingga malam.

"Tadi pagi sebenarnya aku mau kasih ini buat kamu," ujar Jelita pelan sambil menunjuk ayam kecap di atas meja. "Tapi... ya akhirnya malah jadi begini."

Romi menatap lauk itu beberapa detik sebelum perlahan menarik kursi.

"Kalau gitu... sayang kalau nggak dimakan."

Senyum Jelita langsung mengembang.

"Nah, itu baru jawaban yang aku tunggu.”

Jelita mengambil tempat di kursi yang berhadapan dengan Romi. Ia tidak langsung menyentuh sendoknya. Tatapannya justru lebih dulu tertuju pada pria di depannya.

"Kenapa?"

Romi yang menyadari tatapan itu mengangkat kepala.

"Nggak apa-apa."

"Terus lihatin aku begitu."

"Aku lagi nunggu."

"Nunggu apa?"

"Komentar pertama kamu."

Romi mengernyit.

"Komentar?"

"Iya."

"Soal?"

"Soal masakannya."

Romi menggeleng pelan.

"Baru juga duduk."

"Makanya."

"..."

"Cepat dicicip."

Nada bicara Jelita terdengar seperti seorang anak kecil yang tidak sabar menunjukkan hasil gambarnya kepada orang lain.

Romi akhirnya mengambil sepotong ayam kecap, lalu mencicipinya pelan. Jelita menunggu dengan napas yang tanpa sadar ia tahan.

Beberapa detik berlalu. Romi kembali mengunyah sebelum menelan makanannya.

"Enak."

Hanya satu kata. Namun wajah Jelita langsung berubah cerah.

"Bener?"

"Iya."

"Nggak lagi ngasih nilai kasihan, kan?"

Romi mengangkat sebelah alis.

"Nilai kasihan?"

"Soalnya kamu tadi habis minta maaf."

"Apa hubungannya?"

"Ya siapa tahu kamu sengaja muji biar aku makin nggak enakan."

Romi menggeleng pelan.

"Kalau nggak enak, aku bilang nggak enak."

Jelita menyipitkan mata.

"Segalak itu?"

"Kamu sendiri yang bilang, aku kalau ngomong suka terlalu jujur."

Jelita tertawa kecil.

"Iya juga."

Ia akhirnya mulai makan. Entah kenapa, selera makannya yang sempat hilang sejak siang perlahan kembali.

Beberapa saat mereka menikmati makan malam dalam diam. Bukan karena kehabisan bahan obrolan. Melainkan karena sama-sama merasa nyaman dengan keheningan itu. Sesekali hanya terdengar bunyi sendok yang beradu pelan dengan piring.

"Mas."

"Hm?"

"Aku boleh nanya lagi?"

Romi melirik sekilas.

"Masih nanya?"

"Yang ringan."

Romi mengangguk kecil.

"Tanya aja."

Jelita tersenyum jahil.

"Sebenernya... kamu bisa masak nggak?"

Romi mengangguk.

"Bisa."

Mata Jelita langsung membesar.

"Serius?"

"Bisa."

"Masak apa?"

"Mi instan."

Jelita spontan tertawa sampai sedikit membungkukkan badan.

"Aku kira beneran bisa."

"Itu juga masak."

"Iya sih."

"Tinggal direbus."

"Terus telurnya?"

"Kalau lagi rajin, pakai telur."

"Kalau lagi males?"

"Ya nggak pakai."

Jelita kembali tertawa.

"Kasihan banget hidup kamu."

Romi ikut tersenyum tipis.

"Yang penting masih hidup."

"Itu bukan hidup."

"Lalu?"

"Itu bertahan."

Romi menggeleng kecil.

"Kamu memang ada-ada aja."

"Tapi bener, kan?"

Romi tidak langsung menjawab. Anehnya... kali ini ia tidak merasa tersinggung. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang mengomentari kebiasaan buruknya bukan untuk menghakimi, melainkan karena benar-benar peduli.

Makan malam berakhir tanpa terasa. Piring-piring di atas meja hampir kosong. Bahkan ayam kecap yang tadi disajikan Jelita hanya menyisakan sedikit kuah.

Jelita memandang meja itu sambil tersenyum kecil.

"Kenapa?" tanya Romi.

"Nggak apa-apa."

"Nggak apa-apa tapi senyum-senyum."

"Aku cuma senang."

"Karena masakannya habis?"

Jelita mengangguk.

"Iya."

"Segitunya?"

"Soalnya biasanya kalau masak banyak, sisanya aku makan lagi besok."

Romi menatap wanita itu beberapa saat.

"Mulai sekarang jangan masak kebanyakan."

Jelita mengangkat kepala.

"Kenapa?"

"Nanti capek."

Jelita terdiam. Kalimat itu sederhana. Bahkan diucapkan dengan nada datar seperti biasa. Namun entah mengapa, justru kalimat itulah yang paling lama tertinggal di benaknya.

Ia tersenyum kecil.

"Kalau capeknya buat orang yang tepat, nggak apa-apa."

Romi tidak membalas. Bukan karena tidak ingin. Ia hanya belum tahu harus menjawab apa.

Beberapa saat kemudian, Romi berdiri sambil meraih rantang stainless yang tadi ia bawa.

"Kayaknya aku harus pulang."

Jelita ikut bangkit.

"Udah mau pulang?"

"Iya."

"Nggak kerasa."

Romi mengangguk pelan.

"Nggak kerasa."

Mereka berjalan menuju pintu depan. Begitu pintu terbuka, udara malam langsung menyambut. Lampu-lampu taman di sepanjang kompleks sudah menyala, sementara suara jangkrik mulai terdengar dari kejauhan.

Romi melangkah keluar.

"Mas."

Romi menoleh.

"Makasih... ya."

"Karena?"

"Udah datang."

Romi tersenyum tipis.

"Harusnya aku yang makasih."

"Karena udah dimaafin?"

"Iya."

"Terus?"

"Karena udah dikasih makan."

Jelita terkekeh pelan.

"Nah, itu baru lengkap."

Romi mengangguk kecil, lalu berbalik menuju rumahnya.

Baru beberapa langkah meninggalkan halaman, ponsel di saku celananya bergetar.

Drttt...

Romi menatap layar ponselnya beberapa detik.

Hannah Calling...

Jemarinya perlahan bergerak, seolah hendak menerima panggilan itu.

Namun ia justru terdiam.

Di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup, Jelita masih berdiri memandang punggungnya, sama sekali tidak mengetahui siapa yang sedang menghubunginya.

1
Eneng Farida
cari sana romi s jelitamu itu kalian sma mandul jd cocok banget jgn nanti nyesel hanna kalau sdh pergi
Susi Yanti
jalan untk selingkuh memang lebih mulus dan terasa indah,untk mempertahankan kesetiaan butuh pengorbanan yg tdk semua org bisa
Nathasya90
rakus sih ini. mau dua-duanya 🤣
Nathasya90
nggak sabar juga pengen ketok pala Romi/Hammer/🤣
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
iih ternyata jelita nih maksa ya orgnya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
wah enak ini makan siangnya
Eneng Farida
romi sm jelita memang cocok sm2 busuk nya hanna wanita baik cocoknya sm laki2 baik jga buruan cepat ketahuan atuh thor perselingkuhan romi laki2 tak thu dri
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga pasti mikir yg ngga2 kalau jadi hannah
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lihat jelita nih
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga. lebih milih kerja drpd masak. 😄
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku jd hannah pasti mikir macam2 liat reaksi suami begitu
Nathasya90: nah iya kk, kentara banget sih itu.
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
kok aku jd deg2an ya. lanjut deh
Nathasya90: lanjut ka bacanya😍
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lantas.. hanna yg dihujat terus masa ga kasian😞
Nathasya90: lalu tega gitu namanya dong ya. lebih milih jaga biar dia nggak terluka tapi nggak apa2 kalau istrinya yang terluka?
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
swmoga selalu baik2 aja seterusnya
Nick: mampir kk ke cerita aku 🙏🗿
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
memang begitu harusnya. menikah itu krn untuk mendapatkan pendamping hidup. senang dan susah bersama. hanya saja ada saja kerikil2 yg mengganggu. seperti pertanyaan mertua atau org2 disekitar kita. yang tadinya hati kita tidak apa2 lama kelamaan menjadi gelisah dan merasa minder
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ayo romi.. periksa.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lelah sih kalau berjuang sendirian. lanjut
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti lama kelamaan tekanan batin rasanya
Eneng Farida
romi laki2 tak tau dri udh untung ada istri yg mau nerima apa adanya ini mlh kesemsem sm org naru pantes nanti d tinggal hanna
Nathasya90
Haii guys... othor kembali lagi dengan judul buku baru. Semoga suka ya dengan anak baru aku🫰🏻❤️🥰

Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.

Ditunggu semua komenannya.

Love sekeboon buat kalian💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!