"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Masih Nyeri?
Jeritan melengking Keisha langsung pecah memenuhi ruangan. Gadis itu refleks menarik tubuhnya ke atas, air matanya hampir keluar lagi karena rasa kejut dan nyeri yang mendadak berdenyut hebat akibat senggolan maut si bocil.
Rafka malah tertawa cekikikan melihat reaksi histeris tantenya, lalu buru-buru bersembunyi di balik kaki tegap ayahnya. "Hahaha! Tante Kei bohong! Tuh kan masih sakit!"
Namun, tawa Rafka langsung terhenti saat melihat pergerakan sang ayah.
Tanpa sepatah kata pun, dan sama sekali tanpa meminta permisi terlebih dahulu, Satria langsung bergerak cepat. Pria bertubuh besar itu menurunkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di atas lantai tepat di sisi ranjang Keisha. Tangan kanannya yang besar dan kokoh dengan sigap menyibak selimut yang menutupi kaki Keisha, lalu telapak tangannya yang hangat langsung mencengkeram lembut pergelangan kaki gadis itu.
Keisha mendadak membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Suasana di dalam kamar tidur yang sejuk itu seketika berubah menjadi sangat padat dan menegangkan. Keisha menunduk, menatap lurus ke arah puncak kepala Satria yang berada sangat dekat dengan lututnya. Jarak mereka begitu intim, hingga Keisha bisa menghirup dengan jelas aroma wangi parfum maskulin bercampur minyak rambut khas militer dari tubuh Satria yang sangat segar di pagi hari.
Sentuhan kulit tangan Satria yang sedikit kasar namun sangat hangat di pergelangan kakinya memicu debaran jantung yang luar biasa kencang di dalam dada Keisha. Rasa canggung yang teramat sangat membuat pipi Keisha merona merah padam dalam sekejap. Dia merasa aneh, sangat aneh. Pria yang selama ini berstatus sebagai kakak iparnya, pria yang selalu bersikap dingin dan kaku, kini sedang berlutut di depannya dengan seragam Mayor lengkap, memeriksa kakinya dengan sentuhan yang begitu protektif.
Satria ibu jari tangannya bergerak perlahan, menekan dengan sangat lembut area yang tadi disenggol Rafka, memastikan tidak ada urat yang kembali bergeser. Matanya yang hitam pekat menatap fokus pada struktur kaki Keisha, sebelum akhirnya mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Keisha yang sedang menatapnya dengan pandangan gugup.
"Masih nyeri?" tanya Satria pelan. Nada suaranya kali ini tidak sedingin biasanya, melainkan terdengar sedikit lebih lembut, menyiratkan rasa khawatir yang disembunyikan dengan rapi.
Keisha menelan ludahnya dengan susah payah, merasa tenggorokannya mendadak kering di bawah tatapan intens sang Mayor. "E-eh ... dikit, Kak. Tapi beneran, enggak apa-apa kok. Cuma kaget aja tadi karena disenggol Rafka."
Satria tidak langsung melepaskan cengkeramannya. Ia menghela napas pendek melalui hidung, menatap Keisha beberapa detik lebih lama hingga membuat dada Keisha semakin bergemuruh tidak karuan, sebelum akhirnya perlahan melepaskan tangannya dan bangkit berdiri kembali ke posisi tegap.
Satria menoleh ke arah anaknya dengan tatapan tegas. "Rafka, minta maaf pada Tante. Tidak boleh bercanda seperti itu pada orang yang sedang sakit."
Rafka yang melihat wajah serius papanya langsung memajukan bibir, lalu menatap Keisha dengan mata memelas. "Tante Kei ... Rafka minta maaf ya. Rafka cuma bercanda tadi."
Melihat keponakannya yang menggemaskan itu meminta maaf, jiwa barbar Keisha kembali sedikit melunak. Dia menjulurkan tangannya, mengacak-acak rambut Rafka gemas. "Iya, Tante maafin. Tapi awas ya, nanti malam jatah main PS-nya Tante potong setengah jam!"
"Yah, Tante ...," keluh Rafka cemberut.
Satria kembali melirik ke arah nampan di atas nakas, lalu beralih pada Keisha. "Habiskan sarapan kamu. Setelah ini minum obat pereda nyeri yang ada di dalam laci. Nanti siang Ibu akan kembali memeriksa kondisi kamu."
"Iya, Kak. Siap, laksanakan," jawab Keisha dengan nada suara yang sengaja dibuat kembali cuek demi menutupi kegugupan hatinya yang belum sepenuhnya reda.
Satria memberikan anggukan kecil yang sangat formal. "Kakak berangkat kerja dulu. Ayo, Rafka."
"Daaah Tante Kei! Cepat sembuh ya!" seru Rafka sambil melambaikan tangannya, mengikuti langkah tegap papanya yang mulai berjalan keluar dari kamar.
Keisha menatap punggung tegap berseragam Mayor itu hingga benar-benar menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat. Begitu suasana kamar kembali sunyi, Keisha langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, menutup seluruh wajahnya dengan bantal hangat sembari memekik tertahan.
*Gila! Bener-bener gila! Kenapa Kak Satria pagi-pagi udah bikin jantung orang mau copot sih?* jerit Keisha dalam hati, memegangi dadanya yang masih berdegup kencang secara tidak sah.
***
Tanpa terasa, satu minggu sudah berlalu semenjak insiden terkilirnya Keisha di tangga rumah. Berkat pijatan berkala dan telaten dari sang Mayor pada malam-malam awal, kaki Keisha kini sudah sembuh total. Ia sudah bisa kembali beraktivitas ke kampus secara normal, bahkan sifat barbarnya yang hobi bergerak cepat sudah kembali seratus persen.
Dalam satu minggu itu pula, Satria sudah kembali menempati rumah pribadinya sendiri karena tugas-tugas di markas Jakarta kembali padat. Sementara itu, Rafka memang masih dititipkan dan tinggal di rumah Ayah Farrel dan Ibu Dania. Satria belum juga mendapatkan babysitter baru yang kriteria disiplinnya cocok untuk mengurus anaknya, dan beruntung, kedua mertuanya sama sekali tidak keberatan. Mereka justru senang rumah tidak sepi dari tawa bocah lima tahun tersebut.
Selama kejauhan itu, intensitas komunikasi antara Satria dan Keisha ternyata tidak memudar. Bedanya, tidak ada lagi interogasi seketat minggu lalu. Satria terkadang hanya mengirim pesan singkat via WhatsApp untuk menanyakan kegiatan Rafka kepada Keisha. Dan Keisha, dengan sifat cueknya yang biasa, selalu menjawab apa adanya—lengkap dengan bumbu komedi atau foto-foto absurd Rafka yang sedang tertidur dengan mulut terbuka.
Namun, ketenangan malam itu mendadak terusik ketika Keisha sedang duduk menyendiri di meja belajarnya. Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di hadapannya, laptop menyala menampilkan draf tugas akhir yang grafiknya memusingkan kepala.
Drrrt ... Drrrt ...
Ponsel Keisha yang tergeletak di samping cangkir cokelat hangat bergetar pendek. Ada dua notifikasi WhatsApp baru masuk dari nomor Satria.
Keisha meraih ponselnya, membuka ruang obrolan dengan santai. Namun, begitu matanya membaca baris-baris kalimat yang tertulis di layar, dahinya langsung berkerut dalam. Alisnya bertaut rapat.
Kak Satria: Dek, kamu beneran pacaran sama cowok yang pernah jemput kamu waktu itu?
Kak Satria: Dek, kamu yakin Kakak boleh menikah lagi?
Keisha mengerjap-ngerjap, membaca ulang pesan itu sampai tiga kali untuk memastikan matanya tidak salah lihat. Di antara rasa heran yang membuncah, ada satu hal kecil yang mendadak membuat dadanya berdesir aneh.
Dek.
Bersambung....