NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Hadiah Terakhir Untuk Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pelakor / Poligami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:55.9k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.

Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.

Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.

Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Rasa

"Kapan kita akan pindah mas?" tanya Safira pada suaminya yang duduk setengah berbaring di atas ranjang. Ada laptop juga dipangkuannya.

"Pindah kemana?" Adrian menutup laptopnya dan menatap Safira yang berdiri tepat di sampingnya. Dia menyingkirkan laptop dan menarik Safira untuk duduk tepat di pangkuannya."Pindah kemana Fira?" ulangnya.

"Pindah ke rumah mas Adrian."

"Aku nggak punya rumah, jadi untuk sementara tinggal di rumah orang tuaku dulu. Kita akan melihat-lihat rumah setelah situasi tenang," jawab Adrian tidak sedingin sebelumnya.

"Rumah yang mas tinggali dengan Alya, bukankah itu ...."

"Rumah itu ada setelah kami menikah jadi itu bukan milik aku saja. Harusnya menjadi milik anak aku dan Alya, tapi kami nggak punya anak."

Safira terdiam, dia tidak lagi menunut apapun. Adrian bersikap lembut padanya hari ini sudah jauh dari cukup setelah dibaikan berhari-hari.

***

"Kangen banget sama kak Alya." Adrina langsung berdiri dan memeluk mantan kakak iparnya yang baru tiba, bahkan belum duduk.

"Aku juga kangen banget sama kamu. Apa kabar mama dan papa?"

"Baik Kak, meski suasana rumah nggak sehangat saat kak Alya yang jadi istri mas Adri." Bibir Adrina melengkung ke bawah.

"Jangan bilang gitu." Alya mengelengkan kepalanya dan duduk di kursi. Memesan makanan tanpa bertanya pada mantan iparnya. Dia sudah hapal mati selera adik Adrian.

"Selain kangen pasti mau cerita sesuatu kan sama aku?" tebak Alya meletakkan daftar menu di meja.

Adrina mengangguk cepat. "Benar aku mau cerita banyak hal tentang pacarku."

"Kan benar." Alya tertawa kecil.

Dia dengan setia mendengarkan segala ocehan dan kekesalan Adrina terhadap kekasihnya. Dan lagi-lagi topiknya sibuk mulu sampai tidak ada waktu untuk bertemu.

"Kemarin aku kodein dia tentang hari satu tahun kami dan dia lupa kak. Kesal banget aku tuh."

"Wajar banget kok kamu sebagai perempuan kesal. Tapi komunikasikan lagi ya, bilang kamu lagi kesal. Bilang kamu nggak suka kalau dia terus-terusan lupa hal-hal penting tentang kalian."

"Nggak bisa kak Alya, aku gengsi. Masa dia nggak peka sih kalau aku lagi marah." Alya mengerucutkan bibirnya.

"Kan kamu sendiri yang bilang pacarnya nggak peka." Alya mengulum senyum melihat Adrina menyengir.

"Oh iya lupa, pacar aku kelewat pintar sampai nggak peka sama pasangan. Baiklah aku bakal lakuin yang kak Alya bilang dan lihat responnya, kalau nggak berubah-berubah mending putus saja."

"Anak pintar." Alya mengelus rambut Adrina.

Kebetulan setelah pembicaraan mereka, makanan yang Alya pesan sudah tiba dan dihidangkan di atas meja.

Alya tidak langsung menyentuhnya, melainkan menunggu Adrina memotret, hal yang selalu mantan adik iparnya lakukan.

"Di liat-liat kak Alya makin cantik deh. Pipinya juga berisi. Aku senang," celetuk Adrina di tengah-tengah aktivitas makan mereka.

"Kalau pipinya iya aku juga sadar, tapi cantiknya ...."

"Udah pokoknya makin cantik. Janda aku makin cantik dan berhak bahagia." Sela Adrina secepat kilat.

Mengangkat jus jeruknya tinggi-tinggi hanya untuk bersulang dengan Alya.

"Aku ketoilet sebentar ya." Alya izin ketoilet saat merasakan perutnya melilit. Mungkin karena menerima makanan berat secara tiba-tiba padahal seharian hanya makan buah karena tidak berselera menyantap apapun.

Semakin dia berjalan jauh, semakin lemas dirasakan tubuhnya sampai hampir tumbang andai tidak berpegangan pada tembok. Keringat dingin mulai terlihat di keningnya dan matanya berkunang-kunang.

"Ada apa dengan diriku akhir-akhir ini?" tanyanya setelah berhasil menguasai rasa sakit dan berdiri di depan wastafel kamar mandi.

"Al-Alya?"

Alya lantas menoleh dan baru menyadari ada Safira di sampingnya.

"Kamu datang ke sini atas dasar apa?" lanjut Safira.

"Makan malam, ada yang salah?"

"Bukan karena tahu mas Adrian dan aku makan malam di sini kan?"

Alya tertawan pelan, mengeser sedikit kakinya agar berhadapan langsung dengan Safira. "Aku nggak terbiasa memungut sampah yang sudah kubuang. Andai aku membutuhkannya, nggak akan aku buang Safira," jawabnya dan berlalu pergi.

Kota yang Alya kira sangat luas ternyata sempit dalam kehidupan dan takdirnya. Dimana dia berpijak dan membutuhkan ketenangan, dia selalu bertemu orang-orang yang berusaha dia lupakan.

"Adrina aku harus pulang," ujar Alya setelah kembali.

"Loh tapi makanan kak Alya belum habis. Kakak sakit ya? Wajahnya pucat banget. Aku antar pulang mau?"

"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri."

Alya menyambar tas dan cardingannya kemudian berlalu. Dibelakangnya Adrina tetap mengikuti tanpa dia sadari.

"Kalian makan malam di sini juga?" sapa Adrian yang kebetulan berpapasan dengan mereka, tetapi Alya tidak merespon apapun berjalan dengan dagu terangkat.

"Alya ...."

"Mas sudah memesan makanan?" tanya Safira. Wanita itu langsung menarik tangan Adrian agar tidak mengikuti mantan istrinya. "Aku sangat lapar, takutnya calon anak kita kenapa-napa," lirihnya.

Adrian menghela napas panjang, memutar langkahnya dan mengandeng tangan Safira menuju meja yang tadi dipilihnya. Duduk dan berusaha fokus pada istrinya, meski hati dan pikirannya terus tertuju pada Alya, apalagi melihat wajah pucatnya tadi.

***

Lagi dan lagi Sena menghela napas panjang, ini sudah dia lakukan hampir setiap hari ketika melihat jadwal Alya sangat padat. Bisa dibilang waktu istirahatnya hanya di perjalanan saja.

"Mbak ini sudah melewati batas. Mbak juga butuh waktu untuk diri sendiri," keluh Sena akhirnya, setelah menahan diri berhari-hari.

"Belum Sena," jawab Alya tenang. "Kesibukan ini belum bisa mengalihkan aku pada rasa sakit akan pengkhianatan suamiku. Aku ikhlas, tapi sakitnya masih terasa," lanjutnya dalam hati.

Tarikan napasnya panjang dan hembusannya pun sama, dia menatap Sena dan tersenyum. "Kalau kamu kewalahan, cari orang untuk membantumu," ucapnya dan bersiap untuk pergi.

"Setidaknya sarapan dulu Mbak."

"Sudah." Alya memperlihatkan buah apel yang telah dia gigit separuh.

"Sarapan yang benar-benar sarapan agar mbak nggak drop."

"Mbak tolong dengarkan aku!" Sena menghentakkan kakinya karena Alya tidak mendengarkan. "Yang bersalah mereka tapi kenapa mbak yang menghukum diri seperti ini?" Suara Sena bergetar. Dia menyaksikan kebahagian Alya selama hampir dua tahun dan kini dia juga menemani penderitaannya dan itu sangat menyakitkan.

Wanita yang selalu diratukan oleh suaminya menjadi tidak terkendali karena rasa sakit yang berusaha disembunyikan dari dunia.

"Kalau sakit nangis Mbak, bukan nyiksa diri." Air mata Sena terjatuh.

Alya memejamkan matanya, enggang berbalik karena suara Sena sudah menjelaskan bahwa gadis itu menangis di belakangnya. Sandiwaranya akan sia-sia jika dia menangis juga.

"Taksinya sudah menunggu Sena, jangan banyak drama," ucap Alya dan berjalan.

"Aku mau berhenti jadi asisten mbak Alya. Aku nggak sanggup kerja tanpa istirahat!" teriak Sena.

"Iya nggak apa-apa Sena."

"Mbak Alya!" teriak Sena karena sangat kesal.

.

.

.

Huhuhu maafnya author semalam nggak upadate hehehehe

Jangan lupa meninggalkan jejak sebelum baca bab selanjutnya.

1
Yuni Ngsih
Authooor ceritra baru nongol ko ku ngenes banget sm kelakuan si Adrian ,dah punya istri sholehah masih nyeleweng ,kasian Aliya⁰..tp buat Aliya badai pasti berlalu & akan muncul Pelangi & buat si Adrian akan muncul karma kehidupan bersama si Safira ,lanjut Thor
ken darsihk
Seperti nya buku ini hiatus yak 🙏
ken darsihk: Ok author , kangen 🩵
total 2 replies
sutiasih kasih
itu pilihanmu mnukar berlian dgn krikil jalalanan....😅😅
sutiasih kasih
ngaca fir.... km jga punya suami hsil merebut milik org lain...🙄🙄
sutiasih kasih
emang di mana" yg nmanya pelakor ya tak tau diri🤣🤣🤣🤣
sutiasih kasih
gila aja pelakor di ksih semangat😅😅
sutiasih kasih
omong kosong....
klo cinta... tak akn km mnduakn alya
Betik Kurnia
aku bosen dengan cerita itu itu aja. lihat cerita ini kok aku suka banget. ikut baper hiks ... hiks... lop yu autor 😍😍
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Areta Cantik
ini uda selesai ta ceritanya koq gantung?🤔
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: setelah pesta aku lanjut heheh
total 1 replies
arniya
jawaban yang harus di ingat
Supri Yanti
suka alya bagus, 👍👍
ken darsihk
koq belum up date yak 🤭🤭
ken darsihk: Semangat author 👍👍
total 2 replies
ken darsihk
Safira derita lo di usir dari rumah itu , dan papa mertua mu yng menyuruh lo pergi kasihan bngt siiih 😂😂😂
Rahma Inayah
tu lah bodoh nya km pelakor beda dgn Alya. .yh punya tabungan walau punya uang dr Adrian tnp batas. tp gajinya dia tabung .
Maria Magdalena: namanya jg pelakor bisa2nya cm ngerongrong dan hambur2 uang saja,itulah cewek jalang.
total 1 replies
merry
maruk jdi laki dikira ank kyk bkin donat x ya tgl jdi
ken darsihk
Ooh Sena dan Arkana beda keyakinan kasihan
Maria Kibtiyah
cinta beda agama si sena ma arkana
Maria Magdalena: udah bubar aja jgn minggalkan keyakinan nggak bsik
total 2 replies
ken darsihk
Karma Safira karma mangka nya jadi perempuan tuh jangan jahat , akhir nya karma kan yng menghampiri lo 😂😂😂
ken darsihk
Yesss lah Adrian 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!