Kisah seorang pangeran sampah yang di usir dari istana pada usia 15 tahun dan meninggal di usia 31 tahun, dia mengulang hidupnya tepat ketika di usir dan kembali terbunuh di usia 31 tahun. Akhirnya total pengulangan hidup nya mencapai sembilan kali, dia sudah mencoba berbagai macam hal, mulai dari pedagang, petualang rank S sampai membantu mereformasi kerajaannya. Ironisnya dia selalu terbunuh oleh seorang ratu kekaisaran yang sama selama sembilan kali di usia 31 tahun.
Di kehidupan ke sepuluhnya, dia berniat langsung menemui ratu yang saat itu masih bersekolah di akademi berstatus masih putri kekaisaran. Tapi ketika dia masuk ke akademi, dia malah menemukan hal hal baru yang dia tidak pernah tahu selama sembilan kali kehidupannya dan membuat rencananya berantakan, bagaimanakah kisah hidup sang pangeran sampah di kehidupan ke sepuluhnya ?
Genre : Fantasy,Comedy,Drama,Tragedy,Harem
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Art semakin terdesak, kedua gadis itu semakin mendekatkan wajah mereka bahkan mereka sampai berdiri, tapi “Blak.” Tiba tiba pintu bar di buka dengan kecang, beberapa pria garang yang berwajah seram dan bersenjata lengkap masuk ke dalam bar, tentu saja Julia dan Sarah langsung menoleh melihat ke pintu,
“Haaah...terima kasih dewa.” Ujar Art dalam hati sambil bernafas lega.
Tapi rasa lega Art hanya sebentar sebab para pria itu berjalan ke arahnya dan langsung mengerubunginya.
“Kamu si pangeran sampah itu ?” Tanya seorang pria dengan goresan melintang di wajahnya, memakai bandana dan bertubuh besar.
“Iya...kenapa ?” Tanya Art.
“Apa mau kalian ?” Teriak Julia sambil berdiri.
“Duduk putri, tidak ada urusannya dengan mu. (dia menoleh melihat Art) ikut kami keluar.” Jawab pria itu.
“Baik (menoleh melihat Julia dan Sarah) kalian tunggu di sini, tidak akan terjadi apa apa.” Balas Art sambil berdiri.
Akhirnya Art di bawa keluar oleh beberapa pria garang yang masuk itu. Setelah di luar, dia di bawa ke sebuah daerah sepi di dekat bar itu, mereka masuk ke dalam sebuah gang buntu yang cukup luas dan terlihat sangat sepi. Para pria itu langsung mengurung jalan keluar untuk mencegah Art melarikan diri, di depan Art ada dua orang siswa akademi yang dia lihat sebelumnya,
“Mana pangeran kalian ?” Tanya Art.
“Tenang saja, Chris-sama tidak tahu soal ini.” Jawab seorang teman Chris.
“Semua ini balasan karena kamu mempermalukan Chris-sama tadi.” Tambah seorang teman Chris yang satunya.
“Haaaa....pangeranmu yang mempermalukan dirinya sendiri, kenapa aku yang harus di balas. Aneh aneh saja...” Ujar Art.
“Diam pangeran sampah, kami berbeda dengan Chris-sama, kamu akan membuatmu babak belur di sini.” Ujar seorang teman Chris.
“Benar, Chris-sama terlalu lembek, kami akan membuat kamu tidak akan betah di akademi.” Tambah seorang temannya lagi.
“Ya ya...cepat selesaikan, sudah sore nih.” Ujar Art meledek.
Seorang teman Chris memberi kode kepada para pria yang mengepung Art, langsung saja para pria yang berjumlah tujuh orang itu berjalan mendekati Art sambil tersenyum sinis meremehkan dan “Krek” membunyikan tangannya. Art diam saja sambil menguap karena ngantuk, tiba tiba seorang pria garang itu menyerang Art dengan tinjunya, tanpa menoleh Art menggeser kepalanya dan tinju orang itu lewat di sebelah pipinya, langsung saja dia menangkapnya dan menendang kaki di belakangnya, Art mendorong maju lengan tinju pria itu berserta tubuhnya ke arah kedua teman Chris yang langsung menghindar tanpa berbalik. “Buaaak.” Pria itu menghantam dinding di belakang kedua teman Chris.
Dua orang pria menyerang menggunakan tinju dari kanan dan kiri Art, langsung saja Art memundurkan tubuhnya dan memegang kepala kedua orang itu kemudian membuatnya beradu dan jatuh, Art menoleh melihat empat orang yang tersisa di belakangnya, mereka mulai mencabut pedangnya.
“Bos, boleh ya orang ini kita bunuh.” Ujar seorang pria sangar itu.
“Bunuh, jangan kasih ampun...” Teriak teman Chris yang terjongkok berlindung.
“Wah wah wah...jadi serius nih.” Ujar Art.
Art mencabut pedang besarnya dari punggung dan sekalian dia mencobanya, “Swooosh.” Sekali ayunan, gelombang yang di hasilkan membuat empat orang berpedang di depannya langsung terpental keluar dari gang. Art berbalik dan mengangkat pedang besarnya menaruh di pundaknya, dia berjalan mendekat ke arah dua orang teman Chris.
“Sudah selesai kan ? ada lagi ?” Tanya Art.
“Ku..kurang ajar....manusia rendahan....rasakan ini.....fireball....” Teriak seorang teman Chris sambil mengacungkan tapaknya ke arah Art.
“Water arrow.” Seorang teman Chris yang lain juga mengacungkan tapaknya.
Bola api dan panah air langsung melesat ke arah Art, “Blaar.” Keduanya menghantam tubuh Art, akibat ledakan asap berhamburan, kedua teman Chris tersenyum lebar,
“Hahaha rasakan...rasakan....” Sorak keduanya.
Ketika asap menghilang, mereka melihat Art yang sedang membersihkan pakaiannya dengan wajah santai dan tidak terluka sama sekali.
“Sudah puas ?” Tanya Art yang masih memanggul pedangnya.
“Kurang ajar.....multi fireball...” Teriak seorang teman Chris.
Di kepalanya muncul tiga buah lingkaran sihir berwarna merah, dia menggerakkan tapaknya dan ketiga lingkaran sihir itu menembakkan bola api ke arah Art.
“Light Barrier.”
Tubuh Art langsung di selimuti pelindung cahaya tipis, seluruh bola api menghantam tubuh Art dan meledak, tapi kali ini sang penembaknya tidak bersorak, dengan perlahan dia menurunkan tapaknya, wajahnya berharap dia berhasil menaklukkan Art. Tapi ketika asap menghilang, keduanya melihat ratusan lingkaran sihir yang terlihat seperti terbakar api berwarna biru hitam muncul dari balik asap. Keduanya langsung terduduk jatuh dan merangkak merapat ke dinding jalan buntu,
“Oi oi masa belum di balas sudah jatuh...payah ah...” Ujar Art sambil memanggul pedangnya dengan santai.
“Si..siapa kamu sebenarnya....” Teriak seorang teman Chris.
“Pangeran sampah kan....” Balas Art tersenyum.
Art langsung mengangkat tangannya, sebuah bola api biru keluar dari seluruh lingkaran sihir yang berjumlah ratusan itu, wajah kedua teman Chris sudah sangat ketakutan,
“Sekarang rasakan ini.......hiyaaaaaaaah.” Teriak Art dengan kencang.
“Waaaaaaaa.....” Teriak keduanya.
Langsung saja keduanya pingsan terduduk dan tersender di dinding dengan celana basah, Art menurunkan pedangnya dan ratusan lingkaran sihir yang mengelilinginya menghilang begitu saja. Art memperhatikan wajah keduanya yang ketakutan dengan air mata bercucuran dalam keadaan pingsan.
“Hehehe lucu juga ternyata....tapi terima kasih ya, sudah menyelamatkan ku dari pertanyaan Julia dan Sarah hehe...bye bye.” Ujar Art.
Dia menaruh pedang besarnya di sarungnya lagi dan berjalan keluar dari gang meninggalkan kedua teman Chris pingsan di dalam gang. Dengan santai, Art berjalan kembali ke bar tempat dia meninggalkan Julia dan Sarah. Tapi ketika dia sudah melihat bar dari jauh, dia melihat Julia yang kembali mondar mandir di depan pintunya, Art langsung berlari menghampiri Julia,
“Ada apa ?” Tanya Art.
“Art, cepat, kita harus kembali ke akademi.” Jawab Julia.
“Memang ada apa ? apa yang terjadi ketika aku tidak ada.” Balas Art.
“Seorang staff akademi datang menjemput Sarah, katanya mereka mendapat surat dari kerajaan Durnhill mengenai orang tua Sarah. Sekarang Sarah bersama staff akademi itu.” Ujar Julia.
“Hmm berarti dugaanku benar, seharusnya di bar tadi, Sarah menerima lamaran Chris dan setelah itu keluarganya terbunuh....berarti hari ini Sarah akan mengambil sebuah keputusan besar di dalam hidupnya.” Gumam Art di dalam hati.
“Kenapa malah bengong, ayo kita susul....” Ujar Julia.
“Iya, kamu benar, semua berbeda dari masa lalu, ayo Julia....” Ujar Art menarik tangan Julia.
“Eh....maksudnya apa ?” Tanya Julia dalam hatinya sambil menatap wajah Art di sebelahnya.
Keduanya berlari kembali menuju ke akademi untuk menemui Sarah yang kembali lebih dulu bersamaan dengan staff akademi yang menjemputnya.