Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.
Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.
Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.
Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?
Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?
Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Mempertahankan Prinsip
Pintu ruang meeting terbuka perlahan. Arini melangkah masuk dengan wajah datar.
Tak ada senyum yang dulu selalu menyambut Galang setiap kali mereka bertemu. Tak ada sorot mata hangat yang pernah membuat lelaki itu merasa pulang. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang dingin, seolah semua perasaannya telah habis terkikis oleh luka yang dibuat oleh lelaki di hadapannya itu.
Hari ini, Arini benar-benar muak. Muak dengan sikap Galang yang selalu merasa paling benar.
Muak dengan segala tuntutan yang selama ini harus dipenuhi tanpa pernah dihargai.
Dan yang paling membuatnya lelah, Galang datang hanya karena merasa hidupnya mulai berantakan.
Begitu melihat Arini masuk, Galang yang semula duduk langsung berdiri. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kepanikan berubah menjadi penuh tuntutan.
"Jadi benar?" tanyanya tanpa basa-basi.
Arini menatapnya tenang. "Maksud Mas?"
Galang mengeluarkan beberapa lembar surat dari dalam tas kerjanya, lalu meletakkannya di atas meja dengan sedikit keras. "Ini!"
Arini melirik sekilas. Dia mengenali surat itu.
Surat panggilan sidang perceraian.
"Tadi siang aku nerima ini di kantor." Galang menatap Arini tajam. "Kamu benar-benar menggugat aku?"
Arini mengangguk pelan. "Iya."
Jawaban singkat itu membuat dada Galang semakin sesak. "Kamu serius mau cerai?"
"Iya."
"Lusa sidangnya?"
"Iya."
Tidak ada keraguan sedikit pun dalam suara Arini.
Justru ketenangannya membuat Galang semakin gelisah. "Aku datang ke sini buat minta kamu cabut gugatan itu!"
Arini tetap diam.
"Kamu dengar nggak? Besok pagi kita ke pengadilan. Kamu batalkan semuanya."
Arini menggeleng pelan. "Aku tidak akan mencabut gugatan itu."
Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, tetapi terdengar begitu tegas.
Galang mengembuskan napas kasar. "Arini, jangan keras kepala!"
"Aku bukan keras kepala."
"Lalu apa namanya?"
"Aku sedang mempertahankan keputusan yang sudah kupikirkan matang-matang."
Galang menggeleng berkali-kali. "Nggak.Aku nggak setuju."
Arini tetap menatapnya tanpa gentar. "Aku tidak meminta persetujuan Mas. Gugatan itu adalah hakku."
Ucapan itu membuat Galang terpancing emosi.
"Kamu itu istriku."
"Iya."
"Kalau begitu kamu harus pulang!"
"Tidak."
"Kamu harus cabut gugatan ini!"
"Tidak."
Jawaban Arini tetap sama. Singkat. Tegas. Tanpa nada tinggi. Namun justru itulah yang membuat Galang semakin kehilangan kendali.
"Apa kurangnya aku?"
Arini tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.
"Mas benar-benar mau tahu?"
"Tentu."
"Kurangnya bukan pada pekerjaan Mas. Bukan juga pada penghasilan Mas." Arini menarik napas pelan.
"Yang kurang adalah rasa hormat."
Galang terdiam beberapa detik. Arini melanjutkan.
"Selama ini Mas selalu ingin dilayani, tapi tidak pernah benar-benar menghargai orang yang melayani."
Wajah Galang mengeras. "Itu masa lalu."
"Bukan."
"Itu sudah selesai."
"Belum selesai, Mas. Luka yang Mas tinggalkan belum pernah sembuh."
Galang mengepalkan kedua tangannya. "Aku nggak peduli. Yang jelas kamu harus pulang."
"Tidak."
"Kamu harus cabut gugatan itu!"
"Tidak."
"Aku bilang cabut!"
"Aku bilang tidak."
Keduanya kini saling menatap tanpa berkedip. Tak ada lagi kelembutan di antara mereka.
Tak ada lagi keinginan untuk saling mengalah.
Galang tetap bersikeras mempertahankan pernikahan itu, tetapi bukan karena telah memahami kesalahannya. Yang dia inginkan hanyalah mengembalikan hidupnya seperti semula.
Sebaliknya, Arini juga tetap teguh pada keputusannya. Bukan karena kebencian.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia memilih menghargai dirinya sendiri.
Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Di antara mereka hanya terdengar embusan napas yang sama-sama berat. Dua orang yang dahulu pernah berjanji akan saling menjaga, kini berdiri di dua sisi yang berbeda. Tak satu pun bersedia mundur
Arini menatap Galang tanpa sedikit pun melembutkan sorot matanya. "Mas ini sebenarnya kenapa? Kenapa terus memaksa aku membatalkan gugatan cerai? Padahal, kalau dipikir-pikir, Mas sendiri yang membuat aku sampai mengajukan gugatan itu."
Galang mengernyit. "Maksud kamu apa?"
Arini tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip sindiran.
"Mas lupa? Mas sendiri yang membawa perempuan itu ke rumah. Mas menikahinya tanpa pernah meminta persetujuanku. Bahkan setelah semuanya terjadi, Mas masih berharap aku menerima keadaan itu seolah tidak ada apa-apa."
Galang terdiam.
"Jadi sekarang, nikmati saja pernikahan yang sudah Mas pilih. Jangan kejar-kejar aku lagi. Biar aku yang mundur dari kehidupan Mas."
"Gak bisa, Rin."
Suara Galang terdengar lebih keras. "Mas masih mencintai kamu. Sampai kapan pun, perasaan itu gak akan pernah berubah."
Arini terkekeh pelan sambil menggeleng. "Cinta?"
Tatapannya menajam. "Jangan pakai kata cinta kalau tindakan Mas justru menghancurkan orang yang katanya dicintai. Sudahlah, gak usah mengobral rayuan. Itu semua sudah terlambat dan gak akan meluluhkan hatiku untuk membatalkan gugatan cerai."
Rahang Galang mengeras. "Jangan keras kepala, Rin!"
"Bukan keras kepala. Aku cuma mempertahankan keputusan yang sudah kupikirkan baik-baik."
"Aku bilang cabut gugatan itu!"
"Tidak."
Galang mengepalkan kedua tangannya. "Jangan memaksaku berbuat kasar!"
Ruangan mendadak sunyi. Arini menatap Galang lurus-lurus. Tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya.
"Cukup, Mas!" Suaranya tetap tenang, tetapi penuh ketegasan. "Gak usah mengancam aku. Kalau Mas mau bermain ancaman, aku juga bisa melakukan hal yang sama."
Galang menyipitkan mata. "Maksudmu apa?"
"Aku bisa melaporkan Mas ke BKD. Mas melakukan poligami tanpa persetujuan istri sah. Sebagai ASN, Mas pasti tahu apa konsekuensinya."
Wajah Galang berubah sesaat, tetapi ia segera memasang senyum meremehkan. "Silakan saja. Tanpa bukti, mana mungkin laporanmu digubris."
Arini menghela napas pelan, lalu membuka tasnya. Jemarinya menyentuh sebuah map bening di dalamnya, tetapi ia tidak mengeluarkannya.
Sengaja. Hanya untuk menunjukkan bahwa ia telah mempersiapkan semuanya. "Mas pikir aku sebodoh itu?"
Tatapannya tidak bergeser sedikit pun. "Semua bukti sudah aku simpan. Mulai dari dokumen, foto, video, sampai hal-hal yang diperlukan jika nanti memang harus dibawa ke BKD."
Senyum di wajah Galang perlahan memudar.
Kini, sejak masuk ke ruangan itu, ia terlihat benar-benar goyah.
Arini berdiri dari kursinya. "Pembicaraan kita selesai."
Galang ikut berdiri. "Rin..."
"Tolong pergi!"
"Aku belum selesai."
"Tapi aku sudah selesai."
Arini menunjuk ke arah pintu ruang meeting. "Silakan keluar dengan baik-baik. Jangan buat keributan lagi di tempatku ini!"
Galang tetap bergeming. Arini mengembuskan napas panjang sebelum berkata dengan nada yang lebih dingin. "Jangan paksa aku memanggil security!"
Galang masih menatapnya penuh kemarahan.
Arini membalas tatapan itu tanpa gentar.
"Kalau Mas tetap membuat masalah di sini, jangan salahkan aku kalau nanti Mas keluar dari tempat ini bukan dengan berjalan sendiri, melainkan karena diseret oleh petugas keamanan."
Ucapan itu membuat ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Kali ini, Galang menyadari bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya bukan lagi Arini yang dulu selalu mengalah demi mempertahankan rumah tangga.
Arini telah berubah. Dan perubahan itu tidak bisa lagi ia kendalikan. Arini menatap Galang tanpa sedikit pun melembutkan sorot matanya.
Belum sempat Galang membalas ucapan Arini, pintu ruang meeting tiba-tiba diketuk.
Tok...
Tok...
Tanpa menunggu jawaban, pintu perlahan terbuka.
Dua orang petugas keamanan masuk lebih dulu dengan sikap waspada. Di belakang mereka, tiga orang karyawan Arini ikut melangkah masuk. Raut wajah mereka menunjukkan kewaspadaan setelah mendengar suara pertengkaran dari luar ruangan.
"Maaf, Mbak Arini," ujar salah seorang security dengan sopan. "Kami dengar suaranya cukup keras. Apa semuanya baik-baik saja?"
Arini mengangguk pelan. "Saya baik-baik saja."
Salah satu petugas keamanan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Galang.
"Maaf, Pak. Waktu kunjungan Bapak sudah selesai. Kami mohon Bapak meninggalkan tempat ini!"
Galang mengepalkan rahangnya. Tatapannya bergantian menatap Arini, lalu kedua petugas keamanan yang berdiri tegak di hadapannya.
Dadanya naik turun menahan amarah. Beberapa detik ia tetap bergeming, seolah masih berharap Arini akan berubah pikiran. Namun perempuan itu hanya berdiri dengan wajah datar. Tak ada belas kasihan. Tak ada keraguan. Tatapan itu seolah berkata bahwa pembicaraan mereka benar-benar telah usai.
Galang akhirnya mengembuskan napas kasar. Dengan gerakan penuh kesal, ia meraih tas kerjanya yang tadi diletakkan di atas meja, lalu berdiri.
"Oke," katanya dengan nada dingin. "Kamu menang kali ini, Rin." Arini tidak menjawab.
Galang menatapnya lekat-lekat selama beberapa saat sebelum berkata pelan, namun penuh penekanan. "Tapi ingat. Aku gak akan pernah menceraikan kamu."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Galang berbalik menuju pintu.
Kedua petugas keamanan langsung mengiringi langkahnya hingga keluar dari ruang meeting. Sementara tiga karyawan Arini tetap berada di dalam, memastikan keadaan Arini benar-benar aman.
Begitu sosok Galang menghilang di balik pintu, salah seorang karyawannya menghampiri Arini.
"Mbak... Mbak nggak apa-apa?"
Arini mengangguk pelan. "Iya... aku baik-baik saja."
Namun hanya Arini yang tahu, sekuat apa pun dirinya terlihat, menghadapi laki-laki yang pernah begitu ia cintai tetap menggoreskan luka di dalam hatinya. Bedanya, kali ini ia tidak akan lagi membiarkan luka itu membuatnya mundur dari keputusan yang telah ia pilih.
_________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
lbih bagus laporin beres.