NovelToon NovelToon
Ibu Susu Sang CEO

Ibu Susu Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11.

Violet memandang punggung kurus Romeo yang berjalan sangat gagah dengan tongkat ditangannya.

"Padahal seingat ku kemarin tubuh Tuan Romeo masih sangat lemas, tapi sekarang sepertinya sudah sangat bertenaga bahkan perubahannya sangat signifikan," gumam Violet dalam hatinya.

Sementara Samuel dengan kedua tangan yang terkepal, buru-buru mengambil ponsel yang ada disaku celananya.

"Bukankah katamu Romeo akan cacat seumur hidup? Bahkan dia akan mati dengan perlahan," kata Samuel dengan nada marah.

Samuel adalah anak dari putra kedua Amira, dan Romeo adalah anak dari putra pertama Amira.

Jadi status pewaris utama tentunya jatuh ditangan Romeo, kalau Romeo meninggal baru bisa turun ke tangan Samuel.

Pintu ruangan Romeo dibuka dengan kartu khusus yang Romeo bawa.

"Yasa kamu bisa atur para dewan direksi untuk rapat, ada yang harus aku kerjakan dengan Violet," kata Romeo dengan nada datar.

"Baik Tuan!"

"Nanti, saat aku masuk ke ruang rapat, aku ingin kamu menyediakan semua makanan kesukaan Violet  diatas meja," kata Romeo lagi.

"Kalau begitu apa makanan kesukaan Nona?" tanya Yasa.

Saat Violet ingin menjawabnya, tiba- tiba Romeo menarik Violet masuk dan berkata pada Yasa.

"Kamu harus cari tahu sendiri bagaimanapun caranya? Jangan buang-buang waktuku," uca

p Romeo sebelum pintu kembali ditutup.

Yasa hanya bisa menghembuskan nafas kasar, atasannya memang selalu menyusahkannya seperti itu.

Sementara didalam ruangan, Romeo langsung menarik tangan Violet dan memangkunya diatas sofa.

"Tu- tuan," kata Violet gugup.

*****

"Tuan ... "

Mata Romeo menatap Violet dengan tatapan tajam yang tidak terbendung, seraya menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam.

Violet yang merasa canggung, sejenak menggigit bibirnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menenangkan situasi yang memanas.

"Tapi ... Bukankah tadi pagi?" kata Violet dengan wajah canggung, bahkan dirinya merasa tidak nyaman saat berada diatas pangkuan Romeo.

Violet berusaha berbicara, namun suaranya terdengar ragu dan penuh ketidakpastian.

Romeo, yang tidak memiliki kesabaran, memotong pembicaraannya.

"Stttt, aku hanya ingin kamu melakukan tugasmu dengan baik!"

Romeo menekankan setiap kata dengan suara yang tegas dan dingin, seolah-olah tidak memberikan ruang bagi Violet untuk membantah.

Violet merasakan tekanan berat di dada, seolah-olah udara di sekitarnya menjadi semakin sulit untuk dihirup.

Romeo kemudian dengan gerakan yang terburu-buru membuka beberapa kancing baju Violet, menunjukkan rasa tidak sabar yang jelas.

Violet, yang merasakan tangan Romeo yang dingin menyentuh kulitnya, menutup mata sejenak, berusaha keras untuk menahan rasa tidak nyaman yang kian meningkat.

"Aku mau menyusu lagi Violet, aku butuh banyak tenaga, Violet. Perusahaan ini mengalami kerugian besar sejak diurus oleh Samuel," lanjut Romeo dengan suara yang lebih lembut, namun masih terdengar tegas.

Matanya yang tajam tidak lepas dari wajah Violet, mencoba membaca setiap ekspresi yang muncul.

Violet, sambil mencoba mengatur napasnya yang berat, hanya bisa mengangguk lemah, tak mampu menemukan kata-kata lain yang bisa mengurangi ketegangan yang tercipta.

Dia merasa terperangkap dalam situasi yang tidak dia inginkan, terjebak di antara keinginan Romeo yang mendesak dan ketidaknyamanan pribadinya sendiri.

Violet menatap Romeo yang terlihat begitu tidak sabar.

Wajahnya terlihat tampan tanpa ekspresi.

Dia terlihat sangat tidak sabar membuka kancing baju milik Violet.

Wajah Violet memerah, melihat tingkah Romeo yang seperti anak kecil yang kelaparan.

"Aku akan memberikan tambahan uang padamu," titah Romeo, dia menambah penawaran pada Violet.

Ntah kenapa setiap melihat ke arah Violet, Romeo merasa ketagihan ingin selalu meminum ASI miliknya.

Mengingat setelah meminum ASI milik Violet, Romeo merasa tubuhnya mengalami perbaikan yang signifikan.

Violet mengigit bibir bawahnya. Saat Romeo mulai meminum ASI miliknya itu.

"Aku gak boleh merasa tidak nyaman seperti ini! Aku harus menganggap Tuan Romeo seperti bayiku sendiri," gumam Violet dalam hatinya, berusaha untuk menyingkirkan rasa tidak aman didalam dirinya.

Karena bagaimana pun juga, dari awal dia yang sudah memilih jalan ini.

Dia gak mungkin mengecewakan Romeo yang menjadi penyelamatnya.

Romeo menggenggam erat tangan Violet, menariknya lebih dekat hingga mereka berhadapan, di pangkuannya.

Ruangan kantor yang mewah itu dilengkapi dengan jendela besar yang membiarkan cahaya matahari membanjiri ruangan, menyoroti kepolosan dan kecantikan wajah Violet.

Romeo, terpesona, tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Violet yang memerah karena rasa sakit akibat isapan Romeo yang bertenaga.

Bibirnya bergerak tanpa sadar, menghisap terlalu kuat karena rasa lapar yang mendesak.

Namun, ada sesuatu yang aneh terjadi pada Romeo. Seolah-olah terhipnotis, dia mulai melihat bayangan Dewi, mantan kekasihnya, dalam raut wajah Violet.

Hal itu membuatnya terhanyut dalam kenangan lama, "Kenapa begitu mirip dengan Dewi?" gumamnya pelan, suara penuh dengan rasa takjub dan kebingungan.

Violet, yang merasakan sakit karena cara Romeo menyusu, mencoba untuk bertahan, matanya menerawang mencari pengertian dalam sorot mata Romeo yang sekarang terlihat bingung dan terpukau.

Tangannya yang lembut mencoba melepaskan genggaman Romeo, namun dia terlalu lemah dibandingkan kekuatan yang bergejolak dalam diri Romeo.

Kedua hati mereka, meskipun dalam kondisi yang berbeda, pada saat itu terhubung dalam keheningan dan kebingungan yang sama, di balik sinar matahari yang menyinari ruang kantor mewah tersebut.

Sementara itu, di ruangan lain.

Samuel nampak berjalan mondar mandir seperti orang bodoh.

"Gak ... Gak mungkin kalau Romeo sudah bisa berjalan walaupun hanya menggunakan tongkat," gumam Samuel bertanya- tanya.

"Aku boleh biarkan semua ini terjadi!" gumam Samuel penuh tekad dan sedikit rasa panik.

Setelah 15 menit berlalu.

"Tuan, sepertinya ASI milik saya sudah kosong! Bisakah Anda akhiri menyusunya dari sekarang?" Celetuk Violet, dia merasa sakit dibagian pucuk dadanya.

Romeo langsung melepaskan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Violet.

"Tapi kenapa? Tubuh kamu sangat pucat dan bergetar? Apa yang terjadi?" tanya Romeo seraya memegang dahi Violet.

Violet yang begitu lemas, kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir tampan Romeo.

"Aku akan memanggil dokter sekarang!"

Saat Romeo ingin menekan tombol panggil diponsel miliknya, tangan Violet memegang pergelangan tangan Romeo.

Dia menggeleng seraya berkata, "tidak perlu Tuan ... Saya hanya kelaparan!"

Violet memaksakan senyumannya, tapi hal itu malah terlihat lucu dan konyol didepan Romeo.

"Tuan ... Tapi sebelum itu, bisakah Anda melepaskan saya dari pangkuan? Sungguh sekarang saya merasa sangat tidak nyaman," kata Violet dengan nada terbata.

Bahkan tanpa Romeo sadari, tangannya masih memegang erat tangan Violet.

Tanpa menjawab, Romeo langsung menjauhkan tangannya.

Bahkan mengangkat tubuh Violet dan mendudukkannya di atas sofa.

Romeo memilih untuk menelpon Yasa.

Tak berselang lama, Yasa pun masuk dengan berbagai hidangan.

Total ada 30 jenis makanan.

Violet benar-benar tidak bisa dibuat berkata- kata.

Romeo melirik Yasa dengan sinis, dia malah berniat ingin kembali menyulitkan asisten pribadinya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!