Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Apa Hadiahnya?
Naomi mulai terbiasa menemukan Kelvin di ruang-ruang kecil hidupnya.
Di meja makan, ketika ia membuka laptop untuk mengerjakan terjemahan, Kelvin akan lewat membawa kopi dan berkata, "Dudukmu terlalu dekat layar." Di dapur, saat ia mencuci gelas sendiri, Kelvin akan mengambil gelas itu dari tangannya dan menunjuk dishwasher. Di ruang tamu, ketika Felix menjatuhkan mainan di kakinya, Kelvin akan berkata, "Dia cari perhatian. Sama seperti kamu."
Naomi selalu membantah bagian terakhir.
Felix selalu menggonggong seolah membela Kelvin.
Minggu ketiga tinggal di apartemen itu, Naomi mendapat nilai tertinggi untuk kuis tata bahasa Jerman. Sebenarnya itu bukan hal besar. Ia memang selalu belajar lebih lama dari teman-temannya karena beasiswa tidak memberi ruang untuk santai.
Tapi saat Sinta mengirim pesan di grup kecil mereka, Ayu langsung membuat ribut.
"Nao ranking satu lagi. Pacar konglomerat lewat, grammar Jerman tetap nomor satu."
Sinta menambahkan, "Traktir."
Naomi baru saja tersenyum membaca pesan itu ketika Kelvin masuk ke ruang makan. Ia melirik ponsel Naomi yang masih terbuka.
"Nilai bagus?"
Naomi cepat mematikan layar. "Biasa saja."
"Kalau biasa saja, kenapa temanmu minta traktir?"
"Mereka memang suka minta traktir."
Kelvin duduk di seberangnya. "Berapa nilainya?"
Naomi ragu sebentar. "Sembilan puluh enam."
"Dari seratus?"
"Iya."
"Lalu kenapa wajahmu seperti dapat enam puluh?"
Naomi menatap buku catatannya. "Saya tidak terbiasa merayakan nilai."
"Biasakan."
Kata itu sudah mulai menjadi kalimat favorit Kelvin untuk hal-hal yang menurut Naomi terlalu mewah untuk diminta.
Ia membuka buku lagi. "Tidak perlu."
Kelvin bersandar di kursi. "Apa hadiahnya?"
Naomi mengangkat kepala. "Hadiah apa?"
"Untuk nilai sembilan puluh enam."
"Tidak ada."
"Pilih."
Naomi langsung teringat bioskop dan kalimat tidak ada terserah di film ini. Kelvin tampak tahu, karena sudut mulutnya bergerak sedikit.
"Tidak harus mahal," katanya. "Tapi harus kamu pilih."
Naomi melihat meja. Ada laptop, kamus, gelas air jeruk, dan Felix yang berbaring di bawah kursi sambil pura-pura tidur.
Hadiah.
Kata itu terasa aneh. Dalam hidup Naomi, hasil bagus biasanya berarti ia boleh bertahan sedikit lebih lama. Nilai bagus berarti beasiswa aman. Kerja bagus berarti shift tidak dipotong. Menjadi baik bukan sesuatu yang diberi hadiah. Itu syarat agar hidup tidak bertambah buruk.
"Boleh..." Ia berhenti, malu pada permintaannya sendiri.
Kelvin menunggu.
"Boleh makan martabak manis?"
Kelvin menatapnya selama dua detik.
Naomi langsung menyesal. "Tidak jadi. Itu terlalu..."
"Rasa apa?"
"Apa?"
"Martabak manis. Rasa apa?"
Naomi berkedip. "Cokelat kacang. Tapi setengah saja. Satu loyang terlalu banyak."
"Felix tidak boleh makan martabak. Aku bisa."
Felix langsung mengangkat kepala, seperti tersinggung karena namanya disebut.
Naomi tidak bisa menahan tawa.
Satu jam kemudian, Kelvin benar-benar memesan martabak manis cokelat kacang dari tempat yang katanya paling enak menurut supirnya. Ketika kotak itu datang, aromanya memenuhi dapur. Naomi berdiri di meja, menatap potongan martabak tebal dengan mentega meleleh, gula, cokelat, kacang, dan susu kental manis yang membuatnya merasa bersalah bahkan sebelum makan.
"Ini terlalu banyak," katanya.
"Itu kalimatmu untuk semua hal."
"Karena memang banyak."
"Makan."
Naomi mengambil satu potong kecil. Rasanya manis, hangat, terlalu enak untuk hari biasa. Ia makan pelan, hampir khidmat.
Kelvin memperhatikannya.
"Seperti makan makanan terakhir," katanya.
"Dulu kalau beli martabak, saya biasanya beli yang mini di depan kampus. Itu juga kalau promo."
Kelvin mengambil satu potong. "Yang ini lebih enak?"
Naomi ingin berbohong agar tidak terdengar mudah dibeli makanan.
Tapi Kelvin sudah mengajarinya memilih hal kecil.
"Lebih enak," jawabnya.
"Bagus."
Felix meletakkan kepala di lutut Naomi, menatap martabak dengan mata paling sedih sedunia.
"Tidak boleh," kata Naomi.
Kelvin mengambil snack anjing dari laci dan melemparkannya pada Felix. "Hadiah untuk yang berhasil tidak mencuri."
Felix menangkapnya, lalu tampak puas.
Naomi tertawa lagi.
Malam itu terasa seperti keluarga kecil yang tidak sengaja terbentuk. Naomi di meja makan dengan martabak, Kelvin di seberang dengan kopi yang akhirnya ditinggalkan, Felix di bawah meja dengan snack. Tidak ada panggung. Tidak ada orang yang harus diyakinkan. Tidak ada perjodohan yang harus ditangkis.
Justru karena itu, Naomi semakin takut.
Sebelum kotak martabak ditutup, Kelvin tiba-tiba mendorong satu map tipis ke sisi meja. "Aku juga selesai rapat yang menyebalkan hari ini."
Naomi menatap map itu, lalu menatapnya. "Terus?"
"Hadiahku?"
Naomi hampir tertawa, tapi ekspresi Kelvin terlalu datar untuk disebut bercanda sepenuhnya.
"Kamu minta hadiah pada saya?"
"Kamu dapat martabak."
"Itu karena nilai saya."
"Rapatku juga nilai bagus."
Naomi menggigit bibir bawah, mencoba berpikir. Ia tidak punya uang untuk memberi apa pun. Semua benda di apartemen ini sudah jauh lebih baik daripada yang bisa ia beli.
"Besok pagi," katanya akhirnya, "saya buatkan air jeruk hangat lagi. Tapi tidak terlalu asam."
Kelvin menatapnya.
"Itu hadiah?"
"Katanya mulai dari hal kecil."
Untuk beberapa detik, Kelvin tidak menjawab. Lalu ia mengambil satu potong martabak lagi.
"Boleh."
Naomi menunduk, menyembunyikan lega yang tidak seharusnya sebesar itu.
Beberapa hari berikutnya, sistem hadiah itu muncul di banyak tempat.
Naomi berhasil menyelesaikan terjemahan lebih cepat, Kelvin bertanya, "Apa hadiahnya?" Naomi memilih tidur siang satu jam tanpa diganggu, dan Kelvin benar-benar menyuruh Felix keluar dari kamar tamu agar tidak membangunkannya.
Naomi berhasil membuat Felix menurut perintah baru, Kelvin bertanya hal yang sama. Kali ini Naomi memilih es teh lemon dari warung dekat kampus, bukan dari restoran mahal. Kelvin membelinya tanpa komentar, lalu berkata, "Pilihanmu makin spesifik."
Naomi tidak tahu apakah itu kemajuan atau bahaya.
Di kampus, Sinta dan Ayu mulai menyadari ada sesuatu yang berubah. Naomi lebih sering tersenyum saat melihat ponsel, lalu cepat-cepat menyembunyikannya. Ia juga mulai membawa bekal dari apartemen, sesuatu yang membuat Ayu menatap kotak makan itu dengan curiga.
"Ini masakan siapa?"
"Saya."
Ayu membuka kotak, melihat potongan buah jeruk tersusun rapi di samping nasi dan telur. "Kamu mulai hidup seperti manusia yang disayangi."
Naomi hampir menjatuhkan sendok.
Sinta menepuk tangan Ayu. "Jangan terlalu jujur."
Tapi kalimat itu menempel di kepala Naomi sampai malam.
Manusia yang disayangi.
Ia duduk di kamar tamu setelah mandi, membuka kalender kecil di ponsel. Tanggal perjanjian dimulai masih ia ingat dengan jelas. Ia tidak pernah menandainya, tapi tubuhnya tahu.
Satu bulan hampir lewat.
Naomi membuat tanda kecil di tanggal hari itu, lalu menghitung mundur diam-diam.
Masih ada satu bulan.
Hanya satu bulan.
Di luar kamar, Felix menggonggong kecil dan suara Kelvin terdengar memanggilnya untuk makan buah.
Naomi menatap angka di layar.
Semakin hari terasa seperti hadiah, semakin jelas pula bahwa hadiah itu punya tanggal kedaluwarsa.