Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035
Meiran membawa term sheet dari Yanting kembali ke war room Lim Group.
Hafeng sedang berdiri di depan whiteboard. Empat garis besar memenuhi papan: vendor, bank, media, dan dokumen kepatuhan. Di bawah setiap garis ada waktu, kontak, bukti yang sudah ada, dan lubang yang belum tertutup. Tulisan Hafeng tajam dan lurus, seolah ia sedang memaksa kekacauan mengikuti bentuk yang bisa dibaca.
Ia melihat amplop di tangan Meiran.
Tatapannya berhenti satu detik.
"Kho Group?"
"Term sheet."
"Kamu akan menerima?"
"Aku akan membaca."
Hafeng meletakkan spidol. Finance director langsung pura-pura memeriksa laporan. Sari memindahkan cangkir kopi menjauh dari meja, seperti memberi ruang untuk tekanan udara yang baru turun.
Meiran mengangkat mata. "Kalau kamu mau cemburu, antre. Bank dulu, vendor dulu, media dulu."
"Aku cemburu."
Pengakuan itu terlalu cepat.
Meiran justru diam.
Hafeng melanjutkan dengan suara rendah, "Tapi aku tidak bodoh. Kalau term sheet itu bisa dipakai untuk menekan bank, baca. Kalau buruk, buang. Kalau terlalu baik, cari kaitnya."
Pena Sari berhenti di atas kertas.
Meiran meletakkan amplop itu di meja. "Kamu baru saja memberi izin?"
"Aku tidak punya posisi memberi izin."
"Bagus. Kamu ingat."
"Aku punya posisi membaca klausul."
Ia menarik kursi dan duduk. "Buka."
Meiran menatapnya dua detik, lalu membuka amplop itu. Syaratnya sesuai dengan yang Yanting sebutkan di lobi bank. Enam bulan. Bunga tidak rendah, tapi wajar. Tidak ada hak suara. Tidak ada konversi saham. Tidak ada eksklusivitas pemasok. Bagian yang perlu dicermati hanya prioritas material untuk dua proyek komersial.
"Dia menahan harga cukup rapi," kata Sari.
"Semakin rapi, semakin perlu dibaca sampai bawah," jawab Hafeng.
Meiran membalik halaman terakhir. "Kalau kita tunjukkan ini ke Bank Nusantara, kita belum perlu menandatangani apa pun. Cukup membuktikan bahwa opsi likuiditas eksternal ada."
"Dan bisa memancing siapa yang paling ingin kamu menerima uang Kho Group," kata Hafeng.
Meiran menatapnya.
Rahang Hafeng masih tegang, tetapi matanya jernih. Cemburu tidak hilang. Ia hanya menekannya ke dalam pekerjaan.
Itu lebih berbahaya daripada penyangkalan.
**【Sistem Predator】Catatan: Target menahan kecemburuan dan mengubahnya menjadi dukungan strategis.**
Nilai Cinta: 35.
Angkanya tidak bergerak.
Namun Meiran tahu, kestabilan seperti ini juga bentuk kemajuan.
Pada waktu yang sama, tiga kilometer dari kantor Lim Group, Yanting akhirnya duduk di hadapan Wanyu di sebuah hotel lounge.
Ia tidak memesan kopi. Hanya segelas air mineral.
Wanyu melihat gelas itu, lalu tersenyum. "Ko Yanting sangat berhati-hati."
"Saya datang bukan untuk basa-basi."
"Aku tahu. Kamu ingin membantu Meiran, tapi dia tidak mudah menerima bantuan. Apalagi setelah Ko Hafeng menciumnya di depan semua orang."
Wajah Yanting tidak berubah. "Kalau kamu mengundang saya hanya untuk membahas itu, saya pergi."
Wanyu bersandar ke kursi. "Aku punya akses ke percakapan peserta, panitia, dan beberapa orang yang mulai mempertanyakan kedekatan Meiran dengan Hafeng. Kalau opini kampus dan bisnis melihat Hafeng sebagai risiko, bantuanmu akan terlihat lebih rasional."
"Kamu ingin saya memanfaatkan masalahnya."
"Aku ingin kamu memberi solusi saat orang lain memberi masalah."
"Kamu membuat racun terdengar seperti hadiah."
Senyum Wanyu menipis. "Ko Yanting, kamu dan aku sama-sama tahu Hafeng tidak cocok berada di sisi Meiran sekarang. Dia impulsif. Dia membuat ciuman itu menjadi berita. Kamu membawa uang, koneksi, dan stabilitas."
Yanting akhirnya mengangkat mata. "Saya tidak akan menyakiti Meiran."
"Aku juga tidak meminta begitu."
"Semua yang kamu lakukan sejauh ini mencoba menyakitinya."
Jari Wanyu mengusap bibir gelas. "Aku hanya ingin mengembalikan semuanya ke tempat yang seharusnya."
"Tempatmu di mana?"
Kalimat itu mengenai sasaran.
Mata Wanyu dingin sebentar. "Di sisi orang yang sejak awal mengenalku."
"Hafeng tidak memilihmu."
Keheningan jatuh di antara mereka.
Kelembutan di wajah Wanyu retak tipis, lalu ia menambalnya lagi dengan senyum.
"Kalau begitu, pakai aku sebagai sumber informasi saja," katanya. "Aku bisa membuat rumor bergerak ke arah yang membuat Kho Group terlihat seperti penyelamat. Kamu tidak perlu menyentuh Meiran. Cukup muncul pada waktu yang tepat."
Yanting menatapnya. "Syarat saya satu. Jangan sebarkan kebohongan baru."
"Rumor tidak perlu bohong. Cukup memilih bagian yang benar."
"Kalau kamu menyentuh keluarga Meiran atau kesehatan ayahnya, kerja sama ini selesai sebelum mulai."
Wanyu tersenyum. "Tentu."
Yanting tidak percaya.
Tetapi ia juga tidak berdiri.
Karena krisis Meiran nyata. Tenggat Bank Nusantara nyata. Uang yang bisa ia tawarkan juga nyata.
Kesalahan kadang tidak terjadi karena seseorang gagal melihat bahaya. Kadang kesalahan terjadi karena di tengah bahaya itu, ia melihat kesempatan yang sangat ia inginkan.
Pukul tujuh malam, war room Lim Group menerima push notification dari media bisnis.
`Kho Group disebut siapkan fasilitas talangan untuk Lim Group. Sinyal penyelamatan atau awal ketergantungan baru?`
Sari membacakan judulnya. Ruangan langsung hening.
Meiran melihat term sheet di meja.
Hafeng melihat nama media di layar.
Di foto berita, Yanting berdiri di lobi Bank Nusantara. Di sudut gambar, ekor mobil Meiran terlihat meninggalkan gedung.
Finance director mengusap wajah. "Kalau bank membaca ini, mereka bisa menganggap kita sudah bergantung pada Kho Group."
"Atau menganggap kita punya opsi likuiditas," kata Sari.
"Keduanya bisa dipakai melawan kita," jawab Meiran. Ia mengambil tablet dan membuka artikel lengkap. Isinya tidak menyebut sumber jelas. Hanya `narasumber pasar` dan `pihak yang mengetahui pembicaraan`. Bahasa yang biasa dipakai ketika seseorang ingin membuat rumor terdengar seperti laporan.
Hafeng menunjuk paragraf kedua. "Mereka sengaja menulis `talangan`. Bukan `fasilitas komersial`. Kata itu membuatmu terlihat diselamatkan."
"Kalau kita bantah terlalu keras, bank akan berkata tidak ada standby facility," kata Meiran. "Kalau kita diam, pasar membaca kita sudah menerima bantuan."
Sari menatapnya. "Jalur ketiga?"
Meiran menggeser term sheet ke tengah meja. "Kita jawab dengan struktur. Ada opsi pembiayaan komersial yang sedang dipelajari, belum ada komitmen, tidak ada perubahan kontrol, tidak ada eksklusivitas. Sekaligus kita minta media menunjukkan dasar penggunaan kata talangan."
Hafeng menambahkan, "Dan kirim ke Bank Nusantara sebelum mereka memakai artikel ini dalam review."
Meiran menoleh padanya.
"Kamu belajar cepat."
"Aku sedang marah."
"Marahmu lumayan produktif."
"Jangan terbiasa."
"Terlambat," kata Meiran. "Kalau berguna, aku akan memasukkannya ke daftar aset krisis."
Hafeng menatapnya datar. "Aku menolak diklasifikasi sebagai aset."
"Kalau begitu jangan terlalu berguna."
Sari sudah mengetik. "Saya siapkan draft klarifikasi."
Meiran mengangguk, tetapi matanya tetap pada foto Yanting. "Juga cari siapa yang memberi foto lobi itu. Sudutnya bukan CCTV bank. Itu ponsel."
Meiran tertawa pelan.
"Bagus," katanya. "Ada yang lebih tidak sabar daripada kita untuk membawa Kho Group masuk."