Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Saham 2% — Taruhan Nyawa
Luka kecil di wajah Alya Kirana harus ditangani dengan sempurna.
Namun sebelum Ardi sempat menyusun jadwal revisi mikro untuk Alya, Surabaya memanggilnya pulang dengan api.
Berita kebakaran masuk ke grup UGD saat pesawat Ardi baru mendarat. Sebuah gudang bahan kimia ringan di kawasan industri terbakar, lalu api merambat ke deretan rumah pekerja di belakangnya. Ambulans datang bergantian. Korban sesak napas, luka bakar, anak-anak yang menangis, petugas pemadam dengan wajah hitam oleh jelaga.
Di tengah kekacauan itu, satu nama diulang semua orang.
Hendri Kurniawan.
Pemadam muda itu masuk ke bangunan tiga kali. Tiga puluh dua orang keluar karena dia. Ketika semua orang mengira bangunan sudah kosong, ia mendengar tangisan bayi dari lantai belakang. Ia masuk lagi.
Bayi itu selamat.
Hendri tidak.
Ia dibawa ke RSUD Soetomo dengan wajah dan leher terbakar parah, napas dibantu, kulit melepuh, dan seragam pemadamnya dipotong dari tubuh. Rini, tunangannya, tiba beberapa menit kemudian dengan cincin kecil tergenggam di tangan.
“Dokter,” katanya kepada siapa pun yang lewat, suaranya pecah. “Tolong dia. Kami mau menikah bulan depan.”
Ardi masuk ke ruang resus bersama Rudi.
Bau luka bakar tidak pernah mudah dilupakan. Tajam, panas, dan menyayat bagian belakang tenggorokan. Di monitor, tekanan Hendri naik turun. Tim anestesi mengamankan jalan napas. Dokter Guntur Prasetya, kepala bedah plastik rekonstruksi, berdiri dengan wajah gelap.
“Wajah, leher, sebagian dada,” kata Guntur. “Deep partial sampai full thickness di banyak area. Risiko kontraktur berat. Fungsi kelopak, bibir, leher, semuanya terancam.”
Kolonel Joni Santoso berdiri di luar kaca ruang tindakan. Seragamnya masih berbau asap. Matanya merah, tetapi punggungnya tetap lurus.
“Dia anak buah terbaik saya,” katanya kepada Fajar. “Selamatkan dia.”
Fajar menatap Ardi.
Ardi sudah membaca situasi.
Ini bukan sekadar menyelamatkan nyawa. Hendri sudah melewati fase pertama resusitasi, tetapi masa depannya berada di ujung pisau. Kalau rekonstruksi salah, ia bisa hidup dengan mulut tertarik, kelopak tidak menutup, leher kaku, infeksi berulang, dan wajah yang membuat orang lain menatap sebelum mendengar namanya.
Di ruang rapat kecil, perwakilan PT Pesona Estetika datang dengan dokumen.
Fenny Widiastuti tidak hadir langsung. Ia mengirim pengacara dan satu direktur operasional, membawa pengumuman yang sudah terlanjur viral: Pesona menyediakan hadiah 2% saham bagi dokter atau tim yang mampu mengembalikan fungsi wajah dan tampilan dasar Hendri setelah luka bakar berat.
Itu terdengar mulia.
Tetapi Dokter Guntur tahu kondisi itu hampir mustahil.
“Mereka memasang standar yang tidak akan bisa dicapai,” kata Guntur pelan kepada Ardi. “Publik melihat mereka dermawan. Kalau gagal, mereka tetap terlihat peduli.”
Ardi membaca kontrak.
Kontrak Saham 2% Pesona.
Nilainya diperkirakan sekitar Rp200 miliar.
Rudi menatap angka itu sampai lupa berkedip. “Di... ini bisa beli berapa apartemen?”
“Fokus ke pasien,” kata Ardi.
Pengacara Pesona tersenyum tipis. “Tentu kami berharap ada keajaiban, Dokter. Tapi syaratnya jelas: fungsi dasar wajah, kelopak bisa menutup, mulut bisa membuka cukup, leher tidak mengalami kontraktur berat, dan tampilan umum tidak menimbulkan disfigurement ekstrem.”
Kalimat itu seperti pagar tinggi yang dibuat agar semua orang gagal memanjat.
Ardi meletakkan kontrak.
Panel sistem muncul.
[Kasus ekstrem terdeteksi: luka bakar wajah struktural.]
[Rekomendasi modifikasi terintegrasi:]
[Rekonstruksi Struktural Wajah Luka Bakar: Pemula -> Mahir.]
[Modul terintegrasi: cangkok kulit, flap lokal, ekspansi jaringan lunak, kontrol kontraktur.]
[Biaya: 2.400 PM.]
[Saldo PM saat ini: 3.110.]
Ardi menatap angka itu.
Jika ia mengambilnya, saldo PM turun drastis. Bronkosol masih menunggu. Jakarta masih menunggu. Banyak perang di depan.
Lalu ia melihat Rini di luar ruangan, memegang cincin dan masker oksigen Hendri yang sudah dilepas.
Ada hal-hal yang tidak boleh dihitung terlalu lama.
[Konfirmasi.]
[Peningkatan berhasil.]
[Rekonstruksi Struktural Wajah Luka Bakar: Mahir.]
[Saldo PM: 710.]
Dunia di depan Ardi berubah.
Wajah Hendri tidak lagi hanya tampak sebagai luka. Ia melihat peta tegangan kulit, jalur pembuluh kecil yang masih hidup, area yang harus ditutup cepat, area yang bisa menunggu, garis kontraktur masa depan yang harus diputus sebelum terbentuk.
“Pak Guntur,” kata Ardi, “kita jangan mengejar wajah baru. Kita selamatkan fungsi dulu, lalu bentuk.”
Guntur menoleh.
Ardi mengambil spidol dan menggambar di atas foto medis yang sudah dicetak. “Tahap pertama: debridement selektif. Jangan buang jaringan yang masih bisa hidup. Kelopak mata harus prioritas. Kalau dia tidak bisa menutup mata, semua rekonstruksi lain tidak berarti.”
Guntur mendekat.
“Tahap kedua?”
“Flap lokal untuk area kritis, graft tipis untuk permukaan luas, tapi jangan taruh graft di semua tempat dengan tegangan sama. Kita susun seperti peta, bukan selimut.”
Rudi berbisik, “Peta wajah...”
Guntur tidak lagi membantah. Matanya mengikuti garis spidol Ardi.
“Ini bukan protokol biasa,” katanya.
“Kalau pakai protokol biasa, dia hidup tapi terkunci di wajahnya sendiri.”
Operasi pertama berlangsung sepanjang malam.
Ardi berdiri di sisi Hendri, memotong jaringan mati dengan hemat, menyelamatkan setiap tepi kulit yang masih punya warna hidup. Guntur memimpin tim plastik, tetapi perlahan ia mengikuti ritme Ardi. Mereka menutup kelopak, membebaskan sudut mulut, menjaga garis leher, dan memasang graft seperti menata ulang kota setelah kebakaran.
Di luar ICU, Rini menunggu tanpa duduk. Kolonel Joni berdiri di sampingnya, kadang menerima laporan, kadang menatap pintu operasi seperti menatap garis depan.
Operasi kedua dilakukan dua hari kemudian.
Operasi ketiga setelah tanda infeksi terkendali.
Waktu dalam babak itu bergerak cepat bagi dunia luar, tetapi lambat bagi orang yang menunggu. Rini menghitung setiap pergantian perban. Kolonel Joni mengatur darah donor dan keamanan media. Rudi tidur di kursi plastik, bangun hanya untuk membawa kopi.
Pada hari ketujuh, Hendri sadar penuh.
Matanya terbuka perlahan.
Kelopak itu bisa menutup.
Mulutnya belum sempurna, tetapi ia bisa menggerakkan bibir.
Rini menangis tanpa suara di samping bed.
“Mas Hendri...”
Hendri menatapnya. Suaranya lemah, kasar oleh selang yang pernah masuk.
“Bayinya?”
Rini terisak lebih keras. “Selamat. Semua selamat.”
Kolonel Joni memalingkan wajah sebentar.
Dokter Guntur menatap hasil awal rekonstruksi dengan mata yang masih sulit percaya. Tidak sempurna. Tidak mungkin sempurna dalam satu minggu. Tetapi fungsi dasar tercapai. Wajah Hendri tidak menjadi topeng mati. Ada struktur. Ada harapan. Ada masa depan untuk operasi lanjutan.
Perwakilan Pesona datang kembali dengan wajah yang tidak seramah sebelumnya.
Mereka membawa Fenny melalui panggilan video.
Fenny Widiastuti muncul di layar, rapi, dingin, dan jelas tidak mengira syarat mustahilnya akan dipenuhi.
“Dokter Ardi,” katanya. “Kami tentu menghargai usaha tim. Tetapi penilaian saham memerlukan verifikasi.”
Ardi tidak menjawab.
Dokter Guntur meletakkan laporan medis di meja. “Fungsi kelopak tercapai. Pembukaan mulut cukup untuk nutrisi dan bicara awal. Leher bebas dari kontraktur berat fase awal. Disfigurement ekstrem berhasil dicegah. Semua sesuai indikator yang tertulis dalam kontrak.”
Kolonel Joni menambahkan, suaranya datar seperti komando, “Jika Pesona menarik janji kepada publik setelah anak buah saya diselamatkan, kami akan memastikan publik juga tahu.”
Fenny terdiam.
Pengacara Pesona membalik halaman kontrak, wajahnya menegang.
Mereka kalah oleh syarat mereka sendiri.
Tiga hari kemudian, Kontrak Saham 2% Pesona ditandatangani di hadapan notaris.
Ardi tidak membawa kamera.
Tetapi berita itu tetap menyebar.
Dokter mantan narapidana yang dulu diremehkan kini memiliki saham senilai sekitar Rp200 miliar dari perusahaan kecantikan besar, karena menyelamatkan wajah seorang pemadam yang menyelamatkan tiga puluh tiga nyawa.
Hartono menelepon malam itu.
“Selamat, Ardi.”
“Saya belum terbiasa dengan angka sebesar itu.”
Hartono tertawa pelan. “Biasakan. Uang bukan tujuan, tapi dalam dunia hukum, uang adalah bukti kemampuan menjaga anak.”
Ardi terdiam.
Hartono melanjutkan, “Tim Prabowo & Rekan sudah menilai ulang posisi Anda. Profesor Klinis Tamu, SIP aktif, penghasilan dokter, saham Pesona, reputasi publik, rumah yang bisa disiapkan. Ardi, sudah waktunya.”
Ardi berdiri di koridor ICU, menatap Rini yang menggenggam tangan Hendri dari balik kaca.
“Untuk apa?”
“Mengajukan gugatan hak asuh anak ke Pengadilan Agama.”
Di saku Ardi, foto Gatra dan Sari terasa seperti menyentuh kulitnya.
Ia menutup mata sebentar.
Semua operasi, semua penghinaan, semua panggung, semua angka, akhirnya mengarah ke satu pintu yang paling ia inginkan sejak keluar dari penjara.
“Siapkan berkasnya, Bang Hartono,” kata Ardi.
Suaranya rendah.
“Saya akan menjemput anak-anak saya.”
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭