"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Dia Tahu Segalanya
Matahari tenggelam perlahan di belakang bahu REYN, mewarnai sisi wajahnya dengan emas.
Sampai malam tiba, Wenny masih memikirkan kalimat itu.
`Aku sudah menunggu hari ini cukup lama.`
Cukup lama itu berapa lama?
Ia tidak mendapat kesempatan bertanya. Begitu sesi sunset date selesai, kru langsung memisahkan mereka untuk wawancara individu. Keesokan paginya, Koko sudah menunggu dengan permainan baru yang wajahnya saja membuat Wenny curiga.
Di halaman vila, sebuah layar besar dipasang di depan peserta. Di bawahnya ada tombol buzzer untuk setiap orang.
"Hari ini kita uji pengetahuan," kata Koko. "Bukan soal matematika, tenang saja. Ini kuis tentang karier dan fakta kecil para peserta. Siapa yang paling memperhatikan teman-temannya?"
Kevin langsung meletakkan tangan di atas buzzer. "Aku ahli memperhatikan hal tidak penting."
"Itu justru berguna di acara ini," sahut Stella.
Wenny duduk di kursinya, mencoba rileks. Ia mengira permainan ini akan ringan. Mungkin pertanyaan tentang tahun debut Kevin, nama perusahaan Felix, atau judul film Natasha. Jawaban-jawaban yang bisa dicari di internet dalam lima detik.
Lalu Koko tersenyum ke arahnya.
"Babak pertama. Tema: Wenny Santoso."
Wenny menatap Koko. "Kenapa aku dulu?"
"Karena kamu Putri Nasional. Semua orang pasti tahu, kan?"
Kevin berbisik, "Aku tiba-tiba lupa semua hal."
Pertanyaan pertama muncul.
`Wenny debut pada usia berapa?`
Beberapa buzzer hampir bersamaan berbunyi, tetapi REYN yang tercepat.
"Lima tahun. Dengan nama Bintang Kecil."
Benar.
Wenny tidak terkejut. Itu informasi publik.
Pertanyaan kedua.
`Judul sinetron pertama yang membuat Wenny dikenal luas?`
REYN menekan buzzer lagi.
"Pelabuhan Musim Dingin."
Koko mengangguk. "Benar."
Kevin mengangkat tangan. "Aku bahkan belum selesai membaca pertanyaannya."
REYN tidak bereaksi.
Pertanyaan ketiga.
`Dalam drama kolosal "Legenda Ikan Koi", Wenny berperan sebagai siapa?`
Natasha menekan buzzer. "Putri kerajaan?"
"Kurang tepat."
Rosa menekan setelahnya. "Putri yang menyamar jadi rakyat biasa."
"Masih kurang lengkap."
Buzzer REYN berbunyi.
"Putri ketiga yang menyamar sebagai pelayan kuil untuk mencari orang yang menyelamatkannya saat kecil."
Halaman vila hening sebentar.
Koko melihat kartu jawabannya, lalu tertawa. "Sangat lengkap. Benar."
Wenny menoleh pada REYN.
Itu bukan jawaban yang akan keluar dari orang yang hanya melihat poster.
Pertanyaan terus berjalan.
REYN menjawab tahun rilis "Salju di Musim Panas". Ia tahu adegan Wenny menangis tanpa dialog di episode terakhir "Tujuh Hari di Musim Semi". Ia bahkan bisa menyebut bahwa dalam "Melawan Waktu", Wenny pernah meminta sutradara mengulang adegan karena posisi jam dinding di belakangnya tidak sesuai kontinuitas.
"Itu dari behind the scene?" tanya Koko, setengah kagum.
"Dari komentar sutradara di festival," jawab REYN.
Wenny hampir lupa hal itu pernah dibahas.
Di ruang observasi, Chelsea sudah tidak duduk tegak. Ia setengah berdiri, setengah bersandar ke meja.
"Ini bukan fans biasa. Ini perpustakaan berjalan."
Jay tertawa. "Dia memang suka membaca."
"Membaca semua hal tentang Wenny?"
Jay menyesap minumannya. "Mungkin."
"Kamu menjawab seperti orang yang sedang menutupi bom."
"Aku hanya komentator."
Chelsea menunjuk layar. "Kamu komentator yang tahu isi bomnya."
Kembali ke halaman, suasana mulai berubah dari lucu menjadi serius. Bahkan Rosa tidak lagi berusaha tersenyum. Setiap kali REYN menjawab, kamera menangkap wajah Wenny yang semakin bingung.
Koko mengambil kartu terakhir untuk babak itu.
"Pertanyaan bonus. Ini dari arsip lama yang bahkan tim kami butuh waktu untuk menemukan." Ia menatap Wenny. "Saat masih kecil, di salah satu episode spesial `Pelabuhan Musim Dingin`, Wenny pernah salah mengucapkan satu dialog, tapi sutradara mempertahankannya karena terdengar natural. Apa dialog itu?"
Wenny terdiam.
Ia sendiri tidak ingat.
Episode spesial itu direkam saat ia sangat kecil. Ingatannya hanya potongan lampu set, tangan Mama yang memegang botol minum, dan rasa mengantuk di sela syuting malam.
Tidak ada yang menekan buzzer.
Koko mulai menghitung. "Lima, empat, tiga..."
Buzzer REYN berbunyi.
Wenny menatapnya.
REYN menunduk sebentar, seolah mencari kalimat yang tepat di ruang paling tua dalam ingatannya.
"Dialog aslinya, `Aku tidak takut musim dingin.` Tapi Wenny kecil waktu itu bilang, `Aku tidak takut, asal ada yang pegang tanganku.`"
Angin laut melewati halaman.
Tidak ada yang langsung bicara.
Koko melihat kartu, lalu pelan-pelan mengangguk. "Benar."
Kevin menjatuhkan dahinya ke meja. "Selesai. Acara ini bukan kuis pengetahuan. Ini pembuktian bahwa kita semua kurang niat."
Tawa muncul, tetapi Wenny tidak ikut tertawa.
Kalimat itu benar-benar pernah ia ucapkan?
Dan kenapa ketika REYN mengatakannya, suaranya terdengar seperti ia pernah menyimpan kalimat itu lama sekali?
Rosa akhirnya bicara. "REYN, kamu hafal sampai dialog Wenny waktu kecil? Kamu benar-benar fans berat ya."
Kata `fans` seharusnya menjadi jalan keluar yang mudah.
Wenny menunggu REYN mengambilnya.
Ia hanya tersenyum.
"Mungkin."
"Mungkin?" Kevin mengangkat kepala. "Jawaban macam apa itu?"
Koko langsung masuk. "Wenny, kamu ingin menanggapi?"
Semua kamera mengarah padanya.
Wenny menatap REYN, mengabaikan suara komentar live yang bergerak cepat di layar samping.
"Kamu fansku?" tanyanya.
Pertanyaan itu terdengar ringan. Di dadanya, rasanya tidak ringan sama sekali.
REYN melihatnya lama.
"Aku menonton semua karyamu," katanya.
"Favoritmu yang mana?" Koko cepat menyelipkan pertanyaan, jelas tidak mau melepas momen itu.
Wenny mengira REYN akan menyebut karya terbarunya, atau film yang paling sering dibahas kritikus. Jawaban aman. Jawaban yang pantas di televisi.
REYN justru berkata, "Adegan tanpa dialog di `Tujuh Hari di Musim Semi`."
Wenny terdiam.
"Kenapa?" tanya Koko.
"Karena dia tidak memaksa penonton percaya dia sedih." REYN menatap Wenny, bukan kamera. "Dia hanya duduk di sana, menahan semuanya, dan justru karena itu semua orang tahu hatinya hancur."
Tidak ada yang langsung bercanda.
Untuk pertama kalinya hari itu, Wenny merasa bukan wajahnya yang sedang dilihat REYN.
Melainkan pekerjaannya.
"Itu belum menjawab."
"Aku menyimpan banyak hal tentangmu."
Wenny menahan napas.
Rosa tersenyum tipis, seperti menemukan celah. "Wah, kalau kalimat itu keluar dari orang lain, mungkin terdengar menyeramkan."
REYN bahkan tidak menoleh pada Rosa.
Matanya tetap pada Wenny. "Kalau kamu merasa tidak nyaman, aku akan berhenti."
Jawaban itu membuat Wenny kehilangan alasan untuk marah.
Karena anehnya, ia tidak merasa takut.
Ia merasa seolah ada pintu lama di dalam dirinya yang diketuk dari luar.
Permainan berlanjut ke peserta lain, tetapi Wenny tidak lagi benar-benar mendengar. Kevin menjawab asal, Stella memperbaiki fakta tentang Felix sebelum sadar semua orang memperhatikan, Natasha salah menyebut tahun debut sendiri dan tertawa malu. Semua itu lewat seperti suara dari ruangan sebelah.
Yang tinggal hanya REYN.
Pria itu duduk tidak jauh darinya, tenang, seolah baru saja tidak membongkar sebagian kecil dari ingatan Wenny yang bahkan ia sendiri lupa.
Wenny menatap profilnya.
Kamu sebenarnya siapa?
Seolah merasakan tatapan itu, REYN menoleh.
Ia tersenyum.
Dan di dalam senyum itu, ada terlalu banyak hal yang belum bisa Wenny baca.