NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:155k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Secangkir Kopi di Tengah Malam

"Dia mencurigai semuanya, Naya. Dia bersumpah akan menyelidiki latar belakangmu dan mencari celah di rumah kita," ujar Arka, suaranya merendah penuh penekanan. "Mulai hari ini, tingkatkan kewaspadaanmu. Jangan tinggalkan dokumen apa pun di luar brankas, dan pastikan tidak ada pelayan yang melihat kamar kita yang terpisah. Permainan ini baru saja dimulai."

Di seberang telepon, Naya yang sedang berdiri di balkon kamar Kenzie menatap lurus ke arah taman depan. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis—senyuman tenang milik seorang wanita yang tidak akan mudah digertak oleh bayang-bayang bernama Clarissa.

"Anda tenang saja, Tuan Arka," jawab Naya dengan suara yang begitu dingin namun tegas. "Saya sudah katakan sebelumnya, khawatirkan saja diri Anda sendiri. Selama kaki saya masih menginjak rumah ini sebagai ibu Kenzie, saya tidak akan membiarkan wanita mana pun merusak ketenangan anak Anda. Clarissa ingin mencari celah? Silakan suruh dia mencoba. Saya pastikan dia hanya akan menemukan dinding batu yang keras."

Arka tertegun mendengar jawaban Naya yang sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Untuk kedua kalinya, kekuatan sunyi wanita itu berhasil meredam badai kecemasan di dalam dirinya.

"Baik. Aku pegang katamu, Nayara," ucap Arka lirih sebelum memutuskan sambungan telepon.

Di dalam ruang kerjanya yang megah, Arka menyadari satu hal: Nayara mungkin tidak memiliki harta atau status sosial, namun ketenangan dan kekuatan mental wanita itu adalah senjata paling mematikan yang pernah ia temui. Dan untuk menghadapi Clarissa, senjata itulah yang paling ia butuhkan saat ini.

***

Jarum jam dinding di lorong lantai dua sudah menunjuk ke angka satu malam. Seluruh sudut kediaman mewah Dewangga telah tenggelam dalam kegelapan dan kesunyian yang pekat. Para pelayan sudah lama masuk ke paviliun mereka di belakang, menyisakan keheningan yang megah di dalam rumah utama.

Suara deru halus mesin mobil yang memasuki pelataran disusul suara pintu gerbang yang menutup pelan sama sekali tidak mengusik kesunyian itu.

Arka melangkah masuk melalui pintu utama dengan bahu yang tampak merosot. Kemeja kerjanya sudah kusut, dasinya sudah tersampir longgar di leher, dan dua kancing teratasnya terbuka bebas. Kepalanya berdenyut pening. Pertemuan maraton dengan jajaran direksi dan ancaman terselubung dari investigasi Clarissa hari ini benar-benar menguras habis energinya.

Ia memijat pangkal hidungnya sambil melangkah menuju tangga, bersiap untuk langsung mengunci diri di ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa berkas yang tersisa sebelum tidur. Namun, langkah kaki Arka mendadak terhenti ketika melihat seberkas cahaya lampu yang temaram berpendar dari arah dapur bersih.

Arka menyipitkan mata. Dengan langkah yang sengaja diperlambat agar tidak menimbulkan suara, ia berjalan mendekat.

Di sana, di balik meja bar marmer yang diterangi lampu gantung kekuningan, seorang wanita sedang duduk dengan tenang. Nayara. Wanita itu mengenakan piama satin panjang berwarna biru dongker yang longgar namun tetap terlihat bersahaja dan sopan. Rambut panjangnya dicepol asal ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai leher jenjangnya.

Di atas meja, berserakan beberapa buku gambar, guntingan kertas warna-warni, dan sebuah kotak pensil warna milik Kenzie. Naya tampak begitu fokus menempelkan potongan kertas membentuk pola hewan, menyiapkan tugas prakarya Kenzie untuk sekolah besok pagi. Gerakannya sangat telaten dan berhati-hati, seolah seluruh dunianya malam ini hanya terpusat pada potongan kertas itu.

Arka terpaku di tempatnya berdiri, bayangan kegaduhan kantor dan ancaman Clarissa mendadak menguap begitu saja melihat pemandangan domestik yang begitu damai ini.

Krieeek.

Lantai kayu yang sedikit terinjak membuat Naya mendongak. Sepasang mata bulatnya yang jernih langsung bertatapan dengan mata elang Arka yang kaku karena lelah. Tidak ada keterkejutan di wajah Naya, ia hanya menatap Arka dengan ketenangan menghanyutkan yang biasa ia tunjukkan.

"Baru pulang, Tuan Arka?" tanya Naya lirih, suaranya terdengar sedikit serak karena kantuk namun tetap stabil.

Arka berdeham pelan, mencoba menguasai kegugupannya yang tiba-tiba muncul karena tertangkap basah sedang memandangi istrinya. "Ya. Urusan kantor masih belum selesai. Kenapa belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam."

Naya menurunkan guntingnya, lalu menunjuk tumpukan kertas di depannya. "Kenzie baru ingat kalau besok ada tugas menempel bertema kebun binatang. Anak Anda tipe yang pelupa kalau sudah asyik bermain. Daripada besok pagi dia menangis di sekolah, lebih baik saya selesaikan malam ini."

Arka berjalan mendekat, bersedekap di sisi lain meja bar yang memisahkan mereka. "Kamu bisa menyuruh pelayan untuk mengerjakannya besok subuh."

Naya tersenyum tipis—sebuah senyuman kecil yang kali ini terasa lebih lembut, bukan senyuman penuh sandiwara seperti di depan Ibu Ambar. "Tugas anak adalah tanggung jawab ibunya, Tuan Arka. Bukan tanggung jawab pelayan. Kenzie akan lebih bangga kalau tahu mamanya yang membuatkan ini untuknya."

Mendengar kata 'mama' yang diucapkan dengan begitu tulus oleh Naya, dada Arka kembali berdesir. Pria itu terdiam, menatap wajah Naya yang tampak sedikit pucat dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Wanita ini kelelahan, namun dia memilih menekan egonya demi kebahagiaan anaknya.

Naya memperhatikan raut wajah Arka yang tegang dan gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di bawah matanya. Tanpa banyak bicara, Naya bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju mesin kopi otomatis di sudut dapur bersih.

Arka mengawasi pergerakan Naya dengan kening berkerut. "Aku tidak butuh bantuanmu, Naya. Kan sudah kukatakan di aturan harian—"

"Minum kopi instan dari mesin penunjang kerja Anda di atas sana hanya akan membuat lambung Anda makin perih di jam segini," potong Naya tenang, mengabaikan protes Arka dengan keanggunan yang mutlak.

Naya mengambil stoples kaca berisi biji kopi pilihan, lalu menjemput cangkir keramik putih. Dengan gerakan yang teratur dan tenang, ia menyeduh secangkir kopi hitam dengan campuran sedikit gula aren asli—bukan gula buatan yang biasa disediakan pelayan Arka.

Aroma harum kopi hangat yang menenangkan seketika menguar, memenuhi udara dapur yang dingin oleh AC. Naya berjalan kembali ke meja bar, lalu meletakkan cangkir kopi yang masih mengepul itu di hadapan Arka.

"Minumlah. Ini bukan kopi tradisional yang manis, tapi cukup aman untuk meredakan sakit kepala Anda tanpa merusak lambung," ucap Naya datar, suaranya mengalun lembut tanpa maksud menggurui.

Arka menatap cangkir kopi di depannya, lalu beralih menatap Naya. "Kenapa kamu melakukan ini? Aku tidak meminta."

Naya menatap lurus ke dalam manik mata Arka, matanya yang jernih memancarkan ketegasan yang murni. "Saya melakukannya bukan karena saya ingin bertingkah sebagai istri yang berbakti, Tuan Arka. Saya melakukannya karena malam ini saya melihat seorang manusia yang sedang memikul beban sangat berat di bahunya. Anggap saja ini bentuk solidaritas antarpekerja di rumah ini."

Bersambung...

1
Engkar Sukarsih
dasar Kunti kampret 🙄🙄🙄main peluk" aja laki orang.arka kamu ko lembek banget jadi laki diam aja bukan suruh Heri bawa lagi ke Sentul tu kunti🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
kenapa sih...itu kuntilanak ginsul bisa keluar 🤬🤬🤬 katanya di jaga ketat,ko bisa kecolongan we🤔🤔🤔
Fa Yun
tuh keluar aslinya wanita rubah gak tau maluu,Uda lihat arka sifat wanita yg kamu tolong 😕
Fa Yun
terlambat sudah penyesalanmu Arka, paling kasian sama Kenzie kalo Naya pergi 😕
Yayang Coedil
minta d ulek tuh wanita jadijadian🤭
Mulaini
Arka sifat asli Gisella sudah kelihatan dan kamu mau membelanya dan memilih dia atau memilih mempertahankan Naya yang sudah berkali² membela mu.
Mulaini
Arka kamu sudah tahu tapi tetap kamu lakukan jadi ya memang kamunya gak bisa mempertahankan Naya.
Lia Rahmawati
greget banget sama ceritanya,hayo lah Thor bikin si Naya pergi jauh sejauh mungkin sama ibunya,biar si arka menyesal 😡
Wiek Soen
arka buka matamu klo yg kamu tolong itu ulaaaarrrr😡😡😡
Wiek Soen
Giselle perempuan sampah berhati tamak serakah, menjijikan sekali
Rarik Srihastuty
dasar wanita ular, gimana arka orang yg katanya cuma minta perlindungan nekat secara terang2an mau jd pelakor rumah tanggamu. apa tindakan tegasmu arka? para pembaca sedang menunggu
Wiek Soen
makanya arka jangan bodoh ,nolong boleh tp lihat dulu yg di tolong,yg di tolong gigit kok ko GK rasa ,dasar dongoook,kok esmosi aq...sama arka
Ummee
dasar Gisella... kita lihat apa Arka terbuai tipu daya Gisella
Bagong
demi Alloh segala,,,,,,tahu g kambing bertelur aja lebih masuk akal
Zalmah Adiwi
perempuan 'GILA'..sampe segitux dia pny otak..🤦‍♀️🤣🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
mmng wajar klo naya terluka..
Eni Istiarsi
ayolah Arkaaa... mikiiiir!.. pake logikamu, jangan cuma kedepankan perasaan bersalah dan kasihan pada Giselle yang nyatanya cuma memanfaatkan mu
Kar Genjreng
ihhh wanita menjijikan dan laki laki bodohhhhh padahall sudah di nasehatin orang tua nya dan di kasih tau siapa gisel ahh tapi memang CEO ceroboh nanti kalau sudah di kuasai barulah menyesal sampai ujung dunia,,,lihat harusnya dari kelicikan nya jadi apa bedanya siska satu sama kan bedanya siska bisa memberikan Kenzie walaupun saat ini sedang di perebutkan,,,, kalau Ak jadi Arka berusaha mati Matian buat mempertahankan Nayara Kenapa sudah terlihat wanita itu tidak ambisius tidak tamak tidak jahat terhadap putranya dan bisa membela dan m memberikan ide agar tidak kehilangan proyek trilyunan tidak membuang uang untuk shopping,,,tapi terserah biar tersesat kembali apabila tidak bisa mengusir Gisele,,salam waras gemes mommy sama arka jadi laki laki ko lihat mana wibawanya sebagai pemimpin kalah sama wanita abal abal,,👍🤭🤭
Rahmawati
jijik bgt sm gisel😡
Mamah Nisa
tuuh arka....buka matamu...buka otak dan pikiranmu....sdh tau blm liciknya mantanmu itu...pantesan bu ambar ga suka sm mantanmu itu...karena ibumu sdh tau yg sebenarnya siapa gisela ...wanita rubah....
arkaaaa....masih blm ke buka juga pikiranmu...
sorry mom....esmosi jd nya ...belain mantan sampe segitunya...guwwedek sy mom....
lanjut mom...makin seru....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!