NovelToon NovelToon
Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Menepis Dekapan Tuan Dewangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:44.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."

Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.

Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.

Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Secangkir Kopi di Tengah Malam

"Dia mencurigai semuanya, Naya. Dia bersumpah akan menyelidiki latar belakangmu dan mencari celah di rumah kita," ujar Arka, suaranya merendah penuh penekanan. "Mulai hari ini, tingkatkan kewaspadaanmu. Jangan tinggalkan dokumen apa pun di luar brankas, dan pastikan tidak ada pelayan yang melihat kamar kita yang terpisah. Permainan ini baru saja dimulai."

Di seberang telepon, Naya yang sedang berdiri di balkon kamar Kenzie menatap lurus ke arah taman depan. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis—senyuman tenang milik seorang wanita yang tidak akan mudah digertak oleh bayang-bayang bernama Clarissa.

"Anda tenang saja, Tuan Arka," jawab Naya dengan suara yang begitu dingin namun tegas. "Saya sudah katakan sebelumnya, khawatirkan saja diri Anda sendiri. Selama kaki saya masih menginjak rumah ini sebagai ibu Kenzie, saya tidak akan membiarkan wanita mana pun merusak ketenangan anak Anda. Clarissa ingin mencari celah? Silakan suruh dia mencoba. Saya pastikan dia hanya akan menemukan dinding batu yang keras."

Arka tertegun mendengar jawaban Naya yang sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Untuk kedua kalinya, kekuatan sunyi wanita itu berhasil meredam badai kecemasan di dalam dirinya.

"Baik. Aku pegang katamu, Nayara," ucap Arka lirih sebelum memutuskan sambungan telepon.

Di dalam ruang kerjanya yang megah, Arka menyadari satu hal: Nayara mungkin tidak memiliki harta atau status sosial, namun ketenangan dan kekuatan mental wanita itu adalah senjata paling mematikan yang pernah ia temui. Dan untuk menghadapi Clarissa, senjata itulah yang paling ia butuhkan saat ini.

***

Jarum jam dinding di lorong lantai dua sudah menunjuk ke angka satu malam. Seluruh sudut kediaman mewah Dewangga telah tenggelam dalam kegelapan dan kesunyian yang pekat. Para pelayan sudah lama masuk ke paviliun mereka di belakang, menyisakan keheningan yang megah di dalam rumah utama.

Suara deru halus mesin mobil yang memasuki pelataran disusul suara pintu gerbang yang menutup pelan sama sekali tidak mengusik kesunyian itu.

Arka melangkah masuk melalui pintu utama dengan bahu yang tampak merosot. Kemeja kerjanya sudah kusut, dasinya sudah tersampir longgar di leher, dan dua kancing teratasnya terbuka bebas. Kepalanya berdenyut pening. Pertemuan maraton dengan jajaran direksi dan ancaman terselubung dari investigasi Clarissa hari ini benar-benar menguras habis energinya.

Ia memijat pangkal hidungnya sambil melangkah menuju tangga, bersiap untuk langsung mengunci diri di ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa berkas yang tersisa sebelum tidur. Namun, langkah kaki Arka mendadak terhenti ketika melihat seberkas cahaya lampu yang temaram berpendar dari arah dapur bersih.

Arka menyipitkan mata. Dengan langkah yang sengaja diperlambat agar tidak menimbulkan suara, ia berjalan mendekat.

Di sana, di balik meja bar marmer yang diterangi lampu gantung kekuningan, seorang wanita sedang duduk dengan tenang. Nayara. Wanita itu mengenakan piama satin panjang berwarna biru dongker yang longgar namun tetap terlihat bersahaja dan sopan. Rambut panjangnya dicepol asal ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai leher jenjangnya.

Di atas meja, berserakan beberapa buku gambar, guntingan kertas warna-warni, dan sebuah kotak pensil warna milik Kenzie. Naya tampak begitu fokus menempelkan potongan kertas membentuk pola hewan, menyiapkan tugas prakarya Kenzie untuk sekolah besok pagi. Gerakannya sangat telaten dan berhati-hati, seolah seluruh dunianya malam ini hanya terpusat pada potongan kertas itu.

Arka terpaku di tempatnya berdiri, bayangan kegaduhan kantor dan ancaman Clarissa mendadak menguap begitu saja melihat pemandangan domestik yang begitu damai ini.

Krieeek.

Lantai kayu yang sedikit terinjak membuat Naya mendongak. Sepasang mata bulatnya yang jernih langsung bertatapan dengan mata elang Arka yang kaku karena lelah. Tidak ada keterkejutan di wajah Naya, ia hanya menatap Arka dengan ketenangan menghanyutkan yang biasa ia tunjukkan.

"Baru pulang, Tuan Arka?" tanya Naya lirih, suaranya terdengar sedikit serak karena kantuk namun tetap stabil.

Arka berdeham pelan, mencoba menguasai kegugupannya yang tiba-tiba muncul karena tertangkap basah sedang memandangi istrinya. "Ya. Urusan kantor masih belum selesai. Kenapa belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam."

Naya menurunkan guntingnya, lalu menunjuk tumpukan kertas di depannya. "Kenzie baru ingat kalau besok ada tugas menempel bertema kebun binatang. Anak Anda tipe yang pelupa kalau sudah asyik bermain. Daripada besok pagi dia menangis di sekolah, lebih baik saya selesaikan malam ini."

Arka berjalan mendekat, bersedekap di sisi lain meja bar yang memisahkan mereka. "Kamu bisa menyuruh pelayan untuk mengerjakannya besok subuh."

Naya tersenyum tipis—sebuah senyuman kecil yang kali ini terasa lebih lembut, bukan senyuman penuh sandiwara seperti di depan Ibu Ambar. "Tugas anak adalah tanggung jawab ibunya, Tuan Arka. Bukan tanggung jawab pelayan. Kenzie akan lebih bangga kalau tahu mamanya yang membuatkan ini untuknya."

Mendengar kata 'mama' yang diucapkan dengan begitu tulus oleh Naya, dada Arka kembali berdesir. Pria itu terdiam, menatap wajah Naya yang tampak sedikit pucat dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Wanita ini kelelahan, namun dia memilih menekan egonya demi kebahagiaan anaknya.

Naya memperhatikan raut wajah Arka yang tegang dan gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di bawah matanya. Tanpa banyak bicara, Naya bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju mesin kopi otomatis di sudut dapur bersih.

Arka mengawasi pergerakan Naya dengan kening berkerut. "Aku tidak butuh bantuanmu, Naya. Kan sudah kukatakan di aturan harian—"

"Minum kopi instan dari mesin penunjang kerja Anda di atas sana hanya akan membuat lambung Anda makin perih di jam segini," potong Naya tenang, mengabaikan protes Arka dengan keanggunan yang mutlak.

Naya mengambil stoples kaca berisi biji kopi pilihan, lalu menjemput cangkir keramik putih. Dengan gerakan yang teratur dan tenang, ia menyeduh secangkir kopi hitam dengan campuran sedikit gula aren asli—bukan gula buatan yang biasa disediakan pelayan Arka.

Aroma harum kopi hangat yang menenangkan seketika menguar, memenuhi udara dapur yang dingin oleh AC. Naya berjalan kembali ke meja bar, lalu meletakkan cangkir kopi yang masih mengepul itu di hadapan Arka.

"Minumlah. Ini bukan kopi tradisional yang manis, tapi cukup aman untuk meredakan sakit kepala Anda tanpa merusak lambung," ucap Naya datar, suaranya mengalun lembut tanpa maksud menggurui.

Arka menatap cangkir kopi di depannya, lalu beralih menatap Naya. "Kenapa kamu melakukan ini? Aku tidak meminta."

Naya menatap lurus ke dalam manik mata Arka, matanya yang jernih memancarkan ketegasan yang murni. "Saya melakukannya bukan karena saya ingin bertingkah sebagai istri yang berbakti, Tuan Arka. Saya melakukannya karena malam ini saya melihat seorang manusia yang sedang memikul beban sangat berat di bahunya. Anggap saja ini bentuk solidaritas antarpekerja di rumah ini."

Bersambung...

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sugiharti Rusli
sekarang tinggal nanti Arka saja sih yang buat keputusan besar tentang hubungan dirinya dan Naya, apa akan seperti tertera dalam kontrak yang seperti mereka sepakati dulu,,,
Laila Umroh
baru ngerti kalau kaka author punya karya baru...
Sugiharti Rusli
dan bagaimana Naya mendidik dan merawat Kenzie dengan pemahaman" baru tentang hidup dan Kenzie bahagia kala bersama Naya,,,
Sugiharti Rusli
dan Kenzie begitu cepat hatinya terpaut pada Naya tanpa pdkt sebelumnya kan,,,
Sugiharti Rusli
apalagi bisa terlihat dengan kasat mata bagaimana Naya memperlakukan Kenzie selayaknya ibu teehadap anaknya,,,
Sugiharti Rusli
pada waktunya kertas kontrak itu akan kalah oleh tatapan polos Kenzie sih yah,,,
Sugiharti Rusli
entah kalo suatu saat Kenzie tahu kalo sanga mama ga akan bersama mereka lagi karena sebuah kesepakatan yah, kasihan sih dengan mentalnya nanti,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalannya waktu, malah Kenzie mendapat nilai baru dan juga sangat mencintai dan menerima Naya sebagai ibunya,,,
Sugiharti Rusli
kalo yang jadi istri Arka bukanlah seorang Nayara, mungkin kedok pernikahan kontrak mereka sudah terbongkar sejak awal yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi si Clarissa memiliki dugaan kalo Arka menikahi Naya bukan karena cinta, dan itu betul sih tujuan utamanya hak asuh putranya,,,
Sugiharti Rusli
meski dia memang melakukan pernikahan kontrak dengan Naya demi hak asuh Kenzie, tapi di perjalanan malah banyak hal tak terduga,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya di sini si Arka yang sangat diuntungkan dengan memperistri Naya yah
dyah EkaPratiwi
Naya 😍
NAYLA DWI
ok
Nandi Ni
dibalik kesulitan terbentang kemudahan,semoga ketulusan hatinya mampu menghantarkan pada kebahagiaan.
Nandi Ni
emang diluar nurul pemikiran Naya ini
Herman Lim
ga sabar lihat kehancuran mereka
Naufal Affiq
buat clarisa gak bisa ngomong lagi ya mommy,buat mereka kalah dalm persidangan,dan naya penenangnya
Mamah Nisa
di depan kenzie kok manggilnya tuan arka....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!