ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Sisa malam itu mereka berbagi keheningan yang hangat namun penuh getar. Gyantara tidak lagi mendesak Adelia bicara soal rahasianya; ia memilih menggenggam tangan gadis itu erat, seolah dengan begitu ia bisa menyalurkan kekuatan agar Adelia tahu bahwa ia tidak sendirian. Dan di dalam pelukan itu, Adelia menyadari satu hal yang paling ia takuti seumur hidupnya: ia tak ingin kehilangan pria ini.
Bagi Adelia, kehilangan adalah hal yang sudah terlalu sering ia rasakan. Ia "kehilangan" kasih sayang orang tua yang selalu utuh diberikan pada kakaknya, kehilangan kesempatan bersekolah tinggi, kehilangan hak menjadi dirinya sendiri. Dan kini, saat ia baru saja menemukan kehangatan yang membuatnya merasa berharga untuk pertama kalinya, rasa takut itu melilit dadanya begitu kuat hingga sesak.
Pagi harinya, suasana berubah tiba-tiba. Belinda menelepon, suaranya terdengar panik dan tajam lewat pengeras suara ponsel yang tak sengaja tersambung.
"Adelin! Kamu belum kirim uangnya juga? Besok tenggat waktu penyitaan aset! Kalau sampai barang-barang kami dibawa pergi, kami akan datang ke rumah Gyantara dan mengungkapkan semuanya di depan semua orang!"
Adelia menahan napas, wajahnya pucat seketika. Ia melirik Gyantara yang sedang duduk di seberang ruangan—pria itu mendengarnya dengan jelas, dahinya berkerut bingung namun tidak menyela.
"Aku belum punya uangnya, Bu..." jawab Adelia lirih. "Tolong beri waktu lagi sedikit saja."
"Waktu sudah habis!" bentak Belinda sebelum sambungan terputus.
Hening menyelimuti ruangan. Adelia memeluk dirinya sendiri, matanya berkaca-kaca. Ia tahu orang tuanya benar-benar nekat. Ancaman itu bukan sekadar gertakan—mereka siap menghancurkan segalanya demi menyelamatkan diri sendiri. Dan jika itu terjadi, ia tidak hanya akan kehilangan tempat tinggal, tapi juga kehilangan Gyantara selamanya.
Gyantara berdiri perlahan, berjalan mendekat. Ia tidak bertanya marah, tidak menuntut penjelasan. Ia hanya menatap Adelia dengan tatapan sedih dan lembut. "Mereka memaksamu meminta uang, bukan? Sejak dulu mereka selalu menekanmu dengan cara seperti ini."
Adelia mengangguk pelan, air matanya jatuh. "Mereka bilang... kalau aku tidak bantu, aku yang akan disalahkan atas kebangkrutan Ayah. Aku takut, Mas. Aku takut mereka datang ke sini dan mempermalukanmu. Aku takut kamu akan tahu segalanya dan membuangku jauh-jauh."
Kata-kata itu membuat hati Gyantara teriris sakit. Ia segera menarik tubuh Adelia ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah takut gadis itu akan lenyap jika ia melepaskannya sedetik saja.
"Kamu pikir sesedikit itu rasa sayangku padamu?" bisiknya dengan suara bergetar. "Kamu pikir aku akan pergi begitu saja hanya karena ada masalah atau rahasia yang belum terungkap? Adelia... aku juga takut. Aku takut sekali kehilanganmu."
Adelia tersentak kaget mendengar nama itu disebut. Ia mendongak menatapnya. "Kamu... kamu tahu?"
"Aku belum tahu semuanya," akui Gyantara jujur, mengusap air mata di pipinya dengan lembut. "Tapi sudah lama aku merasa ada yang berbeda. Cara kamu bicara, cara kamu melihat dunia, cara kamu menderita... itu bukan Adelin yang aku kenal dulu. Aku sudah lama menebak, tapi aku takut bertanya—karena aku takut jika aku menuntut kebenaran, kamu akan pergi menjauh dariku."
Mereka berdua saling menatap, menyadari bahwa ketakutan yang sama telah menghantui mereka berdua. Gyantara takut kehilangan wanita yang kini dicintainya, siapa pun dia. Adelia takut kehilangan satu-satunya tempat di mana ia diterima apa adanya.
"Jadi... kamu tidak benci aku karena menyembunyikan identitasku?" tanya Adelia pelan, suaranya masih penuh keraguan.
"Aku kecewa kamu harus menanggungnya sendirian," jawab Gyantara tulus. "Tapi aku tidak bisa membenci jiwa yang begitu indah dan kuat seperti kamu. Adelin mungkin wajah yang aku kenal dulu, tapi kamulah yang membuat hidupku berwarna sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun—bahkan orang tuamu sendiri—mengambilmu dariku."
Keputusan itu membuat Adelia menangis sejadi-jadinya, kali ini karena kelegaan yang luar biasa. Ia memeluk pinggang Gyantara sekuat tenaga, menyandarkan wajahnya di dada pria itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sendirian menghadapi ancaman dunia.
Siang itu, Gyantara memanggil Rama dan memberikan instruksi tegas. "Siapkan tim hukum dan periksa semua masalah utang keluarga Yhosep. Jangan biarkan siapa pun mengancam atau menekan istriku. Dan pastikan keamanan di rumah ini diperketat."
"Baik, Tuan. Tapi apakah Anda yakin?" tanya Rama pelan. "Anda tahu persis siapa dia sekarang?"
"Aku tahu cukup untuk melindunginya," jawab Gyantara tegas, menatap ke arah taman tempat Adelia sedang berdiri memandang langit. "Aku mungkin tidak tahu semua kisahnya, tapi aku tahu satu hal: aku tidak ingin kehilangan dia. Apa pun harganya."
Sore harinya, Gyantara duduk di samping Adelia di teras. Ia menggenggam tangan gadis itu erat. "Dengar ya, sayang. Kehilangan orang yang kita cintai adalah rasa sakit yang paling menyiksa. Dan aku sudah kehilangan banyak hal berharga di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi padamu dan aku."
"Kamu berjanji?" tanya Adelia dengan mata memohon.
"Aku berjanji," janji Gyantara dengan serius. "Kita hadapi masalah orang tuamu bersama-sama. Kita cari jalan keluar yang paling adil. Tapi tolong, jangan pernah berpikir untuk pergi atau menyembunyikan dirimu lagi. Tetaplah di sini, di sisiku."
Malam itu, rasa takut kehilangan yang sempat memisahkan mereka justru menjadi ikatan yang semakin kuat. Adelia menyadari bahwa cinta sejati tidak menuntut kesempurnaan atau identitas yang sempurna—ia hanya membutuhkan keberanian untuk saling memiliki. Dan Gyantara menyadari bahwa ia rela berjuang melawan siapa pun, menghadapi risiko apa pun, asalkan ia tidak harus hidup tanpa kehadiran Adelia di sisinya.
Mereka berdua sama-sama takut kehilangan. Namun kini, ketakutan itu bukan lagi beban yang dipikul sendirian, melainkan alasan untuk saling menjaga dan saling memeluk lebih erat.