NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1 misi bayi terlahir kembali

Dua garis merah.

Alya menyipitkan matanya, menguceknya berkali-kali sampai memerah, lalu menatap kembali benda plastik kecil di genggamannya. Hasilnya tetap tidak berubah. Dua garis merah itu terpampang nyata, tegas, dan seolah sedang menertawakan kemalangannya di bawah temaram lampu kamar kos yang berkedip-kedip.

"Gila. Ini pasti mimpi buruk," bisik Alya dengan bibir gemetar.

Ia terduduk lemas di lantai kamar mandi yang dingin. Otaknya berputar cepat, memutar kembali memori satu bulan lalu. Malam terkutuk di Hotel Grand Aster. Malam di mana ia salah memasuki kamar akibat mabuk berat setelah merayakan pemecatan sepihak dari tempat kerjanya.

Di kamar itu, ia bertemu dengan seorang pria asing yang sangat tampan, namun memiliki tatapan sedingin es kutub utara. Pria yang belakangan ia ketahui dari berita televisi sebagai **Devan Dirgantara**—CEO kejam pemilik Dirgantara Group yang terkenal tidak punya belas kasihan.

"Bagaimana bisa aku hamil hanya karena satu malam?!" pekik Alya frustrasi. Air matanya mulai mengalir. "Uang kos menunggak, tabungan sisa seratus ribu rupiah, dan sekarang aku hamil anak dari iblis berjas itu? Aku mau makan apa? Anak ini mau kukasih makan batu?!"

Di tengah kepanikan dan tangis yang mulai pecah, tiba-tiba sebuah suara asing menggema di dalam kepalanya.

> *[Cih. Sungguh tempat tinggal yang sangat sempit dan lembap. Ibu, bisakah kau berhenti menangis? Detak jantungmu yang terlalu cepat membuatku pusing di dalam sini.]*

Alya tersentak. Ia langsung berdiri, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar mandi berukuran dua kali dua meter itu. Tidak ada siapa-siapa.

"S-siapa itu?!" tanya Alya dengan suara bergetar, bulu kuduknya berdiri tegak. "Jangan bercanda ya! Keluar kamu! Aku tidak takut dengan hantu!"

> *[Hantu? Ibu, aku ini anakmu. Jenius legendaris yang menggoncang dunia bisnis di kehidupan sebelumnya, kini terpaksa terlahir kembali menjadi segumpal daging di dalam perutmu yang kelaparan ini.]*

Alya memegangi kepalanya yang mendadak pening. Suara itu terdengar sangat jelas, bernada kekanak-kanakan namun memiliki wibawa dan kesombongan yang luar biasa tinggi. Suara itu tidak berasal dari luar, melainkan bergaung langsung di dalam sel-sel otaknya.

"Aku... aku pasti sudah gila karena terlalu stres," gumam Alya, memukul-mukul pelan kepalanya. "Ya, benar. Aku berhalusinasi."

> *[Ibu, berhenti memukul kepalamu. Jika kau menjadi bodoh, itu akan memengaruhi perkembangan otakku yang berharga ini. Dengarkan aku baik-baik. Aku adalah reinkarnasi dari Elio Vance, penguasa pasar gelap dan jenius keuangan global. Di kehidupan sebelumnya, aku dikhianati oleh asistenku sendiri hingga tewas dalam ledakan bom.]*

> *[Tapi takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terlahir kembali di dalam rahimmu. Dan misiku kali ini sangat sederhana: Menjadikan ibu tiriku—maksudku, ibu kandungku yang malang ini—menjadi wanita terkaya di dunia, dan menjinakkan pria bodoh yang menjadi ayah biologisku.]*

Alya ternganga. Ia perlahan menurunkan pandangannya ke arah perutnya yang masih rata.

"K-kau... bayi di dalam perutku?" tanya Alya, kali ini berbisik sangat pelan, takut tetangga kosnya mengira ia benar-benar sudah kehilangan akal sehat.

> *[Tepat sekali. Meskipun saat ini aku masih berupa embrio berukuran beberapa milimeter, kecerdasan dan kekuatan jiwaku tetap utuh. Jadi, Ibu, hapus air matamu. Mulai hari ini, nasib tragismu sebagai gadis miskin yang tertindas sudah resmi berakhir. Selama kau menuruti instruksiku, kita akan menguasai dunia!]*

"Menguasai dunia dahimu!" semprot Alya, mendadak rasa takutnya tergantikan oleh rasa kesal. "Kamu tahu tidak keadaan kita sekarang? Kita ini miskin! Ibu tidak punya pekerjaan, uang tabungan sekarat, dan ayahmu itu... dia itu Devan Dirgantara! Monster berdarah dingin yang kalau tahu aku hamil, mungkin akan langsung membuangku ke laut lepas agar tidak mengotori nama baiknya!"

Mendengar nama itu, entitas kecil di dalam kandungan Alya tampaknya melakukan analisis cepat.

> *[Oh? Devan Dirgantara? Pria yang wajahnya terpampang di majalah Forbes bulan lalu itu? Hmph, jadi dia ayah biologisku di kehidupan ini? Lumayan juga. Setidaknya gen fisiknya tidak buruk, dan kekayaannya cukup untuk dijadikan modal awal.]*

> *[Tapi, berani menyentuh ibuku lalu membiarkannya menderita di kos-kosan kumuh seperti ini? Sungguh pria tidak bertanggung jawab. Baik, target pertama Misi Terlahir Kembali: Kita harus membuat Devan Dirgantara berlutut dan memohon agar Ibu bersedia menjadi istrinya!]*

Alya menepuk jidatnya. Bayi di dalam perutnya ini tidak hanya ajaib, tapi juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang sudah menembus langit.

"Membuat Devan memohon? Kamu mimpi! Jangankan memohon, bertemu dengannya saja mustahil bagi rakyat jelata sepertiku," keluh Alya sambil berjalan gontai keluar dari kamar mandi dan merebahkan diri di kasur tipisnya.

> *[Tidak ada yang mustahil bagi Elio—ah, tidak, panggil aku 'Baby El' mulai sekarang. Ibu, dalam waktu sepuluh menit, ibu tiri dan adik tirimu yang licik itu akan datang ke sini. Mereka membawa rencana busuk untuk menjualmu kepada rentenir demi melunasi utang judi mereka.]*

Alya langsung terduduk tegak. "Apa?! Bagaimana kamu bisa tahu?"

> *[Indra spiritualku bisa merasakan gelombang niat jahat dalam radius lima ratus meter. Mereka sekarang sedang menaiki tangga kos. Mereka membawa surat perjanjian palsu yang harus Ibu tandatangani.]*

Wajah Alya memucat. Ibu tirinya, Ratna, dan adik tirinya, Sela, memang selalu mencari celah untuk menindasnya sejak ayahnya meninggal setahun yang lalu. Jika apa yang dikatakan Baby El benar, maka ia berada dalam bahaya besar.

"L-lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus kabur lewat jendela?" tanya Alya panik.

> *[Kabur? Sungguh mentalitas orang lemah. Ibu, ingat ini: di dalam perutmu ada jiwa seorang kaisar bisnis. Kita tidak akan lari. Kita akan memberi mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan.]*

"Caranya?!"

> *[Buka laci mejamu. Ambil pulpen hitam dan selembar kertas kosong. Tulis apa yang aku diktekan sekarang. Cepat!]*

Alya yang sudah tidak punya pilihan lain langsung menuruti perintah suara misterius itu. Dengan gerakan cepat, ia mengambil kertas dan pulpen. Di bawah bimbingan suara Baby El yang tenang namun penuh wibawa, Alya menuliskan beberapa baris kalimat yang terlihat seperti perjanjian hukum, lengkap dengan beberapa pasal jebakan yang sangat halus.

Tepat saat Alya meletakkan pulpennya, terdengar suara gedoran keras di pintu kosnya.

*BRAK! BRAK! BRAK!*

"Alya! Buka pintunya! Ibu tahu kamu di dalam!" teriak suara cempreng Ratna dari luar.

Alya menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.

> *[Tenang, Ibu. Tarik napas dalam-dalam. Ingat, aku bersamamu. Ketika mereka masuk, ikuti saja skenario yang sudah aku siapkan di kepalamu. Gunakan nada bicara yang sedikit gemetar agar mereka mengira Ibu ketakutan.]*

Alya mengembuskan napas perlahan. Anehnya, setelah mendengar suara menenangkan dari janin di perutnya, rasa takut yang tadinya mendominasi mendadak menguap, tergantikan oleh rasa hangat dan keberanian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia berjalan membuka pintu. Di depan sana, berdiri Ratna dengan lipstik merah menyala dan Sela yang menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Lama sekali sih buka pintunya! Sengaja ya biar kami kepanasan di luar?!" omel Ratna langsung menerobos masuk ke dalam kamar kos Alya yang sempit, diikuti Sela yang langsung menutup hidungnya dengan gaya berlebihan.

"Ada apa Ibu, Sela? Kenapa tiba-tiba datang ke sini?" tanya Alya, sengaja memasang wajah cemas sesuai instruksi Baby El.

Sela mendengus sinis. "Kak Alya, tidak usah pura-pura bodoh. Kami ke sini mau membantu Kakak. Ibu sudah mencarikan jodoh yang sangat kaya untuk Kakak. Tuan Handoko, pemilik pabrik tekstil. Beliau bersedia melunasi semua utang keluarga kita, asal Kakak mau menikah dengannya."

Alya mengepalkan tangannya. Tuan Handoko adalah pria tua bangka berusia enam puluh tahun yang terkenal suka menyiksa istri-istrinya. Menikah dengannya sama saja dengan mengantarkan nyawa ke neraka.

"Aku tidak mau," tegas Alya.

Ratna langsung berkacak pinggang, matanya melotot tajam. "Kurang ajar! Kamu berani menolak?! Sadar diri, Alya! Kamu itu cuma anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa! Menikah dengan Tuan Handoko adalah satu-satunya jalan agar kamu tidak mati kelaparan di jalanan!"

Ratna kemudian mengeluarkan selembar surat dari tasnya dan melemparkannya ke kasur Alya. "Tanda tangani surat persetujuan ini sekarang juga! Jangan membantah!"

Alya melirik kertas itu. Itu adalah surat kuasa mutlak atas dirinya yang jika ditandatangani, akan membuat Ratna sah menjualnya secara hukum.

Pada saat itulah, suara Baby El kembali bergema di kepala Alya, memberikan instruksi yang sangat detail dengan nada dingin yang meniru gaya bicara Devan Dirgantara.

> *[Ibu, tunjukkan kertas yang baru saja Ibu tulis tadi. Katakan pada mereka bahwa Ibu sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan Dirgantara Group sebagai sekretaris pribadi Devan Dirgantara dengan denda penalti sebesar sepuluh miliar rupiah jika Ibu mengundurkan diri atau menikah tanpa izin perusahaan.]*

Alya hampir saja tersedak air liurnya sendiri. *Sepuluh miliar?!* Dari mana fiksi ilmiah ini berasal?!

Namun, melihat tatapan kejam Ratna, Alya memberanikan diri. Ia mengambil kertas yang ditulisnya tadi dan menunjukkannya ke depan wajah Ratna.

"Maaf, Ibu. Tapi aku tidak bisa menikah dengan Tuan Handoko," ujar Alya dengan nada yang dibuat sedramatis mungkin, seolah-olah ia adalah korban yang terjebak takdir. "Sebab... aku baru saja menandatangani kontrak eksklusif dengan Dirgantara Group. Aku bekerja langsung di bawah CEO Devan Dirgantara."

Ratna dan Sela langsung terdiam. Sela kemudian tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair.

"Hahaha! Kak Alya, kamu melawak ya? Dirgantara Group? Perusahaan raksasa nomor satu di negara ini? Bagaimana mungkin gadis miskin sepertimu bisa bekerja di sana, bahkan langsung di bawah Tuan Devan?!" ejek Sela habis-habisan.

"Kalau tidak percaya, lihat saja ini," Alya menyodorkan kertas bertuliskan draf perjanjian tersebut, lengkap dengan tanda tangan palsu Devan Dirgantara yang tadi ditiru habis-habisan oleh tangan Alya—atas instruksi presisi dari Baby El yang memiliki memori fotografis tentang tanda tangan ayahnya di kehidupan lalu.

Ratna merebut kertas itu dan membacanya. Detik berikutnya, wajahnya yang penuh bedak tebal mendadak berubah pucat pasi saat membaca klausul denda penalti.

*“...Jika pihak kedua (Alya) melakukan pelanggaran kontrak, termasuk mengundurkan diri atau menikah tanpa persetujuan tertulis dari Pihak Pertama (Devan Dirgantara), maka Pihak Kedua dan seluruh anggota keluarganya wajib membayar denda ganti rugi sebesar Rp 10.000.000.000 (Sepuluh Miliar Rupiah) secara tunai dalam waktu 1x24 jam.”*

"S-sepuluh miliar?!" Ratna memekik, suaranya melengking tinggi hingga hampir pecah. Kertas di tangannya gemetar hebat.

"Iya, Ibu," ucap Alya dengan wajah yang sengaja dibuat memelas namun di dalam hatinya ia ingin tertawa terbahak-bahak. "Tuan Devan sangat kejam. Jika Ibu memaksaku menikah dengan Tuan Handoko, maka secara hukum, Ibu dan Sela sebagai keluarga kandungku juga harus ikut menanggung denda sepuluh miliar itu. Apa Ibu punya uang sebanyak itu?"

Sela yang ikut membaca langsung merampas kertas itu dengan panik. "I-Ibu! Ini ada stempel resmi dan tanda tangan Tuan Devan! Aku pernah melihat tanda tangan ini di internet! Ini asli!"

Tentu saja terlihat asli, karena Baby El menuntun setiap tarikan garis tangan Alya dengan akurasi mikrometer.

Ratna melangkah mundur dengan tubuh gemetar. Sepuluh miliar adalah angka yang bahkan tidak bisa ia bayangkan seumur hidupnya. Alih-alih mendapatkan uang dari Tuan Handoko, mereka justru terancam hancur dan dijebloskan ke penjara oleh keluarga Dirgantara yang terkenal kejam dan tak tersentuh hukum.

"K-kamu... kenapa kamu bodoh sekali menandatangani kontrak gila seperti ini?!" teriak Ratna frustrasi, wajahnya merah padam antara marah dan ketakutan.

"Aku butuh uang, Ibu. Dan Tuan Devan yang menawarkannya langsung," jawab Alya pelan, pura-pura sedih.

> *[Bagus sekali aktingmu, Ibu. Sekarang, usir mereka. Katakan bahwa Tuan Devan akan mengirimkan asistennya ke sini sebentar lagi untuk menjemput Ibu.]*

Alya menarik napas dalam-dalam, menatap ibu tirinya dengan tatapan serius. "Ibu, sebaiknya Ibu dan Sela segera pergi dari sini. Sebentar lagi, asisten pribadi Tuan Devan akan datang ke kos ini untuk menjemputku. Tuan Devan sangat tidak suka jika ada orang asing berada di sekitar karyawannya. Jika beliau tahu Ibu mencoba memerasku... aku takut nasib keluarga kita akan berakhir di jeruji besi."

Mendengar nama Devan Dirgantara disebut dengan nada mengancam, nyali Ratna langsung menciut drastis. Reputasi Devan sebagai "Monster Bisnis" yang kejam dan tak segan menghancurkan hidup orang lain sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat.

"A-Awas kamu ya, Alya! Urusan kita belum selesai!" ancam Ratna dengan suara gemetar, berusaha menutupi ketakutannya.

"Ayo, Sela! Kita pergi! Sialan, anak pembawa sial ini malah mencari masalah dengan keluarga Dirgantara!" omel Ratna sambil menarik tangan Sela dengan tergesa-gesa, berlari keluar dari kamar kos Alya seolah-olah tempat itu baru saja dihantui oleh monster.

*BRAK!*

Pintu kos tertutup rapat.

Hening sejenak di dalam kamar kos yang sempit itu.

Satu detik... dua detik... tiga detik...

"Yesss! Mereka pergi!" teriak Alya kegirangan. Ia melompat ke atas kasurnya, tertawa puas melihat wajah ketakutan ibu tirinya yang biasanya selalu menindasnya tanpa ampun. "Ajaib! Ini benar-benar ajaib!"

> *[Hmph. Tentu saja ajaib. Siapa dulu yang berada di balik layar? Aku, Baby El! Rencana receh seperti itu bahkan tidak membutuhkan satu persen dari kapasitas otakku.]*

Alya tersenyum lebar, mengelus perutnya dengan penuh rasa sayang yang tiba-tiba membuncah. Rasa takut akan kehamilan tak direncanakan ini perlahan memudar, digantikan oleh rasa keterikatan yang kuat dengan sosok kecil di dalam rahimnya.

"Terima kasih ya, Sayang. Kamu benar-benar penyelamat Ibu," bisik Alya lembut.

Namun, kegembiraan Alya tidak bertahan lama saat suara Baby El kembali bergema, kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius.

> *[Ibu, jangan senang dulu. Fase pertama dari misiku baru saja dimulai. Dan tebak apa? Detak jantung dan pola energi yang sangat kukenal baru saja memasuki radius tiga ratus meter dari area ini.]*

Alya mengernyit heran. "Pola energi? Siapa?"

> *[Ayah biologisku yang dingin dan sombong itu. Devan Dirgantara. Dia sedang menuju ke arah sini dengan tiga mobil limosin hitam milik keluarganya. Tampaknya, dia berhasil melacak keberadaanmu setelah malam satu bulan yang lalu.]*

Mata Alya membelalak sempurna. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat mendengar nama itu.

"D-Devan?! Dia ke sini?! Untuk apa?!" pekik Alya panik setengah mati.

> *[Tenang, Ibu. Tarik napasmu. Ini adalah kesempatan emas kita. Misi pertama: Amankan status pernikahan kontrak dengan sang CEO dingin, demi masa depan susu formula premiumku! Bersiaplah, Ibu. Sang ayah tampanmu segera mengetuk pintu.]*

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!