Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Hadiah Pertama
Pintu ruang tindakan terbuka sebelum dokter sempat dipanggil.
Rayhan berbaring miring di ranjang, punggungnya tertutup perban putih tebal. Wajahnya lebih pucat daripada lampu ruangan. Namun saat melihat Keira masuk dengan kantong medis di tangan, ia masih bisa menarik sudut bibir seolah baru ketahuan mencuri permen, bukan menyembunyikan racun yang bisa menghancurkan tubuhnya dari dalam.
"Kau bangun," katanya.
Keira meletakkan kantong plastik berlabel S404 di atas meja logam.
Suara plastiknya pelan, tetapi cukup membuat dokter kepala menunduk.
"Jelaskan," kata Keira.
Dokter membuka mulut. Rayhan mendahuluinya.
"Itu kode internal rumah sakit."
Keira menatapnya. "Kode internal untuk apa? Luka bakar karena kebohongan?"
Rayhan terdiam.
Sinar berdiri di dekat pintu, tidak berani bernapas terlalu keras. Dokter kepala tampak seperti orang yang berharap lantai rumah sakit menelannya hidup-hidup.
"Bu Keira," dokter itu akhirnya berkata, "S404 bukan bahan kimia komersial. Kami belum memiliki protokol lengkap. Paparannya bisa masuk lewat kulit dan uap. Gejala awal pasien memang terlihat seperti luka bakar kimia, tapi..."
"Tapi apa?"
Rayhan menutup mata. "Dokter."
"Diam," potong Keira.
Satu kata itu membuat ruangan beku.
Dokter menelan ludah. "Tapi muntah darah menunjukkan reaksi sistemik. Kami belum bisa memastikan kerusakan organ tanpa pemeriksaan lanjutan yang lebih dalam."
Keira mengambil laporan palsu dari tasnya, lalu merobeknya menjadi dua tepat di depan wajah Rayhan.
"Ini bukan pemeriksaan lanjutan?"
Rayhan menatap kertas yang jatuh ke lantai. "Aku minta mereka menulis yang membuatmu tenang."
"Aku tidak pernah meminta kau membuatku bodoh."
"Aku hanya tidak ingin kau merasa bersalah."
Keira tertawa pelan. Suaranya tipis, tanpa humor. "Kau terkena racun yang dilemparkan untukku, lalu kau pikir aku akan lebih tenang kalau kau berbohong?"
Rayhan tidak menjawab.
Ia ingin mengatakan bahwa rasa bersalah Keira lebih ia takutkan daripada racun. Namun kalimat itu akan terdengar seperti permintaan belas kasihan, dan ia sudah terlalu banyak mengemis malam ini.
Keira berbalik ke dokter. "Pemeriksaan ulang. Semua. Jantung, paru-paru, saraf, darah. Saya tidak peduli berapa biayanya."
"Baik, Bu."
"Dan mulai sekarang, satu laporan pun tidak keluar dari ruangan ini tanpa saya baca lebih dulu."
Dokter mengangguk cepat.
Rayhan memejamkan mata. "Keira, aku bisa tanda tangan sendiri."
"Kau pasien yang menyuap dokter untuk berbohong. Hakmu untuk dipercaya sedang dirawat intensif bersama punggungmu."
Kalimat itu seharusnya pedas. Namun Rayhan malah tersenyum.
Keira melihatnya dan hampir melempar map ke wajahnya.
Pemeriksaan berlangsung sampai pagi. Rayhan beberapa kali hampir kehilangan kesadaran, tetapi setiap kali Keira berdiri, ia membuka mata lagi, seolah takut perempuan itu pergi kalau ia tidak berjaga. Keira tidak duduk di sisinya. Ia berdiri di dekat jendela ruang VIP, mantel hitam masih melekat di bahunya, rambutnya berantakan setelah malam panjang.
Pukul enam lewat sedikit, seorang kurir khusus dari bandara kecil mendaratkan paket pendingin di halaman belakang rumah sakit.
Nama pengirimnya Darren Liem.
Keira membuka kotak itu sendiri. Di dalamnya ada tiga tube salep dalam wadah steril abu-abu, tanpa merek dagang, hanya kode produksi dan stiker kecil bertuliskan penggunaan luka bakar kimia tingkat militer.
Morgan mengirim pesan bersamaan.
Pakai tipis. Jangan dekatkan ke mata atau mulut. Aku sudah kirim instruksi ke dokter. Kalau bajingan itu muntah darah lagi, telepon aku, bukan dokternya.
Keira membaca pesan itu dua kali, lalu mematikan layar.
Saat ia kembali ke ruang VIP, Rayhan sudah dipindahkan ke ranjang yang lebih nyaman. Punggungnya masih sakit, tetapi obat penenang membuat wajahnya lebih longgar. Dokter hendak mengoleskan salep pertama. Keira mengambil sarung tangan dari nampan.
"Saya saja."
Dokter ragu. "Bu, luka beliau..."
"Saya pernah melihat luka yang lebih buruk."
Rayhan menoleh perlahan. "Kau tidak perlu."
"Aku tahu."
"Kalau kau melakukannya karena merasa bersalah, jangan."
Keira memakai sarung tangan dengan gerakan rapi. Karet putih menempel di pergelangan tangannya. "Kalau kau bicara satu kalimat lagi, aku minta dokter menambah obat tidur."
Rayhan diam dengan patuh yang terlalu cepat.
Perawat membuka perban bagian luar. Keira sudah menyiapkan diri, tetapi napasnya tetap tertahan saat melihat luka di punggung Rayhan. Kulit yang biasanya bersih dan hangat kini merah gelap, beberapa bagian melepuh, sebagian lain seperti hangus tipis. Bau obat bercampur sisa logam masih ada, samar tetapi menusuk.
Rayhan menggenggam tepi bantal.
Ia tidak bersuara.
Keira mengambil salep dengan spatula steril. Tangannya tidak gemetar, tetapi dadanya terasa sempit.
"Sakit?"
"Tidak."
Keira menekan sedikit lebih dekat ke tepi luka.
Jari Rayhan mencengkeram bantal sampai buku jarinya memutih.
"Pembohong," katanya.
"Kalau aku bilang sakit, kau akan berhenti."
"Aku akan lebih hati-hati."
"Itu lebih buruk."
Keira berhenti sejenak.
Rayhan tertawa kecil, lalu batuk. Kali ini tidak ada darah, tetapi suara batuknya masih membuat Keira menegang.
"Kenapa lebih buruk?"
"Karena aku akan berharap."
Keira menatap punggungnya. Di antara perban, luka, dan bau obat, kata itu jatuh terlalu pelan.
Ia melanjutkan mengoleskan salep. Lebih hati-hati daripada sebelumnya, meski ia tidak mengakuinya.
"Ini dari Ko Darren," katanya.
"Militer?"
"Kau tahu dari kemasannya?"
"Aku tahu dari harganya. Rumah sakit biasa tidak menyimpan barang seperti ini."
"Jangan geer. Aku tidak membelinya untukmu. Aku membelinya agar kerusakan barang milikku tidak makin parah."
Rayhan menoleh sedikit. Matanya redup, tetapi hidup.
"Barang milikmu?"
"Pelayanku," koreksi Keira.
Senyum Rayhan muncul perlahan, lemah dan sangat bodoh untuk kondisi seseorang yang baru diserang racun.
"Ini hadiah pertama darimu sejak perceraian."
Keira membeku.
Spatula berhenti di atas kulitnya.
Rayhan menyesal begitu kalimat itu keluar. Ia seharusnya menyimpannya di dada, seperti semua hal lain yang terlambat ia sadari. Namun salep dingin di punggungnya, tangan Keira yang menahan dirinya agar tidak terlalu sakit, dan pagi pucat di luar jendela membuatnya lupa bahwa ia tidak punya hak menerima kelembutan.
"Rayhan," suara Keira rendah.
"Aku tahu." Ia menutup mata. "Aku tidak akan salah paham."
Tidak akan salah paham, tetapi ia sudah menyimpan momen itu seperti orang miskin menemukan koin emas di jalan.
Keira menyelesaikan salep tanpa berkata apa-apa.
Setelah dokter mengganti perban, Sinar masuk dengan wajah gelap. Ia menunggu sampai perawat pergi, lalu mendekat ke sisi ranjang.
"Tuan."
Rayhan membuka mata sedikit. "Bicara."
Keira memperhatikan panggilan itu.
Tuan.
Sinar biasanya memanggilnya Pak Rayhan di depan orang lain. Panggilan yang tergelincir barusan terlalu alami. Terlalu lama dipakai.
Sinar sadar, tetapi sudah terlambat menariknya kembali.
"Penyerang dari bar meninggal di ruang tahanan sementara Polda Metro Jaya," katanya.
Keira meletakkan tube salep di meja. "Meninggal?"
"Ditemukan kejang sebelum pemeriksaan lanjutan. Kamera mati selama empat menit. Petugas jaga mengaku lampu padam sebentar."
"Kebetulan yang rapi."
"Sangat rapi," jawab Sinar.
Rayhan mencoba duduk. Rasa sakit menamparnya begitu keras sampai napasnya tertahan. Keira menekan bahunya kembali ke bantal.
"Berbaring."
"Aku harus lihat laporannya."
"Kau baru saja hampir pingsan karena duduk."
"Sinar."
Sinar mengeluarkan tablet, tetapi tidak langsung memberikannya kepada Rayhan. Ia melihat Keira lebih dulu. Rayhan menangkap arah pandang itu dan menghela napas kecil.
"Berikan padanya."
Keira menerima tablet.
Di layar, ada foto pria penyerang, catatan masuk bar, rekaman buram, dan jejak transfer kripto yang sudah diputus di beberapa titik. Namun satu nama muncul di ujung laporan, bukan sebagai pelaku langsung, melainkan sebagai pemilik akses awal ke jalur penyimpanan sampel.
Harrison Liem.
Keira membaca nama belakang itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Ruangan terasa turun beberapa derajat.
"Harrison," katanya pelan.
Sinar menjawab dengan sangat hati-hati. "Putra Om Herman Liem. Menurut sumber kami, ia bekerja sebagai analis kontrak di unit yang punya akses ke inventaris riset pertahanan. Tiga sampel mikro S404 hilang dua minggu lalu. Jejak auditnya ditutup dari dalam."
"Om Herman," ulang Keira.
Nama itu tidak asing. Di keluarga Liem, Herman selalu muncul sebagai paman yang tersenyum sopan di hari raya, membawa hadiah mahal, lalu pulang lebih cepat dengan alasan bisnis. Ia bukan orang yang paling keras, bukan pula yang paling mencolok. Justru karena itu, ia sering luput dari perhatian.
Rayhan menatap wajah Keira. "Keira, jangan bergerak sebelum kita tahu..."
"Sebelum kita tahu apa? Bahwa keluargaku sendiri mencoba membunuhku?"
"Mereka mungkin mengincar aku."
Keira tertawa dingin. "Tabung itu dilempar ke wajahku."
Rayhan terdiam.
Sinar menunduk. "Ada hal lain."
Keira menatapnya.
"Setelah penyerang meninggal, seseorang mengirim pesan kosong ke ponselnya. Nomornya sekali pakai, tapi pola enkripsinya sama dengan jaringan yang pernah dipakai Nathan Wijaya."
Nama itu membuat udara ruangan makin berat.
Rayhan menutup mata.
Keira memegang tablet sampai ujung jarinya memutih. Semalam, Nathan berdiri tiga meter dari tangga dan tidak bergerak. Hari ini, pembunuh yang seharusnya memberi jawaban sudah mati.
"Koh Nathan bukan orang bodoh," katanya.
Tidak ada yang membantah.
"Kalau dia ingin aku melihat jejaknya, berarti ia ingin aku tahu. Kalau dia tidak ingin aku tahu, jejak ini terlalu mudah."
Rayhan membuka mata. Ada kebanggaan samar di dalamnya, cepat sekali muncul lalu hilang.
"Kau masih bisa berpikir jernih."
"Sayangnya kau tidak."
Keira meletakkan tablet di meja, lalu mengambil salep satu tube lagi dan memasukkannya ke tas kecil.
"Kau mau ke mana?" tanya Rayhan.
"Mencari tahu apakah Om Herman menjual nyawaku untuk kursi keluarga, atau ada orang lain yang memakai tangannya."
Rayhan memaksa tubuhnya bergerak. "Aku ikut."
Keira menoleh. Tatapannya turun ke perban tebal di punggungnya, ke bibir pucatnya, lalu kembali ke matanya.
"Kau?"
"Aku masih bisa..."
"Kau masih bisa berbaring dan tidak mati sebelum aku kembali."
Rayhan tersenyum lemah. "Perintah yang kejam."
"Pelayanku harus patuh."
Ia berjalan ke pintu.
"Keira."
Langkahnya berhenti.
"Jangan datang ke rumah Herman sendirian."
Keira tidak menoleh. "Aku tidak datang sebagai korban."
Di luar jendela, matahari pagi Jakarta naik di antara gedung-gedung, terlalu terang untuk malam yang belum selesai.
Keira membuka pintu.
"Aku datang sebagai Liem."