"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Pintu Yang Tak Pernah Terbuka
Siang itu, rumah keluarga Mahendra kembali dipenuhi suasana tenang.
Setelah memastikan Nyonya Siska meminum obat dan beristirahat, Ayla turun ke lantai satu bersama Pak Bima. Rumah yang semalam hanya sempat ia lihat sekilas, kini tampak jauh lebih luas.
Setiap sudut tertata rapi.
Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan bernuansa klasik, sementara rak kayu tinggi di ruang keluarga dipenuhi buku-buku yang tersusun berdasarkan kategori. Tidak ada barang yang diletakkan sembarangan.
Rumah ini begitu teratur.
Sangat mencerminkan pemiliknya.
"Tuan Arsen memang menyukai segala sesuatu yang rapi," ujar Pak Bima sambil berjalan pelan di samping Ayla. "Kalau ada vas bunga bergeser satu sentimeter saja, beliau pasti menyadarinya."
Ayla terkekeh kecil.
"Serius?"
Pak Bima mengangguk.
"Dulu saya juga tidak percaya. Sampai suatu hari salah satu pelayan tanpa sengaja memindahkan jam meja. Saat malam hari pulang bekerja, Tuan langsung bertanya siapa yang menggesernya."
Ayla spontan tertawa.
"Berarti pengamatannya tajam sekali."
"Ya."
"Tapi beliau tidak pernah marah hanya karena hal kecil. Tuan hanya ingin semuanya tetap pada tempatnya."
Kalimat terakhir itu membuat Ayla berpikir.
Mungkin... bukan rumah ini yang ingin Arsen jaga.
Mungkin ada sesuatu di masa lalunya yang membuat ia membutuhkan keteraturan agar hidupnya tidak kembali berantakan.
Mereka melanjutkan langkah menuju lorong belakang.
Di sisi kanan terdapat ruang baca.
Di sisi kiri ruang kerja.
Lalu ruang musik yang berisi sebuah piano hitam mengilap.
"Semua ruangan ini boleh saya gunakan?" tanya Ayla.
"Tentu, Nyonya."
Pak Bima tersenyum ramah.
"Tuan sudah berpesan bahwa rumah ini juga milik Nyonya."
Ayla mengangguk pelan.
Ucapan Arsen semalam kembali terngiang.
"Aku tidak menikah untuk menjadikanmu tamu."
Entah mengapa, setiap mengingat kalimat itu, hatinya terasa sedikit hangat.
Mereka terus berjalan hingga tiba di ujung lorong.
Di sana hanya ada satu pintu.
Berbeda dengan pintu lain yang berwarna putih gading, pintu itu terbuat dari kayu mahoni gelap dengan gagang berwarna hitam doff.
Tak ada hiasan.
Tak ada papan nama.
Hanya sebuah panel sidik jari dan kunci digital yang menyala redup.
Ayla berhenti.
"Ruangan apa ini?"
Pak Bima yang tadi berjalan santai mendadak ikut menghentikan langkah.
Tatapannya berubah.
Sedikit ragu.
"Itu..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Ayla."
Ayla menoleh cepat.
Arsen baru saja datang.
Ia masih mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Jasnya tidak lagi dipakai, membuat penampilannya terlihat lebih santai daripada biasanya.
Namun tatapannya langsung berhenti pada pintu di depan Ayla.
Untuk sesaat...
Sorot matanya berubah tajam.
"Apa yang sedang kalian lakukan?"
Pak Bima segera menundukkan kepala.
"Maaf, Tuan. Saya hanya sedang menunjukkan bagian-bagian rumah kepada Nyonya."
Arsen tidak menjawab.
Ia melangkah mendekat hingga berdiri di samping Ayla.
Tatapannya masih tertuju pada pintu itu.
"Ruangan ini tidak perlu dibuka."
Nada suaranya tetap tenang.
Tetapi kali ini terdengar lebih tegas daripada biasanya.
Ayla mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Arsen menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata,
"Karena belum waktunya."
Belum waktunya.
Bukan tidak boleh.
Bukan jangan pernah.
Melainkan...
belum waktunya.
Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Ayla semakin besar.
Namun ia memilih mengangguk.
"Baik."
Arsen menatap Ayla beberapa saat, seolah memastikan istrinya benar-benar menerima jawabannya.
Kemudian ia berkata pelan,
"Ikut aku."
__________________________________________
Mereka berjalan menuju taman belakang.
Angin siang berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mengelilingi gazebo kecil di tepi kolam ikan.
Arsen berhenti di sana.
"Kau marah?"
Pertanyaan itu membuat Ayla sedikit terkejut.
"Marah?"
"Karena aku tidak menjawab pertanyaanmu."
Ayla menggeleng pelan.
"Aku memang penasaran."
"Tapi aku percaya setiap orang punya sesuatu yang belum siap ia ceritakan."
Untuk pertama kalinya hari itu, Arsen benar-benar menatap wajah Ayla.
Tatapan yang lebih lama dari biasanya.
"Terima kasih."
Ayla tersenyum kecil.
"Aku juga belum banyak bercerita tentang hidupku."
"Jadi kita impas."
Ucapan itu membuat suasana yang semula canggung berubah lebih ringan.
Sudut bibir Arsen kembali terangkat tipis.
Sangat tipis.
Namun kali ini Ayla berhasil melihatnya dengan jelas.
"Ternyata..."
gumam Ayla tanpa sadar.
"Apa?"
"Kamu bisa tersenyum."
Arsen langsung berdeham pelan.
"Jarang."
"Lumayan."
"Apa?"
"Kalau sering senyum, pasti lebih enak dilihat."
Beberapa detik suasana hening.
Lalu...
Arsen menggeleng kecil sambil mengembuskan napas, seolah baru saja menyerah menghadapi kepolosan istrinya.
"Kalau begitu..."
ucapnya pelan.
"Mungkin aku harus belajar."
Jantung Ayla berdegup sedikit lebih cepat.
Bukan karena kata-kata itu terdengar romantis.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, Arsen menunjukkan keinginan untuk berubah.
Bukan demi dirinya sendiri.
Melainkan demi wanita yang baru beberapa hari menjadi istrinya.
___________________________________________
Sore mulai berganti malam.
Di ruang kerjanya, Arsen berdiri memandangi jendela.
Ponselnya kembali berdering.
Nama yang muncul di layar membuat wajahnya kembali serius.
Raka.
Ia mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?"
Suara di seberang terdengar tergesa.
"Tuan... saya baru mendapat kabar. Ada seseorang yang mulai mencari informasi tentang kejadian lima tahun lalu."
Arsen memejamkan mata.
Rahangnya mengeras.
"Pastikan mereka tidak sampai menemukan dokumennya."
"Baik, Tuan."
Telepon terputus.
Arsen menatap langit malam yang mulai gelap.
Lalu lirih berbisik pada dirinya sendiri,
"Belum sekarang..."
"Ayla belum boleh mengetahui semuanya."
Bersambung...