NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Pertama Kali Dekat

Hari itu, Senja menari lebih keras daripada biasanya.

Ko Jefri menyadarinya sejak pemanasan. Gerakan Senja bersih, hitungannya tepat, tetapi ada sesuatu yang terlalu tajam di ujung tangannya. Seperti setiap putaran bukan untuk mengikuti musik, melainkan untuk mengusir sesuatu dari tubuhnya.

"Senja," panggil Ko Jefri setelah pengulangan ketiga. "Berhenti."

Musik dimatikan.

Senja berdiri di tengah ruang latihan, napas naik turun. "Aku masih bisa."

"Aku tidak bertanya apakah kamu bisa."

Lara yang duduk di dekat speaker menatap Senja dengan cemas. "Kamu kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Kalimat itu dilarang oleh suamimu, ingat?"

Biasanya Senja akan tersenyum mendengar Lara memakai Rayhan sebagai senjata. Hari itu tidak.

Dia hanya mengambil botol air dan minum terlalu cepat.

Ko Jefri melipat tangan. "Istirahat sepuluh menit."

Penari lain mulai menyebar. Lara mendekati Senja, tetapi ponsel Senja bergetar di lantai sebelum Lara sempat bicara. Nama Serena muncul di layar.

Senja tidak mengangkat.

Pesan masuk.

Serena: Senang sekali jadi korban di depan semua orang?

Lalu foto.

Foto lama.

Senja kecil berdiri di sudut ruang tamu Liem, memakai gaun kuning pucat yang kebesaran. Di tengah foto, Serena meniup lilin ulang tahun. Papa Liem dan mendiang Mama Liem berdiri di belakang Serena. Senja ada di pinggir, separuh tubuhnya terpotong bingkai, tersenyum hati-hati seperti anak yang takut mengambil terlalu banyak ruang.

Serena mengirim pesan kedua.

Serena: Bahkan di rumah ini, kamu selalu cuma tambahan.

Pesan ketiga datang sebelum Senja sempat bernapas.

Serena: Jangan sok punya tempat di Wijaya. Orang seperti kamu hanya dipakai sampai tidak berguna.

Lara membaca wajah Senja, bukan layar. "Sen?"

Senja mematikan ponsel.

"Aku mau latihan lagi."

"Tidak," kata Ko Jefri.

"Ko, tolong nyalakan musik."

"Senja."

Suaranya tidak keras, tetapi seluruh ruangan berhenti.

Senja menatap Ko Jefri. Matanya tidak basah. Justru terlalu kering.

"Kalau aku berhenti sekarang, aku akan memikirkan hal yang tidak ingin kupikirkan."

Ko Jefri terdiam.

Lara mengulurkan tangan. "Kalau begitu pikirkan bareng aku."

Senja menggeleng.

Dia tahu Lara akan memeluknya. Tahu Ko Jefri akan memberinya ruang. Tahu mereka tidak akan menertawakan lukanya. Namun hari itu, rasa malu lebih cepat daripada keberanian.

"Aku butuh satu kali lagi," katanya.

Ko Jefri akhirnya memberi isyarat kepada penari lain untuk keluar lebih dulu. "Satu kali. Setelah itu selesai."

Musik menyala.

Senja menari sendirian.

Gerakannya dimulai pelan, dari tangan yang membuka seperti kelopak. Lalu tubuhnya turun, lutut menekuk, punggung melengkung sedikit. Musik naik. Dia berputar, sekali, dua kali, lalu menahan tangan di udara seperti seseorang yang meminta ditarik keluar dari air.

Di cermin, dia melihat dirinya kecil lagi.

Gaun kuning kebesaran.

Lilin ulang tahun yang bukan miliknya.

Serena di tengah foto.

Dirinya di pinggir.

Selalu di pinggir.

Hitungan terakhir belum selesai ketika napas Senja patah.

Dia berhenti di tengah gerakan, tangan masih terangkat. Bahunya bergetar sekali. Lalu sekali lagi.

Air mata jatuh tanpa suara.

Lara berdiri, tetapi Ko Jefri menahan lengannya pelan. "Tunggu."

Senja menurunkan tangan. Dia tidak menangis keras. Justru karena tidak ada suara, ruangan terasa lebih sakit. Dia berjalan ke sudut dekat jendela, duduk di lantai, lalu memeluk lutut.

Latihan selesai tanpa ada yang mengatakan selesai.

Ko Jefri meminta semua orang pulang lebih dulu. Lara menolak, tetapi Senja berkata pelan, "Aku butuh sebentar. Tolong."

Lara akhirnya pergi dengan wajah yang jelas tidak rela. "Aku tunggu di kedai kopi bawah. Kalau sepuluh menit kamu tidak turun, aku naik lagi."

Senja mengangguk.

Namun sepuluh menit menjadi dua puluh.

Lalu tiga puluh.

Di luar, langit Jakarta mulai gelap. Lampu ruang latihan menyala setengah, membuat cermin tampak seperti jendela ke tempat yang lebih sepi. Senja masih duduk di lantai, ponselnya mati di sampingnya, foto lama itu seperti tertinggal di belakang kelopak matanya.

Pintu sanggar terbuka.

Dia mengira Lara kembali.

"Senja."

Suara Rayhan.

Senja cepat mengusap wajah, tetapi terlambat. Rayhan sudah melihat semuanya: mata merah, pipi basah, tubuh yang terlalu lelah untuk pura-pura.

Dia berdiri di ambang pintu beberapa detik.

Tidak bertanya kenapa kamu menangis dengan nada menuduh. Tidak berkata jangan menangis. Tidak menyuruhnya berdiri.

Dia masuk, menutup pintu pelan, lalu berhenti beberapa langkah darinya.

"Pak Hadi bilang kamu belum turun."

Senja menunduk. "Aku akan turun."

"Tidak sekarang."

"Aku tidak apa-apa."

Rayhan diam.

Kalimat itu biasanya akan dia larang. Hari ini, mungkin dia tahu larangan pun bisa terdengar seperti beban.

Dia melepas jasnya, meletakkannya di lantai tidak jauh dari Senja, lalu duduk di tepi panggung kecil yang dipakai untuk latihan level. Jarak mereka masih ada. Tetapi dia tidak berdiri di atasnya seperti hakim.

Dia duduk.

Senja menatapnya, bingung.

"Kenapa duduk di lantai?"

"Kamu di lantai."

Jawaban itu terlalu sederhana.

Air mata Senja jatuh lagi, kali ini karena alasan yang lebih sulit dijelaskan.

Rayhan mengambil saputangan dari saku, mengulurkannya.

Senja menerimanya. Kainnya putih, bersih, beraroma cendana samar.

"Serena?" tanya Rayhan.

Senja menggenggam saputangan. "Bagaimana kamu tahu?"

"Karena setiap kali kamu terlihat seperti ini, namanya ada di sekitar."

Kalimat itu tidak lembut, tetapi benar.

Senja menatap ponsel mati di lantai. "Dia mengirim foto lama."

Rayhan tidak meminta melihat.

Itu membuat Senja lebih mudah bicara.

"Ulang tahunnya. Aku berdiri di pinggir. Aku bahkan lupa foto itu ada." Dia tertawa kecil tanpa suara. "Lucu, ya? Aku sudah dewasa. Sudah menikah. Sudah duduk di meja gala dengan orang-orang penting. Tapi satu foto lama bisa membuatku merasa seperti anak kecil yang tidak tahu harus berdiri di mana."

Rayhan mendengarkan.

Di luar, suara motor dari jalan raya terdengar jauh.

"Di rumah Liem," lanjut Senja, "aku selalu diajari berterima kasih. Untuk kamar. Untuk sekolah. Untuk makanan. Untuk pakaian. Kalau aku sakit, aku harus minta maaf karena merepotkan. Kalau Serena marah, aku harus mengalah karena dia anak kandung."

Napasnya bergetar.

"Aku capek, Rayhan."

Rayhan menatapnya.

"Capek jadi orang yang harus bersyukur karena dibiarkan tinggal. Capek menjadi tambahan di foto keluarga orang lain. Capek mendengar kata keluarga hanya keluar saat mereka butuh sesuatu dariku."

Kata-kata itu akhirnya pecah.

Senja menutup wajah dengan saputangan, bahunya bergetar. Tangisnya tidak lagi bisa ditahan.

Rayhan bergerak sedikit, seperti hendak mendekat, lalu berhenti.

"Boleh aku duduk di sana?"

Senja menurunkan saputangan. Matanya basah saat menatapnya.

Dia bertanya.

Rayhan Wijaya, yang biasa masuk ke ruangan seperti pemilik dunia, bertanya apakah boleh mendekat.

Senja mengangguk kecil.

Rayhan turun dari tepi panggung dan duduk di lantai, tidak terlalu dekat, tetapi cukup dekat sampai bahu jasnya hampir menyentuh lengan Senja.

Dia tidak memeluknya.

Tidak menyentuhnya tanpa izin.

Hanya duduk di sana, di lantai sanggar yang tidak cocok dengan harga sepatunya, menemani Senja menangis.

Beberapa menit berlalu.

Ketika tangis Senja mulai mereda, Rayhan berkata, "Kamu bukan tambahan."

Suaranya rendah.

"Kamu juga bukan barang yang dipakai sampai tidak berguna."

Senja menutup mata.

"Mereka membuatmu percaya begitu karena lebih mudah memakai orang yang terus merasa berutang."

Kalimat itu tepat, terlalu tepat.

"Aku memang berutang," bisik Senja.

"Tidak untuk seluruh hidupmu."

Dia menoleh.

Rayhan menatap cermin di depan mereka, bukan langsung ke wajahnya. Mungkin agar Senja tidak merasa ditelanjangi oleh tatapan.

"Kalau seseorang memberimu makan saat kecil, itu tanggung jawab orang dewasa. Bukan kontrak yang membuatmu harus menyerahkan masa depan."

Senja menangis lagi, tetapi kali ini lebih pelan.

Tidak ada yang pernah mengatakannya seperti itu.

Rayhan akhirnya menoleh. "Mulai sekarang, kalau Serena mengirim sesuatu seperti itu, kirim padaku."

Senja menggeleng lemah. "Kamu tidak perlu melawan semua lukaku."

"Aku tidak bilang semua."

"Lalu?"

"Yang masih berani datang."

Jawaban itu membuat Senja tertawa di tengah sisa tangis. Suaranya kecil, pecah, tetapi nyata.

Rayhan menatapnya, dan untuk pertama kalinya, dingin di wajahnya tidak tampak seperti dinding. Lebih seperti sesuatu yang dia pakai karena tidak tahu cara lain menjaga dunia tetap jauh.

"Aku jelek sekali sekarang," gumam Senja sambil mengusap pipi.

"Iya."

Senja membeku.

Rayhan melanjutkan datar, "Matamu merah, hidungmu juga."

"Kamu seharusnya bilang tidak."

"Aku tidak pandai berbohong."

Senja menatapnya dua detik, lalu tertawa lagi. Kali ini lebih jelas.

Rayhan mengambil botol air dari tas kecil yang dibawa Pak Hadi dan menyerahkannya.

"Minum. Setelah itu kita pulang."

"Aku belum siap bertemu Lara. Dia pasti panik."

"Kita turun lewat pintu samping."

"Kamu sudah mengatur?"

"Pak Hadi."

Senja menghela napas, tetapi tidak marah. "Tentu saja."

Dia minum sedikit. Airnya biasa saja, tidak hangat, tidak diberi jahe, tetapi tangannya tidak lagi gemetar sekeras tadi.

Sebelum berdiri, Senja menatap ruang latihan yang kosong. Cermin besar masih memantulkan dua orang duduk di lantai: seorang perempuan dengan mata merah dan seorang pria bersepatu mahal yang terlihat sangat tidak pada tempatnya.

Anehnya, pemandangan itu membuatnya merasa sedikit lebih utuh.

"Rayhan."

"Hm?"

"Terima kasih sudah bertanya sebelum duduk."

Rayhan berdiri, lalu mengulurkan tangan kepadanya.

"Aku sedang belajar."

Senja menatap tangan itu.

Kali ini, dia menerimanya.

Telapak tangannya masih dingin, tetapi genggaman Rayhan tidak membuatnya ingin menarik diri.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!