Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Ujian Sambal
Raka bangun pagi dengan wajah orang yang ingin menarik kembali keputusan semalam.
Sayangnya, Bayu sudah menunggu di teras dengan senyum terlalu lebar.
"Hari ini ujian sambal."
Raka menatapnya datar. "Kamu tidak punya kegiatan lain?"
"Punya. Mendukung sahabat menemukan batas hidupnya."
Ayu keluar dari dapur membawa nampan berisi sarapan dan langsung melihat wajah Raka. Ia menahan tawa.
"Kak Raka masih bisa mundur."
"Tidak." Raka menarik napas. "Saya sudah bilang akan coba."
"Gengsi laki-laki kadang mahal."
"Saya mulai menyadarinya."
Nenek Sari menyiapkan sambal lado hijau asli di mangkuk kecil. Bukan versi restoran untuk tamu Jakarta. Bukan versi aman yang selama ini diberikan kepada Raka. Ini sambal rumah: cabai hijau, bawang, tomat hijau, garam, sedikit perasan jeruk, ditumbuk kasar dengan minyak panas yang membuat aromanya langsung naik ke hidung.
Bayu mencium aromanya dan langsung mundur. "Aku hanya panitia, bukan peserta."
"Pengecut," gumam Raka.
"Aku realistis."
Mamak Darto kebetulan datang pagi itu untuk mengambil pesanan rendang kecil. Begitu mendengar ada `ujian sambal`, ia memilih duduk di teras, jelas lebih tertarik daripada yang mau ia akui.
"Orang Jawa mau coba sambal rumah?" tanya Mamak.
Raka menunduk sopan. "Iya, Mamak. Sedikit saja."
"Bagus. Jangan banyak-banyak kalau belum kenal."
Nenek Sari meletakkan sepiring nasi hangat, telur dadar, dan sedikit sambal di depan Raka. Ayu menyiapkan air putih, irisan timun, dan teh manis dingin sebagai pengaman. Raka melihat semua itu.
"Kenapa seperti ada tim medis?"
"Karena kami sayang nyawamu," kata Bayu.
Raka mengambil sedikit nasi, menyentuhkannya ke sambal, lalu memasukkannya ke mulut.
Satu detik.
Dua detik.
Awalnya wajahnya tetap tenang.
Lalu matanya berkaca-kaca.
Ayu langsung mencondongkan badan. "Kak Raka?"
Raka mengangkat satu tangan, meminta waktu. "Saya... baik."
Suaranya berubah serak.
Bayu menutup mulut dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar menahan tawa. Dian yang masih di rumah karena belum tega pulang juga ikut menatap dengan campuran kasihan dan hiburan. Arif sudah mendorong gelas teh manis lebih dekat.
Raka mencoba menelan dengan anggun.
Gagal.
Air mata turun dari sudut matanya.
Nenek Sari panik setengah tertawa. "Minum, Nak. Jangan keras kepala."
"Saya baik," ulang Raka, tapi tangannya sudah mengambil gelas.
Ia minum. Salah. Air putih membuat pedasnya menyebar. Matanya melebar.
Ayu cepat-cepat menyodorkan timun. "Makan ini."
Raka menurut. Ia mengunyah timun dengan wajah orang yang baru memahami penderitaan baru.
Bayu akhirnya meledak tertawa.
"Rak, lo menangis karena sambal! Ini akan jadi cerita pernikahan."
Semua orang terdiam satu detik.
Bayu sadar terlambat.
"Maksudku cerita keluarga. Cerita keluarga."
Ayu pura-pura mengambil piring. Raka menunduk, telinganya merah meski wajahnya juga merah karena pedas.
Mamak Darto tidak tertawa sekeras yang lain. Ia memperhatikan Raka yang masih mencoba duduk tegak, tidak marah, tidak tersinggung, tidak menyalahkan siapa pun. Setelah napasnya agak normal, Raka mengambil sedikit nasi tanpa sambal dan berkata dengan suara parau, "Rasanya enak. Saya saja yang belum kuat."
Nenek Sari langsung melunak. "Nah. Itu jawaban benar."
Mamak Darto mengangguk kecil. "Orang yang tahu batasnya masih bisa belajar."
Ayu mendengar kalimat itu dan menoleh kepada Mamak. Ada nada pengakuan di sana. Tidak besar, tidak terang-terangan, tapi cukup.
Setelah sarapan dramatis itu, Raka tetap membantu membawa pesanan rendang ke motor Mamak. Bayu mengikutinya sambil masih tertawa kecil.
"Lo yakin masih hidup?"
"Sayangnya iya."
"Mau coba lagi besok?"
"Aku akan memblokirmu."
Mamak Darto mengikat kotak rendang di jok motor, lalu berkata kepada Raka, "Besok lusa ada acara adat kecil di rumah kerabat. Kalau tidak sibuk belajar, datang. Duduk saja, dengar. Tidak usah banyak bicara."
Raka terlihat terkejut. "Saya boleh ikut, Mamak?"
"Kalau tidak boleh, Mamak tidak ajak."
"Terima kasih."
Mamak menyalakan motor, lalu menambahkan, "Dan jangan makan sambal banyak sebelum acara. Nanti wajahmu merah, orang kira demam."
Bayu tertawa lagi. Raka hanya bisa pasrah.
Undangan itu membuat Ayu diam beberapa saat. Bagi Mamak Darto, mengajak Raka hadir lagi bukan sekadar basa-basi. Itu tanda bahwa laki-laki dari Jakarta ini tidak lagi hanya dipandang sebagai tamu panjang. Ia mulai dianggap cukup serius untuk belajar di ruang keluarga.
Raka sendiri tampaknya mengerti sebagian maknanya. Setelah motor Mamak menjauh, ia berdiri di halaman sambil menatap jalan.
"Itu kabar baik, kan?" tanyanya pelan.
Ayu berdiri di sampingnya, masih memegang serbet dapur. "Kalau Mamak mengajak lagi, berarti Kak Raka tidak gagal ujian adat pertama."
"Walau gagal ujian sambal?"
"Ujian sambal tidak masuk penilaian resmi."
Raka menghela napas lega secara berlebihan, membuat Ayu tertawa.
"Tapi jangan terlalu senang," lanjut Ayu. "Acara adat butuh banyak duduk, banyak mendengar, dan jangan salah jawab kalau ditanya."
"Jadi seperti sidang?"
"Lebih sulit. Di sidang, ada aturan tertulis. Di adat, aturan tertulisnya ada di kepala orang tua."
Raka mengangguk serius. "Berarti saya harus belajar lebih banyak."
Ayu menatapnya. Setelah semua tawa karena sambal, laki-laki itu tetap kembali pada kalimat yang sama. Belajar. Bukan pamer. Bukan menaklukkan. Belajar.
Siang menjelang, Dian dan Arif akhirnya bersiap pulang. Bayu juga harus kembali ke Padang untuk bertemu temannya sebelum ke Jakarta. Rumah yang sejak kemarin terlalu ramai perlahan mereda. Dian memeluk Ayu lama di teras.
"Aku masih pegang kalimatku," bisiknya.
"Yang mana? Kamu terlalu banyak bicara."
"Jangan sampai lepas."
Ayu mencubit pelan lengan Dian, tapi tidak membantah.
Setelah semua tamu pergi, rumah terasa lebih sunyi. Raka kembali ke ruang belajar, masih membawa sisa malu akibat sambal. Ayu masuk dapur untuk merapikan piring. Nenek Sari duduk di meja makan, membuka WhatsApp dengan kacamata di ujung hidung.
"Ayu."
"Iya, Nek?"
"Besok malam Fajar mau datang makan."
Ayu menoleh. "Fajar siapa?"
"Anak kenalan Nenek. Orangnya baik. Kerja di Bukittinggi. Keluarganya juga baik."
Ayu memegang piring lebih erat. "Nek..."
Nenek tersenyum terlalu polos.
"Cuma makan. Tidak ada salahnya kenal orang baik."
"Nenek sedang menjodohkan Ayu?"
"Nenek sedang membuka pilihan."
"Pilihan apa?"
Nenek melirik ke arah ruang belajar, lalu kembali menatap Ayu. Suaranya menurun, tidak lagi bercanda. "Kalau kamu dan Raka hanya saling menunggu tanpa berani bicara, hidup tidak akan ikut menunggu. Kadang hati perlu didorong sedikit supaya tahu arah."
Ayu terdiam.
"Fajar anak baik," lanjut Nenek. "Kalau kamu tidak suka, bilang. Tapi jangan terus bersembunyi di balik kata tamu."
Dari ruang belajar, suara Raka membalik halaman terdengar berhenti.
Ayu menoleh ke arah pintu.
Ia tidak tahu apakah Raka mendengar.
Tapi mendadak, rumah yang baru saja sunyi terasa penuh lagi.