Meizura terpaksa memenuhi permintaan ayahnya untuk menjadi gadis penebus hutang. Awalnya dia berpikir akan dijadikan wanita simpanan oleh Armano Davies. Akan tetapi siapa sangka, dirinya justru dinikahkan dengan putranya yakni William Davies, pria yang dikabarkan meninggal beberapa bulan lalu.
"K_kau masih hidup?" tanya Maizura tak percaya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyakinkan penglihatannya.
William Davies menatap Meizura tajam. Dia tak suka wanita yang cerewet. "Diam! Jangan banyak bertanya. Kau hanya gadis penebus hutang," kata William penuh penekanan.
Setelah menikah dengan William, hidup Meizura mulai berubah. Banyak hal yang terjadi hingga suatu saat Meizura mengetahui fakta lain yang di sembunyikan oleh suaminya. Bagaimana kelanjutannya? Simak kisah mereka di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kelelahan
Meizura benar-benar memusatkan seluruh waktunya hanya untuk bekerja. Dia ingin semuanya segera selesai agar dia bisa pulang. Ini sudah hari ke 3 Meizura berada di kota itu. Sejujurnya dia suka kota itu, hanya saja dia merasa tak nyaman. Sejak setelah pertemuannya dengan Tuan Abraham dan Tuan Sheron, Meizura merasa sangat tidak nyaman. Setiap pagi, ada saja yang mengirim buket bunga ke kamar hotelnya. Tentu saja hal ini membuat Meizura kesal.
"Nancy, jika pagi ini ada bunga lagi, langsung kembalikan pada kurirnya saja. Aku tidak mau menerima bunga bunga itu."
"Baik, Nyonya."
Meizura sekarang sedang duduk di kursi sofa yang menghadap ke balkon. Ponselnya bergetar dan menampilkan nama Suami di layarnya.
"Halo?"
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Hanya duduk di dalam kamar hotel. Nanti pukul 12 aku akan ke proyek lagi."
"Jangan terlalu menforsir tenagamu. Kau bisa mengandalkan Nancy dan juga Maureen."
"Aku tidak bisa. Bukannya aku tidak percaya pada mereka, tapi aku benar-benar tidak terbiasa dengan semua hal ini. Aku sudah terbiasa mengandalkan diriku sendiri sejak aku kecil. Maka sekarang pun aku tidak bisa bergantung pada orang lain, Liam."
Tak ada jawaban terdengar dari William. Meizura mendesah berat. Dia mungkin telah menyinggung William sekarang.
"Kau marah?"
"Tidak. Aku hanya berpikir kau mungkin akan kelelahan karena kesibukanmu."
"Ya, aku memang sedikit lelah dan kepalaku juga pusing."
"Jika begitu tidak perlu ke proyek lagi. Aku akan secepatnya menyelesaikan urusanku dan segera kembali. Agar Elliot juga bisa membantumu mengurus pekerjaan di luar kota."
"Tapi, Liam!"
"Ikuti saja perintahku. Kesehatanmu lebih penting."
"Hmm, ya. Baiklah. Ngomong-ngomong sebenarnya kau itu pergi kemana? Kenapa jarang sekali memberiku kabar? Kau tidak sedang menduakan aku kan?"
"Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak akan melakukan apa yang ada di pikiranmu, Mei. Sudah ya, jangan terlalu banyak berpikir. Kita akan segera bertemu."
Setelah sambungan telepon keduanya terputus. Meizura menyandarkan kepalanya di sofa. Sepertinya dia memang sedang drop.
Meizura memejamkan matanya sembari memijat pelipisnya yang berdenyut. Saat Meizura akan terpejam, terdengar ketukan pintu kamarnya. Meizura dengan enggan berdiri untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, Meizura dikejutkan dengan keberadaan William. Ditambah lagi, sekarang Pria itu membawa sebuket besar bunga lily pink.
"Ayo masuk." William menekan tuas kursi rodanya dan mengikuti langkah Meizura ke dalam. William bisa melihat walau sekilas, Meizura terlihat pucat.
"Apa kau membutuhkan dokter?" tanya William. Meizura tersenyum tipis dan menggeleng lemah.
"Tidak. Tidak perlu. Aku hanya perlu beristirahat."
"Baiklah, Jika begitu ayo tidur."
"Tidur? Lalu bagaimana denganmu?"
"Ya aku juga tidur. Kau pikir hanya kau saja yang lelah?"
Meizura kehabisan kata kata untuk melawan Wiliam. Dia membantu William berpindah ke ranjang dan lalu setelah itu, Meizura memindahkan kursi roda William ke samping tempat tidur.
"Liam, bagaimana jika ada orang yang mengenalimu tadi?"
"Tidak akan. Aku sudah menyamar tadi. Tidak akan ada yang mengenaliku."
"Oh, baiklah. Meizura merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan dia tidur menghadap William.
"Liam, kemana kamu selama ini?"
"Kenapa memangnya? Apa kau merindukanku?" tanya William setengah menggoda Meizura. Wajah Gadis itu memerah karena malu.
"Jawab aku, Mei. Kau merindukan aku kan?" desak William tak sabar.
Meizura mengangguk singkat. "Ya, aku merindukanmu."
"Bagus. Memang seperti itu lah seharusnya. Aku juga merindukanmu," bisik William lirih, dia memagut bibir Meizura sesaat. Lalu tak lama William mengajak Meizura tidur, Meski hari masih pagi. Keduanya tidur saling berpelukan.
...****************...
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘