NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 datang lagi

Pagi itu, sebuah mobil berwarna putih perlahan memasuki area drop off gedung tempat Saka bekerja.

Di bagasi belakang tersimpan beberapa kotak berisi sampel rangkaian bunga yang telah disiapkan Ibusya Flower Studio sejak pagi.

Sarah mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke sampingnya "Wulan."

"Iya, Kak?"

"Semua sampelnya udah dicek lagi, kan?"

Wulan mengangguk pelan. "Udah dongs Kak. Tadi sebelum berangkat aku juga sempat cek sekali lagi."

Sarah tersenyum kecil. "Bagus."

Ia membuka pintu mobil lebih dulu, disusul Wulan yang segera mengambil salah satu kotak sampel bunga dari kursi belakang."Hati-hati, jangan sampai miring."

"Iya, Kak." Setelah memastikan semua kotak sudah dibawa turun, Wulan mendongak menatap gedung tinggi yang berdiri megah di hadapannya.

Entah kenapa Datang ke tempat ini untuk kedua kalinya terasa sangat berbeda Kalau beberapa hari yang lalu ia datang hanya untuk mengantarkan berkas.

Hari ini ia datang membawa hasil kerja kerasnya sendiri.

Rangkaian bunga yang ia buat bersama tim Ibusya akan dipresentasikan kepada klien Tanpa sadar, Wulan mengembuskan napas pelan.

"Kenapa?" tanya Sarah.

"Nggak tahu, Kak." Wulan tersenyum kecil."Agak deg-degan nih jantung ku'

Sarah terkekeh pelan. "Deg-degan ketemu klien?"

Wulan menggeleng. " no no no"

"Terus?"

"Takut kliennya nggak suka sama rangkaian bunganya."

Sarah menatap Wulan beberapa saat sebelum tersenyum hangat. "Kalau kamu sendiri udah yakin sama hasilnya?"

Wulan mengangguk mantap. "Yakin dongg"

"Yaudah." Sarah menepuk pelan bahu Wulan.

"Berarti tinggal bikin kliennya ikut yakin."

Kalimat itu berhasil membuat Wulan tersenyum lebih lebar."Iya juga, ya."

"Yuk."Sarah mengangguk ke arah pintu utama gedung. "Kita masuk."

Wulan mengangguk pelan." lets goo"

Keduanya berjalan berdampingan menuju pintu utama sambil membawa kotak-kotak sampel bunga.

Begitu pintu kaca otomatis terbuka, hawa sejuk langsung menyambut mereka, Lobi gedung masih terlihat ramai oleh para karyawan yang baru datang bekerja.

Beberapa orang berlalu-lalang dengan pakaian formal, sementara suara langkah kaki dan percakapan pelan memenuhi ruangan.

"Selamat pagi." Suara ramah dari meja resepsionis membuat Sarah dan Wulan menoleh bersamaan,

Resepsionis itu langsung tersenyum ramah begitu melihat mereka.

"Selamat pagi," balas Sarah sambil tersenyum.

"Saya Sarah dari Ibusya Flower Studio. Hari ini kami ada meeting dengan tim Pak Saka."

Resepsionis itu segera mengecek daftar jadwal di layar komputernya. "Iya, Bu. Meeting dengan tim Creative dan klien pukul sembilan, ya?"

"Betul."

"Baik, Bu. Pak Saka sudah memberi arahan kalau Ibu Sarah dan Mbak Wulan langsung dipersilakan ke ruang meeting."

Sarah dan Wulan kemudian berjalan menuju area tunggu, Beberapa kotak sampel bunga mereka letakkan dengan hati-hati di samping sofa.

Belum sampai satu menit, Terdengar langkah kaki mendekat dari arah lift. "Wah, udah datang."

Suara yang terdengar begitu familiar membuat Wulan spontan menoleh "Kak Nara."

Nara tersenyum lebar. "Selamat pagi."

"Pagi, Kak."

Nara menghampiri mereka, lalu menyalami Sarah terlebih dahulu. "Selamat pagi, Bu Sarah."

"Pagi juga, Nara."

Setelah itu, pandangannya beralih kepada Wulan.

"Gimana? "Nggak nyasar lagi, kan?"

Wulan langsung mengerucutkan bibirnya. " gausah diingetin lagi kali kaa"

Nara tertawa kecil. "Soalnya ada yang pernah muter satu putaran gara-gara kelewatan belok."

Wulan langsung menutup wajahnya sebentar.

"Ih malu tau ka "

Sarah yang belum pernah mendengar cerita itu menatap keduanya bergantian."Nyasar?"

Nara mengangguk semangat. "Iya, Bu. Waktu pertama kali ke sini—"

"stoooopp!" Wulan buru-buru memotong ucapan Nara."Cukup."

Nara justru tertawa semakin lepas."Baik, baik rahasia."

Melihat wajah Wulan yang sudah mulai memerah, Sarah hanya tersenyum geli. "Udah, jangan digodain terus."

"Iya, Bu."Nara mengangguk patuh, meski senyumnya belum juga hilang. "Oke, saya bantu bawa sampelnya, ya."

"Nggak usah, Kak. Aku masih kuat."

"Yakin?"

"Iya." Baru saja Wulan hendak mengangkat salah satu kotak.

Seseorang lebih dulu mengambil kotak yang berada di sampingnya, Refleks Wulan menoleh.

"S-selamat pagi, Kak."

Saka mengangguk pelan. "Pagi."

Hari itu ia mengenakan kemeja putih dengan jas abu-abu muda yang membuat penampilannya terlihat semakin rapi.

Tatapannya kemudian beralih ke kotak sampel bunga yang kini berada di tangannya."Yang ini saya bawa."

Wulan sedikit panik. "Eh, Kak... nggak usah. Biar aku aja."

"Nggak apa-apa." Jawaban Saka singkat seperti biasanya.

Sebelum Wulan sempat membalas, Saka sudah lebih dulu melangkah menuju lift sambil membawa kotak tersebut.

Wulan hanya bisa berdiri mematung beberapa detik.

Nara melirik wajah Wulan yang masih bengong, lalu menyenggol pelan lengannya. "Tuh kann"

"Apanya?"

"Kurang baik apa lagi coba?"

Wulan langsung berdeham kecil. "Biasa aja kali."

Nara mengangguk pelan sambil menahan senyum. " oalah Biasa toh, Tapi yang bawain sampelnya CEO."

Wulan langsung melotot. "Kak Nara!"

"Hahaha..." Suara tawa Nara memenuhi lobi.

Sementara di depan sana, tanpa menoleh sedikit pun, sudut bibir Saka perlahan terangkat membentuk senyum tipis.

Pintu lift terbuka di lantai delapan.

Saka keluar lebih dulu sambil membawa kotak sampel bunga, disusul Sarah, Wulan, dan Nara.

Beberapa karyawan yang sedang berjalan di koridor langsung menoleh.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi, Pak."

Saka hanya mengangguk singkat membalas sapaan mereka Namun, perhatian beberapa orang justru beralih kepada dua tamu yang berjalan di belakangnya.

" itu yang kerja sama kita buat project launching."

"Yang kemarin datang juga, kan?"

"Iya, yang bawa berkas."

Wulan yang mendengar bisikan samar itu hanya menundukkan kepala sambil berjalan pelan, Untung saja koridor menuju ruang meeting tidak terlalu jauh.

Mereka berhenti di depan sebuah ruangan berukuran cukup besar.

Di depan pintu tertulis

Meeting Room – Edelweiss

Saka membuka pintunya."Silakan masuk."

Ruangan itu didominasi warna putih dan cokelat muda. Di tengah terdapat meja meeting panjang, sementara salah satu sisi ruangan dipenuhi layar presentasi berukuran besar.

Beberapa anggota tim kreatif sudah berada di dalam.

Begitu melihat Saka masuk, mereka langsung berdiri. "Selamat pagi, Pak."

"Pagi." Saka menoleh ke arah Sarah."Bu Sarah, silakan di sini."

"Terima kasih."Sarah dan Wulan meletakkan kotak-kotak sampel di atas meja kosong yang sudah disiapkan. "Kalau begitu, kita buka dulu ya, Wulan."

"Iya, Kak." Dengan hati-hati, Wulan membuka tutup kotak pertama.

Di dalamnya terdapat rangkaian bunga bernuansa putih dan hijau dengan sentuhan eucalyptus yang memberi kesan elegan.

Kotak kedua berisi perpaduan peach, putih, dan sedikit warna krem yang terlihat lebih hangat.

Sedangkan kotak terakhir menampilkan kombinasi bunga berwarna putih dengan aksen biru muda yang memberikan kesan modern.

"Bagus" Salah satu anggota tim kreatif bergumam pelan.

Wulan yang mendengarnya hanya tersenyum kecil sambil merapikan posisi bunga Tak lama kemudian, pintu ruang meeting kembali terbuka.

Dua orang klien masuk bersama sekretaris mereka, Saka segera berdiri. "Selamat pagi."

"Selamat pagi, Pak Saka."

Setelah saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri, semua orang kembali duduk di tempat masing-masing.

Meeting pun dimulai, Saka memimpin pembahasan seperti biasanya Ia menjelaskan konsep acara, alur pelaksanaan, hingga rancangan dekorasi yang sudah disiapkan timnya.

Sesekali layar presentasi berganti menampilkan desain panggung dan tata letak venue.

Beberapa menit kemudian, giliran Sarah berbicara.

"Untuk konsep bunganya, kami membawa tiga pilihan rangkaian sesuai tema yang sebelumnya sudah didiskusikan."

Sarah berdiri di samping meja. "Wulan."

"Iya, Kak."

"Tolong bantu tunjukkan sampelnya."Wulan mengangguk.

Dengan sedikit gugup, ia mengangkat rangkaian bunga pertama dan meletakkannya di tengah meja.

"Untuk pilihan pertama, kami menggunakan white tulip sebagai bunga utama dipadukan dengan mawar putih dan eucalyptus."

Suaranya terdengar lembut, tetapi jelas."Konsep ini lebih cocok kalau Bapak dan Ibu menginginkan kesan elegan dan bersih."

Salah satu klien memperhatikan rangkaian itu cukup lama."Lalu yang ini?"

Ia menunjuk rangkaian kedua.

Wulan kembali tersenyum "Kalau yang ini nuansanya lebih hangat. Kami menambahkan mawar peach agar dekorasinya terasa lebih ramah saat difoto."

Klien itu mengangguk pelan. "Menarik."

Saka yang duduk di ujung meja tak banyak berbicara Namun sejak tadi, sesekali pandangannya tertuju pada Wulan.

Cara gadis itu menjelaskan setiap jenis bunga Cara ia menjawab pertanyaan klien dengan tenang.

Dan senyum ramah yang tidak pernah lepas dari wajahnya Semuanya terlihat begitu alami Tanpa sadar, sudut bibir Saka sedikit terangkat.

Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Nara, Ia melirik Saka Lalu melirik Wulan, Kemudian kembali menatap Saka.

Dalam hati, ia hanya bisa terkekeh.

" yaampun saka tatapannya dijaga dikit, kek."

Meeting berakhir hampir satu jam kemudian.

Setelah melalui beberapa kali diskusi, pihak klien akhirnya memilih konsep rangkaian bunga bernuansa putih dan hijau yang sejak awal dipresentasikan oleh studio Ibusya.

"Kalau begitu kita gunakan konsep yang ini."

"Baik, Pak."

Sarah tersenyum puas sambil mencatat beberapa revisi kecil yang diminta klien. "Terima kasih atas masukannya. Kami akan segera menyesuaikan sebelum proses pengerjaan dimulai."

"Terima kasih juga, Bu Sarah." Setelah saling berjabat tangan, para klien pun meninggalkan ruang meeting.

Ruangan yang tadinya ramai perlahan kembali lengang. Wulan mengembuskan napas lega.

Sarah menoleh sambil tersenyum. " good job"

" heum?"

"Tadi kamu jelasin rangkaiannya jelas."

Wulan terkekeh kecil. "Untungnya nggak salah ngomong."

Sarah hanya menggeleng pelan. "Nggak kok. Justru mereka kelihatan lebih gampang ngebayangin konsepnya setelah kamu jelasin."

Pujian itu membuat Wulan tersenyum malu.

" jadiii bonus ya bulan ini"

Sementara itu, Saka menutup laptopnya lalu berjalan menghampiri mereka. "Bu Sarah."

"Iya, Pak Saka?"

"Terima kasih sudah datang."

"Sama-sama, Pak."

Saka mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangannya kepada Wulan."Terima kasih juga, wulan"

Wulan yang tidak menyangka diajak bicara langsung hanya tersenyum canggung."Sama-sama, Kak."

"Nanti kalau ada revisi tambahan, saya kabari."

"Baik."

Tak lama kemudian, Sarah dan Wulan mulai membereskan kotak-kotak sampel bunga.

Baru saja Wulan hendak mengangkat salah satunya "Biar saya bantu."

Saka lebih dulu mengambil kotak itu.

Wulan refleks mengangkat wajahnya. "Eh... Kak, gausah tadi kan udah bantuin"

"Nggak papa"Jawaban Saka tetap singkat.

Namun kali ini, Wulan memilih tidak membantah.

Ia hanya mengangguk kecil sambil membawa kotak yang lain.

Mereka berjalan bersama menuju lift, Perjalanan turun berlangsung dalam keheningan.

Sesekali hanya terdengar suara mesin lift yang bergerak pelan, Entah kenapa Keheningan itu justru tidak terasa canggung.

Pintu lift akhirnya terbuka.

Sesampainya di lobi, Sarah lebih dulu berjalan ke arah mobil untuk menyimpan kotak sampel.

Wulan menyusul beberapa langkah di belakang, Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh ke arah Saka."Kalau gitu... kami pamit dulu ya, Kak."

Saka mengangguk pelan."Iya, Hati-hati di jalan."

Kalimat sederhana itu kembali membuat sudut bibir Wulan terangkat."Iya, Kak Terima kasih."

Setelah berpamitan, Wulan segera masuk ke dalam mobil.

Tak lama kemudian, mobil sarah perlahan meninggalkan area gedung.

Saka masih berdiri di tempatnya beberapa saat Tatapannya mengikuti mobil itu hingga menghilang dari pandangan.

"saka"Suara Nara terdengar dari belakang.

Saka menoleh singkat."apa?"

Nara menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil tersenyum jahil.

"Mobilnya udah nggak kelihatan kali."

"..."

"Nggak usah diliatin terus."

Saka hanya menatap Nara beberapa detik sebelum berbalik melangkah masuk ke dalam gedung, Tanpa memberikan jawaban apa pun.

Melihat reaksi itu, Nara justru tertawa pelan. "Pelan-pelan aja, Mas."

"Belum juga jadian..."

"Udah ketahuan semuanya."

Senyumnya semakin lebar Sepertinya, Akan ada banyak hal menarik yang menunggu mereka setelah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!