NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

menceritakan

Ceklek...

Pintu terbuka perlahan, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan.

Felisyah menoleh dengan cepat. Napasnya tertahan saat sosok Garendra muncul di balik pintu. Wajah tampan pria itu terlihat begitu tenang, terlalu tenang hingga membuat hati Felisyah semakin gelisah.

Sejak tadi ia menahan diri untuk tidak bertanya. Bibirnya terasa berat, seolah ia takut jawaban yang akan keluar dari mulut Garendra justru menjadi kenyataan yang tidak siap ia terima.

Garendra berjalan masuk dengan langkah perlahan, lalu duduk di sofa tunggal yang berada di samping sofa panjang tempat Felisyah duduk. Ruangan luas dengan berbagai fasilitas mewah itu terasa sesak oleh ketegangan yang menggantung di antara mereka.

"Aku ingin kau mendengarkan semuanya sampai selesai," ucap Garendra dengan suara rendah namun penuh tekanan. "Jangan menyela, jangan bertanya sebelum aku selesai berbicara."

Felisyah menelan ludah. Ada sesuatu dari tatapan Garendra yang membuatnya yakin bahwa apa pun yang akan ia dengar setelah ini akan mengubah hidupnya selamanya.

Dengan jantung yang berdetak semakin cepat, ia hanya mampu mengangguk pelan, menunggu pria itu membuka tabir rahasia yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam hidupnya.

**FLASHBACK**

Siang itu, suasana rumah sakit dipenuhi ketegangan.

Di depan ruang rawat seorang wanita tua, Garendra berdiri dengan wajah datar. Tatapannya lurus ke depan, sementara di hadapannya Bu Sena menatapnya dengan penuh kekecewaan.

"Garendra, kamu lihat sendiri keadaan oma, kan? Coba saja kamu mau menuruti keinginan oma. Mungkin semua ini tidak akan terjadi," ucap Bu Sena dengan nada menyalahkan.

Garendra mengepalkan tangannya perlahan.

"Ma, aku tidak mau dijodohkan dengan Monica."

Jawaban itu membuat wajah Bu Sena semakin mengeras.

"Terus kamu mau menikah dengan siapa? Monica cantik, berasal dari keluarga terpandang, dan dia sangat menyayangimu. Kurang apa lagi?"

Garendra tersenyum miris.

Hanya dia yang tahu seperti apa wajah asli Monica. Wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu telah menghancurkan kepercayaannya dengan sebuah pengkhianatan. Namun, kepintaran Monica dalam mengambil hati keluarga membuat semua orang menganggapnya sebagai wanita sempurna.

"Pokoknya Mama tidak mau tahu. Setelah oma sadar, kamu harus menerima perjodohan ini dan segera menikah dengan Monica."

Tatapan Garendra berubah dingin.

"Kalau Mama dan Oma terus memaksaku, maka aku tidak akan lagi mengambil alih perusahaan keluarga."

Bu Sena membelalakkan mata.

"Kamu mengancam Mama?"

"Aku hanya memperingatkan."

Selama ini Garendra membantu mengurus perusahaan ayahnya. Namun, ia juga memiliki perusahaan yang dibangun dari hasil kerja kerasnya sendiri.

Bu Sena menarik napas panjang.

"Baik. Mama beri kamu waktu satu minggu. Cari wanita yang ingin kamu nikahi. Tapi jika dalam satu minggu kamu gagal, kamu harus menerima Monica. Dan jangan salahkan Mama jika Oma kembali kecewa."

Garendra menutup matanya sesaat. Kepalanya terasa berat.

Tanpa mengatakan apa pun, ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.

---

Garendra berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan pikiran yang kacau.

Namun langkahnya tiba-tiba berhenti.

Di ujung lorong, seorang gadis keluar dari ruang perawatan dengan wajah yang dipenuhi air mata.

Gadis itu berjalan tanpa arah, menahan isak yang seolah ingin pecah kapan saja.

Entah mengapa, dada Garendra terasa sesak melihatnya.

Ia mengikuti gadis itu dari kejauhan hingga gadis tersebut duduk di kursi panjang sambil memeluk lututnya.

"Siapa dia?" gumam Garendra pelan.

"Kenapa aku merasa sakit melihat air matanya?"

Ini pertama kalinya ia merasakan perasaan aneh terhadap seorang wanita yang bahkan tidak dikenalnya.

Tanpa berpikir panjang, Garendra menata Bayu di belakangny, orang kepercayaannya.

"Bayu, cari semua informasi tentang wanita itu. Sekarang."

Tidak membutuhkan waktu lama, seluruh data tentang Felisyah masuk ke tangan Garendra.

Saat membaca tentang perjuangan Felisyah merawat ayahnya yang sakit dan kesulitan biaya pengobatan, sesuatu dalam hatinya tersentuh.

Sebuah ide yang bahkan terdengar gila muncul dalam pikirannya.

Ia menghampiri Felisyah dan duduk di sampingnya.

"Nangislah jika itu bisa membuat hatimu lebih lega. Tapi jangan menyerah. Setiap masalah selalu memiliki jalan keluar."

Felisyah terkejut dan menoleh cepat.

Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Dan tanpa disadari, pertemuan singkat itu menjadi awal perubahan takdir mereka.

Garendra menawarkan sebuah kesepakatan.

Menikah dengannya, dan semua masalah Felisyah akan ia selesaikan.

Namun, seperti yang ia duga, Felisyah menolak mentah-mentah.

Garendra pergi, tetapi pikirannya tetap tertinggal pada gadis itu.

Di dalam mobil, bayangan wajah Felisyah yang menangis terus memenuhi kepalanya.

Ia melihat gadis itu keluar dari rumah sakit, berjalan seorang diri di tengah rasa putus asa.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Garendra ingin ikut campur dalam urusan seseorang.

---

Malam itu, telepon yang ditunggunya akhirnya datang.

Felisyah menerima tawarannya.

Senyum kecil terukir di bibir Garendra.

Senyum yang sudah lama tidak muncul.

Entah mengapa, hatinya merasa lega.

Seolah keputusan itu bukan sekadar sebuah perjanjian, melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.

---

Keesokan paginya, Garendra kembali ke rumah sakit.

Alasannya sederhana.

Ia ingin menemui Felisyah.

Gadis yang baru satu hari dikenalnya, tetapi telah berhasil menguasai seluruh pikirannya.

Namun saat menyusuri lorong rumah sakit, langkahnya mendadak terhenti.

Matanya membesar ketika melihat tubuh Felisyah limbung.

Bruk!

Tubuh gadis itu jatuh tak sadarkan diri.

"Felisyah!"

Untuk pertama kalinya, kepanikan terlihat jelas di wajah dingin Garendra.

Ia berlari dan menangkap tubuh itu dalam pelukannya.

"Suster! Dokter! Cepat!"

Beberapa perawat segera datang dan membawa Felisyah ke ruang VIP.

Garendra menunggu dengan gelisah hingga dokter keluar.

"Bagaimana keadaannya, Dok?"

"Dia hanya demam, kelelahan, dan kekurangan nutrisi. Sepertinya sudah lama dia tidak makan dengan baik."

Mendengar itu, rahang Garendra mengeras.

Matanya menatap wajah pucat Felisyah.

Rasa iba bercampur dengan kemarahan pada keadaan yang telah membuat wanita itu menderita.

"Mulai sekarang, kamu bukan lagi sendiri."

Jarinya mengusap lembut rambut yang menutupi wajah Felisyah.

"Kamu adalah tanggung jawabku."

"Dan suatu hari nanti, kamu akan tahu bahwa keputusan ini tidak akan membuatmu menyesal."

Setelah memastikan keadaan Felisyah stabil, Garendra keluar dari ruang VIP dengan langkah tenang. Namun, di balik wajah dinginnya, pikirannya dipenuhi oleh satu sosok yang sejak kemarin terus mengusik hatinya.

Tanpa membuang waktu, ia menghubungi Bayu.

"Urus semua berkas yang diperlukan. Aku ingin semuanya selesai secepat mungkin," perintahnya tegas.

"Baik, Bos."

Sambungan telepon terputus. Garendra kemudian melangkah menuju ruang rawat Pak Sanggara.

Saat tiba di sana, ia melihat seorang pria paruh baya terbaring lemah dengan wajah pucat. Garendra terdiam sejenak. Ia membayangkan bagaimana seorang gadis seperti Felisyah harus berjuang sendirian demi menyelamatkan ayah yang sangat dicintainya.

"Dokter, lakukan operasi sekarang juga. Semua biaya akan saya tanggung."

Dokter yang mengetahui kondisi darurat itu segera menyiapkan tindakan. Berkat bantuan Garendra, operasi Pak Sanggara akhirnya berjalan dengan lancar.

Beberapa jam kemudian, Pak Sanggara dipindahkan ke ruang VIP untuk menjalani pemulihan.

Garendra kembali melihat keadaan Felisyah. Namun, wanita itu masih terlelap, belum membuka matanya sedikit pun.

---

Sementara itu, di ruangan lain, Oma Garendra sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Garendra memasuki ruangan dengan wajah datarnya.

"Bagaimana keadaan Oma?" tanyanya.

Wanita tua itu mendengus kesal.

"Untuk apa bertanya? Bukankah kamu tidak peduli pada Oma?"

Garendra menghela napas panjang.

Oma memang selalu bersikap seperti itu jika keinginannya tidak dituruti.

"Oma, aku sudah menemukan calon istriku."

Seketika wajah Oma dan Bu Sena berubah terkejut.

"Benarkah?" tanya Oma dengan mata berbinar.

"Siapa dia? Dari keluarga mana? Kapan Mama bisa bertemu dengannya?" sambung Bu Sena tidak sabar.

Garendra tetap tenang.

"Nanti, saat waktunya tiba, aku akan memperkenalkannya."

"Garendra! Kamu sudah membuat Oma masuk rumah sakit, sekarang kamu masih menyuruh Oma menunggu?" gerutu Oma.

Senyum kecil muncul di bibir Garendra.

"Sebentar lagi, Oma."

Lalu Bu Sena kembali bertanya.

"Kalau begitu, bagaimana dengan Monica? Mama harus memberi penjelasan apa padanya?"

Tatapan Garendra berubah dingin.

"Dia bukan seseorang yang perlu kita pikirkan lagi."

Kalimat itu membuat Bu Sena terdiam. Ia tahu ada sesuatu yang belum pernah diceritakan Garendra mengenai Monica.

"Aku ada urusan. Mobil sudah menunggu di depan. Bayu, antarkan Oma pulang."

"Baik, Tuan Garendra," jawab Bayu.

Garendra pun pergi.

---

Ia kembali menuju ruang rawat Pak Sanggara.

Kali ini pria tua itu sudah sadar.

"Bagaimana keadaan Bapak?" tanya Garendra dengan sopan.

Pak Sanggara menatapnya bingung.

"Siapa kamu, Nak? Di mana Felisyah? Apakah dia baik-baik saja?"

Ada kepanikan yang terlihat jelas dari sorot matanya.

Garendra memahami kekhawatiran seorang ayah.

"Tenang, Pak. Felisyah baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan sedang beristirahat."

Mendengar itu, Pak Sanggara mengembuskan napas lega.

"Syukurlah..."

"Untuk sekarang, Bapak fokuslah pada pemulihan. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan setelah kondisi Bapak membaik."

Pak Sanggara mengangguk, meskipun rasa penasaran masih terlihat jelas di wajahnya.

Garendra keluar dari ruangan dengan langkah pelan.

Malam itu, ia berdiri di depan jendela rumah sakit, menatap langit yang gelap.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengambil keputusan yang tidak pernah ia rencanakan.

Menikahi seorang wanita yang baru dikenalnya.

Namun, anehnya, tidak ada sedikit pun keraguan di dalam hatinya.

Karena sejak melihat air mata Felisyah, ia tahu satu hal...

Ia tidak ingin membiarkan wanita itu berjuang sendirian.

sampai di sini dulu yah sambungannya ada di bab berikutnya☺

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!