Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Dari sofa itu, Kenzo bisa melihat dengan jelas ketekunan Fela bekerja. Wanita ini tampak keren di matanya, meski di tengah kelelahan yang nyata. Sesekali, tangan Fela bergerak naik untuk membetulkan letak bingkai kacamata yang terus merosot turun ke ujung hidungnya.
Kenzo memperhatikan tiap gerak-gerik itu tanpa suara. Ekspresi wajah Fela berubah-ubah seiring dengan apa yang dibacanya di layar monitor.
Sesekali ia mengernyit tajam lalu sedetik kemudian menunduk dalam-dalam untuk memeriksa catatan di dalam binder yang terbuka lebar di samping keyboard.
Ada konsentrasi yang begitu murni di sana. Bagi Kenzo pemandangan itu jauh lebih menarik daripada apa pun yang bisa ia temukan di luar kantor.
Fela yang sedang berjuang dengan idenya memiliki aura yang berbeda. Tegas, tak tergoyahkan, dan benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri.
Kenzo membiarkan matanya terus mengamati. Menikmati kesunyian yang hanya diisi oleh suara detak keyboard yang sesekali berhenti, lalu berlanjut lagi dengan penuh yakin.
Kenapa bisa Dion membuangnya? Apakah dia gila? Sampai hilang akal begitu? batin Kenzo.
Ia menyayangkan bagaimana Fela disia-siakan begitu saja. Jika saja Dion tahu apa yang sedang ia lewatkan, mungkin pria itu tidak akan sebodoh ini.
Tepat saat pikiran itu melintas, Fela tiba-tiba menghentikan ketikannya. Ia menoleh ke arah sofa, menatap Kenzo dari balik bingkai kacamatanya yang sedikit merosot.
Kenzo tersentak. Ia yang tadi sedang hanyut dalam pikirannya sendiri langsung menunduk, pura-pura sibuk melihat ke arah ponselnya agar perhatiannya tidak terlalu kentara. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, takut Fela menangkap basah tatapannya yang sedari tadi tak lepas dari wanita itu.
"Kamu enggak dicariin orang tua kamu?" tanya Fela.
Kenzo mendongak. Tatapannya tertuju lurus pada Fela. "Kamu selalu tanya aku dicariin orang tua aku atau tidak kalau aku lagi ada di sini menemani kamu."
Fela terdiam sejenak, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara. Ia kembali menatap Kenzo dengan pandangan yang lebih lembut namun tetap memegang prinsipnya sebagai atasan. "Soalnya kamu ini masih bocah, Kenzo. Dan kamu harus pulang."
Anak ini menggelengkan kepala. Ia tidak terima. Ada raut tidak senang yang tertahan di wajahnya, seolah julukan 'bocah' itu adalah sesuatu yang sangat jauh dari kenyataan hidupnya. Ia bangkit dari sofa.
Kenzo berjalan gontai menuju pintu keluar kantor. Punggungnya tampak sedikit lebih tegap dari biasanya saat ia berhenti tepat di ambang pintu, tangannya sudah memegang gagang pintu namun tubuhnya enggan melangkah keluar.
Fela, yang sejak tadi mencoba fokus kembali pada pekerjaannya, mendongak. Ia memperhatikan punggung Kenzo yang kaku. "Kenapa?" tanya Fela heran, keningnya berkerut.
Kenzo tidak segera menoleh. "Terima kasih sudah membelikan aku makan," ucapnya dengan nada yang sarat akan sindiran halus.
Fela tertegun. Ia baru sadar, di tengah kesibukan dan egonya yang tinggi, ia sama sekali belum mengucapkan kata 'terima kasih' atas bantuan Kenzo selama riset dan menemani malamnya. Wajahnya seketika terasa sedikit panas.
"Ah, iya tadi ... terima kasih," gumam Fela. Suaranya memelan di akhir kalimat. Terdengar sangat tipis bersamaan dengan punggung Kenzo yang benar-benar sudah hilang dari pandangan.
Ruangan itu kembali sunyi. Fela menatap pintu yang kini tertutup rapat itu dengan perasaan aneh yang sulit ia definisikan. Ia menghela napas panjang, mencoba menepis rasa tidak enak di hatinya. "Biar deh," gumamnya pada diri sendiri, mencoba kembali menatap layar monitornya yang bercahaya. "Besok juga ketemu."
***
Esok hari di Zeus Advertising.
Pintu kaca ruang kubus Fela sedikit terbuka, menyisakan celah yang cukup untuk suara tegas itu menerobos keluar. "Kalian, masuk ruanganku!" panggil Fela.
Sontak, semua kepala yang tadinya menunduk menatap layar komputer langsung mendongak.
"Ya!" sahut Bimo cepat, mewakili rekan-rekannya yang lain.
Siska bergegas merapikan tumpukan kertas di mejanya, wajahnya tampak waswas. "Ada apa?" gumamnya pelan. "Apa pihak W-corp bikin ulah lagi?"
Bayang-bayang rapat kemarin masih terasa pekat di ingatan mereka. Mirin, yang berdiri tak jauh dari Siska, masih bisa merasakan sisa rasa kesal saat mereka dihina habis-habisan karena dianggap tidak mampu bergaul dengan kalangan orang kaya. Kejadian itu seperti baru saja terjadi kemarin.
"Mungkin soal ide untuk iklan," celetuk Kenzo yang sejak tadi duduk tenang di kursinya.
Siska menoleh tajam ke arah Kenzo. "Iklan? Berarti manajer sudah dapat ide yang diinginkan pihak W-corp?"
"Sepertinya," timpal Bimo sambil berdiri, bersiap melangkah. "Kan dia habis riset kemarin ditemani sama Kenzo."
"Ayo, ayo. Kita cepat ke ruangannya saja kalau ingin tahu," ajak Mirin tak sabar.
Mereka pun bergegas menuju ruang kubus Fela dengan langkah terburu-buru, penasaran sekaligus cemas. Namun, tepat sebelum Kenzo ikut beranjak dari kursinya, Siska menahan gerakannya.
"Lalu aku?" tanya Kenzo bingung.
"Kamu di sini saja," ujar Siska sambil menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Kenzo tidak ke mana-mana. "Kerjakan tugasmu yang lain. Biar kami yang urus sisanya dengan Kak Fela."
Kenzo hanya terdiam, punggungnya kembali bersandar di kursi saat melihat punggung rekan-rekannya menjauh memasuki ruang kerja Fela.
***
Dalam ruang kubus milik Fela.
"Ini hasil riset lapangan kemarin. Semuanya sudah ada di sini."
Bimo menarik kursi, sementara Siska berdiri di sampingnya, matanya langsung tertuju pada tumpukan kertas itu. Fela menggeser folder tersebut ke arah mereka.
"Aku butuh draf ini dipoles ulang," ujar Fela dengan nada tegas namun tetap profesional. "Data mentahnya sudah lengkap. Sekarang tugas kalian adalah mengubahnya menjadi konsep iklan yang punya dampak emosional kuat. Aku ingin hasil yang bukan sekadar informatif, tapi juga bisa bicara langsung ke target pemerhati kita."
Siska mulai membolak-balik lembaran kertas tersebut. Alisnya terangkat kagum melihat ketelitian data yang disajikan Fela. "Gila, Manajer. Ini Anda kerjain sendiri? Detail banget sampai ke perilaku konsumennya."
"Kemarin pas dapat ide jadi aku kerjakan dulu konsepnya," sahut Fela singkat. Mengabaikan pujian itu. "Konsep ini berisi dua kepribadian. Terang ceria dan gelap elegan."
Bimo mengangguk mantap sambil menyambar folder tersebut. "Serahkan sama kami. Besok pagi draft visual dan naskahnya sudah ada di meja Anda, Manajer."
Fela sedikit menghela napas lega. Ia tahu timnya tidak akan mengecewakan. Setelah memberikan instruksi terakhir mengenai batas waktu pengerjaan, ia pun mempersilakan keduanya untuk kembali ke meja masing-masing guna memulai proses kreatif tersebut.
"Oke. Terima kasih waktunya. Silakan bekerja," kata Fela tegas, menutup rapat kecil tersebut dengan gestur tangan yang mengisyaratkan bahwa diskusi telah usai.
"Oke, Manajer!" sahut Bimo, Siska, dan Mirin hampir bersamaan.
Mereka pun bergegas keluar satu per satu, membawa serta catatan dan tumpukan draf yang kini siap untuk dipoles menjadi konsep iklan yang brilian. Dalam hitungan detik, ruangan kubus Fela yang tadinya terasa sesak kini kembali luas dan lengang.
Fela menghela napas panjang. Membiarkan tubuhnya menyandar ke kursi kerja yang empuk.
semangat Fel....