Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: DARAH DI ATAS TAKHTA
Atmosfer di dalam koridor luar kamar rawat nomor 305 Rumah Sakit Pusat Mahardika seketika berubah menjadi teramat menindas. Ketegangan baru yang dibawa oleh Mikael seolah merobek sisa-sisa ketenangan yang baru saja dinikmati Dafa setelah melumpuhkan aliansi Baskoro dan Rendy. Sorot lampu putih koridor yang dingin menerpa wajah tegas Dafa Mahardika, menampilkan rahangnya yang mengeras sempurna hingga urat-urat biru menonjol jelas di sekitar pelipis wajah tampannya.
Mikael masih berdiri dengan tubuh yang gemetar halus, menyodorkan gawai pintar yang menampilkan rekaman interogasi langsung dari sel bawah tanah. Di dalam layar digital tersebut, tawa histeris Adrian Mahardika terdengar begitu distorsi dan penuh racun kemenangan, memperlihatkan tato tanda lingkaran hitam legam yang mulai membakar kulit lehernya sendiri—sebuah segel kepatuhan dari organisasi bayangan internasional yang selama ini mendanainya.
"Tuan Besar Aryo Mahardika..." desis Dafa. Suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah, parau, dan dipenuhi oleh getaran amarah predator puncak yang berada di ambang batas kegilaan. "Pria tua yang selama sepuluh tahun ini duduk di atas kursi roda menderita kelumpuhan fiktif... ternyata adalah iblis yang menggerakkan seluruh bidak catur ini dari balik bayangan."
"Benar, Pak Dafa," suara Mikael tercekat, ia menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan laporan taktisnya. "Sinyal GPS rahasia dari jaringan The Obsidian mendeteksi bahwa iring-iringan tiga mobil sedan baja tanpa pelat nomor milik Tuan Besar Aryo baru saja membelah gerbang luar rumah singgah Mami Kinanti di pinggiran kota. Divisi keamanan tiga yang berjaga di sana sama sekali tidak menaruh curiga karena mereka mengira itu adalah kunjungan keluarga biasa dari sang sesepuh tertinggi Mahardika!"
Sifat posesif terhadap keselamatan ibunya dan harga diri sebagai penguasa dinasti Mahardika seketika bergejolak liar di dalam dada Dafa. Kebenaran bahwa kakek kandungnya sendiri yang merancang pembunuhan ibu kandungnya di masa lalu, memalsukan kematian Adrian, dan kini bergerak untuk melenyapkan Mami Kinanti, benar-benar meremukkan silsilah kehormatan keluarga mereka.
Dafa membalikkan tubuh besarnya secepat kilat, kembali melangkah masuk ke dalam kamar rawat. Di atas ranjang, Nazya Humaira yang baru saja terbangun akibat mendengar sayup-sayup perdebatan di luar, langsung menegakkan tubuh rampingnya. Sepasang mata indah janda muda itu memancarkan binar kecemasan yang teramat pekat saat melihat guratan emosi gelap yang luar biasa mengerikan di wajah suaminya.
Dafa tidak berbicara sepatah kata pun. Pria dominan itu langsung merendahkan tubuh tegapnya di sisi ranjang, menangkup sepasang pipi pias Nazya dengan kedua tangan besarnya yang hangat dan kokoh. Ia membawa bibir ranum Nazya ke dalam sebuah ciuman perpisahan darurat yang teramat intens, kasar, namun sarat akan luapan emosi posesif yang menuntut kepemilikan mutlak. Ciuman itu berlangsung lama, seolah Dafa sedang menyerap seluruh waras dari jiwa istrinya sebagai bekal untuk menghadapi neraka perang keluarga di luar.
"Mas Dafa..." lirih Nazya dengan napas yang memburu saat Dafa melepaskan tautan bibir mereka. Jemari kurusnya mencengkeram erat kerah kemeja hitam Dafa yang koyak. "Ada apa lagi? Tolong jangan pergi dalam kondisi penuh amarah seperti ini, Mas..." kesedihan mendalam terpancar dari suara parau sang istri.
"Tinggal di sini, Nazya-ku. Pengawalan di kamar ini sudah kulipatgandakan menjadi tiga pleton divisi satu. Nyawaku terkunci bersamamu di ruangan ini, jadi pastikan dirimu tetap aman sampai aku kembali menuntut hakku atas tubuh dan jiwamu," perintah Dafa dengan nada suara bariton yang teramat menindas namun sarat akan perlindungan mutlak.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Dafa bangkit berdiri, menyambar senapan serbu taktis laras panjang dari tangan Mikael, lalu melangkah lebar keluar menembus kegelapan malam kota yang mulai diguyur badai hujan lebat susulan.
Iring-iringan lima mobil SUV hitam antipeluru yang dipimpin langsung oleh Dafa membelah jalanan protokol dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam, mengaktifkan seluruh lampu sirine darurat tertinggi Mahardika Group. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Dafa terus memeriksa pasokan peluru di dalam magasin senjatanya dengan ketenangan dingin seorang dewa perang puncak yang siap membantai darah dagingnya sendiri demi menjaga ketenangan wanita dan ibunya.
Tiga puluh menit kemudian, roda-roda SUV hitam itu berdecit keras, menghantam pembatas jalan dan berhenti melintang memblokade pelataran rumah singgah Mami Kinanti yang bergaya kolonial kuno. Suasana di sekitar rumah singgah tampak sepi secara tidak wajar. Enam orang penjaga dari divisi keamanan tiga tampak terkapar bersimbah darah di atas rerumputan halaman dengan luka tembak presisi di bagian dahi—khas eksekusi pasukan elite bayangan.
Dafa melompat turun dari mobil menembus siraman angin malam yang menusuk tulang. Dengan gerakan taktis yang sangat konstan, ia mendobrak pintu jati utama rumah singgah, melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang luas dan hanya diterangi oleh pendaran api dari dalam perapian dinding.
Di tengah ruangan, duduk sesosok pria tua bertubuh ringkih dengan rambut yang memutih seutuhnya. Namun, pria tua itu tidak lagi duduk di atas kursi roda fiktifnya. Tuan Besar Aryo Mahardika berdiri tegak dengan setelan jas wol mahal, memegang sebilah tongkat komando berlapis emas yang di dalamnya menyembunyikan laras pistol kaliber kecil.
Di bawah todongan senjata dua orang pengawal elite berpakaian hitam di sisi kanan dan kiri, Mami Kinanti terduduk lemas di atas lantai marmer dengan kondisi tangan yang terikat ke belakang kursi jati. Wajah wanita tua itu dipenuhi oleh lebam merah sisa hantaman fisik.
"Kamu datang terlalu lambat, Cucu Geniusku," suara Tuan Besar Aryo bergaung serak namun dipenuhi oleh getaran otoritas murni seorang diktator tua yang tak tertandingi. "Kalian semua tidak lebih dari sekadar bidak catur yang kupelihara untuk membesarkan dinasti bisnis Mahardika. Dan sekarang, saat takhta ini sudah berada di puncak tertingginya, saatnya pemilik asli kembali mengambil alih kendali."
Dafa menghentakkan moncong senapan serbunya ke depan, mengunci mati pandangan mata elangnya ke arah dahi kakek kandungnya sendiri. Aura intimidasi mutlak dari sang predator puncak meledak memenuhi seluruh ruangan, menantang dominasi sang sesepuh tua tanpa ada rasa gentar seujung kuku pun.
"Takhta Mahardika sudah lama menjadi milikku, Aryo," desis Dafa, memanggil nama kakeknya tanpa embel-embel kehormatan lagi. "Dan malam ini, aku tidak datang untuk bernegosiasi. Aku datang untuk menyeret seluruh sisa kejayaanmu masuk ke dalam liang lahat yang sama dengan tempat kamu membuang Ibu kandungku!"
Tuan Besar Aryo menyunggingkan senyum kelicikan yang teramat dingin di sudut bibirnya yang keriput. Pria tua itu perlahan mengetukkan ujung tongkat komandonya ke atas lantai marmer sebanyak tiga kali, memicu sebuah mekanisme sihir teknologi modern yang tersembunyi di balik dinding perapian.
Sebuah layar proyektor raksasa mendadak turun dari langit-langit ruang tengah, menampilkan siaran langsung (live streaming) dari kamera tersembunyi yang terpasang di dalam kamar rawat nomor 305 Rumah Sakit Pusat—tempat Nazya sedang beristirahat.
Di dalam layar digital tersebut, tampak salah satu perwira divisi satu Mahardika yang ditugaskan menjaga Nazya—Kapten Yuda, pria yang selama lima tahun ini menjadi tangan kanan kepercayaan Dafa di bidang militer perusahaan—sedang melangkah masuk ke dalam kamar rawat dengan membawa sebuah tabung gas beracun portabel, siap untuk melepaskan gas syaraf mematikan ke dalam saluran ventilasi AC kamar sang janda muda!
"Yuda adalah anak angkat yang kubesarkan secara rahasia sebelum kamu lahir, Dafa," tawa kejam Tuan Besar Aryo meledak, membelah gemuruh suara badai hujan di luar rumah. "Satu langkah maju yang kamu ambil untuk menembakku di ruangan ini... maka Kapten kepercayaanmu itu akan memutar katup gas tersebut dan merubah paru-paru janda muda kesayanganmu menjadi abu dalam tiga detakan jantung pertamamu!"