Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Prioritas Carson
Layar komputer di kubikel Carson menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih ada waktu satu jam sebelum jam pulang kantor yang sesungguhnya, namun Carson sudah mulai merapikan meja kerjanya. Ia mematikan monitor, memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam tas, lalu berdiri sambil meregangkan otot-otot punggungnya yang kaku.
Rey yang sedang asyik mengunyah jeli nutrisi sambil menatap layar komputer langsung menoleh. Alisnya bertaut rapat. "Lho? Mau ke mana kamu? Belum jam sebelas, Carson."
"Pulang," jawab Carson pendek sambil menyampirkan tas ranselnya ke sebelah bahu.
"Dih, tumben banget? Biasanya kamu yang paling betah lembur sampai lumutan," cibir Rey, melirik jam dinding. "Satu jam lebih cepat. Kamu tidak takut dipotong kredit bulanan oleh divisi kedisiplinan?"
Carson hanya mengedikkan bahunya santai, menampilkan senyum tipis yang terkesan masa bodoh. "Kerjaanku hari ini sudah beres semua, tidak ada tanggungan. Lagian, suka-suka akulah. Sekali-sekali menikmati hidup."
"Sombong amat yang habis dipanggil Direktur Utama," gerutu Rey, kembali menghadap layarnya. "Ya sudah, sana pergi!"
Carson terkekeh pelan, lalu melangkah keluar dari ruangan. Namun, tujuannya malam ini bukan langsung pulang ke apartemen. Ada satu urusan krusial yang harus ia selesaikan.
Karena kemarin dia terlanjur meretas jatah pangan militer dan menyelundupkannya ke area pembuangan limbah medis, jadi sekarang dia harus mengambilnya. Meskipun mulai minggu depan ia akan mendapatkan pasokan itu secara resmi dan legal dari Direktur, paket yang sudah berada di dalam pipa pembuangan saat ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.
'Sudah susah-susah meretas sistem pertahanan mereka, kalau tidak diambil, rugi bandar,' pikir Carson dalam hati. Lagipula, jika dibiarkan terlalu lama, otomatis paket itu akan ikut hancur bersama limbah medis lainnya saat jadwal sterilisasi tengah malam nanti.
Carson turun ke lantai dasar, menuju koridor belakang yang berbatasan langsung dengan tempat dekontaminasi dan pembuangan limbah. Di depan pintu masuk area steril, seorang petugas keamanan bertubuh tegap sedang berjaga.
"Maaf, Pak Carson. Area ini sudah ditutup untuk umum sejak satu jam yang lalu," ujar petugas itu sambil meletakkan tangannya di atas sabuk pengaman.
Carson memasang wajah paling tenang dan meyakinkan yang ia miliki. "Saya tahu, Pak. Tapi ada eksemplar data logistik kesehatan dari Dr. Vega yang tidak sengaja ikut tersapu ke dalam wadah pembuangan sekunder di dalam. Kalau sampai data itu ikut dihancurkan malam ini, laporan mingguan divisi kami bisa kacau, Pak. Saya cuma butuh waktu lima menit untuk mencarinya."
Petugas itu tampak ragu sejenak, namun mengingat reputasi Carson yang baik, petugas itu akhirnya mengangguk. "Lima menit, Pak. Jangan lebih. Saya tidak mau kena tegur pengawas."
"Aman. Terima kasih, Pak," kata Carson.
Begitu pintu terbuka, Carson segera melangkah masuk ke dalam ruangan yang berbau antiseptik tajam. Dengan gerakan cepat dan cekatan karena sudah terbiasa, ia menuju ke arah pipa pembuangan sekunder nomor empat. Ia membuka katup manual penahan, merogoh ke dalam wadah kedap udara yang berada di dinding pipa, dan menarik sebuah bungkusan berlapis alumunium tebal yang masih bersih dari kontaminasi.
Carson menyeringai puas. Paket itu langsung ia masukkan ke dalam ranselnya, lalu ia keluar dari ruangan sambil memberikan jempol kepada petugas keamanan sebagai tanda terima kasih.
Carson lantas segera pulang menuju apartemennya. Begitu tiba di dalam kamarnya, ia bahkan tidak sempat mengganti pakaian seragam kerjanya yang masih rapi. Dipicu oleh rasa tidak sabar yang membuncah, ia langsung menggeser panel kayu yang menghubungkan tempat tinggalnya dengan tempat tinggal Nezha.
Begitu Carson tiba di kamar Nezha, sebuah pelukan hangat langsung menyambutnya.
Nezha memeluk leher Carson dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Tidak ada lagi keraguan atau ganjalan berat seperti hari sebelumnya. Pelukan kali ini terasa begitu hangat, seolah seluruh kerinduan dan rasa amannya ditumpahkan di sana.
Carson sempat tertegun, namun sedetik kemudian kedua tangannya melingkar di pinggang Nezha, membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia menghirup aroma rambut Nezha yang menenangkan, merasakan debaran jantung wanita itu yang perlahan menjadi teratur.
"Hei," bisik Carson lembut, mengusap punggung Nezha. "Tumben belum tidur? Ini hampir jam sebelas malam, loh."
Nezha melonggarkan pelukannya, mendongak menatap wajah Carson dengan senyum tipis di bibirnya yang agak pucat. "Aku memang sengaja menunggumu. Rasanya pengen cepat-cepat ketemu kamu saja hari ini."
Carson tersenyum lebar, rasa lelah akibat ketegangan seharian ini mendadak menguap begitu saja. Ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menempel di dahi Nezha. "Aku senang mendengarnya. Jadi, bagaimana harimu hari ini? Semuanya aman?"
Nezha mengembuskan napas perlahan, mencoba memberikan ekspresi terbaiknya meski gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. "Aman, kok. Tapi jujur, badanku rasanya lemas sekali hari ini. Bahkan aku baru saja muntah-muntah lagi di kamar mandi."
Mendengar hal itu, senyum Carson langsung memudar, digantikan oleh rasa khawatir yang mendalam. Wajahnya berubah menjadi penuh rasa bersalah. "Muntah lagi? Maaf ya... harusnya aku ada di sini menemanimu. Maaf aku tidak bisa carikan obat yang lebih baik, atau makanan yang ramah buat lambungmu. Aku malah membiarkanmu sendirian di sini dalam kondisi seperti ini."
Nezha melihat perubahan ekspresi Carson yang mendadak melas dan penuh penyesalan itu. Bukannya sedih, ia malah terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar renyah di ruangan yang sepi itu.
"Kenapa malah tertawa?" tanya Carson bingung, alisnya bertaut.
"Habisnya wajahmu lucu sekali kalau lagi merasa bersalah seperti ini," kata Nezha sambil mencubit pelan pipi Carson. "Aku tidak apa-apa, Carson. Sungguh. Ini kan memang efek normal karena aku sedang hamil. Bukan salahmu, tahu. Jangan langsung merasa jadi orang paling berdosa sedunia begitu."
Carson menghela napas lega, meski matanya masih menyiratkan rasa khawatir. "Tetap saja, aku tidak tega melihatmu seperti ini."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku sudah jauh lebih mendingan sekarang setelah melihatmu," ujar Nezha, mencoba mengalihkan perhatian. Ia menatap seragam Carson yang masih rapi. "Kamu sendiri bagaimana? Harimu di laboratorium lancar? Kok tumben jam segini sudah pulang?"
Mendengar pertanyaan itu, mata Carson langsung berbinar jenaka. Jiwa pamer dan bahagianya yang sejak tadi ditahan langsung meledak.
"Ah! Aku punya sesuatu untukmu!" Carson dengan bersemangat menurunkan tas ranselnya, membuka resleting dengan cepat, dan mengeluarkan bungkusan alumunium tebal yang ia ambil dari ruang limbah tadi. "Lihat ini!"
Nezha memandangi bungkusan itu dengan dahi mengkerut. "Ini... jatah pangan militer yang kamu ceritakan kemarin? Kamu benar-benar mencurinya? Aku kira kemarin itu kamu hanya bercanda, Carson."
"Hei, ini bukan mencuri namanya, tapi meretas," ralat Carson. Walau sebenarnya tidak ada bedanya antara mencuri dan meretas. "Dan ada kabar yang jauh lebih besar dari ini. Mulai minggu depan, kita tidak perlu lagi meretas jatah pangan militer. Aku sudah mendapatkan jatah secara resmi dan akan dikirim secara langsung setiap minggu."
Nezha ternganga, matanya membelalak tidak percaya. "Hah? Bagaimana bisa? Kamu tidak sedang bercanda, kan? Orang-orang biasa seperti kita mana mungkin bisa dapat akses pangan militer tanpa persetujuan pihak berwenang?"
Carson langsung menegakkan bahunya, menaikkan dagunya sedikit dengan pose yang sengaja dibuat agak sombong dan sok hebat. "Ya bisalah... Siapa dulu dong? Carson. Teknisi paling jenius di laboratorium pusat. Semua urusan begini mah kecil buat aku."
Nezha langsung mencibir sambil tersenyum geli melihat tingkah Carson yang mendadak tinggi hati itu. "Iya, iya, si paling jenius, si paling hebat sedunia. Tapi serius, Carson, bagaimana caranya? Kamu tidak melakukan sesuatu yang membahayakan nyawamu lagi, kan?"
Carson terdiam sejenak. Ia teringat perintah tegas dari Direktur Utama tentang kerahasiaan proyek bioteknologi militer yang baru saja ia terima. Ia tahu betul risikonya jika sampai ada satu kata pun yang bocor, bahkan kepada orang terdekatnya. Carson harus menjaga rahasia ini demi keselamatan mereka berdua.
"Intinya, Direktur Utama melihat hasil kerjaku selama ini dan beliau merasa aku pantas mendapatkan bonus," jawab Carson dengan nada yang lebih santai, menyembunyikan detail proyek rahasia itu dengan rapi. "Beliau bilang ini semacam apresiasi karena hasil kerjaku selalu sempurna. Jadi, ya, aku manfaatkan saja momen itu untuk meminta jatah pangan ini sebagai bonusnya."
Nezha menatap Carson lekat-lekat, mencoba mencari tahu apakah pria di depannya ini sedang menyembunyikan sesuatu yang berbahaya. Namun, melihat senyum Carson yang tampak begitu lepas dan tulus, Nezha akhirnya memilih untuk percaya. Ia tidak ingin merusak momen bahagia ini dengan kecurigaan yang berlebihan.
"Ya sudah, kalau memang begitu jalannya," kata Nezha sambil mengangguk-angguk kecil, menuruti kemauan Carson agar pria itu senang. "Yang penting kamu aman, dan tidak berbuat aneh-aneh. Terima kasih ya, sudah mengusahakan ini sampai segitunya untuk aku... dan untuk bayi ini."
Nezha menyentuh perutnya yang masih rata dengan lembut. Carson mengikuti arah pandangan Nezha, lalu ikut berlutut kecil di depan wanita itu. Ia menyentuh tangan Nezha yang berada di atas perutnya.
"Mulai sekarang, kalian berdua tidak akan kekurangan nutrisi lagi. Tidak ada lagi jeli hambar untukmu," bisik Carson, menatap Nezha dengan binar mata yang penuh tekad dan kehangatan.
Nezha tersenyum manis, malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa cemas di dalam lubuk hatinya benar-benar tergantikan oleh harapan baru.