Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMA TEKANAN JIWA
Sore hari di Akademi Astra Nusantara ditandai dengan lampu-lampu neon jalanan yang mulai menyala otomatis, berbaur dengan semburat merah langit barat kota. Setelah kelas praktik yang melelahkan selesai, Arkan berjalan keluar melewati gerbang marmer putih bersama Sky. Volt sudah berada kembali di atas pundak kiri Arkan, tampak jauh lebih segar setelah energinya terisi kembali pasca-kenaikan ke Level 2.
Di sela langkah mereka berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah, dua buah teks holografis biru yang melayang di depan mata Arkan akhirnya menghilang setelah dia membuat keputusan mutlak.
"Kamu akhirnya pilih jurus apa untuk Volt?" tanya Sky penasaran, langkah kakinya yang ringan membuat kuncir kudanya berayun pelan.
"Aku pilih Volt Drive," jawab Arkan santai. "Lolongan pengalih perhatian dari Thunder Bark memang bagus, tapi dengan insting liar Volt, pergerakan instan secepat kilat jauh lebih mematikan untuk gaya bertarung kami."
"Pilihan yang cerdas," Sky mengangguk setuju. "Astra tipe petir memang harus mengutamakan kecepatan untuk menghabisi lawan sebelum mereka sempat memasang pertahanan."
Namun, obrolan santai mereka mendadak terhenti ketika mereka berdua baru saja melangkah keluar dari area luar gerbang akademi, tepat di sebuah gang komersial yang cukup lebar. Di sana, Kevin sudah berdiri menunggu dengan wajah yang dipenuhi rasa dongkol. Tapi dia tidak sendiri. Di samping Kevin, berdiri seorang pemuda bertubuh lebih jangkung dengan seragam kelas tiga akademi yang memiliki tiga guratan perak di kerah bajunya—simbol dari seorang Kontraktor Terampil Level 25.
"Itu dia, Kak! Anak miskin itu yang sudah mencurangi Rock-Scale milikku di arena tadi!" seru Kevin sambil menunjuk kasar ke arah Arkan.
Pemuda di sebelah Kevin, yang bernama Bryan, melangkah maju. Sepasang matanya menatap Arkan dengan pandangan yang sangat dingin dan penuh penghinaan. Bryan tidak memanggil Astranya, tetapi dia perlahan-lahan mengendurkan kendali atas wadah energinya.
Wuuush...
Seketika itu juga, atmosfer di sekitar gang komersial itu mendadak bergeser. Udara terasa seperti mengental dan menjadi sangat pekat. Murid-murid lain yang kebetulan lewat di sekitar gang tersebut langsung menghentikan langkah mereka, wajah mereka mendadak memucat. Beberapa dari mereka bahkan refleks mundur beberapa langkah, merasakan lutut mereka gemetar akibat Tekanan Spiritual yang dilepaskan oleh Bryan.
Makin tinggi tingkat energi spiritual seorang Kontraktor, makin kuat wibawa dan tekanan tak kasat mata yang bisa mereka pancarkan. Di tingkat Kontraktor Terampil Level 25 seperti Bryan, pelepasan aura spiritual murni miliknya sudah cukup untuk membuat Kontraktor Pemula di bawah Level 10 merasa sesak napas dan kehilangan nyali hanya dengan ditatap.
Sky langsung mengerutkan dahi, merasakan dadanya sedikit sesak akibat tekanan tersebut. "Bryan! Apa-apaan kamu?! Menggunakan tekanan spiritual kepada adik kelas di luar area akademi itu melanggar aturan!"
Bryan menghiraukan ucapan Sky, pandangannya tetap mengunci Arkan yang berdiri diam. "Aku tidak peduli dengan aturan itu, Skyborn. Adikku dipermalukan oleh seorang anak jalanan yang menggunakan Astra liar cacat. Aku hanya ingin memberi pelajaran kecil tentang bagaimana hierarki kekuatan di kota ini bekerja."
Tekanan spiritual dari Bryan semakin menghebat, berpusat sepenuhnya untuk menekan mental Arkan. Udara di sekitar Arkan terasa seperti bertambah berat seolah ada bongkahan batu tak kasat mata yang diletakkan di atas pundaknya. Jiwa manusia biasa pasti akan langsung menyerah dan berlutut di bawah tekanan sebesar ini.
Namun, Bryan tidak tahu satu hal. Arkan bukanlah remaja biasa yang bermanja-manja dengan suplemen penangkaran. Jiwanya telah ditempa oleh dinginnya Sektor Liar.
Sret...
Arkan memejamkan matanya sejenak. Di dalam benaknya, dia langsung memicu aliran energi spiritualnya sendiri untuk mengaktifkan Resonansi Elemen. Meskipun seorang Kontraktor hanya mendapatkan tiga puluh persen dari kekuatan elemen murni milik Astra yang mereka kontrak, bagi Arkan, tiga puluh persen itu sudah lebih dari cukup.
Bzzzzt!
Secara mengejutkan, percikan listrik biru murni mendadak berderak halus di sekujur permukaan jaket hitam Arkan. Listrik itu menjalar ke ujung-ujung jarinya, mengalir masuk ke dalam jaringan saraf dan otot tubuhnya. Arkan menggunakan tiga puluh persen elemen petir dari Volt untuk menstimulasi saraf tubuhnya secara ekstrem, mengeraskan pertahanan mentalnya, dan memotong arus tekanan spiritual tak kasat mata yang sedang menindasnya.
Arkan kembali membuka mata. Sepasang mata hitamnya kini tampak berkilat dengan sisa-sisa energi listrik biru yang samar. Dia mengambil satu langkah maju dengan sangat mantap, sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan spiritual Level 25 milik Bryan. Tubuh manusianya tidak selemah yang dikira orang-orang.
Bryan melebarkan matanya, benar-benar terkejut melihat Arkan masih bisa berdiri tegak, bahkan mampu melangkah maju di bawah tekanan auranya. "Bagaimana mungkin... kamu bisa menahan tekananku?"
"Tekanan spiritual kamu... tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hawa membunuh Gloomhound kelaparan yang aku hadapi di Sektor Liar kemarin malam," ucap Arkan dengan nada suara yang sangat tenang namun dingin, membuat Bryan refleks menelan ludah.
Volt yang berada di pundak Arkan ikut menegakkan tubuhnya, memamerkan taring kecilnya yang mulai diselimuti energi Volt Drive yang siap meledak kapan saja.
Melihat situasi yang semakin memanas, Sky tidak tinggal diam. Dia melangkah maju ke depan Arkan, lalu menghentakkan kipas lipat peraknya ke udara. Sebuah pusaran angin kecil berputar cepat di sekitar tubuhnya, memotong sisa-sisa tekanan spiritual Bryan hingga hancur total.
"Cukup, Bryan!" seru Sky dengan nada yang sangat tegas, matanya berkilat penuh amarah. "Kalau kamu berani mengambil satu langkah lagi untuk menyerang Arkan, aku bersumpah demi nama Keluarga Skyborn... aku akan memastikan kakekku, yang merupakan seorang Kontraktor Mitos, mendengar tindakan pengecutmu hari ini! Kamu tahu betul apa akibatnya jika keluargamu menyinggung Skyborn!"
Mendengar nama "Kontraktor Mitos" dan "Keluarga Skyborn" disebut dengan nada mengancam seperti itu, nyali Bryan langsung menciut drastis. Di Indonesia ini, jumlah Kontraktor Mitos bisa dihitung dengan jari, dan menyinggung keluarga sebesar itu sama saja dengan menghancurkan masa depan seluruh keluarganya sendiri di kota ini.
Bryan mengepalkan tangannya dengan geram, perlahan-lahan menarik kembali seluruh energi spiritualnya masuk ke dalam tubuhnya. Atmosfer di gang komersial itu lambat laun kembali menjadi normal dan ringan. Murid-murid di sekitar mereka akhirnya bisa mengembuskan napas lega.
"Ayo pergi, Kevin," desis Bryan dengan wajah merah padam karena menahan malu dan amarah. Dia membalikkan badan, namun sebelum melangkah pergi, dia melirik Arkan dari balik pundaknya. "Turnamen Seleksi Akademi akan diadakan bulan depan. Di sana, tidak ada nama keluarga yang bisa melindungi kalian. Aku akan memastikan kamu merangkak di lantai arena, Arkan."
Arkan hanya menatap kepergian kakak beradik itu dengan pandangan datar tanpa minat. Setelah kedua orang itu benar-benar menghilang di balik tikungan gang, Arkan baru melepaskan resonansi elemen petirnya. Percikan listrik di tubuhnya mereda, dan dia mengembuskan napas panjang.
"Kamu enggak apa-apa, Arkan?" tanya Sky buru-buru, wajahnya dipenuhi rasa cemas yang mendalam saat dia memeriksa tubuh Arkan. "Maaf ya, gara-gara aku menyeret kamu ke masalah ini, mereka jadi mengincar kamu."
Arkan menggeleng pelan, lalu tersenyum tulus pada gadis di depannya. "Aku enggak apa-apa, Sky. Justru aku yang harus berterima kasih karena kamu sudah membelaku tadi. Tapi... perkataan Bryan tadi ada benarnya."
"Soal turnamen bulan depan?" Sky memiringkan kepalanya.
"Bukan," Arkan menatap telapak tangannya yang masih terasa sedikit kesemutan akibat efek sengatan listrik tiga puluh persen tadi. "Soal hierarki kekuatan. Tekanan spiritual dari Kontraktor Terampil saja sudah sekuat itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tekanan dari Kontraktor Agung seperti Pak Guntur, atau para tetua di tingkat Nirwana yang setiap perbedaan satu levelnya setara dengan sepuluh level biasa."
Arkan menatap Volt yang kembali menduselkan kepalanya ke leher Arkan dengan manja. "Energi spiritual manusiaku harus menjadi jauh lebih kuat agar aku bisa menyalurkan daya yang cukup untuk jurus-jurus Volt nanti. Mulai malam ini, aku harus mulai melakukan latihan meditasi ekstrem untuk memperluas wadah jiwaku."
Sky menatap Arkan dengan pandangan kagum yang semakin mendalam. Sifat pantang menyerah dan ketenangan Arkan di bawah tekanan benar-benar membuktikan bahwa dia memiliki mental seorang penguasa sejati.
"Kalau begitu, aku akan menemani kamu latihan!" seru Sky penuh semangat, kembali tersenyum ceria. "Aku tahu tempat latihan mandiri yang bagus di dekat distrik komersial. Ayo, kita harus bersiap agar bulan depan kita bisa mengacak-acak turnamen akademi!"
Arkan mengangguk mantap. Di bawah lampu-lampu kota yang mulai benderang menembus langit malam, tekad mereka berdua semakin mengkristal. Tantangan di dunia urban ini baru saja dimulai, dan Arkan siap menghancurkan setiap dinding hierarki yang mencoba menghalangi langkahnya bersama Volt.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!