Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.
Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.
Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.
Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahnya Aliansi Septem (2)
Kehancuran sebuah aliansi yang dibangun di atas fondasi obsesi tidak pernah membutuhkan waktu berbulan-bulan. Cukup satu retakan, satu pelanggaran ego, dan satu nama: Althea.
Ketika Park Jimin melangkah lebar menyusuri koridor sayap barat dengan Althea di dalam dekapan posesifnya, ia tidak hanya sedang merobek gaun bersensor milik J-Hope. Ia baru saja merobek lembar perjanjian keramat yang mengikat ketujuh penguasa Septem Foundation.
Langkah kaki Jimin yang terburu-buru bergema di sepanjang lantai marmer, menuju kamar pribadinya yang bernuansa mewah namun mengurung.
Althea menyandarkan kepalanya di dada Jimin, membiarkan kemeja hitam pria itu membungkus bahunya yang terekspos akibat robekan paksa tadi. Ia bisa mendengar detak jantung Jimin yang berpacu liar bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena adrenalin kemarahan dan gairah kepemilikan yang selama setahun ini ditekan sedalam-dalamnya oleh Protokol gila mereka.
"BRAK!"
Jimin menendang pintu kamarnya hingga terbuka, melangkah masuk, lalu mendudukkan Althea di atas ranjang beludru besarnya dengan kelembutan yang terasa menuntut.
Ia segera berlutut di hadapan Althea, kedua tangannya yang hangat dan sedikit gemetar menangkup wajah gadis itu, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam manik mata bulan sabitnya yang kini menggelap total.
"Kau aman di sini, Althea. Di kamarku," napas Jimin memburu, helai rambut hitamnya jatuh berantakan di dahinya.
"J-Hope-hyung tidak akan bisa menyentuhmu lagi dengan teknologi sialannya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun di rumah ini memperlakukanmu seperti objek eksperimen atau boneka yang bisa dikendalikan dari jarak jauh. Kau manusia, Althea... dan kau adalah milikku yang paling berharga."
Althea menatap Jimin dengan mata yang sengaja dikondisikan agar tampak berair, memancarkan kerapuhan yang manipulatif.
"Tapi... Tuan Jimin, Tuan J-Hope sangat marah. Bagaimana dengan aturan yang dibuat oleh Tuan Rm? Mereka pasti akan datang kemari. Aku takut..."
"Biarkan mereka datang!" bentak Jimin, suaranya meninggi, memecah keheningan kamar yang kedap suara. Ia mencengkeram jemari Althea, membawanya ke bibirnya untuk dikecup dengan penuh khusyuk, seolah-olah sedang memuja sebuah relik suci. "Persetan dengan Rm-hyung.
Persetan dengan aturan mingguan yang konyol itu. Mereka semua munafik, Althea. Mereka berpura-pura met bagimu dengan adil, padahal di belakang, Jin-hyung memanipulasi mu lewat laporan medis dan Suga-hyung mencoba meretas otakmu dengan musik sialannya. Aku tidak akan membagi mu lagi."
Sementara itu, di ruang kendali utama, atmosfer telah berubah menjadi neraka yang dingin. Jung J-Hope berdiri di depan meja konsolnya yang hancur sebagian akibat hantaman cangkir kopi yang ia lemparkan.
Napasnya naik turun dengan tidak teratur, matanya yang biasa memancarkan keceriaan palsu kini memerah, dipenuhi oleh rasa dihina yang luar biasa.
"KLIK."
Pintu ruang kendali terbuka. Rm masuk dengan langkah kaki yang tenang namun berat, diikuti oleh Jin dan Jeon Jungkook yang sudah mengenakan seragam taktis lengkapnya. Kehadiran tiga pria itu seketika membuat suhu ruangan drop hingga ke titik beku.
"Apa yang terjadi, J-Hope?" tanya Rm, suaranya beralun bariton, datar tanpa emosi, namun getaran di dalamnya menuntut penjelasan mutlak. Matanya melirik ke arah layar monitor utama yang menampilkan sinyal abu-abu mati bersimbol *CONNECTION LOST*.
"Jimin," desis J-Hope, suaranya begitu rendah dan tajam hingga terdengar seperti gesekan pisau. "Dia merobek gaun sensor Althea. Dia memutus paksa sistem pelacakan ku di tengah koridor lantai dua, lalu membawa Althea pergi ke kamarnya. Dia melanggar Protokol hari Rabu."
Mendengar hal itu, rahang Jungkook mengencang. Tangan kanan pria termuda itu yang terbungkus sarung tangan taktis hitam langsung berpindah, mencengkeram gagang senjata pelumpuh saraf di sabuk taktisnya. "Jimin-hyung sudah keterlaluan. Aku akan mengambil Althea kembali sekarang juga."
"Tunggu, Jungkook," tahan Jin, melangkah maju dengan jubah dokternya yang berkibar halus. Wajah tampannya menampilkan senyuman miring yang dingin.
"Jimin bertindak impulsif karena subjek kita memang sedang dalam kondisi tidak stabil. Seperti yang kukatakan pada Suga kemarin, sistem kalian yang terlalu agresif baik audio maupun sensor fisik hanya membuat Althea mencari perlindungan pada siapa pun yang memberinya celah. Ini adalah kesalahan metode mu, J-Hope."
J-Hope berbalik, menatap Jin dengan pandangan tidak percaya yang bercampur amarah.
"Kesalahan metode ku? Kau sendiri yang selalu mencari alasan medis untuk menghabiskan waktu lebih lama di paviliunnya setiap Senin malam, Hyung! Jangan berpura-pura menjadi penyelamat di sini. Kita semua tahu kau memanfaatkan posisimu sebagai dokter untuk memonopoli emosinya!"
"Cukup!"
Suara bentakan Namjoon menggema di seluruh ruangan, seketika membungkam perdebatan antara Jin dan Hoseok. Rm melangkah mendekati meja konsol, mengambil dokumen Protokol Septem bersampul kulit hitam yang selalu ia bawa, lalu melemparkannya ke atas meja pengawas dengan kasar hingga kertas-kertas di dalamnya sedikit berhamburan.
"Kita membuat aliansi ini untuk memastikan Althea tidak akan pernah memiliki celah untuk melarikan diri lagi seperti di Prancis,
" Rm menatap satu per satu saudaranya dengan mata yang berkilat penuh otoritas yang absolut.
"Namun, kalian membiarkan ego dan kecemburuan kekanak-kanakan kalian merusak struktur hukum dan keamanan yang sudah ku bangun dengan susah payah. Jika Jimin menolak untuk tunduk pada aturan hari ini, maka dia telah memilih untuk menjadi musuh dari Septem Foundation."
Rm menoleh ke arah Jungkook. "Jungkook, bawa tim pengamanan perimeter. Kita pergi ke kamar Jimin. Jika dia menolak menyerahkan Althea, gunakan kekuatan fisik. Otoritas tertinggi ada di tanganku."
Di dalam kamarnya, Jimin bisa merasakan badai yang sedang bergerak menuju ke arahnya. Ia telah mengunci pintu ganda kamarnya dengan sistem pengaman elektronik berlapis, namun ia tahu betul bahwa di hadapan Jungkook dan Rm, pintu baja sekalipun hanya menunda waktu selama beberapa menit.
Jimin berjalan menuju lemari besarnya, mengambil sebuah gaun beludru merah tua yang tebal, lalu memberikannya pada Althea.
"Pakai ini, Althea. Pakaian sutra mu sudah rusak. Dan dengarkan aku..."
Jimin memegang kedua bahu Althea dengan erat, tatapan matanya berubah menjadi sangat intens, hampir di ambang kegilaan yang putus asa.
"Sebentar lagi mereka akan datang. Mereka akan mencoba mengambil mu dariku, mencoba memasukkan mu kembali ke dalam paviliun kaca sialan itu. Aku ingin kau memilih, Althea.
Katakan pada mereka bahwa kau ingin tinggal bersamaku. Katakan pada mereka bahwa kau hanya menginginkan Park Jimin.
Jika kau melakukannya, aku bersumpah aku akan membawa seluruh aset pribadiku dan mengeluarkan mu dari mansion ini, menjauh dari mereka semua."
Althea menatap Jimin, hatinya bersorak gembira melihat bagaimana pria itu telah sepenuhnya termakan oleh halusinasinya sendiri tentang cinta dan kepemilikan. Rencana manipulasi yang ia tebar sejak hari Senin kini telah membuahkan hasil yang sempurna: Jimin siap mengkhianati Septem Foundation demi dirinya.
"Aku... aku mempercayaimu, Tuan Jimin," bisik Althea, mengangguk pelan dengan ekspresi wajah yang tampak sangat patuh.
Namun, di dalam kepalanya, Althea tahu betul bahwa Jimin tidak akan pernah bisa membawanya keluar dari sini.
Rm dan Jungkook tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Yang akan terjadi adalah sebuah pertumpahan darah psikologis dan fisik di antara mereka sendiri.
"BUM!!!"
Suara hantaman keras menghantam pintu luar kamar Jimin, membuat dinding-dinding ruangan bergetar hebat. Sistem pengaman elektronik di dinding mendadak mengeluarkan percikan api dan mengeluarkan bunyi alarm darurat. *WARNING: PERIMETER BREACHED.*
Jimin mendengus kasar, perlahan melepaskan tangannya dari bahu Althea. Ia berbalik menghadap pintu yang kini mulai retak di bagian engselnya.
Dengan gerakan yang sangat tenang namun mematikan, Jimin berjalan menuju laci meja riasnya, membuka kompartemen tersembunyi, dan mengeluarkan sebuah belati perak kecil berukir lambat keluarga senjata pribadi yang jarang ia gunakan kecuali dalam kondisi hidup dan mati.
"Tetap di belakangku, Althea," perintah Jimin tanpa menoleh, suaranya kini sedingin es, kehilangan seluruh kelembutan madunya yang tadi.
*BRAK!*
Pintu ganda kamar itu akhirnya jebol sepenuhnya, hancur berantakan menjadi serpihan kayu dan logam. Jeon Jungkook melangkah masuk terlebih dahulu, tubuh tegapnya yang dibalut rompi taktis memancarkan aura intimidasi militer yang mutlak. Di belakangnya,
Rm berjalan dengan langkah yang lambat, diikuti oleh Jung Hoseok yang menatap Jimin dengan pandangan haus darah, dan Kim Seokjin yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar yang menilai.
"Jimin-hyung," Jungkook bersuara, suaranya berat dan bergema di dalam kamar yang luas. Ia mengangkat tangan kanannya yang memegang alat pelumpuh saraf berdaya tinggi.
"Menjauhlah dari Althea. Kau melanggar hukum Protokol. Serahkan dia kembali ke dalam pengawasan perimeter sekarang juga."
Jimin terkekeh rendah, memutar belati perak di antara jemarinya dengan kelincahan yang mengerikan. "Hukum Protokol? Aturan sialan yang kalian buat hanya untuk memuaskan rasa haus kekuasaan kalian sendiri?
Aku tidak akan menyerahkannya, Jungkook. Althea adalah milikku. Dia sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak ingin kembali ke paviliun kaca atau menjadi eksperimen J-Hope-hyung."
Rm melangkah maju, berdiri di samping Jungkook. Tatapan matanya dari balik kacamata perak begitu tajam, seolah sedang menembus langsung ke dalam kepala Jimin.
"Kau sedang berhalusinasi, Jimin. Althea tidak memiliki hak untuk memilih, dan kau tidak memiliki hak untuk memonopolinya. Dia adalah aset kolektif Septem. Jika kau menolak mundur, aku akan menghapus hak eksklusif mu di hari Kamis secara permanen, dan kau akan diisolasi dari seluruh aktivitas yayasan."
"Hapus saja!" tantang Jimin dengan teriakannya yang memecah ketegangan.
"Aku tidak peduli dengan yayasan sialan ini lagi! Aku tidak peduli dengan aliansi ini! Jika aku harus menghancurkan Septem untuk memilikinya sendiri, maka aku akan melakukannya!"
Mendengar deklarasi perang dari Jimin, Jung J-Hope tidak bisa lagi menahan diri. Dengan raungan kemarahan yang tertahan sejak pagi, J-Hope melesat maju melewati Jungkook, menerjang ke arah Jimin dengan tangan kosong yang mengarah langsung ke leher saudaranya.
"Kau pengkhianat, Jimin!" teriak J-Hope.
Jimin bergerak dengan refleks yang sangat cepat. Ia merunduk, menghindari terkaman J-Hope, lalu mengayunkan belati peraknya ke arah lengan J-Hope.
"SRET!' Kain kemeja J-Hope robek, meninggalkan garis merah kecil yang mulai mengeluarkan darah segar di kulit lengannya. J-Hope meringis, namun kemarahannya justru semakin berlipat ganda.
Ia berbalik dan melayangkan tendangan keras yang menghantam rusuk Jimin, membuat pria berambut hitam itu terjerembab ke arah meja rias hingga vas bunga kaca di atasnya jatuh dan hancur berkeping-keping.
"Cukup! Amankan mereka berdua!" perintah Rm dengan nada suara yang menggelegar, memberi komando pada Jungkook.
Jungkook bergerak maju seperti badai hitam, berniat mengunci tubuh Jimin menggunakan teknik beladiri militernya.
Kamar mewah itu seketika berubah menjadi arena pertempuran yang brutal di antara tiga penguasa tertinggi mansion. Suara hantaman fisik, pecahan kaca, dan makian kemarahan saling bersahut-sahutan, menciptakan sebuah simfoni kehancuran yang sangat sumbang.
Di sudut ruangan, tepat di dekat kepala ranjang, Althea berdiri mematung. Pakaian beludru merah tuanya kontras dengan latar belakang kamar yang hancur berantakan.
Ia menyaksikan bagaimana J-Hope mencengkeram kerah baju Jimin, bagaimana Jungkook mengunci lengan Jimin dengan paksa hingga belati peraknya terlepas dan berdenting di atas lantai marmer, dan bagaimana Jin serta Kim Rm berdiri menonton dengan kilatan mata yang dipenuhi oleh kekecewaan dan kegilaan yang mendalam.
Air mata keputusasaan yang tadi Althea tunjukkan kini telah mengering sepenuhnya. Di bawah sorotan lampu kamar yang berkedip-kedip akibat kerusakan sistem kabel, bibir ranum Althea perlahan melengkung, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, sangat tajam, dan penuh dengan kemenangan yang absolut.
Aliansi mereka yang tanpa celah setahun lalu kini telah hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri. Mereka tidak lagi bersatu untuk mengurungnya; mereka sedang saling menghancurkan demi memperebutkannya.
Sangkar emas itu kini telah runtuh dari dalam, dan Althea tahu, di tengah puing-puing kehancuran ego ketujuh pria ini, langkah kakinya menuju kebebasan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung~