Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Suasana di sekitar mereka terasa mendadak dingin. Padahal matahari siang masih bersinar hangat di halaman rumah sakit.
Sahir yang berdiri di samping Sahira mulai menatap bingung ke arah ibunya dan Saga secara bergantian. Anak kecil itu tidak mengerti kenapa wajah ibunya tiba-tiba berubah tegang.
Sementara Saga masih berdiri diam, menunggu jawaban. Tatapannya tak lepas dari Sahira. Namun, yang ia dapatkan justru keheningan panjang.
Sahira menggenggam tangan Sahir lebih erat sebelum akhirnya menarik napas perlahan. Ketika ia kembali mengangkat wajah, matanya sudah memerah menahan sesuatu yang sejak tadi ia pendam.
“Dokter Saga,” ucapnya pelan, nada suaranya terdengar dingin.
“Dokter tidak berhak menanyakan urusan pribadi keluarga pasien.”
Saga terdiam.
“Itu bukan ranah seorang dokter,” lanjut Sahira dengan suara yang mulai bergetar. “Dan saya rasa … dokter cukup tahu batas profesional saja.”
Kalimat itu terdengar seperti tembok. Membuat jarak di antara mereka terasa semakin nyata. Namun, Saga justru menatapnya semakin dalam.
“Profesional?” ulangnya pelan.
Sahira menahan napas sesaat sebelum melanjutkan,
“Iya.”
Tatapannya perlahan jatuh pada Sahir yang masih memegang cup es krim di tangan kecilnya. Lalu kembali lagi pada Saga.
“Dan saya juga minta…” suara Sahira melemah sedikit, namun tetap terdengar tegas, “dokter jangan terlalu baik sama anak saya.”
Alisnya mengernyit tipis.
“Apa maksud kamu?”
Sahira menggigit bibirnya pelan sebelum berkata lirih,
“Karena dokter bukan siapa-siapa untuk dia.” Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia bayangkan sendiri.vNamun Sahira tetap memaksa dirinya kuat.
“Kita juga bukan siapa-siapa lagi satu sama lain,” lanjutnya pelan. “Hubungan kita cuma dokter dan keluarga pasien.”
Tak ada suara selain angin yang berembus pelan di taman rumah sakit. Sementara Sahir mulai merasakan suasana aneh di antara mereka. Anak kecil itu perlahan memegang ujung baju Sahira.
“Ibu…”
Namun Sahira tetap menatap Saga.
“Jadi…” suaranya mulai melemah, “tolong jangan buat anak saya terlalu dekat dengan dokter.”
Tatapan Saga perlahan mengeras. Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar semua itu. Lima tahun lalu, Sahira pergi meninggalkannya. Dan sekarang wanita itu kembali membuat garis tegas di antara mereka. Seolah dirinya benar-benar orang asing.
Saga tertawa kecil namun tak ada kehangatan di sana.
“Hanya dokter dan keluarga pasien?” ulangnya lirih.
Sahira tidak menjawab.
Karena kenyataannya kalimat itu bahkan lebih menyakitkan untuk dirinya sendiri. Saga menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kamu berubah.”
Mata Sahira kembali memanas namun ia memaksa dirinya tetap tegak.
“Orang memang bisa berubah, Dok.”
Panggilan itu kembali terdengar asing di telinga Saga, bukan suara lembut seperti dulu. Melainkan jarak yang sengaja diciptakan dan anehnya hal itu jauh lebih menyakitkan daripada kebencian.
Suasana di antara mereka masih terasa tegang. Tatapan Saga belum lepas dari Sahira sejak wanita itu mengatakan bahwa dirinya bukan siapa-siapa lagi bagi Sahir.
Kalimat itu terus terngiang di kepala Saga, membuat emosinya perlahan naik tanpa bisa ia tahan. Sementara Sahira berusaha tetap tenang meski dadanya terasa sesak.
Ia hanya ingin segera pergi dari sana. Sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Notifikasi pesan masuk. Sahira refleks menunduk melihat layar. Satu pesan transfer masuk dari Revano.
[Untuk bayar rumah sakit Sahir. Jangan nolak lagi.]
Jantung Sahira langsung berdegup tak nyaman. Belum sempat ia membalas ponselnya kembali berdering. Nama yang muncul di layar membuat udara di sekitar mereka terasa berubah, Revano Aditya.
Tatapan Saga langsung jatuh pada layar ponsel itu. Rahangnya perlahan mengeras.
Sementara Sahira tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Halo…”
[Ra?] suara Revano terdengar dari seberang. [Kamu kenapa nggak balas pesan aku? Sahir gimana sekarang?]
Tatapan Saga semakin tajam dan Sahira menyadarinya. Menyadari pria itu sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya. Perlahan, Sahira menggenggam ponselnya lebih erat. Lalu dengan suara yang sengaja dilembutkan, ia berkata,
“Iya, Sayang … aku tadi lagi ngurus administrasi rumah sakit.”
Kalimat itu menghantam Saga tepat di dadanya. Tatapan pria itu berubah gelap seketika. Sementara Sahira memaksa dirinya tetap tenang meski jemarinya mulai dingin.
[Oh ya?] suara Revano terdengar lega. [Terus kondisi Sahir gimana?]
“Udah lebih baik,” jawab Sahira pelan sambil melangkah menjauh. “Sebentar lagi kami pulang.”
Sahir yang berdiri di dekat ibunya tampak bingung melihat perubahan suasana itu. Namun, Sahira terus berjalan sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
[Iya … nanti aku telepon lagi, ya.]
Tanpa berani menoleh ke belakang, Sahira meninggalkan Saga yang masih berdiri diam di tempatnya. Tatapan pria itu mengikuti langkahnya. Tatapan yang tajam dan penuh amarah yang perlahan memuncak di dalam dirinya.
Kata sayang itu terus terngiang di kepala Saga. Lima tahun lalu, ia memergoki Sahira bersama Revano. Dan sekarang wanita itu memanggil sahabatnya sendiri dengan panggilan yang dulu hanya diberikan untuk dirinya.
Saga tertawa kecil. Namun tak ada sedikit pun kehangatan di sana. Tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. Rahangnya menegang. Sementara sesuatu di dalam dadanya perlahan terasa terbakar api cemburu. Ternyata rasa sakit yang dulu belum pernah benar-benar hilang.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
Takut kalau keluarga tiri dan Clara menemukan mereka di bali