"Ternyata aku ... istri kedua?"
Mendapatkan sosok suami yang nyaris sempurna seperti Azzam Naufal Ardana membuat Azra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, terlebih mengingat masa lalunya yang kelam. Namun, delapan tahun menikah dan dikaruniai dua anak, Azzam tetap menyembunyikannya dari dunia luar dan enggan mengenalkannya pada keluarga besar.
Azra memilih patuh dan bungkam, sampai sebuah fakta pahit mengoyak paksa kesabarannya.
"Ini kesakitan paling hebat yang pernah kurasakan seumur hidupku. Kamu menipuku, Mas!"
"Lampiaskan amarahmu, Azra. Asal jangan pernah meminta cerai."
Azra didera bimbang. Di satu sisi, anak-anaknya butuh sosok ayah. Di sisi lain, ia enggan menjadi orang ketiga. Namun, Hana ... istri pertama Azzam justru melontarkan kalimat yang membuat Azra tercengang.
"Aku tahu semua tentangmu, Azra. Tetaplah menjadi istri Mas Azzam."
"Kau gila?"
Saat cinta berubah menjadi penipuan yang rumit, haruskah Azra bertahan demi kebahagiaan anak-anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 Cucu Keluarga Ardana
Maira menerima biskuit wafer yang diulurkan oleh Farhan dengan senang hati. Bocah perempuan itu langsung melahapnya dengan nikmat dan mendadak anteng duduk di pangkuan hangat sang kakek. Sementara itu di sudut lain, Ibrahim masih setia berdiri kokoh. Bocah menggemaskan bertubuh gempal itu terus menatap Maira dengan pandangan menyelidik yang teramat tajam, seolah-olah siap menerkam sepupu barunya itu hidup-hidup dari wilayahnya.
Farhan yang menggendong Maira tersenyum hangat, mengabaikan tatapan penuh permusuhan dari cucu pertamanya. "Enak wafernya, Sayang?" tanya Farhan lembut pada cucu perempuannya itu.
Maira mengangguk pelan sembari mengunyah, matanya menatap lekat pada sisa potongan wafer cokelat di tangannya.
"Wapel mahal, pacti enak. Lakus, kayak nda pelnah makan enak," celetuk Ibrahim tiba-tiba dengan nada menyindir yang luar biasa sarkastik untuk anak seusianya.
Perkataan itu seketika membuat Maira menghentikan kunyahannya. Ia menatap Ibrahim dengan pandangan tak percaya sekaligus tersinggung. Maira langsung menegakkan tubuhnya di pangkuan Farhan.
"Heh cempak jangklik! Nda ada lakuuuuus, Maila menghalgaiiiiii! Citu mau Maila Halgai?!" pekik Maira nyaring, menantang balik Ibrahim dengan kilatan mata yang tidak mau kalah.
"Iblahim itu mahal tau nda? Mahaaaaaal!" desis Ibrahim kesal, melipat kedua tangannya di dada karena namanya dipelesetkan menjadi jangklik oleh bocah baru di rumahnya.
Maira tidak memedulikan kekesalan Ibrahim. Ia menggigit kembali wafernya dengan gerakan kasar seolah sedang meluapkan kekesalan. Di saat yang sama, ia mulai merasa gerah dan terganggu dengan kain kerudung yang dipakaikan oleh abinya sejak di rumah sakit tadi. Dengan gerakan cepat dan asal, tangan gembul Maira menarik kerudung itu hingga terlepas, membiarkan rambut pendeknya terlihat bebas.
"Ictigpaaaaaal Maliaaaa!" pekik Ibrahim histeris melihat tindakan Maira. Bocah itu dengan dramatis langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan. "Aulaaaat aulaaaaat! Docaaa nanti iblahim," teriak bocah gempal itu ketakutan, namun sepasang matanya tetap mengintip nakal di balik celah jari-jari tangannya yang gembul.
Maira mencibir melihat tingkah lebay sepupunya. "Yang halam itu cuman babi!" ucap Maira ketus sebelum membuka lebar mulutnya untuk melahap habis sisa wafer cokelat tersebut.
Ibrahim mendelik. Merasa aksi protesnya tidak mempan, ia menarik kembali tangannya yang menutupi wajah dan menatap Maira yang sudah kembali fokus dengan makanannya. Sebenarnya, Maira memang bukan tipe anak yang selalu mengenakan kerudung di setiap waktu. Namun Azzam selalu membiasakan memakaikannya setiap kali mereka keluar rumah, walau Maira sering kali protes tidak suka. Kata abinya, hal itu dilakukan agar putri kecilnya terbiasa sejak dini.
Ibrahim berdeham, mencoba mencari celah baru untuk menceramahi sepupunya. "Yang halam itu belgunjing kata umi Iblahim, belgunjing olang itu calang doca, mencaci olang itu calang doca," ucap Ibrahim sok tahu dengan intonasi meniru gaya abinya saat berdakwah. Namun, matanya perlahan melirik ke arah Fathimah yang sejak tadi duduk di sofa seberang dengan raut wajah masam dan ditekuk lurus.
Ibrahim menjeda kalimatnya sebentar, lalu melanjutkan dengan wajah tanpa dosa, "Macang muka plengut juga calang doca."
Perkataan Ibrahim seketika membuat atmosfer ruangan mendingin. Fathimah yang merasa tersindir langsung menatap cucunya itu dengan delikan mata yang teramat tajam.
"Kamu sedang menyindir Jida, Ibrahim?" tanya Fathimah dengan nada suara yang meninggi menahan kesal.
Ibrahim mengerjapkan matanya, sama sekali tidak merasa takut dengan tatapan mengintimidasi sang nenek. "Nda ucah cindil cindiiil, cindil itu di belakang olangnya, ini di depan olangnya, namanya ... calkas!" ucap Ibrahim lantang dengan wajah polos, membuat Fathimah membulatkan matanya syok berat karena dikatai sarkas oleh cucu sendiri.
"Abiiii!" seru Fathimah histeris, langsung mengadu pada suaminya karena merasa harga dirinya runtuh.
Wanita paruh baya itu dengan gusar beranjak berdiri dari duduknya, melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga dengan hentakan kaki penuh kekesalan. Melihat sang istri yang merajuk dan meledak, Farhan seketika didera rasa panik. Dengan terburu-buru, ia menurunkan Maira dari pangkuannya, mendudukkan bocah perempuan itu di atas sofa empuk lalu menyodorkan beberapa bungkus camilan lain di dekatnya.
"Diam di sini dulu ya, Sayang. Jid mau bujuk Jidamu dulu sebentar," ucap Farhan tergesa-gesa sebelum akhirnya berlalu pergi menyusul istrinya yang ngambek, meninggalkan kedua bocah gempal itu berdua saja di ruang tengah.
Suasana ruangan mendadak hening. Ibrahim melirik perlahan pada Maira yang kini kembali sibuk merobek bungkus jajanan barunya tanpa memedulikan drama orang dewasa.
"Heh Malia!" seru Ibrahim sengaja memprovokasi lagi.
Maira langsung menoleh cepat dengan mata yang membulat sempurna penuh amarah. "Mailaaaaaa! Jangkliiiik!" pekiknya tidak terima namanya diubah-ubah.
"Cama aja ci," gumam Ibrahim pelan dengan wajah lempeng, tetap teguh pada pendiriannya dan sama sekali tidak mau mengaku salah.
___________________________
nanti kamu jd duta istighfar buat ummahmu
ummah pilih kasih za Mai 🤣
dia akan jd garda terdepannya ummah