(21+ Harap bijak dalam memilih bacaan)
Tidak pernah terbayangkan oleh Dilvina keputusan nya untuk pergi ke negara lain meninggalkan pernikahan yang di anggap nya telah gagal dan penuh rasa sakit malah menyambut masalah lain yang lebih parah.
Sebuah kisah kekelaman masa lalu keluarga nya hadir kembali, para pembunuh ayah nya penghancur masa depan keluarga nya saling melingkar berkesinambungan hadir Bersama masa lalu sang suami JULIAN ANDERSON yang merupakan seorang agen rahasia di sebuah organisasi dulu, kini Jullian hadir kembali berusaha untuk memperbaiki pernikahan mereka yang berawal dari keterpaksaan dan perjodohan itu, akankan semua masalah terselesaikan? apakah mereka akan kembali bersama?
“Aku menjadi tahu kenapa Mama memilih Jullian sebagai menantu nya, ya tidak lain mama pasti tahu semua ini akan terjadi!”
“Dan sekarang kau datang? untuk apa lagi Jullian!”
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Jullian melepas kan Dilvi dari dekapan dada nya, namun kedua tangan Dilvi masih memegang erat tangan Jullian, Dilvi beringsut seakan tidak rela Jullian melepasakan dekapan mereka, kini manik mereka bertemu tatapan khawatir Jullian keluar dari hati, “Kenapa kau menangis, apa yang sudah di lakukan nya?”
Dilvi menggeleng kali ini ia sadar sedari tadi menggenggam erat tangan Jullian, ia pun seketika melepaskan, “Maaf” seru nya menjauh.
Pandangan Jullian belum menyurut, ia semakin lirih menatap pada manik sendu Dilvi, “Kau sedang ada masalah, kau tidak baik-baik saja aku tau!”
Dilvi hanya menggeleng, benar-benar ia ingin menangis lagi, benar-benar ia berada di antara hal sulit,”Kau sudah makan Jull?” Dilvi mengalihkan masih bernada serak.
“Tadi sore, aku memakan dua porsi milik mu juga” lelaki itu tersenyum.
Dilvi masih terus menatap nya, entah kenapa ia seperti mendapat kekuatan mendapatkan senyuman tulus Jullian.
“Tidur lah lagi, pindah ke atas!” perintah Jullian.
“Aku mau di sini!” tarik Dilvi bantal sofa lalu memeluk nya.
“Di atas aja, di sini dingin! aku angkat ya?”
Dilvi menggeleng, ia sudah di posisi nyaman, Dilvi memiringkan kepala nya, semakin lama menatap wajah Jullian membuat nya mellow, kini ia mencebik lagi akan menangis lagi, secepat nya ia menutupi wajah nya.
“Kau kenapa?”
“Pergilah aku ingin tidur!”
Jullian bangkit lelaki itu tidak mengintruksi, ia tiba-tiba saja membuat Dilvi mengangkat kepala nya, Jullian menduduki sofa dan membuat Dilvi menjadikan paha nya sebagai bantal.
“Tidur lah, aku akan menemani mu!” Jullian memejam menyandar pada sandaran sofa yang cukup lebar dan sangat empuk itu Membuat Dilvi meniduri paha nya.
Dilvi terperangah, tapi di menyukai itu tangan Jullian mulai mengusap-usap rambut Dilvi, Dilvi menghangat Jullian menjadi orang kedua setelah ayah nya yang mengusap kepala nya saat tertidur, “Jull, kau mengingatkan ku pada Almarhum ayah ku” Dilvi mengulas senyum, sesuatu yang paling di hindari nya untuk di kenang namun tangan ini mengingatkan nya.
“Tidurlah, anggap aku ayah mu” ucap lelaki itu terus mengusap dengan mata terpejam.
Dilvi menatap ke atas kepada wajah Jullian di atas nya, lelaki itu terpejam dia seperti kelelahan, “Jull…”
Lelaki itu berdehen ia benar-benar sudah di landa kantuk, “Ada yang ingin kau ceritakan?”
“Tidak! tidur lah!” miringkan Dilvi tubuh nya untuk kemudian memejam, ia menikmati usapan lembut tangan lelaki ini, merasakan hangat tangan lebar nya kemudian tak lama ia pun memejam.
Kedua nya pun terpejam, Dilvi berbantal pada paha Jullian dengan Jullian yang sesekali terjaga mengusap kepala Dilvi.
Tidak pernah ku rasakan tenang nya tidur setelah kepergian ayah secara tragis, aku selalu terbangun di kala malam, terlalu sering ku dengar berkali-kali suara tembakan itu seakan jelas di dekat ku, namun kini ku rasakan tenang, tangan ini melindungi ku, tubuh ini menjaga ku.
Waktu hampir menjelang pagi saat kini Jullian mulai terjaga ia merasakan paha nya menghangat sesuatu yang panas menimpa nya, lelaki itu mengerjab menegakkan tubuh nya dari sandaran.
“Kenapa panas sekali” ia pun mulai menyentuh dahi Dilvi dengan punggung tangan nya, “Demam! bagaimana bisa?” Jullian terkesiap.
Dilvina masig terpejam namun tubuh nya meringkuk dengan kedua tangan melipat di perut, ia seperti menggigil namun sangat lelap, Jullian beranjak bangkit, ia panik tidak tahu apa yang harus pertama kali di lakukan.
“Kompres” Jullian pun bangkit pelan sekali mengangakat kepala Dilvi lalu meletakkan nya lagi, lelaki itu berjalan ke arah dapur, sesuatu yang dia ingat, demam bisa di redakan dengan kompresan air hangat, ia pun segera melangkah ke dispenser mencari wadah untuk menampung air hangat nya, kemudian mencari handuk kecil yang dia baru beli tadi, untuk segera mengompres Dilvina.
Jullian panik, ia berjongkok mulai merendam handuk ke dalam wadah kemudian memeras nya metakkan ke dahi Dilvi kemudian, sangat pelan sekali Jullian meletakkan lipatan handuk namun tetap sukses membuat Dilvi terlonjak ketika handuk hangat menyentuh kulit nya.
Dilvi meracau, tidak jelas apa ucapan nya, namun ia memejam lagi, lelaki itu sudah meletakkan handuk di kepala Dilvi, kini menatap nya lamat-lamat, wajah cantik tampak memucat dan terpejam.
“Kita ke atas ya” usap Jullian rambut Dilvi, kemudian lelaki itu bangkit menyalipkan kedua tangan nya pada leher dan satu nya lagi pada lipatan lutut Dilvi kemudian mengangkat nya.
Dilvina berdehem, sadar tubuh nya di angkat, “Jull dingin!” keluh nya menatap wajah Jullian yang membawa tubuh nya.
“Iya tidur lah lagi, nanti kita ke rumah sakit jika sudah terang ya” Ujar Jullian masih terus melangkah naik ke atas tangga.
Dilvina tidak merespon ia kembali memejam,kini Jullian meletakkan nya pelan sekali ke ranjang mereka, meluruskan tubuh Dilvi lalu menutup tubuh nya sedikit, tidak menutupi kaki karena demam tidak boleh di selimuti.
Dilvina melipat kedua tangan nya memeluk diri nya sendiri, ia merasakan dingin di tubuh nya yang panas, Jullian di buat gelisah ia menunggu jika ini memburuk dalam beberapa jam ke depan ia akan segera melarikan Dilvi ke rumah sakit.
Lelaki itu masih di ujung ranjang, dengan tangan terus mengusap-usap memberi kenyamanan, memperhatikan apapun gerakakan pada Dilvi.
Degghhhh… Jullian melebarkan mata nya ia melihat sebuah lingkaran cincin di jemari manis kanan Dilvina di sebalik tangan nya yang terlipat.
Jelas sebelum pergi ia lihat benda itu tidak ada di sana, tangan Dilvi hanya memakai sebuah jam, sangat jelas Jullian melihat ketika Dilvi melambai pergi, cincin yang di lihat nya ini tampak baru Jullian tahu itu pasti adalah batuan berlian, ia terenyuh, apakah sesuatu yang serius sudah terjadi?
Apakah sebuah keseriusan sudah tersepakati?
Jullian bergemuruh tidak percaya ini, saat kini bahkan ia masih melingkarkan cincin pernikahan mereka pada jemari nya, namun bagaimana bisa Dilbi tega melingkarkan cincin simbol cinta lelaki lain pada jemari nya.
Jullian bangkit kekesalan nya mulai merangkak naik, Dilvi merasakan tempat tidur yang terasa bergerak kala Jullian bangkit, ia membuka mata nya, “Jull, dingin” rengek nya lagi.
Jullian terlanjur sakit, sebagai lelaki ia ternyata lemah ia hampir menangis saat kini merasa Dilvina menaik ulur hati nya.
“Jull” Dilvina kembali meracau memanggil nama lelaki itu.
Untuk pertama kali nya Jullian benar-benar menitikkan air mata, kini ia benar-benar tak bisa menahan lagi, ia terus memejam menaham gemuruh dan kecewa, goresan yang menyayat-nyayat membayangkan sisa-sisa perjuangan nya mungkin akan benar-benar berkhir.
.
.
.
"fase paling tinggi mencintai adalah mengikhlaskan" tapi aq ora isok thor 😭😭
habis gas Auriga setelah reread semua karya Ka Tris disini... meni kangen sangaatt