SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Keberangkatan
Dua hari setelah rapat di Markas Armada PPM, seluruh anggota ekspedisi berkumpul di Hanggar Utama Orbit Kallista.
ESS Horizon telah selesai dipersiapkan.
Robot servis bergerak di sepanjang lambung kapal untuk pemeriksaan terakhir, sementara petugas logistik menurunkan kontainer terakhir berisi perbekalan.
Di depan pintu masuk hanggar, dua belas anggota ekspedisi berdiri membentuk satu baris.
Kapten Idris melihat mereka satu per satu.
"Mulai hari ini, kita bukan lagi mewakili divisi masing-masing. Kita adalah satu tim."
Tidak ada tepuk tangan ataupun sorakan.
Semua memahami bahwa misi ini berbeda dari ekspedisi sebelumnya.
"Kalian sudah mengetahui tujuan umum kita," lanjut Kapten Idris. "Tetapi ada satu hal yang ingin saya tegaskan."
Ia berhenti sejenak.
"Prioritas pertama adalah seluruh kru pulang dengan selamat."
"Prioritas kedua baru menyelesaikan misi."
Beberapa anggota saling berpandangan.
Kalimat itu tidak biasa.
Dalam sebagian besar misi PPM, keberhasilan operasi selalu berada di atas keselamatan personel.
Kael memperhatikan reaksi Kapten Idris.
Ia semakin yakin bahwa sang kapten mengetahui sesuatu yang belum diberitahukan kepada mereka.
Di dalam kapal, seluruh kru mulai menempati pos masing-masing.
Darius memimpin pemeriksaan ruang mesin.
"Reaktor?"
"Normal."
"Generator gravitasi?"
"Normal."
"Cadangan energi?"
"Seratus persen."
"Bagus."
Ia menandatangani laporan digital sebelum mengirimkannya ke dek komando.
Di laboratorium, Lyra bersama analis data bernama Rina memeriksa seluruh peralatan penelitian.
"Semua sampel sudah masuk?"
"Sudah."
"Drone pengambil sampel?"
"Dua belas unit."
"Mikroskop kuantum?"
"Siap digunakan."
Lyra mengangguk puas.
Kemudian ia melihat sebuah lemari penyimpanan yang masih terkunci.
"Akses ditolak."
Ia mencoba lagi.
Hasilnya sama.
Rina ikut mencoba.
Tetap gagal.
"Sepertinya hanya Kapten yang bisa membukanya," kata Rina.
Lyra tidak mempermasalahkannya.
Mungkin memang ada peralatan khusus yang belum boleh digunakan.
Di dek komando, AURA mulai menjalankan pemeriksaan otomatis.
"Seluruh sistem navigasi aktif."
"Komunikasi internal normal."
"Komunikasi eksternal normal."
"Mesin warp siap."
Kael memperhatikan peta bintang yang muncul di layar utama.
Rute menuju Galaksi Asterion ditampilkan dengan garis berwarna biru.
Sebagian besar perjalanan akan melewati jaringan gerbang antarbintang.
Namun setelah gerbang terakhir...
garis biru berubah menjadi garis putus-putus.
"Kenapa bagian ini berbeda?" tanya Kael.
AURA menjawab.
"Karena wilayah tersebut belum memiliki jalur navigasi permanen."
"Data pemetaannya?"
"Tidak lengkap."
Kapten Idris menambahkan,
"Mulai dari titik itu, kita mengandalkan pemetaan langsung."
Beberapa menit kemudian, suara Laksamana Rowan terdengar melalui sistem komunikasi.
"ESS Horizon, apakah seluruh persiapan selesai?"
Kapten Idris menjawab,
"Seluruh kru sudah berada di kapal."
"Reaktor aktif."
"Logistik lengkap."
"Kami siap berangkat."
"Baik."
Suara Rowan terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Semoga perjalanan kalian berhasil."
Sambungan komunikasi terputus.
Pintu hanggar mulai terbuka.
Perlahan, ESS Horizon bergerak meninggalkan dermaga.
Di luar, Orbit Kallista dipenuhi kapal dagang, kapal patroli, dan stasiun industri yang mengelilingi planet di bawahnya.
Kael berdiri di samping navigator.
"Berapa lama sampai gerbang pertama?"
"Dua puluh menit."
"Kecepatan?"
"Lima belas persen daya mesin."
Kapten Idris duduk di kursi komando.
"Tidak perlu terburu-buru."
"Ini mungkin terakhir kalinya kita berada di wilayah yang benar-benar kita kenal."
Selama perjalanan menuju gerbang pertama, suasana di kapal relatif tenang.
Beberapa kru mulai saling mengenal.
Di ruang makan, Darius duduk berhadapan dengan Lyra.
"Saya dengar ini pertama kalinya Anda ikut ekspedisi antargalaksi."
"Benar."
"Gugup?"
"Sedikit."
Darius tersenyum.
"Itu kabar baik."
Lyra mengernyit.
"Kenapa?"
"Orang yang tidak pernah gugup biasanya terlalu percaya diri."
Lyra tertawa kecil.
"Itu cara menghibur yang aneh."
"Setidaknya berhasil membuat Anda tertawa."
Tak lama kemudian, alarm pendek berbunyi.
"Gerbang Antarbintang Sigma-4 berada di depan."
Seluruh kru kembali ke pos masing-masing.
Melalui jendela utama, sebuah struktur berbentuk cincin raksasa tampak melayang di angkasa.
Diameter gerbang itu hampir empat puluh kilometer.
Puluhan kapal keluar dan masuk secara bergantian di bawah pengawasan AI lalu lintas antarbintang.
Navigator melapor.
"Jalur kita sudah mendapat izin."
"Masukkan Horizon ke antrean."
"Baik."
ESS Horizon perlahan mendekati gerbang.
Beberapa detik kemudian, kapal memasuki pusat cincin.
Ruang di depan mereka tampak beriak seperti permukaan air.
Getaran halus terasa di seluruh kapal.
Lalu...
dalam sekejap, pemandangan di luar berubah.
Mereka kini berada di sistem bintang lain yang berjarak hampir delapan ratus tahun cahaya dari Orbit Kallista.
"Transit berhasil," lapor AURA.
Perjalanan seperti itu terus berlanjut selama beberapa hari.
Gerbang pertama.
Gerbang kedua.
Gerbang ketiga.
Setiap kali keluar dari gerbang, mereka semakin jauh dari wilayah inti PPM.
Lalu, pada hari keenam perjalanan, AURA memberikan laporan yang berbeda.
"Kapten."
"Ada apa?"
"Kita akan memasuki gerbang terakhir."
Kapten Idris berdiri.
Ia melihat seluruh kru yang mulai berkumpul di dek komando.
"Setelah gerbang ini..."
"...tidak ada lagi fasilitas PPM."
"...tidak ada lagi pangkalan."
"...tidak ada lagi jalur perdagangan."
"Jika terjadi kerusakan, kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri."
Tidak ada yang berbicara.
Semua memahami arti ucapan itu.
ESS Horizon perlahan melaju menuju gerbang terakhir.
Begitu kapal keluar dari sisi seberang...
layar navigasi berubah.
Hampir seluruh peta di depan mereka berwarna hitam.
AURA berbicara dengan nada datar.
"Perhatian."
"Anda telah meninggalkan wilayah eksplorasi resmi PPM."
"Memulai pembuatan peta baru."
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kapal itu...
setiap kilometer yang mereka tempuh akan menjadi wilayah yang belum pernah dipetakan oleh manusia.