NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:133.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Mobil SUV hitam besar milik Tian akhirnya berhenti dengan sempurna di bawah kanopi lobi yang mewah di sebuah hotel bintang lima di pusat kota. Begitu kendaraan premium itu diam, beberapa petugas valet langsung bergegas mendekat dengan sikap sangat hormat.

​Hanum bersiap untuk membuka sabuk pengamannya. Dia menoleh ke belakang, berniat untuk meraih kantong kertas besar berisi kue organik yang tadi dibeli oleh Tian di toko langganan anak-anaknya. Hanum berpikir, sebagai pihak yang dijemput, sudah sepatutnya dia yang membawa barang bawaan tersebut agar tidak merepotkan kakak ipar tirinya lebih jauh.

​Namun, baru saja ujung jemari Hanum hendak menyentuh tali kantong kertas itu, sebuah tangan kekar dengan urat-urat yang menonjol maskulin bergerak lebih cepat. Tian menyambar kantong tersebut dengan gerakan taktis, menjauhkannya dari jangkauan Hanum.

​"Jangan disentuh," ucap Tian pendek, suaranya terdengar dingin dan mutlak seperti biasanya.

​Hanum tertegun, menatap Tian dengan dahi berkerut bingung. "Kak, biar aku saja yang bawa. Kakak sudah repot menyetir dan membelinya tadi. Lagipula ini kue untuk anak-anakku."

​Tian tidak memedulikan bantahan Hanum. Dia keluar dari pintu kemudi, mengitari kap mobil dengan langkah lebar yang gagah, lalu membukakan pintu penumpang depan untuk Hanum. Menyadari Hanum masih menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya, Tian mendengus pelan.

​"Tugasmu hari ini hanya berjalan dengan benar," ketus Tian sambil memberikan isyarat dagu agar Hanum segera turun. "Turunlah. Dan berjalanlah di depan saya. Saya yang akan membawa kantong ini."

​Hanum sempat terpaku selama beberapa detik di posisinya. Kalimat Tian barusan, meskipun diucapkan dengan nada yang ketus dan wajah sekaku es batu, mengirimkan desiran aneh yang menghangatkan dinding hatinya.

"​Berjalanlah di depan saya."

​Kata-kata itu mendadak memutar kembali memori kelam Hanum tentang bagaimana perlakuan Hanif selama pernikahan mereka. Hanif tidak pernah memperlakukannya sehormat ini. Jika mereka sedang berjalan di tempat umum, Hanif selalu melenggang di depan dengan angkuh, membiarkan Hanum tertinggal di belakang sambil repot menjinjing tas belanjaan yang berat atau menuntun kedua anak kembar mereka. Bagi Hanif, Hanum adalah wanita mandiri yang bisa melakukan semuanya sendiri sebuah alasan klise untuk menutupi sifat tidak tahu dirinya.

​Namun sekarang, dari seorang Tian pria dingin yang statusnya hanyalah kakak ipar tiri dan tidak memiliki hubungan darah setetes pun Hanum mendapatkan perlakuan yang sangat bertolak belakang. Tian menempatkan Hanum di depan, memposisikan dirinya sendiri di belakang sebagai pelindung, dan dengan sukarela mengambil alih beban barang bawaan tanpa perlu diminta. Ini adalah bentuk penghormatan yang tidak pernah Hanum dapatkan dari Hanif selama bertahun-tahun.

​Dengan perasaan campur aduk yang sarat akan rasa syukur, Hanum akhirnya turun dari mobil. Dia berjalan masuk melintasi pintu kaca lobi hotel yang megah, membiarkan Tian berjalan beberapa langkah di belakangnya secara protektif.

​Mereka berdua menaiki lift khusus menuju lantai teratas tempat kamar presidential suite berada. Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai tujuan, mereka berjalan menyusuri lorong berkarpet tebal hingga tiba di depan pintu kamar nomor urut pertama. Tian menempelkan kartu akses, dan begitu pintu besar itu terbuka, keheningan yang sejak pagi menyelimuti Hanum seketika pecah berantakan.

​"Bundaaaaa!!!"

​Dua lengkingan suara cempreng yang sangat dirindukan Hanum bergema di dalam ruangan yang luas. Kayla dan Kenzie yang tampaknya sudah selesai mandi dan berpakaian rapi langsung berlari kencang dari arah ruang tengah.

​Hanum seketika berlutut di atas karpet, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Kedua anak kembar kesayangannya itu langsung menghambur ke dalam pelukan Hanum, menubruk tubuh sang mama dengan erat. Kenzie menciumi pipi kiri Hanum berulang kali, sementara Kayla memeluk leher Hanum dengan erat seolah-olah mereka sudah berpisah sangat lama.

​"Bunda, Kenzie kangen banget! Tadi malam Kenzie bobo sama Opa dan Om Tian di kasur yang besaaarrr sekali!" celoteh Kenzie bersemangat dengan mata bulatnya yang berbinar-binar.

​"Iya, Bun! Kayla juga berenang tadi pagi sama Om Tian, seru banget!" timpal Kayla tidak mau kalah, menunjuk-nunjuk ke arah balkon luar yang memperlihatkan kolam renang pribadi di area suite tersebut.

​Hanum tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca menatap wajah ceria kedua buah hatinya. Rasa sesak akibat dikhianati Hanif seolah menguap begitu saja setiap kali dia melihat senyum tulus anak-anaknya. "Iya, sayang? Anak-anak Bunda pintar sekali ya, nggak rewel semalam?" tanya Hanum sambil mengusap sisa keringat di dahi Kenzie.

​Belum sempat kedua anak itu menjawab, pasokan oksigen di indra penciuman Kayla yang tajam menangkap sesuatu. Matanya langsung beralih dari Hanum dan tertuju pada kantong kertas besar yang dipegang oleh Tian di belakang tubuh Hanum.

​"Om Tian!!! Itu kue dari toko kesukaan Kayla, ya?!" teriak Kayla histeris, langsung melepaskan pelukannya dari Hanum dan berhambur menuju kaki Tian.

​Kenzie yang mendengar kata kue juga ikut bangkit dan menatap pamannya dengan pandangan memohon yang sangat menggemaskan. "Om Tian beli croissant cokelat untuk Kenzie juga?"

​Wajah kaku Tian yang semula menyerupai gunung es, seketika melunak dalam hitungan detik saat kedua pasang mata polos itu menatapnya penuh harap. Tian sedikit membungkukkan tubuh tingginya, menurunkan kantong kertas itu agar sejajar dengan jangkauan tangan si kembar.

​"Iya. Om sudah membelinya untuk kalian," jawab Tian dengan nada suara yang entah bagaimana caranya bisa berubah menjadi jauh lebih lembut daripada biasanya. "Sekarang bawa kue ini ke meja makan di dalam. Jangan makan berantakan di atas karpet."

​"Siap, Om Tian! Terima kasih, Om Tian yang paling ganteng!" seru Kenzie riang, mengambil alih kantong kertas itu bersama Kayla sebelum akhirnya kedua anak itu berlari kecil menuju ruang makan dengan wajah penuh kemenangan.

​Tian berdiri tegak kembali, menghela napas pelan sambil merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut karena ditarik oleh Kayla tadi. Hanum bangkit berdiri dari posisinya, menatap Tian dengan senyuman tulus.

​"Terima kasih lagi ya, Kak. Kakak benar-benar telaten menghadapi mereka," ucap Hanum lembut.

​Tian hanya melirik sekilas, kembali memasang wajah datarnya seolah kehangatan yang dia tunjukkan pada si kembar beberapa detik lalu hanyalah ilusi belaka. "Mereka tidak berisik kalau mulutnya penuh dengan gula," jawabnya sarkas, membuat Hanum hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala maklum.

​"Hanum..."

​Sebuah suara bariton yang sarat akan wibawa memecah interaksi mereka. Hanum menoleh dan melihat sosok Papa mertuanya baru saja keluar dari arah kamar utama. Pria paruh baya itu tampak sangat rapi dengan kemeja batik sutra lengan panjang, memancarkan aura seorang pengusaha besar yang sangat disegani.

​"Papa, pagi," sapa Hanum penuh hormat, menundukkan kepalanya sedikit.

​Papa mertua Hanum tersentak kagum melihat wajah menantunya yang tampak lebih tegar hari ini. Beliau tersenyum hangat, berjalan mendekat lalu menepuk bahu Hanum dengan lembut. "Pagi, Hanum. Bagaimana tidurmu semalam? Apakah kamu bisa beristirahat dengan baik?"

​"Bisa, Papa. Rumah terasa sangat sepi tanpa anak-anak, tapi Hanum bisa tidur cukup baik," jawab Hanum jujur.

​Papa mertuanya mengangguk paham, lalu melirik ke arah Tian yang berdiri di dekat mereka. "Tian, bawa Kayla dan Kenzie ke ruang tengah. Pastikan mereka menghabiskan kue mereka dan awasi mereka bermain. Papa mau bicara berdua saja dengan Hanum di ruang kerja dalam sebentar, sebelum kita berangkat."

​Tian tidak membantah. Pria kaku itu hanya menganggukkan kepalanya sekali, lalu berjalan berbalik menuju ruang makan untuk menjalankan perintah sang papa.

​Papa mertua Hanum kemudian memberikan isyarat tangan ke arah sebuah ruangan kecil di sudut suite yang berfungsi sebagai ruang kerja privat dengan sofa-sofa kulit yang nyaman. "Mari, Hanum. Duduklah di dalam bersama Papa. Ada beberapa hal penting yang harus kita samakan persepsinya sebelum kita menginjakkan kaki di kediaman orang tuamu hari ini."

​Hanum mengiyakan dengan anggukan sopan, lalu berjalan mengekor di belakang Papa mertuanya memasuki ruangan tersebut. Setelah mereka berdua duduk berhadapan, keheningan sempat merayap sebelum sang papa mertua mengembuskan napas berat.

​"Hanum, Papa tahu ini sangat berat untukmu. Namun, proses perceraianmu dengan Hanif harus diselesaikan secara bersih dan tanpa celah," ujar beliau dengan tatapan mata yang teduh namun menyiratkan ketegasan yang tak tergoyahkan. "Pagi ini, Hanif nekat datang ke hotel ini untuk memohon agar posisinya di anak perusahaan kita tidak dicabut. Dia bahkan membawa-bawa nama anak-anak."

​Hanum mengepalkan jemarinya di atas pangkuan, merasakan gelenyar amarah sekaligus kekecewaan yang mendalam. "Hanif masih berani melakukan itu setelah apa yang dia lakukan bersama wanita itu, Papa?"

​"Itulah sebabnya Papa tidak sudi menemuinya," sahut beliau dengan nada dingin. "Tian sudah mengurusnya. Hari ini, Papa akan menemani kamu ke rumah orang tuamu untuk meluruskan semuanya. Papa ingin memastikan orang tuamu tahu bahwa kesalahan mutlak ada pada Hanif, dan keluarga Mahardika akan berdiri penuh di belakangmu untuk hak asuh Kayla dan Kenzie."

​Mendengar penuturan itu, air mata Hanum hampir luruh. Dukungan luar biasa dari papa mertuanya ini adalah kekuatan terbesar yang ia miliki saat ini.

​"Papa juga sudah meminta pengacara keluarga untuk menyiapkan draf gugatan balik terkait aset-aset yang sempat Hanif selewengkan selama ini," lanjut sang papa mertua, nadanya kini beralih menjadi taktik bisnis yang sangat tajam. "Kita tidak akan membiarkan sepeser pun hak anak-anakmu jatuh ke tangan Hanif atau wanita simpanannya itu. Hari ini kita selesaikan urusan keluarga, dan besok, kita selesaikan urusan hukum untuk Hanif."

​Hanum menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya. Rasa takut yang sempat menghantuinya kini perlahan memudar, berganti dengan tekad yang bulat.

​"Terima kasih banyak, Papa. Hanum siap menghadapi apa pun hari ini," jawab Hanum dengan suara yang bergetar namun mantap.

​Papa mertuanya tersenyum bangga, lalu menepuk punggung tangan Hanum dengan lembut. "Bagus. Mari kita keluar dan bersiap. Kita tunjukkan pada mereka bahwa kamu tidak bisa diinjak-injak begitu saja."

​Langkah kaki mereka saat keluar dari ruangan itu terasa begitu mantap. Sebuah pergerakan besar untuk meruntuhkan keangkuhan Hanif dan mengembalikan martabat Hanum yang sempat diinjak-injak, kini telah resmi dimulai.

1
Bundo yenti
Bagus banget ceritanya.... saya suka sikap tegas tokohnya
Noey Aprilia
Wjar aja kl hanum galau bgt....
lmaran aja pke map yg isinya ky proposal biar prshaan mau krjsma,mskpn yg ni isinya klebihan dia sndri sih...🤣🤣🤣...
jd pgn ngakak ngebyangin tiap hri ktmu,trs kl lg diskusi yg d bhas pke bhsa formal.....
Jetva
Tiaaaan..Tian..bagaimana cwq mau terkesan....lah kamu aza klo ngomong pake rumus fisika n kimia....🤣🤣🤣
susi ana
kira2 nanti setelah resmi pas MP nya pakek perhitungan korporat atau gravitasi atau medan magnet ya Thor?
aku tertawa sendiri membayangkan lanjutan ceritanya....
semangat💪
blcak areng: kak😁😁😁
total 1 replies
Muft Smoker
gx kebayang tuh penjual bunga tekanan darah ny naik apa malah turun drastis gara2 si tian Listrik ,, 😂😂😂
Muft Smoker
papa irwan totalitas marah nya ,, telan lgi aj pak ank ny ,, 😂😂😂😂
Meity Londok
bagus hanum.hancurkan musuh musuhmu
Noey Aprilia
Aku ngebyangin muka pnjual bunganya....antara pgn nyakar orng,sm gemes pgn nabok.....🤣🤣🤣....
Niken Ns
aduh udh ga sabar nunggu lamarannya
Jetva
🤣🤣🤣🤣HANIIIIIF....HANIF....KAGETAN KAYA, BANYAK DUIT...PENGEN PUNYA ISTRI LEBIH DARI 1🤣🤣🤣..ALASAN ISTRI GA ADA DI RUMAH....🤣🤣🤣 LAH..GILIRAN ISTRI ADA DI RUMAH, LU GA PUNYA APA" BUAT NYENANGIN ISTRI LU YG DUDUK MANIS DI RUMAH🤣🤣🤣🤣
Jetva
🤔Tian sebenarnya udah naksir dr awal...🤔🤔
🥀
suka karakter istri" yg begini
Jetva
🤣🤣Hanif dgn angkuhnya ngomong ke Hanum..kamu bisa tanpa aku......🤣🤣🤣..sekarang kamu merangkak seperti buaya...setelah persidangan, kamu akan merayap seperti ular...🤣🤣🤣
Muft Smoker
ni namany dingin dingin empuuk ,,
itu laa tian dingin di luar tetapi lembut di dalam ,, 😁😁😁😁😁
Muft Smoker
sebenarny tian tu kaku dingin Dan agak absurd dikit num ,, tp kalo soal tanggung jawab Dan perhatian dy gx main2 num ,,
Rahmawati Amma
itu temanilah suamimu dari nol 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
rasain lo🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
balas aja hanum nanti menikah aja sama kakak tirinya si hanif🤣🤣🤣
PNC
ibunya Hanif kenapa sebenarnya
Jetva
logam bukan lembar, Thor.....klo kunci ya sebuah kunci...klo koin ya sekeping koin...
blcak areng: iya kak maaf🙏 kadang ngantuk pas nulis 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!