NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Malam yang Tenang

Keesokan paginya, Kediaman Ciu tidak langsung menjadi hangat.

Rumah besar itu tetap sama. Lantai marmernya tetap dingin. Staf tetap berjalan dengan langkah ringan, seolah suara sandal pun bisa menjadi kesalahan. Pintu-pintu kayu tetap tertutup rapi.

Namun, ada sesuatu yang berubah di kamar Stephanie.

Bukan perubahan besar yang bisa dilihat semua orang. Bukan tawa, bukan pelukan, bukan kalimat maaf yang panjang. Hanya tirai yang dibuka sedikit lebih lebar dari biasanya, membiarkan cahaya matahari pagi masuk ke lantai kamar.

Keira berdiri di dekat jendela sambil menggendong bayi kecil itu. Tubuh mungil dalam bedong putih bergerak pelan, napasnya halus, pipinya mengilap setelah selesai minum susu.

"Sepuluh menit saja, Nyonya," kata Keira lembut. "Sinar mataharinya masih pagi. Tidak langsung kena wajah."

Stephanie duduk di kursi malas dekat tempat tidur. Matanya masih sembap setelah menangis semalam, tetapi tatapannya tidak lagi kosong seperti sebelumnya.

Ia menatap bayinya lama.

"Dia tidak akan kedinginan?"

"Tidak. Saya pegang terus. Kalau anginnya berubah, kita masuk."

Stephanie mengangguk.

Itu hanya satu anggukan kecil, tapi bagi Keira, itu lebih kuat daripada pengakuan apa pun.

Selama hampir tiga minggu, Stephanie takut menyentuh bayinya terlalu lama. Takut salah. Takut menangis. Takut dianggap ibu yang buruk. Pagi itu, ia sendiri yang mengulurkan tangan.

"Biar aku yang pegang sebentar."

Keira tidak langsung menyerahkan bayi itu. Ia mendekat, memastikan posisi tangan Stephanie benar, lalu pelan-pelan memindahkan tubuh kecil itu ke pelukan ibunya.

Jari Stephanie gemetar.

Bayi itu menggeliat, lalu diam.

Stephanie menahan napas.

"Dia tidak menangis," bisiknya.

"Karena dia tahu ini Mama," jawab Keira.

Bibir Stephanie bergetar. Ia menunduk, menyentuhkan pipi ke kain bedong. Tidak ada tangis keras. Tidak ada pecahan marah. Hanya satu napas panjang yang keluar pelan, seperti seseorang yang baru belajar membuka pintu dari dalam.

Di luar jendela, matahari jatuh di ujung bedong putih.

Sepuluh menit itu lewat tanpa satu pun teriakan.

Siang harinya, Keira mendengar dari Bi Sari bahwa Ko Gilbert belum kembali ke Kediaman Ciu.

"Beliau menginap di rumah keluarga Kang," kata Bi Sari sambil memeriksa daftar cucian bayi. "Katanya memberi waktu untuk Nyonya Stephanie."

Keira hanya mengangguk.

Setelah kejadian semalam, Gilbert memang tidak mungkin langsung masuk begitu saja. Ada luka yang tidak bisa ditutup hanya dengan kalimat "maaf". Ada kepercayaan yang harus dipungut satu per satu, seperti pecahan kaca di lantai.

Menjelang sore, saat Keira membantu mengganti seprai bayi, ponsel Stephanie bergetar di atas meja.

Stephanie melihat layar.

Wajahnya menegang.

Keira tidak bertanya.

Namun Stephanie menatapnya, lalu membalikkan layar sedikit.

Pesan dari Ko Gilbert.

Aku butuh waktu, tapi aku tidak akan pergi.

Hanya satu kalimat.

Tidak ada pembelaan diri. Tidak ada janji manis yang berlebihan. Tidak ada permintaan agar Stephanie segera memaafkan.

Stephanie membaca pesan itu dua kali. Ibu jarinya berhenti di atas layar, tetapi ia tidak membalas.

"Aku belum siap bicara," katanya pelan.

"Tidak apa-apa, Nyonya."

"Tapi..." Stephanie menatap bayi yang tidur di ranjang kecil. "Setidaknya sekarang aku tahu, kalau aku diam, bukan berarti aku kalah."

Keira merapikan sudut seprai.

"Diam juga bisa jadi batas."

Stephanie menoleh padanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, senyumnya muncul tanpa dipaksa.

Senyum kecil. Tipis. Tapi nyata.

Malam turun pelan di paviliun belakang.

Setelah memastikan jadwal minum susu bayi tercatat, popok bersih tersusun, dan suhu kamar Stephanie stabil, Keira kembali ke kamar pengasuh. Bahunya terasa berat. Tubuhnya baru sadar bahwa sejak Chenny muncul, ia hampir tidak tidur dengan benar.

Kamar kecil itu tidak berubah. Lemari besi tipis, kasur sempit, meja kecil, dan satu tas tua di sudut.

Keira duduk di tepi kasur, mengambil ponselnya, lalu membuka panggilan video.

Nama Kak Anisa muncul di layar.

Butuh tiga kali nada sambung sebelum wajah perempuan berhijab cokelat muda itu terlihat. Di belakangnya, dinding rumah Sriwedari tampak kuning lembut terkena lampu.

"Dek Keira," sapa Kak Anisa. Suaranya rendah agar tidak mengagetkan seseorang di sampingnya. "Akhirnya bisa telepon."

"Maaf, Kak. Beberapa hari ini agak ramai."

"Aku tahu dari wajahmu." Kak Anisa menghela napas kecil. "Kamu kurusan."

Keira ingin tertawa, tapi yang keluar hanya senyum lelah.

"Kak Kiara mana?"

Belum sempat Kak Anisa menjawab, layar bergoyang. Sebuah wajah muncul terlalu dekat sampai hanya satu mata yang terlihat.

"Kei!"

Dada Keira langsung lunak.

"Kak, mundur sedikit. Aku cuma lihat mata Kakak."

Kiara tertawa. Layar bergoyang lagi, lalu wajahnya terlihat utuh. Rambutnya diikat asal, pipinya lebih berisi dari foto terakhir yang Keira lihat. Di tangannya ada kertas gambar.

"Kei lihat! Lihat!"

"Aku lihat, Kak."

Kiara mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.

Gambarnya tidak rapi. Garisnya miring, warna oranye keluar dari bentuk tubuh, dan ekor kucingnya terlalu panjang. Tapi kucing itu tersenyum lebar. Di atas kepalanya ada matahari bulat yang hampir sebesar badan kucing.

"Bagus sekali," kata Keira.

"Kucing oranye," ujar Kiara bangga. "Namanya... namanya Matahari."

"Matahari?"

"Iya. Dia tunggu Kei pulang."

Senyum Keira berhenti di bibirnya.

Kak Anisa yang duduk di samping Kiara langsung mengusap bahu gadis itu. "Kia, pelan-pelan ya. Kei kerja dulu."

Kiara menatap layar. Matanya bening, tanpa tuduhan. Justru karena itu, kalimat berikutnya terasa menekan tepat di dada Keira.

"Ci Keira kapan pulang?"

Keira menggenggam ponsel lebih erat.

Kata "Ci Keira" dari Kiara terdengar aneh. Biasanya Kiara hanya memanggilnya Kei. Mungkin ia meniru Jayden dari cerita Keira yang pernah diceritakan Kak Anisa. Mungkin ia hanya sedang bermain peran. Pada Kiara, panggilan bisa berubah seperti warna krayon yang dipilih tanpa alasan.

Tetap saja, telinga Keira panas.

"Sebentar lagi ya, Kia."

"Besok?"

Keira menelan ludah.

"Belum besok. Tapi aku telepon lagi."

Kiara menunduk pada gambar kucingnya. Jarinya mengelus warna oranye yang keluar garis.

"Matahari tidak marah kalau tunggu?"

"Tidak," jawab Keira, suaranya hampir pecah. "Matahari kuat."

"Kayak Kei?"

Keira menutup mata sebentar.

"Kayak Kak Kiara."

Kiara tersenyum lagi, cepat sekali, seolah sedihnya tadi hanya awan tipis. Ia mencium kertas gambar itu, lalu menempelkannya ke layar.

"Ini buat Kei."

"Simpan dulu ya. Nanti kalau aku pulang, aku tempel di kamar kita."

"Janji?"

"Janji."

Kak Anisa mengambil alih ponsel ketika Kiara mulai menguap.

"Kia, ayo cuci kaki dulu, terus tidur."

"Kei nyanyi?"

Keira membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kalau ia bernyanyi, ia tahu suaranya akan patah.

Kak Anisa memahami tanpa perlu dijelaskan.

"Nanti Kak Anisa yang nyanyi. Kei harus istirahat juga."

Kiara mengerucutkan bibir, tapi akhirnya mengangguk.

"Daah, Kei. Jangan lupa Matahari."

"Tidak akan lupa, Kak."

Layar berganti ke wajah Kak Anisa.

Perempuan itu menatap Keira dengan mata yang lebih tua daripada usianya.

"Dek, jangan merasa bersalah terus."

Keira tertawa kecil tanpa suara.

"Aku belum bilang apa-apa."

"Wajahmu sudah bilang."

Keira menunduk. Di kamar kecil Kediaman Ciu, suara AC berdengung tipis. Jauh dari Sriwedari, jauh dari bau tanah setelah hujan, jauh dari suara ayam tetangga yang selalu terlalu pagi.

"Aku cuma... takut dia menunggu terlalu lama."

"Dia menunggu karena dia sayang. Bukan karena kamu jahat."

Keira mengangguk, tapi tenggorokannya sakit.

"Makan yang benar," lanjut Kak Anisa. "Tidur kalau ada waktu. Uang memang penting, tapi kamu juga manusia."

Kalimat itu membuat Keira hampir menangis.

Di Kediaman Ciu, ia harus selalu terlihat mampu. Di depan Stephanie, ia harus tenang. Di depan Ethan, ia harus tepat. Di depan para Nyonya, ia harus tahu tempat. Hanya pada Kak Anisa, ia boleh menjadi adik yang lelah.

"Iya, Kak."

"Aku tutup dulu. Kia sudah bawa baskom sendiri. Bahaya kalau airnya tumpah."

"Terima kasih, Kak Anisa."

"Jaga dirimu, Dek Keira."

Panggilan berakhir.

Layar ponsel menjadi hitam.

Keira masih memegangnya lama, menatap pantulan wajahnya sendiri. Ada lingkaran gelap di bawah mata. Ada rambut yang lepas dari ikatan. Ada gadis dua puluh satu tahun yang bekerja di rumah orang kaya demi membayar kesempatan sembuh untuk kakaknya.

Ia menarik napas, lalu berdiri.

Saat membuka pintu kamar untuk mengambil air minum di pantry staf, kakinya hampir menyentuh sesuatu di lantai.

Keira berhenti.

Di depan pintunya, di atas lantai yang bersih, terletak sebuah selimut kecil yang terlipat rapi.

Bukan selimut bayi murah dari gudang staf. Bahannya lembut, tebal tapi ringan, warna krem pucat dengan jahitan halus di tepinya. Tidak ada plastik pembungkus. Tidak ada kartu. Tidak ada nama.

Keira menoleh ke kiri dan kanan lorong.

Sepi.

Lampu paviliun belakang menyala kekuningan. Dari kamar staf lain terdengar suara televisi pelan. Tidak ada langkah menjauh, tidak ada bayangan bergerak.

Keira berjongkok dan menyentuh ujung selimut itu.

Hangatnya sudah hilang, tapi kainnya masih terasa seperti baru saja diletakkan.

Ia mengangkat selimut itu pelan. Di lipatan paling dalam, tidak ada pesan apa pun.

Hanya aroma samar yang tertinggal.

Bukan parfum mahal milik para Nyonya. Bukan sabun laundry rumah ini. Bukan juga bau obat bayi yang sudah terlalu ia kenal.

Keira mendekatkan kain itu ke hidung.

Ada wangi kayu yang lembut. Dalam. Tenang.

Seperti kayu cendana.

Ia tidak tahu siapa yang meninggalkan selimut itu.

Namun, entah kenapa, malam yang dingin itu terasa sedikit kurang sendirian.

Keira membawa selimut itu masuk ke kamar, menutup pintu, lalu duduk di tepi kasur.

Sekali lagi ia mencium aromanya.

Ia tidak mengenal wangi itu.

Tapi ia mengingatnya.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!