Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 — Kehidupan Kedua
"Ugh ... haah ... haah ..."
Yana tersentak bangkit dari pembaringannya dengan napas yang memburu. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar, sementara tenggorokannya terbakar kering. Jemarinya mencengkeram erat alas tidur berbulu tebal yang melapisinya, gemetar hebat tanpa bisa dihentikan.
Rasa dingin kematian itu ... ia masih bisa merasakannya dengan jelas.
Bau amis darah yang menggenang di tanah, suara retakan tulang, letupan api yang melahap habis pemukiman Suku Serigala, dan raungan terakhir para prajurit yang tewas satu per satu—semuanya masih menari-nari dengan mengerikan di balik kelopak matanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah tubuhnya yang ambruk di atas abu hangat, sementara kekuatan sucinya yang terlambat bangkit justru menggerogoti organ tubuhnya dari dalam hingga bernapas pun terasa menyiksa.
'Tetapi ... mengapa rasa sakit itu hilang?' batin Yana bingung.
Yana membelalakkan mata. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan dada.
Tidak ada bekas luka bakar melintang di sepanjang lengan. Tidak ada kulit kasar bernanah akibat racun pertarungan di masa pembuangan. Tangannya tampak kecil, mulus, dan pucat—tangan seorang gadis muda yang belum tersentuh kerasnya medan perang.
Dengan panik, Yana menyapu pandangan ke sekeliling.
Ia tidak berada di padang pembantaian yang hangus. Ia berada di dalam gua batu berukuran sedang. Di sudut ruang, terdapat tumpukan kayu bakar, wadah-wadah tanah liat, dan aroma khas akar herbal yang ditumbuk halus. Udara yang masuk ke hidungnya terasa begitu segar, bercampur bau tanah basah seusai hujan semalam dan wangi daging panggang yang lembut.
Ini adalah gua tempat tinggalnya! Gua Suku Serigala yang seharusnya sudah berubah menjadi tumpukan abu!
'Bagaimana mungkin? Apakah ini ilusi sebelum jiwaku terseret ke alam baka?'
Yana bergegas turun dari pembaringan. Kakinya yang kaku hampir membuatnya tersandung kain tenun yang menyapu lantai. Ia setengah berlari menuju sebuah wadah batu besar berisi air jernih di sudut gua.
Saat ia menundukkan kepala dan melihat pantulan di permukaan air, Yana membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Wajah yang terpantul di sana adalah wajahnya sendiri ... tetapi versi muda. Pipinya masih memiliki sedikit jejak kelembutan remaja, matanya yang berwarna abu-abu kehijauan jernih tanpa kerutan kelelahan, dan rambut peraknya terurai panjang tanpa cacat.
Ini adalah wujudnya saat berusia enam belas tahun!
"Yana? Kamu sudah bangun, Nak?"
Suara berat dan penuh kehangatan itu menggelegar dari arah pintu masuk gua. Suara yang sudah bertahun-tahun hanya bisa Yana dengar dalam mimpi buruk dan penyesalannya yang paling dalam.
Yana berbalik begitu cepat hingga tubuhnya bergetar.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria bertubuh tegap berotot. Pundaknya yang lebar dilapisi mantel kulit beruang, wajahnya yang tegas dihiasi beberapa luka parut bekas pertarungan masa lalu, dan matanya memancarkan rasa kasih sayang yang begitu murni. Di tangannya, pria itu membawa sebuah mangkuk kayu berisi potongan daging panggang yang masih berasap hangat.
Aron. Kepala Suku Serigala. Ayahnya.
Pria yang di kehidupan sebelumnya tewas mengenaskan dengan dada tertembus tombak batu tepat di depan mata Yana—kini berdiri utuh dan bernapas di depannya.
"A_yah ...?" Suara Yana tercekat di tenggorokan.
Air mata yang menumpuk di pelupuk matanya luruh seketika, mengalir membasahi pipinya yang mulus. Pandangannya menjadi kabur karena tangis yang mendadak pecah.
Aron mengerutkan dahi, tampak terkejut sekaligus cemas melihat reaksi putrinya. Ia menyandarkan tombaknya di dinding gua lalu bergegas meletakkan mangkuk kayu ke atas meja batu sebelum menghampiri Yana.
"Ada apa, Yana? Mengapa kamu menangis seperti ini? Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?" tanya Aron panik. Tangannya yang besar dan kasar terulur hendak mengecek suhu tubuh Yana.
Namun, sebelum tangan ayahnya menyentuh dahi, Yana sudah lebih dulu menghambur ke depan dan memeluk pinggang pria itu erat-erat. Ia menyandarkan wajahnya di dada tegap Aron, mendengarkan detak jantung yang kuat dan teratur di balik pakaian kulit binatang itu.
'Detak jantung ... Ayah benar-benar bernapas! Ayah masih hidup!' Yana menjerit di dalam hatinya, mencengkeram kain pakaian ayahnya seolah takut pria itu akan menghilang menjadi abu jika ia melepaskannya sedikit saja.
Aron terkekeh bingung, meski rasa cemas masih terpancar dari dadanya. Pria gagah itu mengelus rambut perak Yana dengan lembut, mencoba menenangkan putri tunggalnya.
"Ssst ... ada apa denganmu pagi ini, Gadis Kecil? Apakah kamu bermimpi buruk lagi? Kamu biasanya melompat bangun dan menantang para pemburu muda berlatih sebelum matahari terbit," ucap Aron penuh kehangatan.
"Aku ... aku hanya mimpi buruk. Sangat buruk, Yah," bisik Yana serak, mengusap air matanya dengan kasar ke lengan baju Aron. Ia berjuang mati-matian menguasai emosinya agar tidak membuat ayahnya curiga.
Aron tersenyum tipis, menepuk-nepuk bahu Yana pelan. "Mimpi hanyalah bayangan pikiran saat kamu lelah. Jangan dipikirkan lagi. Habiskan daging panggang ini, lalu bantu para tetua memilah persediaan. Musim dingin sebentar lagi tiba, kita harus bersiap."
Setelah membelai kepala Yana sekali lagi, Aron berbalik dan melangkah keluar dari gua untuk memimpin para prajurit.
Yana berdiri mematung beberapa saat, memandangi punggung ayahnya yang menjauh hingga menghilang di balik tikungan batu. Daging panggang hangat di mangkuk kayu mengeluarkan aroma yang menggugah selera, membuktikan bahwa semua ini sama sekali bukan mimpi.
Yana menarik napas panjang, menguatkan kakinya yang masih terasa kaku, lalu melangkah keluar meninggalkan gua batu.
Begitu ia melangkah ke luar, cahaya matahari pagi menyambut matanya.
Di hadapannya, terhampar pemukiman Suku Serigala yang megah dan penuh kehidupan. Gua-gua batu tersusun alami di sepanjang tebing. Di lapangan lembah di bawah sana, anak-anak suku berlarian riang sambil saling melempar bola kayu. Para wanita sibuk menenun kain dan mengeringkan daging di bawah naungan pohon-pohon rindang. Sementara para pemburu sibuk mengasah senjata batu dan tulang sambil tertawa bersama.
Tidak ada kobaran api. Tidak ada sungai darah. Tidak ada bau pembantaian.
Semua orang yang dulu tewas mengenaskan dan Yana tangisi di masa pembuangan ... kini hidup dan tersenyum di hadapannya.
Yana berjalan menyusuri jalan setapak tanah di antara pemukiman. Beberapa warga menyapanya dengan ramah, dan Yana hanya bisa mengangguk kaku sambil menahan gejolak di dadanya.
Ia menghentikan langkah di tepi tebing kecil yang menghadap ke seluruh wilayah suku, lalu menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang cerah.
Dari posisi matahari, hawa dingin tipis yang mulai bertiup dari utara, serta daun-daun pohon yang mulai memungut warna keemasan—Yana tahu pasti penanggalan ini.
Gadis asing dari dunia lain itu ... belum muncul.
Gadis transmigrator yang mengaku sebagai Wanita Suci pilihan Dewa Binatang, yang membawa ide-ide "modern" yang memicu perang persaingan antar suku, belum menginjakkan kaki di tanah ini.
Tunangannya belum berpaling dan mengkhianati sukunya demi mengikuti gadis itu. Dan kehancuran dunia binatang belum dimulai.
Dewa Binatang telah memberinya kesempatan kedua. Ia dikembalikan ke titik waktu ini—tepat dua bulan sebelum tragedi pertama yang meruntuhkan kehidupannya terjadi.
Yana mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan memucat. Matanya yang tadinya penuh dengan sisa kepedihan kini berubah menjadi berkilat dingin, tajam, dan penuh ketetapan hati.
Di kehidupan lalu, ia terlalu polos dan tidak berdaya. Ia hanya bisa menonton dari jauh saat gadis transmigrator itu merebut segalanya dan memobilisasi suku-suku demi perubahan yang membiarkan alam hancur.
Saat kekuatan suci Yana yang sebenarnya akhirnya bangkit, semuanya sudah terlambat. Ayahnya sudah tewas, sukunya sudah rata dengan tanah, dan dunia berada di ambang kehancuran.
Namun kali ini, sejarah tidak akan terulang kembali!
Ia tidak butuh status atau pengakuan dari siapa pun bahwa ia adalah Wanita Suci yang sebenarnya. Ia hanya memiliki satu tujuan: menyelamatkan ayahnya, melindungi Suku Serigala, dan menghentikan kejahatan yang dibungkus dengan nama "kemajuan" itu.
Yana memandang lurus ke arah hutan lebat di utara, menyeringai tipis dengan tatapan mata yang berbahaya.
"Aku masih punya waktu." Ucapnya.
***
Bersambung....
...❤️❤️❤️...
...Halo semuanya ... Author minta responnya ya buat penyemangat ......
...Komen, like atau hadiah. Sangat mempengaruhi mood menulis loh ... Tolong bantu ya ......
...Author...