Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Rahasia Desa yang Terlupakan
Matahari pagi merayap naik menembus sela-sela tirai jendela kamar Lin Fan.
Cahaya keemasan yang jatuh di atas lantai kayu tua itu sama sekali tak mampu mengusir hawa dingin ganjil yang mendekam di sudut-sudut ruangan.
Lin Fan duduk di tepi tempat tidur, memandangi gulungan serat lontar tua di pangkuannya.
Setelah pengorbanan kambing hitam semalam, ukiran-ukiran rumit pada lontar tersebut tampak berubah warna dari cokelat kusam menjadi merah maroon yang berkilat misterius.
"Resonansi Kutukan Desa... 35%," bisik Lin Fan mengingat teks peringatan sistem semalam.
Ia mengusap dadanya yang terasa agak sesak.
Sejak ia berhasil melumpuhkan Zhao Qiang dan menakuti Tuan Tanah Li, kabar burung di warung-warung kopi desa berembus makin liar.
Warga desa mulai meyakini bahwa rumah keluarga Lin tidak sekadar dihuni oleh manusia, melainkan telah menjadi sarang ilmu hitam leluhur yang kembali terpecut bangkit.
Ketakutan ibunya semalam adalah bukti nyata betapa desas-desus itu mulai mengikis kedamaian rumah mereka.
"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu desa ini... dan apa hubungan sejati keluarga Lin dengan Hutan Terlarang," batin Lin Fan mantap.
Ia menyembunyikan lontar tua ke dalam tas selempangnya, lalu melangkah keluar kamar.
Suasana di dalam rumah terasa sangat tenang.
Ibunya sedang berada di dapur, menyiapkan sarapan bersama Lin Mei.
Meskipun raut cemas di wajah ibunya belum sepenuhnya pudar, kehadiran Lin Mei yang riang dan sibuk menggoreng kue beras sedikit meredakan ketegangan di antara mereka.
"Lin Fan, mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya ibunya dari balik pintu dapur saat melihat Lin Fan mengenakan jaketnya.
"Aku mau pergi ke balai arsip tua di dekat tempat tetua desa, Bu," jawab Lin Fan santai.
"Aku mau mencari dokumen silsilah lama dan batas wilayah tanah leluhur kita, supaya Tuan Tanah Li atau kerabatnya tidak bisa mengklaim ulang di masa depan."
Ibunya menatapnya dengan pandangan penuh haru sekaligus kelelahan.
"Hati-hati ya, Nak. Kalau ada warga yang membicarakan hal kotor di jalan, jangan dimasukkan ke dalam hati," pesan ibunya lembut.
"Iya, Bu. Aku mengerti," balas Lin Fan tersenyum hangat.
Ia melangkah keluar rumah, menutup pintu rapat-rapat.
Fitur Pagar Perlindungan Rumah Tahap 2 yang melingkupi area tempat tinggalnya memancarkan riak transparan di penglihatannya, memastikan tidak ada entitas atau manusia berniat jahat yang bisa menerobos masuk tanpa terdeteksi.
Tujuan Lin Fan pagi ini adalah rumah Kakek Feng, tetua tertua di Desa Sungai Hitam yang berusia lebih dari delapan puluh tahun.
Kakek Feng tinggal di sebuah rumah panggung kayu tua di pinggir desa, tidak jauh dari balai arsip tua desa yang sudah jarang dikunjungi warga.
Pria tua itu adalah satu-satunya orang yang selamat dari peristiwa wabah misterius yang pernah melanda Desa Sungai Hitam lima puluh tahun yang lalu.
Langkah kaki Lin Fan memecah keheningan jalanan setapak yang ditumbuhi rumput liar.
Saat melintasi halaman depan rumah Kakek Feng, Lin Fan melihat pria tua berambut putih kapas itu sedang duduk di atas kursi goyang bambu sambil mengisap pipa tembakau.
Sfx: Puuuh...
Kepulan asap putih membubung ke udara pagi.
Mata Kakek Feng yang samar dan tertutup katarak tipis mendadak bergerak, mengarah tepat ke posisi Lin Fan berdiri.
Garis transparan dari fitur Mata Iblis milik Lin Fan langsung menganalisis sosok pria tua di depannya.
[Nama: Feng Ba (Kakek Feng)]
[Status: Tetua Desa / Saksi Sejarah]
[Tingkat Niat Buruk: 0% (Netral / Memiliki Pengetahuan Kuno)]
[Keterangan: Menyimpan Informasi Mengenai Kontrak Pertama Keluarga Lin Dengan Penguasa Hutan Terlarang]
Lin Fan menarik napas pendek. System-nya sendiri mengonfirmasi bahwa Kakek Feng menyimpan kunci jawaban atas sejarah kelam yang sedang ia jalani!
Lin Fan melangkah mendekati tangga panggung rumah kayu tersebut.
"Selamat pagi, Kakek Feng," sapa Lin Fan ramah sambil membungkukkan badan sedikit.
Kakek Feng menghentikan ayunan kursi goyangnya.
Pria tua itu mengisap pipa tembakaunya sekali lagi sebelum akhirnya mengetukkan ujung pipa ke pegangan kursi bambu.
Sfx: Tuk! Tuk!
"Bau darah hewan murni... dan aroma abu lontar tua," ucap Kakek Feng dengan suara parau yang dalam bagaikan gema gua batu.
Lin Fan tersentak kaget.
Pria tua ini bahkan tidak perlu melihat dengan jelas untuk mengetahui apa yang telah dilakukan Lin Fan semalam di Hutan Terlarang!
"Kakek... bisa membauinya?" tanya Lin Fan terkejut.
Kakek Feng terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang terdengar penuh kepahitan.
"Bukan mataku yang melihatnya, Lin Fan... tapi angin malam dari Hutan Terlarang yang membawakannya ke telingaku," jawab Kakek Feng.
Pria tua itu menunjuk ke arah kursi kayu kosong di sebelah kursi goyangnya.
"Duduklah, Cucu Keluarga Lin. Sudah lima puluh tahun aku menunggu keturunan Lin Guo kembali menanyakan hal ini," panggil Kakek Feng.
Lin Fan menaiki anak tangga kayu dan duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Kakek Feng.
Ia menatap wajah renta berkerut milik pria tua itu dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.
"Kakek tahu tentang apa yang terjadi pada keluargaku? Dan apa hubungan kakek buyutku dengan Hutan Terlarang?" tanya Lin Fan tanpa membuang waktu.
Kakek Feng memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi goyang.
Kenangan masa lalu seolah-olah berputar kembali di dalam ingatan pria tua tersebut.
"Lima puluh tahun lalu... Desa Sungai Hitam ini bukanlah desa yang tenang seperti sekarang," mulai Kakek Feng dengan nada perlahan.
"Dulu, desa ini adalah tempat pembuangan orang-orang yang terkena wabah 'Darah Hitam'—sebuah penyakit gaib yang membuat tubuh penderitanya membusuk hidup-hidup dari dalam."
Lin Fan mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak berani menyela sepatah kata pun.
"Orang-orang mati setiap hari. Para dukun dan tabib dari kota melarikan diri karena ketakutan," lanjut Kakek Feng.
"Hingga akhirnya, kakek buyutmu... Lin Zhen, nekat melangkah masuk ke dalam pusat Hutan Terlarang untuk mencari pertolongan pada penguasa gaib tanah ini."
Lin Fan mengerutkan dahinya. "Kakek Buyut Lin Zhen?"
"Benar," jawab Kakek Feng mengangguk pelan.
"Di dalam hutan terlarang itu, Lin Zhen menemukan sebuah prasasti batu kuno dan lontar serat pohon tua. Ia mengikat kontrak darah dengan kekuatan yang bersemayam di sana—kekuatan yang kalian sebut sekarang sebagai Pagar Iblis."
Kakek Feng menoleh ke arah Lin Fan dengan tatapan mata remangnya yang mendadak terasa tajam.
"Kakek buyutmu mengorbankan sebagian daya hidupnya dan berjanji akan menjadikan area rumah keluarga Lin sebagai 'Pintu Pagar' untuk mengurung seluruh entitas liar Hutan Terlarang agar tidak menyerang pemukiman warga," jelas Kakek Feng.
"Sebagai imbalannya, wabah Darah Hitam di desa seketika berhenti, dan tanah keluarga Lin diberikan perlindungan mutlak yang tidak bisa dihancurkan oleh musuh mana pun!"
Deg!
Dada Lin Fan berdenyut kencang.
Seluruh puzzle yang selama ini membingungkannya kini mendadak terpasang dengan sempurna!
Sistem Pagar Iblis bukanlah sekadar pelindung atau alat pembalas dendam yang jatuh begitu saja ke tangannya.
Pagar Perlindungan Rumah miliknya adalah sebuah "Segel Penjara" yang didirikan oleh kakek buyutnya untuk mengurung kegelapan Hutan Terlarang agar tidak meluas dan menghancurkan seluruh desa!
"Jadi... rumahku adalah segelnya?" bisik Lin Fan terpana.
"Ya," sahut Kakek Feng berat.
"Tetapi perlindungan itu ada harganya, Lin Fan. Setiap generasi keluarga Lin harus memiliki seorang Pengikat Kontrak yang kuat untuk memberi makan segel tersebut."
Kakek Feng menghela napas panjang, pancaran duka terlihat jelas di raut wajahnya.
"Ayahmu, Lin Guo... tiga tahun lalu dia menyadari bahwa segel Pagar Iblis mulai melemah. Namun dia tidak tega mengorbankan daya hidupnya atau mengorbankan kamu dan adikmu."
Lin Fan membelalakkan matanya, "Ayah...?"
"Lin Guo menolak memperbarui kontrak darah tersebut," kata Kakek Feng pelan.
"Akibatnya, kekuatan gaib Hutan Terlarang mulai merembes keluar, memancing keserakahan manusia seperti Tuan Tanah Li dan Zhao Qiang untuk menghancurkan keluargamu!"
"Tuan Tanah Li dan Zhao Qiang hanya diperalat oleh ketakutan dan hawa jahat hutan yang ingin merobohkan rumahmu agar segel itu pecah sepenuhnya!" lanjut Kakek Feng menegaskan.
Lin Fan meremas jemarinya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ternyata musuh sejati yang dihadapinya bukanlah sekadar penagih utang atau preman-preman pasar biasa.
Musuh sejati yang mengincar rumah dan keluarganya adalah kegelapan kuno Hutan Terlarang yang memanfaatkan keserakahan manusia untuk menghancurkan Pagar Perlindungan Rumah!
Sfx: Bzzzzzt!
Layar transparan dari [Sistem Pagar Iblis] mendadak meledak muncul di depan pandangan mata Lin Fan tanpa diperintah.
Teks berwarna merah menyala berkedip-kedip dengan kecepatan tinggi, mengunci penglihatannya.
[Fakta Sejarah Terbuka: Kunci Kebenaran Kontrak Lontar Leluhur]
[Identitas Pengikat Kontrak Terverifikasi: Lin Fan (Keturunan Garis Darah Lin Zhen)]
[Misi Utama Arc 1 Terbuka: Bangun Kembali 'Pagar Iblis Tingkat Utama' Sebelum Gerhana Bulan Merah]
[Waktu Tersisa Menuju Gerhana Bulan Merah: 14 Hari]
[Peringatan: Jika Pagar Utama Gagal Terbangun, Segel Hutan Terlarang Akan Pecah Dan Memusnahkan Seluruh Desa Sungai Hitam]
Lin Fan membaca deretan teks peringatan itu dengan napas terengah-engah.
Empat belas hari!
Ia hanya memiliki waktu dua minggu untuk meningkatkan kekuatan Pagar Perlindungan Rumahnya ke tingkat utama sebelum Gerhana Bulan Merah tiba dan memecahkan segel kuno tersebut!
Kakek Feng meraih tangan Lin Fan, menggenggamnya dengan jemarinya yang keriput namun terasa hangat.
"Lin Fan... kakek buyutmu memilih menjadi pahlawan kegelapan demi menyelamatkan desa ini lima puluh tahun lalu," kata Kakek Feng penuh harapan.
"Sekarang, keputusan ada di tanganmu. Apakah kamu akan melarikan diri membawa keluargamu dari desa ini, atau kamu akan berdiri menjadi benteng terakhir yang menjaga segel tersebut?" tanya Kakek Feng.
Lin Fan menatap tangan kanannya yang memiliki bekas luka bakar lingkaran keemasan—tanda kontrak darah yang mengikat jiwanya dengan Sistem Pagar Iblis.
Melarikan diri bukanlah pilihan.
Tuan Tanah Li, preman kota, entitas liar hutan terlarang... semua ancaman itu tidak akan pernah berhenti mengejar keluarganya selama segel ini tidak diperbaiki.
Lin Fan berdiri tegap dari kursinya, menatap lurus ke arah rimbunnya Hutan Terlarang di kejauhan.
"Aku tidak akan melarikan diri, Kakek Feng," ucap Lin Fan dengan suara mantap dan tajam.
"Jika rumah tua itu adalah benteng pertahanan terakhir keluarga kami dan desa ini... maka aku sendiri yang akan menempa Pagar Iblis itu menjadi tidak tertembus oleh siapa pun!" tegas Lin Fan.
Kakek Feng tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya lega melihat keberanian yang menyala di mata pemuda di depannya.
"Kalau begitu, bersiaplah, Lin Fan..." pesan Kakek Feng pelan.
"Karena begitu penguasa Hutan Terlarang tahu kamu bermaksud memperkuat segel itu... serangan dari dunia ghaib dan dunia manusia akan datang bertubi-tubi tanpa henti."
Lin Fan mengangguk paham.
Ia membalikkan badan dan melangkah turun dari rumah panggung Kakek Feng dengan tekad baru yang membakar dadanya.
Rahasia masa lalu telah terungkap, dan kini pertarungan sejati Lin Fan untuk melindungi rumah, keluarga, dan seluruh tanah kelahirannya baru saja dimulai!