NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.

Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.

Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.

Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.

Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Udara di dalam ruangan kantor kepolisian sub-sektor itu terasa berat, sarat akan bau kopi instan yang diseduh berulang kali dan aroma debu yang mengendap di sela-sela tumpukan dokumen.

Cahaya dari lampu neon panjang di langit-langit berkedip tak beraturan, memancarkan sinar putih pucat yang membuat bayangan ketiga orang di dalam ruangan itu tampak memanjang di atas lantai keramik kusam.

​Di balik meja besi yang permukaannya dipenuhi oleh map-map berserakan, dua pria berseragam polisi menatap lurus ke arah remaja yang berdiri santai di hadapan mereka.

Postur keduanya tegang. Ketegangan itu tidak hanya berasal dari fakta bahwa mereka baru saja memanggil eksistensi dari dunia supranatural, melainkan dari beban kasus yang nyaris meremukkan kewarasan mereka selama beberapa hari terakhir.

​"Eh..." Suara Yudi meluncur pelan, menggantung di udara ruangan yang pengap. Tubuh pemuda itu menegang seketika. Senyum karismatik yang sedari tadi ia pertahankan perlahan memudar dari wajahnya. Sudut bibirnya berkedut pelan.

Helaan napas yang sangat halus, nyaris tak terdengar, meluncur dari sela-sela bibirnya. Sebuah kedipan mata yang cepat menjadi satu-satunya tanda fisik dari guncangan sesaat yang menghampiri pemuda itu.

​Yudi tidak membiarkan keterkejutannya bertahan lebih dari dua detik. Ia menarik napas panjang melalui hidung, mengisi paru-parunya dengan udara dingin ruangan tersebut, lalu menghembuskannya pelan.

Ia menarik kerah kaus hitamnya sedikit, merapikan posturnya, dan kembali memasang raut wajah tenang yang netral. Langkah kakinya bergeser sedikit ke kanan, mencari posisi berdiri yang lebih seimbang di atas lantai keramik.

​"Aku masih belum memahami dengan jelas apa yang menjadi permintaan Anda," ucap Yudi akhirnya. Suaranya mengalun datar, sopan, namun memiliki ketegasan yang meminta kejelasan absolut.

Tidak ada getaran keraguan di setiap silabel yang ia ucapkan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap kedua polisi itu secara bergantian dengan sorot mata yang tajam dan analitis. "Bisakah Anda perjelas apa dan bagaimana kasus ini berjalan? Serta, sudah berapa korban yang jatuh hingga saat ini?"

​Mendengar pertanyaan beruntun dengan intonasi yang begitu tenang dari Iblis muda di hadapan mereka, kedua sipir itu terdiam. Hening mengambil alih ruangan selama tiga detik penuh.

Suara detak jarum jam dinding di atas papan tulis terdengar nyaring. Polisi yang bertubuh gemuk menoleh ke arah rekannya yang lebih kurus. Mereka saling berpandangan, melakukan komunikasi diam-diam melalui sorot mata.

Ketakutan, keraguan, dan keputusasaan tergambar jelas dari kerutan di dahi mereka. Setelah beberapa saat, keduanya memberikan anggukan mantap secara bersamaan, seolah baru saja menyetujui sebuah pakta rahasia untuk menyerahkan seluruh beban ini kepada sang entitas asing.

​Sipir bertubuh gemuk menarik napas dalam-dalam hingga dadanya membusung, lalu berdeham dengan keras. Suara seraknya memecah keheningan, membersihkan kerongkongannya yang terasa kering.

​"Sebelumnya, izinkan kami untuk memperkenalkan diri," ucap polisi gemuk itu. Ia menegakkan punggungnya, meskipun perut buncitnya membuat seragam birunya terlihat sesak di bagian kancing tengah. Ia meletakkan kedua telapak tangannya yang besar dan tebal di atas permukaan meja besi. "Namaku Tenma. Aku hanya seorang sipir tingkat dua yang bertugas di wilayah Kuoh ini."

​Tenma memberikan jeda, matanya menatap lurus ke arah wajah Yudi, mencoba mencari tanda-tanda apakah remaja ini benar-benar entitas supranatural yang bisa diandalkan atau hanya sekadar anomali remaja biasa.

​"Lalu, mengenai pertanyaanmu..." Tenma menundukkan pandangannya sesaat ke arah tumpukan berkas, lalu kembali menatap Yudi. Gurat kelelahan terlihat jelas di bawah kantung matanya yang menghitam.

"Kasus ini sudah dimulai sekitar seminggu yang lalu. Pada awalnya, kami masih bisa meredam situasi di lapangan agar informasi mengenai mayat-mayat itu tidak diekspos ke media publik. Kami berpikir kalau ini hanyalah kasus pembunuhan biasa, mungkin motif perampokan atau dendam pribadi, dan pembunuhnya akan segera bisa kami lacak serta tangkap dalam waktu singkat."

​Jari telunjuk Tenma mengetuk meja dengan ritme pelan dan berat. "Tapi sialnya... pelaku ini bergerak seperti hantu. Dia sangat pintar melarikan diri tanpa diketahui, tidak meninggalkan sidik jari, tidak terekam kamera pengawas, dan tidak ada saksi mata satu pun. Sampai detik ini, di hari ketujuh, kami masih belum menemukan petunjuk logis apa pun mengenai identitas atau keberadaan pelaku."

​Sebelum gema suara Tenma sepenuhnya menghilang, opsir bertubuh kurus di sebelahnya mengambil langkah kecil ke depan. Pergerakannya tergesa-gesa, membuat ujung sepatunya bergesekan dengan lantai keramik. Napas pria itu memburu, dan butiran keringat sebesar biji jagung terlihat mengkilap di pelipisnya, memantulkan cahaya neon yang berkedip.

​"Namaku Kazuko," pria kurus itu memperkenalkan diri dengan suara yang bergetar cepat, nyaris terdengar seperti rintihan. Tangan kanannya bergerak menyentuh dadanya sendiri. "Aku adalah rekan dari Pak Tenma. Bagianku di sini adalah sebagai penyidik utama."

​Kazuko menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya bergerak naik-turun. Ia meremas ujung meja besi hingga buku-buku jarinya memerah.

​"Kantor pusat kepolisian di distrik ini menganggap kasus ini sebagai kasus kriminal biasa," lanjut Kazuko, suaranya kini diwarnai oleh nada frustrasi yang kental. "Mereka menyimpulkan ini hanya pekerjaan seorang psikopat amatir yang membunuh sembari menghilang begitu saja. Sehingga, polisi sektor pusat menyerahkan tugas penangkapan dan penyelidikan ini pada keamanan di wilayah tingkat daerah yang lebih rendah. Dan sialnya..." Kazuko menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk yang gemetar, "...aku yang bertanggung jawab penuh atas kasus ini."

​Tubuh Kazuko mulai bergetar ringan. Ia menarik napas pendek-pendek. Matanya menatap Yudi dengan sorot memelas yang tidak bisa disembunyikan lagi.

​"Mereka dari pusat juga dengan serampangan memberikan deadline mutlak," ucap Kazuko, suaranya kini meninggi, menahan gejolak emosi. "Kalau dalam dua hari dari sekarang kasus ini tidak terungkap dan pelaku tidak ditangkap, aku akan dijatuhi sanksi mutasi jabatan. Aku akan dipindahkan menjadi Deputi Pengantar Surat di wilayah pinggiran!"

​Kazuko tidak lagi mampu mempertahankan postur berdirinya. Ia melipat tubuhnya, membungkukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Yudi. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja dengan sangat kuat. Rambutnya yang sedikit menipis jatuh menutupi dahinya.

​"Dengan alasan aku tidak becus sebagai penyidik! Karena itu... karena itu, kumohon! Tolong bantu aku menangani dan memecahkan kasus ini!" seru Kazuko dengan posisi tubuh masih membungkuk 90 derajat. Suaranya bergema memantul di dinding-dinding sempit ruangan tersebut.

​Yudi tidak langsung merespon. Mata pemuda itu menatap sosok Kazuko yang membungkuk di hadapannya, lalu beralih pada Tenma yang memalingkan wajah dengan ekspresi muram. Udara dingin dari mesin pendingin menyapu wajah Yudi.

Pemuda itu mengangkat tangan kanannya, menyusupkan jari-jarinya ke sela-sela rambut hitamnya, dan menyisirnya ke belakang. Perlahan, sebuah senyuman tipis dan tenang kembali terukir di wajah Yudi. Garis bibirnya membentuk lengkungan yang memancarkan karisma dan kepercayaan diri, sebuah ekspresi yang ia pelajari dari sang Ketua OSIS.

​"Aku mengerti garis besarnya," ucap Yudi. Suaranya mengalun lembut namun tegas, memecah ketegangan yang dibangun oleh keputusasaan Kazuko. Ia menurunkan tangan kanannya dan meletakkannya kembali di sisi tubuh. "Sebelumnya, perkenalkan juga. Aku adalah bawahan langsung dari keluarga bangsawan Iblis Sitri."

​Yudi memberikan jeda, memberikan waktu bagi kedua polisi itu untuk menyerap informasi mengenai identitas aslinya. Ia tidak menyembunyikan afiliasinya. "Namaku adalah Yudi. Hanya itu saja, aku tidak memiliki marga bangsawan atau nama belakang lainnya."

1
Bayuon So7
Lagi dan lagi saji blunder di sini cok
Bayuon So7
wedeh jadi MC punya hubungan sama Irina menarik untuk di tunggu hubungan seperti apa ya
Bayuon So7
Irina lawak orang lagi perang malah perkenalan diri,, emang beneran julukan dari si Milicas. Malaikat yang memproklamirkan diri
Bayuon So7
Si Imut koneko🤭
Bayuon So7
Weh mau gelut kayaknya nih, semogaa author senantiasa sehat deh
Bayuon So7
Debatnya asyik cuy, mantap lanjutkan💪
Zuta Huda
Kurang ngerti min, aku disuruh sepupuku buat like
Tessar Wahyudi: Terima kasih likenya dan salam untuk sepupunya ya👍
total 1 replies
Bayuon So7
Gak ekspektasi kalau dari pertanyaan simple bisa ambil kesimpulan seperti itu.
Paolo Maldini
Bang gw mau lempar 💣 nih
Fans Real Madrid
Semangat author
Tessar Wahyudi: makasih, semoga gak kapok ya
total 1 replies
Bayuon So7
sudah kuduga emang Kiba
Bayuon So7
Hoah udah mau masuk ke arc kiba kah?
Bayuon So7
Ada aja kelakuan Sona dan Yudi ini ya 🤣
Bayuon So7
Tutorial memancing keributan 🤭
Bayuon So7
marketing sales gak tuh🤭
Bayuon So7
Aduh Saji, begitu pedenya bilang kalau iblis reinkarnasi awal-awal sulit mendapatkan kontrak🤭
Bayuon So7
Tsubaki Flexing njir🤣
Bayuon So7
beneran juga sih, hasil yang memuaskan. Ini MC diam-diam serakah juga ya, kalau dilihat-lihat 🤭. tapi tetap masuk akal kok Thor.👍
Bayuon So7
Hn jadi ini semacam Cooling down setelah pertarungan sengit, mantap Thor.
Bayuon So7
Gua cuma mau bilang bisa cepetin gak updatenya penasaran njir🤭
Tessar Wahyudi: Sabar dong bang, semua ada waktunya mohon ditunggu dengan sabar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!