NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 - Kembali ke Rumah Dinas

Eyang dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan biasa pada hari kelima.

Beliau belum bisa bicara banyak, tapi sudah mengenali orang. Saat Alya masuk, mata tua itu bergerak ke arahnya. Jari Eyang terangkat sedikit.

Alya mendekat.

"Eyang mau minum?"

Eyang menggeleng lemah.

Tangannya bergerak mencari sesuatu.

Alya menunduk. Eyang menyentuh punggung tangannya.

"A...lya..."

Suaranya serak, hampir tidak jelas.

Mata Alya panas.

"Iya, Eyang. Saya di sini."

Eyang menatap Damar yang berdiri di belakang Alya. Lalu dengan sisa tenaga, beliau berkata, "Ja...ga."

Damar mendekat.

"Saya jaga, Eyang."

Eyang menatapnya tajam meski lemah.

"Ja...ngan... bodoh."

Tante Nadia yang duduk di sofa langsung menangis sambil tertawa.

Alya menunduk, menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar.

Damar tampak sangat tidak nyaman.

"Eyang baru sadar sudah memarahi saya."

Eyang menutup mata seperti puas.

Dokter mengizinkan Damar kembali ke perbatasan dua hari kemudian karena kondisi Eyang stabil. Tante Nadia meminta Alya ikut kembali.

"Di sana kamu ada tugas. Di sini Eyang sudah banyak yang menjaga," katanya. "Lagipula, Damar kalau pulang sendiri nanti kembali jadi batu."

"Ma," protes Damar.

"Apa? Mama salah?"

Alya pura-pura menunduk merapikan tas.

Kembali ke perbatasan terasa berbeda.

Bukan karena tempatnya berubah.

Rumah dinas Alya masih sama. Pos kesehatan masih kekurangan obat. Anak-anak masih berlari di lapangan. Bu Wati masih tahu semua kabar sebelum orang yang bersangkutan tahu.

Yang berbeda adalah cara orang melihat Alya.

Video rumah sakit membuat nama Alya dikenal sampai kompleks. Ibu-ibu menyambutnya dengan pelukan, pertanyaan, dan makanan. Ada yang memuji keberaniannya. Ada yang meminta foto. Ada yang bertanya apakah benar Damar memeluknya di depan umum.

Alya hampir ingin kembali ke Jakarta.

Bu Niken menyelamatkannya.

"Sudah, sudah. Dokter baru datang. Biar istirahat. Nanti kalau mau gosip, antre pakai nomor."

"Bu!" Alya menatapnya.

Bu Niken tertawa.

Malamnya, Alya baru selesai merapikan pakaian ketika ada ketukan di pintu.

Damar berdiri di teras.

Di tangannya ada sebuah kunci.

"Apa itu?"

"Kunci rumah dinas komandan."

Alya diam.

Damar menatapnya. "Jangan langsung marah."

"Sulit. Kalimat pembukanya sudah mencurigakan."

"Rumahmu terlalu jauh di ujung kompleks. Setelah kejadian penyelundup dan kamu terluka, aku ingin kamu pindah ke rumah dinas utama."

"Tidak."

"Aku belum selesai."

"Saya sudah tahu akhirnya."

Damar menghela napas.

"Ada dua kamar. Kamu bisa pakai kamar tamu. Aku jarang di rumah karena pos komando."

"Tidak."

"Alya."

"Damar."

Dia berhenti.

Itu pertama kalinya Alya memanggil namanya tanpa pangkat sejak mereka kembali.

Wajah Damar berubah sedikit.

Alya menyadari, tapi tidak menariknya.

"Kalau saya pindah ke rumah Anda sekarang, semua orang akan punya cerita baru. Dokter Alya akhirnya naik kelas. Dokter Alya memakai status setelah dibela di Jakarta. Dokter Alya membuat komandan berubah."

"Biarkan mereka bicara."

"Anda bisa bilang begitu karena Anda komandan. Saya yang harus duduk bersama ibu-ibu, merawat anak mereka, mendengar bisik-bisik mereka di posyandu."

Damar diam.

Alya melanjutkan, lebih pelan.

"Saya tidak menolak karena ingin menjauh. Saya menolak karena saya sedang membangun tempat saya sendiri di sini. Bukan sebagai istri Anda. Sebagai dokter."

Damar menatap kunci di tangannya.

"Aku mengerti."

Alya agak terkejut.

"Semudah itu?"

"Tidak. Tapi aku sedang belajar."

Kalimat itu membuat Alya kehilangan kata-kata.

Damar memasukkan kunci kembali ke saku.

"Kalau begitu, aku tambah lampu di jalan depan rumahmu. Dan patroli tetap."

"Itu boleh."

"Juga kunci pintu belakangmu rusak. Besok teknisi datang."

"Itu juga boleh."

"Dan kalau ada keadaan darurat, kamu datang ke rumahku."

"Saya datang ke pos kesehatan."

"Alya."

"Baik. Kalau keadaan darurat yang tidak bisa ditangani pos kesehatan, saya datang."

Damar tampak menerima kompromi itu.

Sebelum pergi, dia menyerahkan kantong kecil.

"Dari Mama. Dia memaksa aku membawa ini."

Alya membuka kantong. Ada sambal roa, abon, dan beberapa vitamin.

Dia tersenyum.

"Tante Nadia manis sekali."

"Dia juga menitip pesan."

"Apa?"

Damar terlihat enggan.

"Katanya, jangan biarkan aku tidur di sofa terus kalau sedang di Jakarta."

Alya terbatuk.

Damar menatap ke arah lain.

"Aku hanya menyampaikan."

"Tentu."

Mereka berdiri dalam diam yang canggung.

Lalu dari rumah sebelah, Bu Wati tiba-tiba muncul sambil membawa tempat makan.

"Eh, Komandan di sini?"

Alya dan Damar serempak menoleh.

Bu Wati tersenyum terlalu lebar.

"Saya cuma mau kasih kue talam untuk Dokter."

"Terima kasih, Bu," kata Alya, mengambil kotak itu cepat.

Bu Wati melirik Damar. "Komandan mau masuk dulu? Minum teh?"

"Tidak," jawab Damar.

"Oh. Sayang sekali. Padahal rumah Dokter sudah rapi sekali sekarang."

Alya menutup mata sebentar.

Bu Wati tahu. Tentu saja dia tahu Damar belum pernah masuk sejak malam menggendongnya.

Damar berkata datar, "Lain kali."

Bu Wati nyaris bersinar.

Alya langsung berkata, "Komandan sibuk, Bu."

"Iya, iya. Saya paham."

Nada Bu Wati jelas tidak paham. Atau terlalu paham.

Setelah Bu Wati pergi, Alya menatap Damar.

"Lihat? Inilah yang saya maksud."

Damar tampak seperti sedang menahan senyum.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Wajah Anda mengatakan Anda terhibur."

"Sedikit."

Alya ingin marah, tapi tawa kecil lolos lebih dulu.

Damar melihatnya.

Tawa Alya berhenti perlahan saat menyadari cara Damar menatap.

Hangat.

Terlalu hangat.

"Saya masuk dulu," katanya cepat.

"Istirahat."

"Jangan lupa makan," tambah Damar.

Alya menatapnya.

Damar berkata, "Apa? Kali ini bukan perintah. Saran."

"Saran Anda terdengar seperti perintah."

"Kebiasaan."

"Ubah."

"Sedang."

Alya masuk sebelum dadanya makin kacau.

Besoknya, lampu jalan depan rumahnya benar-benar diganti. Kunci pintu belakang diperbaiki. Patroli tidak terlalu mencolok, tapi ada.

Damar tidak memaksanya pindah.

Itu hal kecil.

Tapi bagi Alya, itu lebih besar dari kunci rumah dinas mana pun.

Karena untuk pertama kalinya, Damar tidak hanya ingin melindunginya.

Dia mendengarkannya.

Dan di tempat yang keras seperti perbatasan, didengarkan terasa seperti rumah yang pelan-pelan dibangun.

Namun rumah yang dibangun pelan-pelan selalu menarik orang untuk mengintip.

Dua hari kemudian, saat Alya memberi penyuluhan di posyandu, Bu Wati mengangkat tangan dengan wajah polos.

"Dok, kalau suami terlalu sering antar makanan, itu termasuk gizi seimbang atau tanda sayang?"

Ruangan langsung pecah tawa.

Alya menatap kertas materi di tangannya, berharap bisa bersembunyi di balik gambar piramida gizi.

"Itu tergantung isi makanannya, Bu."

"Kalau nasi kuning?"

Bu Niken tertawa paling keras.

Alya menutup spidol.

"Baik, kita kembali ke topik balita."

"Balita juga butuh papa perhatian, Dok," celetuk ibu lain.

Alya menyerah.

Di luar jendela, Damar berdiri bersama Kapten Rendra, jelas baru datang untuk mengecek distribusi vitamin. Dia pasti mendengar sebagian, karena Kapten Rendra sedang menutup mulut.

Damar menatap Alya.

Alya menatap balik dengan ancaman sangat jelas.

Kalau Anda tertawa, selesai.

Damar tidak tertawa.

Tapi matanya tersenyum.

Setelah acara selesai, Alya keluar membawa kotak alat timbang bayi.

"Anda dengar?"

"Dengar apa?"

"Jangan pura-pura."

"Aku hanya dengar materi gizi seimbang."

Kapten Rendra di belakangnya berkata, "Saya dengar nasi kuning, Dan."

Damar menoleh pelan.

Rendra langsung mundur. "Saya cek kendaraan."

Alya tidak bisa menahan tawa kecil. Damar melihatnya seperti seseorang yang menemukan hal langka.

"Apa?"

"Tidak apa-apa," katanya.

Tapi sebenarnya ada.

Beberapa minggu lalu, gosip kompleks terasa seperti duri. Hari itu, sebagian masih menusuk, tapi sebagian lain mulai terdengar seperti kehidupan biasa.

Mungkin karena kali ini Damar tidak menjadikannya sendirian.

Sore itu, Bu Niken mampir membawa sayur asem dan berkata tanpa basa-basi, "Dok, orang yang mau berubah itu kelihatan dari cara dia mendengar. Komandan memang masih kaku, tapi sekarang telinganya mulai bekerja."

Alya hampir tersedak.

"Bu Niken juga ikut menilai?"

"Tentu. Ini kompleks TNI. Kami menilai semua hal."

Alya tertawa, lalu menerima rantang itu.

Setelah Bu Niken pergi, dia menatap lampu jalan baru di depan rumahnya.

Terang kecil itu membuat halaman tidak lagi terasa terlalu jauh dari dunia.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!