Lim Keira pikir dia cuma iseng.
Malam itu di Singapura, di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan undangan, Keira mengangkat papan tanda dan "membeli" seorang pria tampan yang berdiri di atas panggung. Tinggi 193 cm, rahang tajam, mata sedingin es — dan aroma kayu cendana yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Tiga puluh ribu dolar untuk satu malam.
Keira yakin dia yang berkuasa. Dia yang punya uang. Dia yang menentukan aturan main.
Yang tidak dia tahu: pria yang dia "beli" itu bukan model.
Tan Rayhan. Sang Malaikat Maut. Penguasa dunia bawah tanah yang mengendalikan kasino, senjata, dan ribuan perusahaan di seluruh Asia Tenggara. Pria yang belum pernah disentuh wanita mana pun dalam 25 tahun hidupnya.
Dan Keira baru saja membuatnya... jatuh.
Tapi kehidupan Keira bukan dongeng. Ibu kandungnya sudah meninggal. Ibu tirinya, Yuliana, diam-diam menghancurkan segalanya dari dalam. Adik tirinya, Vanessa, berpura-pura menjadi pewaris sah keluarga Lim dan mencuri apa yang seharusnya milik Keira. Ayahnya? Lebih memilih bisnis daripada putrinya sendiri.
Satu-satunya senjata yang Keira punya: kemampuan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini — dia bisa melihat setiap kartu di meja judi. Setiap batu permata palsu. Setiap kebohongan yang tersembunyi di balik senyuman.
Dan sekarang, dua dunia bertabrakan.
Dunia gelap Rayhan — di mana taruhan senilai ratusan miliar dilempar seperti uang recehan, di mana satu kesalahan bisa berarti peluru di dada.
Dan dunia Keira — di mana keluarga besar yang seharusnya melindunginya justru menjadi musuh terbesarnya.
Di antara meja judi bernilai triliunan dan pertempuran keluarga konglomerat, satu pertanyaan tetap menggantung:
*Apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas kebohongan?*
*Atau justru kebohongan terbesar adalah... bahwa dia tidak pantas dicintai?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Sumpit Keira berhenti di tengah udara.
Ong Steven berdiri di dekat pintu dengan senyum yang tidak terlalu lebar. Ia bukan tipe pria yang membuat ruangan langsung ribut. Wajahnya bersih, matanya tenang, dan cara ia menunduk kepada Hendrawan menunjukkan pendidikan keluarga lama yang rapi.
"Pak Hendrawan, Bu Yuliana," sapanya sopan.
Lalu ia menatap Keira.
Ada jeda kecil di sana.
Bukan tatapan pria yang baru pertama kali melihat perempuan cantik. Lebih seperti seseorang yang akhirnya melihat kembali nama yang lama disimpan.
"Keira," katanya pelan.
Keira menurunkan sumpit.
"Steven."
Vanessa memperhatikan perubahan kecil itu. Matanya langsung bergerak dari Steven ke Keira, seperti menemukan bahan baru untuk dibenci.
Yuliana tersenyum semakin hangat. "Kalian ternyata masih saling kenal. Bagus sekali. Dulu waktu kecil, keluarga Ong sering datang ke acara keluarga kita. Steven ini anak yang baik, sekolahnya bagus, sekarang bantu usaha keluarganya."
Keira menatap meja penuh makanan.
Jadi ini tujuan makan siang itu.
RUPS selesai, dokumen sah, lalu mereka mengikatnya kembali dengan tali lain.
Hendrawan duduk di ujung meja, tidak berkata apa-apa. Diamnya lebih keras daripada persetujuan.
"Duduk, Steven," kata Yuliana. "Di sebelah Keira saja."
Steven tampak ragu. "Kalau Keira keberatan, saya bisa duduk di sini."
Keira melihatnya.
Ia tidak membenci Steven. Pria itu bahkan terlihat terlalu baik untuk dipakai sebagai pisau oleh Yuliana. Namun fakta bahwa ia tidak membenci Steven justru membuat kemarahannya makin tajam. Mereka selalu begitu. Memakai sesuatu yang tampak baik untuk membungkus paksaan.
"Duduk di mana saja," kata Keira. "Hasil akhirnya tetap sama."
Yuliana pura-pura tidak mendengar nada itu. "Keira, kamu jangan dingin begitu. Steven datang dengan niat baik."
"Niat siapa?"
Senyum Yuliana berhenti.
Keira meletakkan sumpit di atas meja. "Niat Steven, niat Bu Yuliana, atau niat Papa?"
Hendrawan akhirnya bersuara. "Makan dulu."
"Tidak." Keira menatap ayahnya. "Saya mau dengar jawabannya sekarang."
Vanessa menghela napas kecil. "Jiejie, kenapa selalu curiga? Mama cuma ingin suasana keluarga membaik."
"Dengan mengundang keluarga Ong tepat setelah saya memegang 51% saham?"
Steven menegang.
Ia jelas belum tahu seluruh detail.
Yuliana cepat berkata, "Keira, kerja sama bisnis dan hubungan keluarga bisa berjalan bersama. Kamu sudah dewasa. Tidak ada salahnya mengenal pria yang pantas."
"Saya sudah punya pria."
"Pria yang tidak jelas asal-usulnya?" Hendrawan memotong. "Keira, Papa tidak akan membiarkan kamu membawa laki-laki itu makin jauh ke dalam urusan Lim Group."
Keira menatapnya lama.
"Jadi ini alasan Papa mempercepat RUPS? Agar setelah tanda tangan selesai, Papa bisa mengatur ulang hidup saya?"
"Jangan memutarbalikkan."
"Papa mengambil kontrak saya, menandatangani saham saya, lalu di hari yang sama menyodorkan calon suami baru di meja makan." Keira tertawa pendek. "Kalau ini bukan memutarbalikkan, apa namanya?"
Steven berdiri perlahan. "Keira, saya rasa ada kesalahpahaman. Saya memang diundang Bu Yuliana, tapi saya tidak tahu..."
"Kamu tahu mereka ingin menjodohkan kita?"
Steven terdiam.
Jawaban itu cukup.
Keira mengangguk pelan. "Berarti kamu tahu bagian paling penting."
"Saya tidak datang untuk memaksa." Suara Steven tetap lembut, tetapi matanya sedikit cemas. "Saya hanya ingin bicara. Dulu saya memang..."
"Steven," Keira memotong lebih pelan, "kalau kamu masih menghormati aku sedikit saja, jangan lanjutkan kalimat itu di meja ini."
Wajah Steven memucat.
Yuliana langsung menyambar. "Lihat? Steven bahkan bicara baik-baik, kamu tetap mempermalukannya. Keira, kamu pikir setelah punya sedikit saham, kamu boleh menginjak semua orang?"
"Sedikit saham?" Keira menatapnya. "Bu Yuliana, lima puluh satu persen itu bukan sedikit."
Wajah Yuliana berubah merah.
Vanessa menahan napas. Hendrawan mengetuk meja dengan jari.
"Cukup," katanya. "Steven bukan musuhmu. Keluarga Ong punya posisi baik. Kalau kamu tidak mau langsung bicara soal pernikahan, setidaknya buka peluang."
Keira menatap ayahnya.
Ada saat yang sangat singkat ketika ia masih berharap Hendrawan berhenti. Berhenti memakai kata peluang untuk hidup anaknya. Berhenti melihat Rayhan sebagai gangguan. Berhenti berpikir bahwa tanda tangannya atas saham berarti ia masih bisa menagih kepatuhan.
Harapan itu mati dalam satu tarikan napas.
Keira berdiri.
"Papa benar-benar tidak belajar apa pun."
"Keira."
"Tidak. Hari ini Papa yang dengar."
Ia menarik taplak meja.
Semua terjadi cepat.
Piring-piring meluncur. Sup herbal tumpah ke lantai putih. Gelas pecah. Udang besar jatuh berserakan. Vanessa menjerit. Yuliana mundur dengan tangan menutup mulut. Steven refleks maju, tetapi berhenti saat Keira mengangkat tangan.
Meja makan yang tadi dibuat seperti panggung keluarga harmonis berubah menjadi reruntuhan.
Keira berdiri di tengah kekacauan itu, dada naik turun.
"Kalian mau makan malam keluarga? Ini keluarga kalian."
Hendrawan membeku di kursinya.
"Keluarga yang mengambil kontrak dari anaknya lalu menjual anak itu lagi. Keluarga yang menyebut paksaan sebagai niat baik. Keluarga yang selalu meminta saya diam agar orang lain nyaman."
Ia berbalik ke lemari kaca berisi koleksi wine dan minuman mahal Hendrawan.
Vanessa menjerit, "Jiejie, jangan!"
Terlambat.
Keira mengambil botol pertama dan menghantamkannya ke lantai.
Pecah.
Botol kedua.
Pecah.
Suara kaca seperti hujan keras di ruang makan. Aroma alkohol menyengat naik, menusuk hidung. Hendrawan akhirnya berdiri, tetapi tidak bergerak mendekat. Mungkin terlalu kaget. Mungkin terlalu terlambat menyadari bahwa anak perempuan yang selama ini ia tekan tidak lagi takut menghancurkan barang-barang mahal.
Botol ketiga pecah di sisi lemari.
Serpihan kaca memantul.
Satu garis tajam menyayat lengan bawah Keira.
Darah langsung muncul, merah di kulit pucatnya.
Steven maju tanpa berpikir. "Keira, tanganmu!"
"Jangan sentuh saya."
Ia berhenti, wajahnya penuh sakit yang tidak sempat ia sembunyikan.
Keira melihat darah menetes ke lantai putih.
Aneh.
Ia tidak merasa sakit.
Yang sakit justru tempat yang sudah lama tidak terlihat.
Hendrawan menatap darah itu. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara.
Yuliana mulai menangis. "Hendrawan, lihat anakmu. Dia sudah tidak bisa dikendalikan."
Keira tertawa pelan. "Akhirnya Bu Yuliana mengatakan yang sebenarnya. Yang kalian mau bukan anak yang bahagia. Yang kalian mau anak yang bisa dikendalikan."
Seorang pelayan berlari masuk, wajahnya pucat. "Pak Hendrawan, Ko Darren datang."
Keira menutup mata sesaat.
Rayhan.
Bahkan dari Singapore, pria itu tetap memasang jaring di sekitarnya.
Darren masuk ke ruang makan beberapa detik kemudian. Ia melihat meja terbalik, kaca pecah, darah di lengan Keira, lalu wajahnya menjadi sangat tenang.
Terlalu tenang.
"Nyonya," katanya lebih dulu.
Matanya turun ke luka di lengan Keira.
"Ambil kotak medis dari mobil," perintahnya kepada salah satu penjaga.
Keira mengangkat tangan yang tidak terluka. "Nanti."
"Lukanya perlu dibersihkan."
"Saya bilang nanti."
Darren berhenti. Ia tidak memaksa, tetapi ekspresinya berubah lebih hati-hati. Keira tahu tatapan itu. Tatapan orang yang sedang menghitung apakah harus melapor kepada seseorang di Singapore detik itu juga.
"Jangan buat laporan berlebihan," kata Keira pelan.
Darren menunduk. "Saya hanya mencatat fakta, Nyonya."
Hendrawan tampak tidak suka mendengar panggilan itu, tetapi tidak punya ruang untuk membantah.
Darren beralih kepadanya. "Pak Hendrawan, saya datang untuk memastikan proses RUPS berjalan baik. Namun melihat situasi ini, Tan Corporation perlu mempertimbangkan ulang tingkat risiko internal Lim Group."
Wajah Hendrawan berubah pucat.
"Apa maksud Anda?"
"Jika kepemimpinan baru tidak dapat bekerja tanpa intervensi keluarga, kami bisa meninjau opsi akuisisi atau pembekuan kerja sama sampai struktur kendali benar-benar jelas."
Vanessa menutup mulut.
Yuliana berhenti menangis.
Kata akuisisi jatuh lebih dingin daripada pecahan kaca.
Hendrawan menatap Keira, lalu Darren. "RUPS sudah selesai. Dokumen sudah ditandatangani."
"Bagus." Darren mengangguk. "Kalau begitu, mulai hari ini, keputusan strategis Lim Group berada pada Nyonya Keira sebagai pemegang 51% saham. Setiap rencana pribadi yang dapat mengganggu posisi beliau akan kami anggap risiko kerja sama."
Tidak ada nama Rayhan.
Tidak ada ancaman kasar.
Namun semua orang mengerti.
Rencana menjodohkan Keira dengan Steven baru saja dihancurkan di depan meja makan yang hancur.
Keira menatap Darren. "Dokumen sudah selesai?"
"Sudah, Nyonya. Salinan legal akan dikirim hari ini. Notaris juga telah mengonfirmasi catatan RUPS."
Keira mengangguk.
Ia mengambil napas panjang. Baru sekarang rasa perih di lengannya datang. Tajam, panas, nyata.
Steven masih berdiri tidak jauh darinya, wajahnya cemas. "Keira, setidaknya biarkan lukanya dibersihkan."
Keira menatap pria itu. "Kamu tidak bersalah, Steven. Tapi jangan biarkan mereka memakai perasaanmu untuk mengurungku."
Steven tampak seperti tertampar, tetapi ia tidak membantah.
Keira berjalan keluar dari ruang makan.
Tidak ada yang berani menahan.
Di kamar mandi dekat lorong, ia mencuci luka di bawah air mengalir. Darah bercampur air, turun ke wastafel. Tangannya sedikit gemetar ketika membalut lengan dengan tisu dan perban kecil dari kotak P3K.
Ponselnya bergetar.
Titik hitam Rayhan masih di Singapore.
Keira membuka chat.
Aku kangen kamu.
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Aku juga. Semuanya lancar?
Keira menatap balutan di lengannya.
Air mata tiba-tiba ingin jatuh.
Ia mengetik perlahan.
Semuanya lancar.
Di Singapore, layar ponsel Rayhan menyala di ruang bawah tanah yang gelap.
Ia membaca pesan Keira, lalu membalas dengan satu tangan.
Bagus. Pulang dan istirahat. Jangan lupa makan.
Nada pesannya lembut.
Di depannya, seorang pria terikat di kursi besi, wajah penuh memar, napas terputus-putus. Di sisi ruangan, beberapa anak buah berdiri tanpa suara. Aroma darah, logam, dan antiseptik memenuhi udara.
Rayhan mengunci ponsel.
Ketika ia mengangkat wajah, kelembutan di matanya hilang total.
"Lanjutkan," katanya dingin.